Showing posts with label TAHUKAH KALIAN. Show all posts
Showing posts with label TAHUKAH KALIAN. Show all posts

Friday, January 3, 2020

Hikmah Bergaul Dengan Orang Sholeh

 https://syarifalfarisi.blogspot.com/


Dari Sahabat Abdullah bin Abbas RA diriwayatkan bahwasanya beliau bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang patut kami jadikan sebagai teman bergaul kami ?"

Rasulullah SAW pun menjawab, "Orang yang membuat kalian ingat kepada Allah jika melihatnya, ucapannya menambah ilmu, dan ilmunya mengingatkan kalian kepada akhirat."

Dari Sahabat Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Seseorang itu mengikuti agama sahabatnya. Karena itu, hendaklah masing-masing kalian melihat dengan siapa kalian bersahabat."

Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad berkata, "Ketahuilah, bahwa bergaul dengan orang-orang baik dan duduk bersama mereka akan menumbuhkan perasaan cinta kepada kebaikan di hati seseorang dan dapat membantu melakukan kebaikan.

Begitu pula bergaul dengan orang-orang jahat dan duduk bersama mereka akan menanamkan cinta kepada kejahatan di hati seseorang dan melakukan kejahatan.

BACA JUGA :


Orang yang bergaul dengan suatu kaum maka akan menyerupai mereka. Baik mereka orang-orang yang baik maupun orang-orang yang jahat. Dan seseorang akan bersama orang yang dicintainya di dunia dan di akhirat."

يالله بالتوفيق حتى نفيق ونلحق الفريق


Mudah-mudahan kita mendapat taufiq sehingga kita bisa di golongkan dengan orang-orang sholeh... Aamiiiiiin

Sunday, December 29, 2019

Inilah Sebabnya Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki Sungkan Dengan Muridnya Yang Faam Al-Athos


Kenapa Abuya Muhammad Al Maliki paling sungkan dengan muridnya dari faam Al Athos? 
⠀
Beliau adalah "AL HABIB ALI bin AHMAD bin HASAN AL-ATHOS"
Setelah 40 tahun hilang bersama Nabiyullah Khidhir AS, Beliau bersama Al Habib Gutb Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf, Abuyya Assayyid Muhamad bin Alwy al Maliki, Al Habib Ahmad Masyhur bin Thoha Al Haddad, Rodhiallahu anhum Ajmain.⠀
⠀
Dahulu Njid Abuya Maliki kepingin punya anak laki-laki belum dikasih oleh Allah Ta'ala.
Lalu bertemulah dengan Al Gutb Al Habib Ahmad bin Hasan Al Athos minta doa barokah.
Maka dijawab oleh Al Habib Ahmad bin Hasan Al Athos sebelum berdoa :

"Engkau akan mempunyai anak laki laki, beri nama dia Alwy, Dari Alwy ini keluar keturunan kamu ahli hadist ulama ahlu sunnah wal jama ah yang kuat wali min Auliya Allah. Beri nama dia Muhammad" 

Rodhiallahu anhum Ajmain.⠀

BACA JUGA :


Kata-kata wali Allah terjadi, maka dari itu Abuya Maliki sebelum lahir sudah dibahas oleh Al Habib Gutb Ahmad bin Hasan Al Athos. Maka dari itu Abuya paling sungkan dengan anak muridnya dari faam Al Athos, itu semua disebabkan jaza' dari Al Habib Gutb Ahmad bin Hasan Al Athos.

Wallahu a'lam bishshowab


Al Fatihah buat beliau-beliau Rodhiallahu anhum Ajmain ⠀
⠀
⠀
اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ⠀
⠀

Tuesday, December 24, 2019

Inilah 4 Amalan Yang Mendapatkan Ridho Allah Swt


 https://syarifalfarisi.blogspot.com/

Pertama : Bila kamu melihat semut, maka janganlah kamu membunuhnya. Carilah dengan itu ridho Allah, semoga Allah mengasihani kamu sebagai mana kamu mengasihaninya. Kamu ingatlah bahwa ia bertasbih kepada Allah, maka jangan engkau hentikan tasbih ini dengan membunuhnya.

Kedua : Bila kamu nampak burung sedang minum air dari kolam, maka jangan lah kamu lalu di sebelahnya sehingga menakutkannya. Biarkan ia dengan perasaan yang aman. Engkau carilah dengan itu ridho Allah, semoga Allah mengamankan kamu pada hari di mana, nyawa telah sampai di tenggorokan.

Ketiga : Bila kamu hendak mengalihkan kucing yang sedang mengganggu di tengah jalan, elak kan dari membuatnya terkejut. Carilah dengan itu ridho Allah. Semoga Allah memelihara engkau dari kematian yang mengejut.

BACA JUGA :


Keempat : Bila engkau terpaksa membuang sisa atau bekas makanan, jadikanlah niat engkau hendak memberi mahluk lain makan. Carilah dengan itu ridho Allah. Semoga Allah mengkaruniakan engkau rizqi dari jalan yang tak disangka.

Bila engkau berniat menyebarkan perkataan-perkataan ini, niatkanlah dengannya kebaikan, semoga Allah melepaskan engkau dengannya kesusahan dari kesusahan dunia dan akhirat.

Oleh itu, buatlah kebaikan walau sekecil apapun karena engkau tidak akan tahu amalan mana yang dapat memasukkan engkau ke surga Allah SWT seluas langit dan bumi.


[ Syeikh Mutawalli Sya'rawi rahimahullah ]

Friday, December 20, 2019

Rahasia Di Balik Ayat "LAQOD JAA AKUM RASUULUN..."

 https://syarifalfarisi.blogspot.com/

Diceritakan bahwa pada suatu waktu, Imam Asy-Syibli datang ke majelis Imam Ibnu Mujahid. Begitu melihat Imam Asy-Syibli datang, Ibnu Mujahid segera berdiri untuk menyambutnya, lalu memeluknya dan mencium dahinya.

Melihat kejadian itu, orang-orang bertanya heran: “Kenapa engkau lakukan itu, wahai imam?”

Ibnu Mujahid menjawab: “ Aku bermimpi melihat Asy-Syibli datang ke suatu majelis Rasulullah SAW. Saat itu, beliau sedang duduk bersama para sahabatnya. Melihat kedatangan Asy-Syibli, Rasulullah lalu bangun menyambut Asy-Syibli dan mencium dahinya. Aku heran dibuatnya.

kemudian aku bertanya kepada beliau : "Wahai Rasul, kenapa engkau sampai berbuat seperti itu kepada Asy-Syibli?"


Rasulullah SAW menjawab: "iya, karena setiap selesai sholat fardhu, ia selalu membaca

.
لقد جاءكم رسول من أنفسكم.....الآية
.
hingga akhir surat at-Taubah, dan setelahnya ia membaca sholawat kepadaku “


Tuesday, December 17, 2019

Nasihat Lukmanul Hakim Kepada Anaknya Tentang Hidup Terbaik

 https://syarifalfarisi.blogspot.com/


HIDUP TERBAIK


قال حكيم لابنه : يا بني، في حياتك لا تتنازل عن ثلاثة :

Lukman Al-Hakim mengatakan kepada anaknya, "Wahai puteraku jangan lepaskan hidupmu dari 3 perkara :

‏١ - ان تاكل، افضل الطعام.
٢ - وان تنام، على افضل فراش.
‏٣ - وان تسكن، في افضل البيوت.

1. Hendaknya kau makan dari makanan terbaik
2. Hendaknya kau tidur di alas tidur terbaik
3. Hendaknya kau tinggal di rumah terbaik

فقال الابن : كيف لي ان افعل ذلك، ونحن فقراء ؟

Lalu anaknya berkata : "Bagaimana bisa aku melakukan itu semua, sedangkan kita ini kan faqir tak punya harta?"

فقال الحكيم : اذا اكلت فقط عندما تجوع، سيكون ما تاكله افضل طعام.

Maka Alhakim mengatakan : "jika kamu ingin makan maka makanlah hanya disaat kau lapar, sehingga yang kau makan menjadi makanan terbaik"

واذا عملت كثيرا ونمت وانت متعب،‏ سيكون فراشك، افضل فراش.

"Jika kau banyak bekerja sampai kau tertidur dalam kelelahan maka alas tidurmu apapun itu akan menjadi alas tidur terbaik"

واذا عاملت الناس بالمعروف،‏ ستسكن في قلوبهم،‏ وبهذا تكون سكنت في افضل البيوت.

"Dan kau bergaul / berinteraksi dengan orang lain dengan cara yang baik niscaya kau akan ada dihati mereka dengan inilah kau tinggal / menetap di rumah terbaik (berada didalam hati orang lain dengan kecintaan tulus)"


اللهم صل و سلم على سيدنا محمد و على آل سيدنا محمد

Tuesday, December 10, 2019

TABARRUK DALAM ARTI KATA MANHAJ ASWAJA

         Abuya Ahmad al Maliki mencium rambut Rasulullah Muhammad SAW


TABARRUK DALAM ARTI KATA MANHAJ ASWAJA

Diambil dari rujukan Kitab Mafahim Yajibu An Tushohih karya Prof.Dr.As Sayyid Alawi al-Maliki al-Hasani Hal.269-270

Banyak orang keliru memahami arti tabarruk , dengan Nabi SAW ,jejak-jejak peninggalan Beliau,keluarga & para Pewarisnya dari para ulama dan wali. Mereka menilai bahwa setiap orang yang melakukan tabarruk telah melakukan tindakan syirik dan sesat sebagaimana kebiasaan mereka menyikapi hal-hal baru yang tidak diterima oleh pandangan mereka dan tidak terjangkau pemikiran mereka.

Perlu kami sampaikan bahwa tabarruk tidak lain adalah bertawasul kepada Allah dengan objek yang dijadikan tabarruk baik berupa jejak peninggalan, tempat atau seseorang.

BACA JUGA :


Adapun TABARRUK dengan orang orang sholeh adalah karena meyakini keutamaan dan kedekatan mereka kepada Allah dengan tetap meyakini ketidak mampuannya memberi kebaikan atau menolak keburukan kecuali atas izin Allah.

Adapun TABARRUK dengan jejak peninggalan-peninggalan (artefak) adalah karena peninggalan tersebut dinisbatkan kepada orang-orang dimana kemuliaan peninggalan itu berkat mereka ia dihormati, di agungkan, dan dicintai karenanya.

Adapun TABARRUK dengan tempat-tempat (situs), maka subtansi tempat itu sama sekali tidak memiliki keutamaan dilihat dari statusnya menjadi tempat, Tempat memiliki ke utamaan karena kebaikan dan ketaatan yang pernah dilaksanakan dan terjadi di dalamnya seperti sholat, puasa, dan semua bentuk ibadah yang pernah di lakukan oleh para hamba Allah di tempat-tempat yang dijadikan objek tabarruk.
.
.

Thursday, August 25, 2016

Musa Sang Hafidz Cilik & Atlet indonesia


 MUSA & Rio, Keduanya Pahlawan, tetapi.....

Kedua nama ini sedang menjadi trending topik di media sosial tanah air maupun dunia... Mereka adalah Musa sang hafidz dan Rio Hariyanto... Kedua anak bangsa ini sedang berjuang menjadi yang terbaik di dunia dalam pertarungan di medan mereka masing-masing....

Musa sang hafidz sedang bertarung menjadi penghapal Al-Qur'an terbaik di dunia. Rio sang pembalap juga bertarung menjadi manusia tercepat di dunia...

Mereka adalah aset bangsa yang langka...
Dipundak mereka harga diri bangsa sedang dicoba diangkat tinggi-tinggi. Namun perlakuan kepada keduanya sangat berbeda...

RIO sang pembalap, begitu gegap gempita, asa kemenangan begitu tinggi walau sebenarnya tidak pernah memulai pitcnya di 10 besar pada saat start. Dengan dukungan dana yang melimpah 15 juta euro (hitung sendiri kalau dirupiahkan), yang diberikan para sponsor*(Pertamina, Garuda Indonesia, dll)* wajarlah jika harapan memenangkan pertarungan di aspal ini dapatlah menjadi kenyataan....

(Termasuk beberapa hari lalu, Bulutangkis ganda campuran Indonesia, mendapatkan medali emas. Semua mengelukan, dan negara memberi bonus besar Rp5 milyar. Fantastis!)

Musa sang hafidz, dengan kegigihannya, minim bahkan hampir tidak ada sponsor dan hampir tidak terdengar dana sepeserpun menyertainya, mampu meraih tempat terhormat dengan menjadi juara ke tiga... DI DUNIA...

Ketidakadilan sedang berlangsung di negeri ini... Semua kehidupan sosial masyarakat... tanpa rasa keadilan oleh negara...media hanya memberitakan yang sesuai dengan kepentingannya...


BACA JUGA :

Bahkan nama Kementerian Agama pun yang semestinya menyertai perjalanan Musa, tak pernah disebutkan. Berita kemajuan tentang Islam telah menjadi anak tiri di negeri muslim terbesar di dunia...

Perkenalkan... Ini adik Musa...
Seorang penghapal Al-Qur'an cilik..
usianya baru 7th.. Bicaranyapun masih cadel. Namun prestasinya melimpah.. bukan saja terbaik se Indonesia.. tapi juga terbaik se-Dunia dalam ajang kompetisi penghapal Al-Qur'an...

Yang terbaru..

14 April 2016 kemarin.. dengan Batik Nusantara khas Indonesia... adik Musa berhasil jadi juara 3, mengalahkan 80 peserta dari 60 Negara Musabaqah Hifzil Al-Qur'an International di Mesir...

Hebatnya lagi.. adik Musa adalah peserta termuda, saat peserta lain berusia rata-rata di atas 10 tahun. Tetesan air mata haru.. Kagum.. Mengiringi Musa, saat tiba giliran menjawab pertanyaan dan ujicoba dari Juri yang tentu saja penguji-penguji kelas dunia...

Soal-soal dijawabnya dengan tenang..

Selesai Lomba..

Yang berlomba kemudian adalah penonton..

Mereka berlomba berfoto dan mencium kepala Musa.. kagum!

Bahkan Presiden Mesir akan memberi penghargaan khusus buat adik kita itu.

Itulah dia Musa.....

Seorang putra bangsa Indonesia Ia tak butuh trilyunan rupiah jika sekedar untuk mengharumkan nama bangsa. Ia juga tak perlu mengemis sponsor milyaran untuk sekedar mengharumkan nama bangsa. Ia juga tak perlu merepotkan negara ratusan milyar. Bahkan tanpa perlu menodong kementrian agar pegawainya potong gaji.. untuk sekadar mengharumkan nama bangsa..

Iya..!!!

Ia Tak perlu keribetan itu semua untuk sekedar terkenal di dunia. Paling keren kita hanya mendapat berita kemenangan nasionalnya di salah satu stasiun TV...

Karena..

Standar definisi "Bangga" dan "Mengharumkan Nama Bangsa" Masih belum kita sepakati..

Aku bangga padamu nak..
Aku bangga padamu..

"Jika media mainstream tak memberitakanmu Nak. Kami saja yang mengabarkan tentangmu pada dunia melalui medsos ini..."

Monday, August 8, 2016

Madad Dari Rasulullah SAW

http://syarifalfarisi.blogspot.com

Pertemuan habib ali bin abdurahman alhabsyi (sohibul kwitang)dengan habib alwi bin ali bin muhammad bin husein alhabsyi (anak dari sohibul simtuduror) dulu di zaman habib ali kwitang saat khotmil bukhori habib alwi bin ali bin muhammad alhabsyi tiba tiba datang dari solo di acara tersebut.

Terkejutlah habib ali dengan kedatangan putra guru tercinta tersebut. lalu habib ali menanyakan kepada habib alwi mengapa tidak mengabarkan terlebih dahulu, lalu habib alwi mengatakan,


BACA JUGA :

"ya habib ali bin abdurahman alhabsyi aku bermimpi ayahku dan semua wali dikota tarim dan pembesar wali lain nya beriringan hadir di majelis ini, dan walidi (abahku) mengatakan engkau sempatkan hari minggu ini untuk hadir di majelis habib ali sohibul kwitang karena disana ada khotmil bukhori.wahai anaku (alwi) setiap minggu RASULULLAH hadir disana terlebih esok minggu saat khotmil bukhori, jika kau ingin mendapat madad dari RASULULLAH datang ya alwi, lihat mereka ya alwi ruhul aulia berbondong bondong hadir di majelis akan ikut hadir dimajelis tersebut,

mendengar hal tersebut habib ali kwitang memeluk habib alwi bin ali anak dari sohibul simtuduror dan mengatakan ya karim ibnil karim.

"Subhanallah Walhamdulillah Walaa ilaaha illallah Wallahu Akbar" 

"Semoga kisah diatas bisa bermanfaat untuk kita semua dan kita bisa sama-sama hadir di majelis kwitang setiap hari minggu pagi"

Friday, August 5, 2016

Al Madad Fil Masyhad, Sebut Namaku Lalu Berjalanlah Diatas Air

http://syarifalfarisi.blogspot.com

Tidak dipungkiri bahwa keagungan Nabi SAW melebihi segalanya, termasuk keagungan para Anbiya’ sebelumnya dan para Auliya sesudahnya. Rasulullah adalah batangnya (ashl ) sedang mereka semua adalah cabang–cabangnya (far’u).

“Wakulluhum min Rasulillahi multamisun, ghorfan minal bahhri au rashfan minad diyami.

Mereka semua meneguk secakup air dari lautan kemuliaan Rasulullah. Atau mereka menyesap tetes–tetes air dari hujan kemuliyaannya,  Al Bushiriy. Maka barangsiapa yang memperingati kemuliyaan para auliya, maka sejatinya mereka memperingati kemuliaan Rasulullah. Barangsiapa yang memuliakan para auliya maka sejatinya mereka memuliakan Rasulullah SAW.

Di dalam mukaddimah Jami’ Karomatil Auliya, Al Imam An Nabhaniy menjelaskan banyak hal tentang hal ini. Diantara yang beliau tulis di sana bahwa karomah para waliy adalah bagian dari mukjizat Nabi. Dengan munculnya keramat–keramat itu, maka umat sesudah zaman kenabian menjadi faham dan meyakini bahwa para auliya itu ada dalam agama yang haq. Berarti pembawa risalah dalam agama yang mereka bela itu (yakni Rasulullah) adalah haq pula.

Semakin besar seseorang memuliakan atau memperingati para auliya maka maknanya semakin besar pula dia memuliakan dan memperingati nabinya. Seseorang yang bersemangat membaca manaqib atau memperingati Haul Syaikh Abdul qadir al Jailani sebenarnya diapun sedang bersemangat dalam menghormati Baginda Nabi SAW.

Namun kemudian menjadi isykal jika pada saat yang sama dia ‘memandang remeh’ peringatan Nabi atau pembacaan maulid beliau. Contoh sederhana, jika dia membaca manaqib Syaikh dia akan menyembelih ayam jantan dan dibuat shadaqah. Tetapi saat membaca maulid Nabi dia hanya bersedekah krupuk.

Jika dia berbuat demikian karena dianggapnya maulid Nabi ‘cuma pantasnya’ dishadaqahi krupuk maka ini adalah perendahan rutbah Rasulullah SAW. Wal ‘iyadhu billah. Namun jika dia melakukannya disebabkan dominasi ‘rasa Syaikh’ di dalam hatinya maka hal seperti itu biasa saja.
Sebenarnya dia meyakini kemuliyaan Nabi jauh di atas kemuliyaan Syaikh. Namun di dalam hatinya pengaruh Syaikh telah memenuhi seluruh sisi-sisinya, fana’ itu menyebab kemuliaan yang lain tidak lagi terasa olehnya.

Saya kesulitan untuk memilih kalimat yang tepat di dalam permasalahan ini. Tetapi jika dapat di rumuskan lebih sederhana, mungkin saya akan memilih kalimat berikut ini:

“Didalam keyakinannya tetap mengetahui bahwa kemuliaan Nabi SAW ada diatas kemuliaan Waliy. Namun karena keterbatasan kemampuan hatinya dalam menangkap keagungan-keagungan, maka baru pada taraf kemuliaan Waliy saja yang bisa benar-benar dia rasakan, sehingga mengesankan dia terlihat begitu bersemangat di dalam memperingati Waliy melebihi semangat memperingati Nabi SAW“


BACA JUGA :

 Para hukama menyebut “AL MADAD FIL MASYHAD“ turunnya pertolongan, keberkahan berbanding lurus dengan kesiapan hati dan keyakinannya. Banyak kisah yang berhubungan dengan hal ini.
Seperti kisah seorang murid yang diperintahkan menyeberangi lautan oleh Syaikhnya dengan cara berjalan kaki di atasnya. Kata Syaikh:

“Wahai anakku, sebutkan namaku dan berjalanlah kamu di atas air menyeberangi laut.“

Murid tersebut menuruti perintah Syaikhnya. Begitu nama beliau ia sebut maka ia sanggup berjalan di atas air tanpa tenggelam. Namun mendadak dia dalam hatinya berfikir :

“Bagaimana aku ini? Bukankah Allah Azza Wajalla yang lebih tepat untuk aku ucapkan? Karena Allah adalah Tuhan sedangkan Syaikh ku hanyalah seorang manusia?“

Begitu terbersit di dalam hatinya fikiran tersebut maka saat itu juga tubuhnya jatuh tenggelam ke dalam laut. Dia terjebak dalam ombak, dan tenggelam nyaris celaka. Sampai kemudian dia teringat Syaikhnya dan diapun berteriak–teriak memanggil nama Syaikhnya.

“Wahai guruku, wahai Fulan …!“ Teriaknya memanggil. Dan tak menunggu lama, muncul Sang Syaikh berjalan diatas laut dan mengulurkan tangan dan menolong dirinya.
“Sudah aku katakan, sebutkan namaku saja, jangan yang lain. Engkau itu hanya mengenal diriku melebihi kenalmu kepada Tuhanmu“

Kisah ini memberi kefahaman bahwa bukan berarti Syaikh itu lebih mulia daripada Allah Ta’ala. 
Namun masyhad dalam hati murid tersebut hanya mengenal Syaikhnya dari pada Tuhannya, sehingga menyebut nama Syaikh bagi dia itu lebih bermanfaat dari pada menyebut nama Rabbnya.

Suatu saat Al Habib Abdurrahman bin Syaikh Al Athas berkata :

“Bagi diriku al Habib Hasan as Syathiriy itu lebih agung dibanding Syaikh Abdulqadir al Jaylaniy. Karena jika Syaikh Abdulqadir itu kemuliaannya bagiku hanya sebatas yang pernah aku baca saja dari buku–buku, namun Al Habib Hasan itu kemuliaannya bagiku langsung aku saksikan dengan kedua belah mataku.“

"Kesimpulan terakhir adalah Kemuliaan Nabi diatas Kemuliaan Waliy . Tetapi masyhad di dalam hati seseorang bisa jadi membuatnya lain. Bukan berarti merendahkan kemuliaan Nabi" 


Sumber : 

Thursday, August 4, 2016

Tak Pernah Diciptakan Tapi Selalu Dicari


Tak pernah diciptakan tapi selalu dicari.... apakah itu??? Nabi Muhammad ﷺ bertanya kepada malaikat Jibril As,

“ apakah engkau (malaikat Jibril) pernah tertawa ??? ”
قال له نعم
 

Malaikat Jibril menjawab kepada Rasulullah ﷺ : “ Ya ”
 

Nabi Muhammad ﷺ berkata kepada malaikat Jibril, “ Kapan ? ”
 

Berkata malaikat Jibril;
 

“ ketika manusia diciptakan dan dari mulai diciptakan sampai wafatnya, sedangkan dia mencari dari sesuatu yang tidak pernah diciptakan didunia Nabi ShallAllaahu alaihi wasallam merasa heran dan beliau bersabda; 

apakah sesuatu yang dicari dari manusia sedangkan hal tersebut tidak pernah diciptakan didunia?

قال جبرائيل: الراحه.
Berkata malaikat Jibril; “ KETENANGAN ”

Sesungguhnya ALLAH tidak menciptakan ketenangan di dunia tetapi ALLAH menciptakannya di akhirat. Maka manusia selalu mencari ketenangan.


BACA JUGA :

Maka anak kecil berkata kapan menjadi dewasa.

Sementara pemuda berkata andai saja aku kembali kecil.

Dan orang tua berkata andai saja masa muda kembali lagi.

Dan orang yang telah menikah berkata andai saja aku kembali pada masa lajang.

Dan orang yang lajang berkata andai saja aku telah menikah.

Dan yang memiliki banyak anak berkata andai saja aku memiliki (walau) satu anak saja.

Dan yang memiliki banyak anak berontak seraya berkata andai saja aku tidak memiliki banyak anak.

Dan yang telah menikah dengan satu perempuan menginginkan menikah lagi mencari ketenangan, semuanya mencari ketenangan akan tetapi tidak ada yang namanya ketenangan didunia ini. Maka wajib kita merasa cukup dengan apa-apa yang telah ALLAH menentukan untuk kita dan kita bersyukur atas hal tersebut (ketentuan ALLAH). Dan kita mengetahui, sesungguhnya ketenangan kita terdapat didalam ibadah kepadaNya & ketaatan kepadaNya agar supaya kita mendapatkan makna ketenangan di akhirat dan menangislah atas (kekurangan) dirimu.

فمن ترك قراءة القرآن ♡
Maka barangsiapa yang meninggalkan bacaan al-qur'an
ثلاثة أيام منْ غير عذر
3 hari tanpa udzur سُميّ هاجراً ! *
Dialah yang dikatakan orang yang menjauhi (dari al-qur'an, menjauhi dari ketenangan). 

Oleh Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz.

Monday, July 25, 2016

Syafaatnya Rasulullah SAW Kepada Umatnya

http//:syarifalfarisi.blogspot.com

Ini adalah sekelumit “kisah masa depan”, ketika seluruh manusia berkumpul di hari kiamat. Kisah ini disampaikan oleh Rasulullah kepada para sahabatnya. Dalam kisah itu diceritakan bahwa Allah mengumpulkan seluruh manusia dari yang pertama hingga yang terakhir dalam satu daratan. Pada hari itu matahari mendekat kepada mereka, dan manusia ditimpa kesusahan dan penderitaan yang mereka tidak kuasa menahannya.
 
Lalu di antara mereka ada yang berkata, “Tidakkah kalian lihat apa yang telah menimpa kita, tidakkah kalian mencari orang yang bisa memberikan syafa’at kepada Rabb kalian?”
 
Yang lainnya lalu menimpali, “Bapak kalian adalah Adam AS.”
 
Akhirnya mereka mendatangi Adam lalu berkata, “Wahai Adam, Anda bapak manusia, Allah menciptakanmu dengan tangan-Nya, dan meniupkan ruh kepadamu, dan memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadamu, dan menempatkanmu di surga. Tidakkah engkau syafa’ati kami kepada Rabb-mu? Apakah tidak kau saksikan apa yang menimpa kami?”
 
Maka Adam berkata, “Sesungguhnya Rabbku pada hari ini sedang marah yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya, dan sesungguhnya Dia telah melarangku untuk mendekati pohon (khuldi) tapi aku langgar. Nafsi nafsi (aku mengurusi diriku sendiri), pergilah kalian kepada selainku, pergilah kepada Nuh AS.”
 
Lalu mereka segera pergi menemui Nuh AS dan berkata, “Wahai Nuh, engkau adalah Rasul pertama yang diutus ke bumi, dan Allah telah memberikan nama kepadamu seorang hamba yang bersyukur (abdan syakuro), tidakkah engkau saksikan apa yang menimpa kami, tidakkah engkau lihat apa yang terjadi pada kami? Tidakkah engkau beri kami syafa’at menghadap Rabb-mu?”
 
Maka Nuh berkata, “Sesungguhnya Rabbku pada hari ini marah dengan kemarahan yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya. Sesungguhnya aku punya doa, yang telah aku gunakan untuk mendoakan (celaka) atas kaumku. Nafsi nafsi, pergilah kepada selainku, pergilah kepada Ibrahim AS!”
 
Lalu mereka segera menemui Ibrahim dan berkata, “Wahai Ibrahim, engkau adalah Nabi dan kekasih Allah dari penduduk bumi, syafa’atilah kami kepada Rabb-mu! Tidakkah kau lihat apa yang menimpa kami?”
 
Maka Ibrahim berkata, “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini marah dengan kemarahan yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya, dan sesungguhnya aku telah berbohong tiga kali. Nafsi nafsi, pergilah kalian kepada selainku, pergilah kalian kepada Musa AS!”
 
Lalu mereka segera pergi ke Musa, dan berkata, “Wahai Musa, engkau adalah utusan Allah. Allah telah memberikan kelebihan kepadamu dengan risalah dan kalam-Nya atas sekalian manusia. Syafa’atilah kami kepada Rabb-mu! Tidakkah kau lihat apa yang kami alami?”
 
Lalu Musa berkata, “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini sedang marah dengan kemarahan yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan pernah marah seperti ini sesudahnya. Dan sesungguhnya aku telah membunuh seseorang yang aku tidak diperintahkan untuk membunuhnya. Nafsi nafsi, pergilah kalian kepada selainku, pergilah kalian kepada Isa AS!”
 
Lalu mereka pergi menemui Isa, dan berkata, “Wahai Isa, engkau adalah utusan Allah dan kalimat-Nya yang dilontarkan kepada Maryam, serta ruh dari-Nya. Dan engkau telah berbicara kepada manusia semasa dalam gendongan. Berilah syafa’at kepada kami kepada Rabb-mu! Tidakkah kau lihat apa yang kami alami?”
 
Maka Isa berkata, “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini sedang marah dengan kemarahan yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya. Nafsi nafsi, pergilah kepada selainku, pergilah kepada Muhammad SAW!”
 
Akhirnya mereka mendatangi Muhammad SAW, dan berkata, “Wahai Muhammad, engkau adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Allah telah mengampuni dosamu yang lalu maupun yang akan datang. Syafa’atilah kami kepada Rabb-mu, tidakkah kau lihat apa yang kami alami?”
 
Lalu Nabi Muhammad SAW pergi menuju bawah ‘Arsy. Di sana beliau bersujud kepada Rabb, kemudian Allah membukakan kepadanya dari puji-pujian-Nya, dan indahnya pujian atas-Nya, sesuatu yang tidak pernah dibukakan kepada seorangpun sebelum Nabi Muhammad. Kemudian Allah SWT berkata kepada Muhammad, “Wahai Muhammad, angkat kepalamu, mintalah, niscaya kau diberi, dan berilah syafa’at niscaya akan dikabulkan!”
 
Maka Muhammad SAW mengangkat kepalanya dan berkata, “Ummatku wahai Rabb-ku, ummatku wahai Rabb-ku, ummatku wahai Rabb-ku!”
Lalu disampaikan dari Allah kepadanya, “Wahai Muhammad, masukkan ke surga di antara umatmu yang tanpa hisab dari pintu sebelah kanan dari sekian pintu surga, dan mereka adalah ikut memiliki hak bersama dengan manusia yang lain pada selain pintu tersebut dari pintu-pintu surga.”

Di dalam kisah ini, Rasulullah SAW juga menceritakan bahwa lebar jarak antara kedua sisi pintu surga itu, bagaikan jarak Makkah dan Hajar, atau seperti jarah Makkah dan Bushro. Hajar adalah nama kota besar pusat pemerintahan Bahrain. Sedangkan Bushro adalah kota di Syam. Bisa kita bayangkan, betapa tebalnya pintu-pintu surga itu.
 
Itulah sekelumit kisah nyata di masa depan ketika hari kiamat. Pada hari itu, Rasulullah SAW memberi syafa’at kepada ummatnya. Pada hari itu Rasulullah SAW menjadi sayyid (tuan)nya manusia. Shalawat dan salam kepada Rasulullah Muhammad SAW.

"Semoga bermanfaat, dan bisa menambahkan rasa cinta kita kepada junjungan Nabi kita Nabi Muhammad SAW" 


Sumber : http://ahlulbaitrasulullah.blogspot.com

Saturday, July 23, 2016

Tamu Itu Membawa BERKAH

http://syarifalfarisi.blogspot.com
Di riwayatkan ada seorang lelaki yang senang kedatangan tamu. Namun isterinya menunjukkan sikap sebaliknya. Setiap kali ia membawa tamu kerumah, isterinya menunjukkan sikap yang tidak baik. Orang itu mengeluhkan keadaan ini kepada Rasulullah صلى الله عليه و سلم.

Mendengar itu, Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda, 
"Katakan kepada isterimu, hari ini Rasulullah صلى الله عليه و سلم dan beberapa orang sahabatnya akan bertamu ke rumah kita." Rasulullah صلى الله عليه و سلم berpesan kepada orang itu,
"Katakan kepada isterimu supaya ia memerhatikan tamu pada saat keluar rumah."

Isteri laki-laki itu melakukan apa yang diperintahkan Rasulullah صلى الله عليه و سلم. Pada saat tamu masuk, ia melihat mereka membawa daging dan buah-buahan yang banyak dan pada saat keluar mereka membawa keluar ular dan kala jengking yang begitu banyak.

Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda, 
"Kedatangan tamu kerumah mendatangkan kurnia yang banyak kedalam rumah dan pada saat pergi, mereka membawa keluar berbagai bencana."


Dengan menyaksikan hal itu, wanita itu pun berubah menjadi orang yang suka menerima tamu.

Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda, 
"Sesungguhnya seorang tamu yang datang mengunjungi seseorang,membawa rezeki untuk orang tersebut dari langit. Apabila ia memakan sesuatu, Allah سبحانه و تعالى akan mengampuni penghuni rumah yang dikunjungi tersebut."

Dalam kesempatan lain, Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda,
"Setiap rumah yang tidak dikunjungi tamu, maka malaikat-pun tidak akan mengunjungi rumah tersebut."
  
Imam Jaafar ash-Sadiq رضي الله عنه berkata,
"Barangsiapa mengunjungi sahabatnya semata-mata karena Allah, niscaya Allah سبحانه و تعالى mengutus 70 ribu malaikat untuk menyertainya. Para malaikat itu berkata, 'Syurga untuk kamu."

Sesungguhnya beruntunglah rumah-rumah yang sering kedatangan tamu, maka dari itu janganlah mengeluh jika ada orang yang ingin bertamu.. 

Adab Bertamu dan Memuliakan Tamu

Pembaca muslim yang dimuliakan oleh Allah ta’ala, seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir akan mengimani wajibnya memuliakan tamu sehingga ia akan menempatkannya sesuai dengan kedudukannya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلأخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
“Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari)

Berikut ini adalah adab-adab yang berkaitan dengan tamu dan bertamu. Kami membagi pembahasan ini dalam dua bagian, yaitu adab bagi tuan rumah dan adab bagi tamu.

Adab Bagi Tuan Rumah
1. Ketika mengundang seseorang, hendaknya mengundang orang-orang yang bertakwa, bukan orang yang fajir (bermudah-mudahan dalam dosa), sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا,وَلاَ يَأْكُلُ طَعَامَك َإِلاَّ تَقِيٌّ
“Janganlah engkau berteman melainkan dengan seorang mukmin, dan janganlah memakan makananmu melainkan orang yang bertakwa!” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

2. Tidak mengkhususkan mengundang orang-orang kaya saja, tanpa mengundang orang miskin, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ يُدْعَى لَهَا الأَغْنِيَاءُ ، وَيُتْرَكُ الْفُقَرَاءُ
“Sejelek-jelek makanan adalah makanan walimah di mana orang-orang kayanya diundang dan orang-orang miskinnya ditinggalkan.” (HR. Bukhari Muslim)

3. Tidak mengundang seorang yang diketahui akan memberatkannya kalau diundang.

4. Disunahkan mengucapkan selamat datang kepada para tamu sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya tatkala utusan Abi Qais datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda,
مَرْحَبًا بِالْوَفْدِ الَّذِينَ جَاءُوا غَيْرَ خَزَايَا وَلاَ نَدَامَى
“Selamat datang kepada para utusan yang datang tanpa merasa terhina dan menyesal.” (HR. Bukhari)

5. Menghormati tamu dan menyediakan hidangan untuk tamu makanan semampunya saja. Akan tetapi, tetap berusaha sebaik mungkin untuk menyediakan makanan yang terbaik. Allah ta’ala telah berfirman yang mengisahkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama tamu-tamunya:
فَرَاغَ إِلىَ أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِيْنٍ . فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ آلاَ تَأْكُلُوْنَ
“Dan Ibrahim datang pada keluarganya dengan membawa daging anak sapi gemuk kemudian ia mendekatkan makanan tersebut pada mereka (tamu-tamu Ibrahim) sambil berkata: ‘Tidakkah kalian makan?'” (Qs. Adz-Dzariyat: 26-27)

6. Dalam penyajiannya tidak bermaksud untuk bermegah-megah dan berbangga-bangga, tetapi bermaksud untuk mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Nabi sebelum beliau, seperti Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Beliau diberi gelar “Abu Dhifan” (Bapak para tamu) karena betapa mulianya beliau dalam menjamu tamu.

7. Hendaknya juga, dalam pelayanannya diniatkan untuk memberikan kegembiraan kepada sesama muslim.

8. Mendahulukan tamu yang sebelah kanan daripada yang sebelah kiri. Hal ini dilakukan apabila para tamu duduk dengan tertib.

9. Mendahulukan tamu yang lebih tua daripada tamu yang lebih muda, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيُجِلَّ كَبِيْرَنَا فَلَيْسَ مِنَّا
“Barang siapa yang tidak mengasihi yang lebih kecil dari kami serta tidak menghormati yang lebih tua dari kami bukanlah golongan kami.” (HR Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad). Hadits ini menunjukkan perintah untuk menghormati orang yang lebih tua.

10. Jangan mengangkat makanan yang dihidangkan sebelum tamu selesai menikmatinya.

11. Di antara adab orang yang memberikan hidangan ialah mengajak mereka berbincang-bincang dengan pembicaraan yang menyenangkan, tidak tidur sebelum mereka tidur, tidak mengeluhkan kehadiran mereka, bermuka manis ketika mereka datang, dan merasa kehilangan tatkala pamitan pulang.

12. Mendekatkan makanan kepada tamu tatkala menghidangkan makanan tersebut kepadanya sebagaimana Allah ceritakan tentang Ibrahim ‘alaihis salam,
فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ
“Kemudian Ibrahim mendekatkan hidangan tersebut pada mereka.” (Qs. Adz-Dzariyat: 27)

13. Mempercepat untuk menghidangkan makanan bagi tamu sebab hal tersebut merupakan penghormatan bagi mereka.

14. Merupakan adab dari orang yang memberikan hidangan ialah melayani para tamunya dan menampakkan kepada mereka kebahagiaan serta menghadapi mereka dengan wajah yang ceria dan berseri-seri.

15. Adapun masa penjamuan tamu adalah sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الضِّيَافَةُ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ وَجَائِزَتُهُ يَوْمٌ وَلَيَْلَةٌ وَلاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ مُسْلِمٍ أَنْ يُقيْمَ عِنْدَ أَخِيْهِ حَتَّى يُؤْثِمَهُ قاَلُوْا يَارَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يُؤْثِمَهُ؟ قَالَ :يُقِيْمُ عِنْدَهُ وَلاَ شَيْئَ لَهُ يقْرِيْهِ بِهِ
“Menjamu tamu adalah tiga hari, adapun memuliakannya sehari semalam dan tidak halal bagi seorang muslim tinggal pada tempat saudaranya sehingga ia menyakitinya.” Para sahabat berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana menyakitinya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sang tamu tinggal bersamanya sedangkan ia tidak mempunyai apa-apa untuk menjamu tamunya.”

16. Hendaknya mengantarkan tamu yang mau pulang sampai ke depan rumah.

Adab Bagi Tamu
1. Bagi seorang yang diundang, hendaknya memenuhinya sesuai waktunya kecuali ada udzur, seperti takut ada sesuatu yang menimpa dirinya atau agamanya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ دُعِىَ فَلْيُجِبْ
“Barangsiapa yang diundang maka datangilah!” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
وَمَنْ تَرَكَ الدَّعْـوَةَ فَقَدْ عَصَى اللهَ وَرَسُوْلَهُ
“Barang siapa yang tidak memenuhi undangan maka ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari)
Untuk menghadiri undangan maka hendaknya memperhatikan syarat-syarat berikut:
  • Orang yang mengundang bukan orang yang harus dihindari dan dijauhi.
  • Tidak ada kemungkaran pada tempat undangan tersebut.
  • Orang yang mengundang adalah muslim.
  • Penghasilan orang yang mengundang bukan dari penghasilan yang diharamkan. Namun, ada sebagian ulama menyatakan boleh menghadiri undangan yang pengundangnya berpenghasilan haram. Dosanya bagi orang yang mengundang, tidak bagi yang diundang.
  • Tidak menggugurkan suatu kewajiban tertentu ketika menghadiri undangan tersebut.
  • Tidak ada mudharat bagi orang yang menghadiri undangan.
2. Hendaknya tidak membeda-bedakan siapa yang mengundang, baik orang yang kaya ataupun orang yang miskin.

3. Berniatlah bahwa kehadiran kita sebagai tanda hormat kepada sesama muslim. Sebagaimana hadits yang menerangkan bahwa, “Semua amal tergantung niatnya, karena setiap orang tergantung niatnya.” (HR. Bukhari Muslim)

4. Masuk dengan seizin tuan rumah, begitu juga segera pulang setelah selesai memakan hidangan, kecuali tuan rumah menghendaki tinggal bersama mereka, hal ini sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala dalam firman-Nya:
يَاأََيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَدْخُـلُوْا بُيُـوْتَ النَّبِي ِّإِلاَّ أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَى طَـعَامٍ غَيْرَ نَاظِـرِيْنَ إِنهُ وَلِكنْ إِذَا دُعِيْتُمْ فَادْخُلُوْا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِـرُوْا وَلاَ مُسْتَئْنِسِيْنَ لِحَدِيْثٍ إَنَّ ذلِكُمْ كَانَ يُؤْذِى النَّبِيَّ فَيَسْتَحِي مِنْكُمْ وَاللهُ لاَ يَسْتَحِي مِنَ اْلحَقِّ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak makanannya! Namun, jika kamu diundang, masuklah! Dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa memperpanjang percakapan! Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi. Lalu, Nabi malu kepadamu untuk menyuruh kamu keluar. Dan Allah tidak malu menerangkan yang benar.” (Qs. Al Azab: 53)

5. Apabila kita dalam keadaan berpuasa, tetap disunnahkan untuk menghadiri undangan karena menampakkan kebahagiaan kepada muslim termasuk bagian ibadah. Puasa tidak menghalangi seseorang untuk menghadiri undangan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إذَا دُعِىَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجِبْ فَإِنْ كَانَ صَاِئمًا فَلْيُصَِلِّ وِإِنْ كَانَ مُفْـطِرًا فَلْيُطْعِمْ
“Jika salah seorang di antara kalian di undang, hadirilah! Apabila ia puasa, doakanlah! Dan apabila tidak berpuasa, makanlah!” (HR. Muslim)

6. Seorang tamu meminta persetujuan tuan untuk menyantap, tidak melihat-lihat ke arah tempat keluarnya perempuan, tidak menolak tempat duduk yang telah disediakan.

7. Termasuk adab bertamu adalah tidak banyak melirik-lirik kepada wajah orang-orang yang sedang makan.

8. Hendaknya seseorang berusaha semaksimal mungkin agar tidak memberatkan tuan rumah, sebagaimana firman Allah ta’ala dalam ayat di atas: “Bila kamu selesai makan, keluarlah!” (Qs. Al Ahzab: 53)

9. Sebagai tamu, kita dianjurkan membawa hadiah untuk tuan rumah karena hal ini dapat mempererat kasih sayang antara sesama muslim,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berilah hadiah di antara kalian! Niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari)

10. Jika seorang tamu datang bersama orang yang tidak diundang, ia harus meminta izin kepada tuan rumah dahulu, sebagaimana hadits riwayat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:
كَانَ مِنَ اْلأَنْصَارِ رَجـُلٌ يُقَالُ لُهُ أَبُوْ شُعَيْبُ وَكَانَ لَهُ غُلاَمٌ لِحَامٌ فَقَالَ اِصْنَعْ لِي طَعَامًا اُدْعُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَامِسَ خَمْسَةٍ فَدَعَا رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَامِسَ خَمْسَةٍ فَتَبِعَهُمْ رَجُلٌ فَقَالَ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّكَ دَعَوْتَنَا خَامِسَ خَمْسَةٍ وَهذَا رَجُلٌ قَدْ تَبِعَنَا فَإِنْ شِئْتَ اْذَنْ لَهُ وَإِنْ شِئْتَ تَرَكْتُهُ قَالَ بَلْ أَذْنْتُ لَهُ
“Ada seorang laki-laki di kalangan Anshor yang biasa dipanggil Abu Syuaib. Ia mempunyai seorang anak tukang daging. Kemudian, ia berkata kepadanya, “Buatkan aku makanan yang dengannya aku bisa mengundang lima orang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengundang empat orang yang orang kelimanya adalah beliau. Kemudian, ada seseorang yang mengikutinya. Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Engkau mengundang kami lima orang dan orang ini mengikuti kami. Bilamana engkau ridho, izinkanlah ia! Bilamana tidak, aku akan meninggalkannya.” Kemudian, Abu Suaib berkata, “Aku telah mengizinkannya.”” (HR. Bukhari)

11. Seorang tamu hendaknya mendoakan orang yang memberi hidangan kepadanya setelah selesai mencicipi makanan tersebut dengan doa:
أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُوْنَ, وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ اْلأَبْرَارَ,وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ اْلمَلاَئِكَةُ
“Orang-orang yang puasa telah berbuka di samping kalian. Orang-orang yang baik telah memakan makanan kalian. semoga malaikat mendoakan kalian semuanya.” (HR Abu Daud)
اَللّهُـمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِي, وَاْسقِ مَنْ سَقَانِي
“Ya Allah berikanlah makanan kepada orang telah yang memberikan makanan kepadaku dan berikanlah minuman kepada orang yang telah memberiku minuman.” (HR. Muslim)
اَللّهُـمَّ اغْـفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَبَارِكْ لَهُمْ فِيْمَا رَزَقْتَهُمْ
“Ya Allah ampuni dosa mereka dan kasihanilah mereka serta berkahilah rezeki mereka.” (HR. Muslim)

12. Setelah selesai bertamu hendaklah seorang tamu pulang dengan lapang dada, memperlihatkan budi pekerti yang mulia, dan memaafkan segala kekurangan tuan rumah.

Semoga bermanfaat..


Sumber : https://ahlulbaitrasulullah.blogspot.com