Sunday, January 17, 2016

Cara Tidur Sehat Menurut Sunnah Nabi Muhammad SAW

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6350621372319428354#editor/target=post;postID=1633300273691486487
Beginilah Cara Tidur Sehat Menurut Sunnah Nabi
Maha suci Allah yang telah menjadikan siang terang benderang dan malam gelap gulita. Dijadikannya siang sebagai waktu untuk mencari penghidupan dan dijadikannya malam sebagai waktu untuk beristirahat.

Sebagaimana kita semua rasakan bahwa anggota-anggota tubuh tidak akan terasa selalu fit. Setelah banyak beraktivitas, anggota-anggota tubuh tersebut pasti akan terserang lelah. Di saat seperti itulah perlu yang namanya tidur, istirahat total yang bisa mengembalikan kebugaran tubuh kita.

Namun sering terjadi dimana setelah bangun tidur, bukan kesegaran yang dirasakan tapi justru rasa lemas yang membuat malas. Jika kondisi ini kerap melanda, ada baiknya kita cek kembali tata cara tidur yang kita jalani. Mungkin saja tata cara tidur yang kita jalani berbeda dengan cara tidur sehat ala Nabi.

Nabi Muhammad SAW adalah manusia pilihan Allah SWT yang hidup kurang lebih 1400 tahun yang lalu. Perkembangan IPTEK zaman tersebut belum sepesat sekarang. Namun para ilmuwan modern telah mengakui secara ilmiah bahwa tata cara tidur ala Rasul tersebut memberikan efek besar bagi kesehatan tubuh.

Jadi tunggu apa lagi mari kita simak cara tidur sehat ala Nabi berikut ini:

1. Tidur Dalam Kondisi Gelap

Rasulullah SAW selalu tidur dalam kondisi gelap, sebagaimana sabdanya: "Padamkanlah lampu saat akan tidur, tutuplah pintu, tutuplah rapat-rapat bejana-bejana dan tutuplah makanan dan minuman". (H.R Mutafaqun ‘alaih).

Mungkin ada yang berpikiran bahwa perintah memadamkan lampu tersebut lebih ke arah menjakoniga rumah dari bahaya kebakaran. Lampu zaman dulu pasti berbeda dengan lampu zaman sekarang. Lampu zaman dulu pasti masih menggunakan minyak dan sumbu, sehingga jika tersenggol akan sangat rentan menyebabkan kebakaran. Maka dari itu timbullah perintah untuk memadamkan lampu saat akan tidur.

Namun ternyata manfaat lebih jauh dari memadamkan lampu dikala tidur bukan hanya mencegah dari terjadinya kebakaran. Joan Roberts (ahli biologi) menemukan bahwa orang yang tidur dalam kondisi gelap lebih tahan terhadap penyakit. Hal ini dikarenakan sistem kekebalan tubuh akan terbentuk lebih optimal. Selain itu, kondisi gelap juga memicu pembentukan hormon melatonin yang berperan sebagai antioksidan sehingga sel-sel tubuh akan terhindar dari radikal bebas yang berbahaya.

Lain halnya jika seseorang terpapar penerangan cahaya lampu ketika tidur, maka jam biologis tubuh akan terganggu. Akibatnya sel-sel tubuh menampakkan ekspresi yang berlebihan dimana akhirnya hal ini ditenggarai sebagai pemicu tumbuhnya sel-sel kanker (Jurnal Cancer Genetics and Cytogenetics). Dari segi psikis, orang yang terpapar cahaya lampu terus menerus di malam hari akan berpengaruh pada moodnya. Orang tersebut akan lebih mudah merasa depresi yang tentu saja akan mempengaruhi aktivitas hariannya.

2. Posisi Tidur Miring Ke Arah Kanan

Nabi SAW bersabda: "Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu". (HR Bukhari-Muslim).

Perintah untuk berbaring di atas rusuk sebelah kanan ini memberikan efek medis yang sangat menakjubkan. New York Times pernah memuat jurnal penelitian dari American College of Cardiologi yang menerangkan bahwa posisi tidur miring ke arah kanan dapat menurunkan resiko penyakit jantung, menyehatkan lambung dan banyak organ lainnya. Posisi tidur ke arah kanan menyebabkan banyak organ-organ penting tubuh tidak tertindih oleh organ lainnya. Hal inilah yang menyebabkan posisi tidur miring ke arah kanan menjadi solusi tepat bagi kesehatan.

Jadi anjuran tidur ke arah kanan bukan hanya dikarenakan di dalam Islam kanan lebih utama daripada kiri. Namun terlepas dari keutamaan tersebut ada manfaat besar yang bisa dipetik dari posisi tidur miring ke kanan tersebut.

3. Tidak Tidur Dengan Posisi Telungkup

Suatu ketika, Rasulullah SAW pernah menjumpai seorang laki-laki yang tidur dalam posisi telungkup di dalam masjid. Rasulullah SAW bersabda: "Bangkitlah engkau, atau duduklah, seseungguhnya tidurmu itu adalah tidur dalam neraka Jahanam". (HR Ibnu Majah).

Dari hadist tersebut kita dapat pahami bahwa Nabi SAW melarang orang tidur dengan posisi telungkup. Larangan ini memang tidak dijelaskan oleh Nabi SAW dari segi kesehatan. Namun kajian ilmu kesehatan modern mengungkap bahwa tidur dengan posisi telungkup sangat berbahaya bagi kinerja jantung dan otak. Hal ini terkait dengan asupan oksigen yang berkurang drastis pada kedua organ tersebut, jika kita memilih posisi tidur telungkup. Tentu saja hal ini sangat beresiko karena kedua organ tersebut adalah organ yang sangat vital untuk keberlangsungan hidup tubuh manusia.

Di samping itu, kebiasaan tidur telungkup dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan seseorang kesulitan bernapas. Posisi tidur telungkup menyebabkan berat badan seseorang bertumpu pada satu titik yakni menekan ke arah dada sehingga paru-paru akan susah berkontraksi dan berelaksasi.

Dr. Zafir Al Attar (peneliti asal Australia) mengungkap bahwa anak-anak yang tidur telungkup mengalami resiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidur dengan posisi menyamping. Hal ini terkait dengan jumlah asupan oksigen pada organ-organ vital seperti yang telah diibahas di atas.

4. Tidak Tidur Dengan Posisi Terlentang

Posisi tidur terbaik memang menyamping ke arah kanan. Jika seseorang mempunyai kebiasaan tidur dalam posisi terlentang, maka yang akan beresiko mengalami kelainan adalah tulang belakang. Hal ini disebabkan karena seluruh berat badan bertumpu pada tulang belakang.

Dr. Zafir Al attar juga menjelaskan bahwa posisi tidur terlentang menyebabkan seseorang bernapas melalui mulut. Sehingga mulut menjadi kering dan rentan terjadi peradangan gusi. Selain itu kuman dan kotoran dalam udara pernapasan yang seharusnya terperangkap pada rambut-rambut halus dan lendir di hidung, akan leluasa masuk melalui mulut. Hasilnya, orang yang bernapas melalui mulut rawan terserang influenza dan penyakit terkait sistem pernapasan lainnya.

5.Tidur Dengan Meluruskan Punggung dan Sedikit Menekuk Kaki

Dengan mempraktekkan tidur ala nabi yakni meluruskan punggung dan sedikit menekuk kaki maka organ-organ dan anggota gerak tubuh akan terasa rileks. Menekuk sedikit kaki akan membuat otot-otot perut lebih santai. Maka bangun tidur pun akan lebih terasa segar karena anggota-anggota tubuh kita mendapatkan istirahat yang optimal.

6. Meletakkan Tangan Kanan Di Bawah Pipi Kanan

Menjadikan tangan sebagai alas tidur membuat posisi leher, posisi kepala dan posisi punggung berada dalam garis lurus. Hal ini bisa menghindarkan kita dari sakit leher yang diakibatkan salah bantal atau salah posisi tidur. Sakit leher karena salah posisi tidur bisa bertahan sampai berhari-hari dan tentunya sangat mengganggu aktifitas harian kita. Hal ini ternyata dapat dihindari dengan cara yang sangat sederhana yakni tidur dengan meletakkan tangan kanan di bawah pipi kanan.

7. Tidur Lebih Awal (Selepas Sholat Isya)

Jika tidak ada aktifitas lain yang mendesak dan sangat penting, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya agar tidur lebih awal yaitu selepas sholat isya. Dari segi ibadah, orang yang tidur lebih awal akan bisa bangun lebih awal pula yakni di sepertiga malam untuk melaksanakan shalat malam (tahajud). Sehingga orang tersebut dapat mengecap manisnya bermunajat kepada Robbnya dalam keheningan dan kesendirian.

Sedangkan dari segi kesehatan, tidur lebih awal akan mendukung organ hati dan sumsum tulang belakang dalam menjalankan fungsinya. Malam adalah waktu terbaik bagi hati menjalankan fungsinya dalam menetralkan racun yang masuk ke dalam tubuh dan merombak sel-sel darah yang rusak.

Sumsum tulang belakang pun akan bekerja lebih optimal dalam memproduksi sel-sel darah merah baru yang akan diedarkan ke seluruh tubuh. Sebagaimana kita semua ketahui bahwa sel-sel darah merah mempunyai kemampuan mengikat oksigen yang diperlukan dalam pernapasan sel tubuh. Jika pembentukan sel darah merah lancar maka sel-sel tubuh yang lainnya akan lebih sehat dan terasa segar.

8. Mengibaskan Tempat Tidur Sebelum Ditiduri

Memang anjuran mengibaskan tempat tidur terlebih dahulu sambil membaca taawudz sebelum ditiduri bertujuan agar jin yang tidur di tempat tidur kita berpindah tempat. Namun jika ditinjau dari segi kesehatan, mengibas-ngibas tempat tidur sebelum ditiduri dapat membersihkan segala kotoran yang menempel yang mungkin saja menjadi penyebab penyakit.

Demikian ulasan tidur sehat ala Nabi, semoga dapat menjadi pengetahuan yang bukan hanya menambah wawasan namun juga dapat dijadikan amalan rutin sehingga dapat dipetik manfaatnya bagi kesehatan tubuh kita.

Syeikh Abdul Qadir Al-jailani Rajanya Para Waliyullah

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6350621372319428354#editor/target=post;postID=856059787583550558;onPublishedMenu=posts;onClosedMenu=posts;postNum=0;src=link




Beliau adalah tuan kita, teladan dari semua wali terbaik, papan arah menuju arah yang benar, beliau adalah poros ketuhanan (Qutub Rabbani), nama lengkap beliau adalah Abu Shalih Sayyidi ‘Abdul Qadir bin Musa bin ‘Abbdullah bin Yahya az-Zahid bin Muhammad bin Dawud bin Musa al-Jun bin ‘Abdullah al-Mahdhi bin al-Hasan al-Musatanna bin al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Beliau yang terkenal dengan nama ‘Abdul Qadir al-Jailani. Beliau lahir pada tahun 470 H, danwafat pada tahun 561  H. dimakamkan di Baghdad. Ibu beliau adalah Ummul Khair (dalam bahasa arab berarti ibu kebaikan), ia pernah berkisah: “Ketika aku melahirkan ‘Abdul Qadir al-Jailani, dia tidak mau menyusu ke putingku selama siang hari bulan Ramadhan. Bulan baru Ramadhan suatu kali tertutup awan sehingga orang-orang datang kepadaku dan bertanya tentang ‘Abdul Qadir al-Jailani, maka aku
katakan kepada mereka, bahwa ‘dia tidak menyusu pada putingku hari ini.’ Hal itu kemudian menjadi isyarat yang jelas bahwa hari itu adalah awal Ramadhan.”

Kabar tersebut lalu menyebar luas, bahwa seorang bocah (‘Abdul Qadir al-Jailani) lahir dengan membawa berbagai kemuliaan (keajaiban), dan bahwa ia adalah bayi yang tidak mau menyusu di siang hari Ramadhan. Dan dikabarkan pula, bahwa sang Ibunda mengandungnya ketika berusia 16th. Dikatakan bahwa, tidak mungkin ada gadis 16th bisa hamil kecuali dia perempuan Quraisy, dan tidak ada gadis 16th yang bisa punya anak kecuali dia pasti orang Arab.

Ketika ‘Abdul Qadir al-Jailani lahir, sang bayi disambut oleh tangan-tangan keanugerahan yang agung,
dan sang bayi diliputi oleh cahaya petunjuk di belakangnya maupun di depannya. Ketika ‘Abdul Qadir al-Jailani berusia 5th, sang ibu mengirimkannya ke sebuah madrasah lokal di Jilan. Beliau menuntut ilmu di madrasah tersebut hingga berumur 10th. Selama belajar di madrasah tersebut, beberapa peristiwa menakjubkan terjadi. Setiap kali ‘Abdul Qadir al-Jailani akan memasuki madrasah, beliau melihat sosok-sosok bercahaya yang berjalan di depanya sambil berkata, “Beri jalan untuk Wali Allah!” Dan ketika beliau pernah ditanya kapan beliau mengetahui bahwa dirinya menerima walayah (pangkat kewalian), beliau menjawab, “Ketika aku berusia sepuluh tahun, kulihat para malaikat berjalan mengiringiku dalam perjalanan menuju madrasah, dan mereka selalu berkata, “Beri jalan untuk Wali Allah.” Kejadian itu terus menerus berulang sampai aku paham bahwa aku dianugerahi walayah.”

Berpisah dengan Sang Bunda

Adalah Syekh Muhammad bin Qa’id al-Awani yang berkata, bahwa al-Jailani muda meminta izin kepada sang Bunda untuk pergi ke Baghdad menimba ilmu, beliau berkata “Bunda, berilah aku kesempatan untuk menuju Allah Swt. Izinkan aku pergi ke Baghdad, di mana aku akan berusaha memperoleh ilmu pengetahuan dan di sana aku akan bertemu dengan orang-orang shalih.” Sang Bunda menangis mendengar beliau akan pergi, kemudian masuk ke dalam kamar dan mengambil uang sebanyak delapan puluh dinar. Uang itu adalah warisan dari ayahanda beliau. Kemudian sang Bunda memasukkan uang tersebut ke dalam saku beliau empat puluh dinar, dan sisanya dimasukkan ke saku baju mantel beliau. Sang Bunda meminta beliau berjanji untuk selalu berlaku jujur dalam keadaan apapun.

Ketika sang Bunda mengantar beliau sampai di depan pintu rumah, sang Bunda mengucapkan selamat
tinggal dan berkata, “Anakku, pergilah, karena aku telah melepaskan engkau demi mencari Allah. Aku
tahu, mungkin aku tidak akan bertemu lagi dengan wajahmu hingga hari kebangkitan kelak.” Maka
pergilah beliau menuju Baghdad. Sejarah hidup beliau terus berlanjut sampai akhirnya beliau menetap di Baghdad, dan waktu itu umur beliau 18th. Pada masa itu, khalifah yang berkuasa di Baghdad adalah al-Mustazhir. Ketika beliau akan memasuki kota Baghdad, beliau dihadang oleh al-Khidir sembari
berkata kepadanya, “Aku tidak akan pernah mengizinkan kamu masuk ke kota Baghdad sampai tujuh tahun ke depan.” Beliau akhirnya tinggal di pinggiran sungai tigris selama tujuh tahun dengan hanya memakan dedaunan dari jenis yang boleh dimakan sampai suatu kali leher beliau berubah warna menjadi hijau.

Pada suatu malam beliau mendengar suara yang mengatakan, “Wahai ‘Abdul Qadir al-Jailani, sekarang
masuklah ke Baghdad.” Setelah mendengar suara itu, beliau segera memasuki Baghdad. Malam itu cuaca sangat dingin dan hujan, maka ‘Abdul Qadir al-Jailani mendekati zawiyah (pondokan sufi) Syekh Hammad bin Muslim ad-Dabbas. Akan tetapi, Syekh Hammad berkata kepada muridnya, “Kuncilah pintu zawiyah, tetapi buatlah cahaya lampu tetap menyinari ke arah luar zawiyah.” ‘Abdul Qadir al-Jailani hanya duduk di samping pintu, lalu Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan kantuk kepadanya hingga beliau tertidur. Saat terbangun, beliau dalam keadaan hadats besar (mimpi basah), maka dengan segera beliau mandi besar. Kemudian Allah ta’ala menurunkan kantuk lagi kepada beliau, dan beliau pun tertidur lagi. Saat bangun, beliau hadats besar lagi, lalu beliau segera mandi besar lagi. Demikian itu terjadi berulang-ulang hingga 17 kali.

Akhirnya, ketika fajar menyingsing, pintu zawiyah terbuka dan ‘Abdul Qadir al-Jailani melangkah masuk. Syekh Hammad ad-Dabbas segera melangkah maju menyambut beliau, lalu memeluk erat beliau, dan memberi beliau rangkulan yang hangat. Airmata menetes di pipi Syekh al-Dabbas sembari ia berkata, “Oh anakku, ‘Abdul Qadir al-Jailani, hari ini adalah tanggungjawab kami di sini (zawiyah ini), jika nanti kamu telah memegangnya, maka bimbinglah si tua yang rambutnya telah memutih ini.”

Para Guru Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani

‘Abdul Qadir al-Jailani memperoleh latihan spiritual di Baghdad dari dua sufi terbesar di zaman itu,
Syekh Sayyid Abu al-Khair Hammad bin Muslim ad- Dabbas dan Syekh Qadhi Abu Sa’id Mubarak al-
Makhzumi. Meskipun beliau memperoleh banyak berkah dari kedua guru tersebut, namun beliau belum
memberi baiat alias menduduki posisi mursyid. Kemudian beliau menjadi murid Syekh Qadhi Abu Sa’id Mubarak al-Makhzumi sekaligus bergabung dalam halaqah dan tarekatnya. Syekh Qadhi Abu Sa’id al-Makhzumi menunjukkan rasa cintanya yang sangat besar terhadap murid istimewanya ini, dan
memberkahinya dengan mutu-manikam spiritualis dan tasawuf. Suatu kali ‘Abdul Qadir al-Jailani dan para murid yang lain sedang duduk bersama dengan Syekh, kemudian Syekh meminta ‘Abdul Qadir al-Jailani untuk pergi mengambil sesuatu. Setelah ia pergi, Syekh al-Makhzumi berkata kepada murid-muridnya yang lain, “Suatu hari nanti, kaki pemuda itu akan menginjak tengkuk semua Auliya’ (para wali Allah).”
 
Setelah beberapa waktu tinggal di Baghdad, ‘Abdul Qadir al-Jailani mengikuti pendidikan di Jami’ah
Nizhamiyah yang tersohor sebagai pusat pendidikan dan ilmu keruhanian di dunia Islam. ‘Abdul Qadir al- Jailani menuntut ilmu dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan. Di antara guru-guru beliau yang
memberikan ilmu Qira’at, Tafsir, Hadits, Fiqih, Syari’at, dan Tarekat adalah: Abul Wafa’ ‘Ali bin ‘Aqil, Abu Zakaria Yahya bin ‘Ali at-Tabrizi, Abu Sa’id bin ‘Abdul Karim, Abul Ana’im Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad, Abu Sa’id bin Mubarak al-Makhzumi, dan Abul Khair Hammad bin Muslim ad-Dabbas.

Dalam bidang adab salah satu guru beliau yang merupakan seorang ‘Alim besar pada masa itu ialah
al-‘Allamah Zakariya at-Tabrizi. Dan dalam bidang Fiqih dan ushul Fiqih guru-guru beliau adalah: Syekh Abul Wafa’ bin ‘Aqil al-Hanbali, Abul Hasan Muhammad bin Qadhi Abul Ula, Syekh Abul Khatab Mahfuzh al-Hanbali, dan Qadhi Abu Sa’id al-Mubarak bin Ali al- Makhzumi al-Hanbali.

Dalam bidang Hadits, beliau menerima ilmu dari para ulama sebagai berikut: Sayyid Abul Barakat Thalhah al-Aquli, Abul Ana’im Muhammad bin ‘Ali bin Maimun al-Farsi, Abu ‘Uthman Isma’il bin Muhammad al-Ishbihani, Abu Ghalib Muhammad bin Hasan al-Baqillani, Abu Muhammad Ja’far bin Ahmad bin al-Husaini, Sayyid Muhammad Mukhtar al-Hasyimi, Sayyid abu Manshur ‘Abdur
Ban’an al-Karghi. Setelah menempuh pendidikan dengan tekun, ‘Abdul Qadir al-Jailani lulus dariJami’ah Nizhamiyah. Pada masa itu tidak ada satupun ‘Alim di muka bumi yang lebih faqih dan saleh
dibandingkan dengan ‘Abdul Qadir al-Jailani.

Belajar kepada al-Khidir a.s

Abu as-Sa’ud al-Huraimi mengisahkan, aku suatu kali mendengar tuan kami Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani berkata: “Aku tinggal di kawasan padang gersang Irak selama 25th, sebagai pengembara terasing. Aku tidak tau apa dan siapa saja makhluk yang mengikutiku, dan mereka juga tidak ingin tau aku. Yang selalu mengunjungiku adalah manusia-manusia dari alam gaib (rijal al-Ghaib), sebangsa jin. Aku biasa mengajari mereka tentang jalan menuju Allah Swt. (tarekat).” Aku juga dipertemukan dengan al-Khidhir a.s. ketika aku memasuki kota Irak untuk kali pertamanya, meskipun waktu itu aku tidak tau siapa dia sebenarnya, dan dia pernah berkata kepadaku bahwa aku tidak boleh menentangnya. 

Ketika kami mencapai sebuah kawasan, dia berkata kepadaku, “Duduklah dan tinggallah di sini,” maka aku duduk dan tinggal di tempat itu sebagaimana dia memerintahkanku. Selama kurun waktu tiga tahun penuh, dia akan datang kepadaku setiap tahunnya, dan dia berkata kepadaku, “Tetaplah tinggal di situ sampai aku kembali.” Segala pesona dunia serta daya tariknya selalu datang kepadaku dalam berbagai bentuk dan tipu muslihat. Setan-setan juga mendatangiku dalam berbagai wujud serta mengoda dengan keahliannya. Tidak sedikit dari setan-setan itu yang terlibat perkelahian denganku, tetapi Allah subhanahu wa ta’ala selalu menguatkanku dalam menghadapi mereka. 

Aku tinggal selama waktu yang lama di kawasan- kawasan gersang kota-kota Irak. Aku memaksa jiwa
rendahku untuk melakukan tugas-tugas berat melalui metode disiplin spiritual. Kemudian aku menghabiskan waktu selama satu tahun dengan hanya makan dari sisa-sisa sampah tanpa minum air sedikitpun, kemudian selama satu tahun berikutnya sambil minum air. Kemudian selama satu tahun penuh dengan hanya minum air, tetapi tanpa menyantap apapun, dan di tahun berikutnya aku tidak minum, tidak juga makan, dan tidak tidur sama sekali. 

Aku juga bermukim selama beberapa tahun di kawasan gersang nan tandus di sebuah daerah pinggiran kuno kota Baghdad, di mana satu-satunya sumber makananku adalah dedaunan lontar. Pada setiap awal tahun, seseorang akan datang kepadaku dengan mengenakan jubah yang terbuat dari
wol. Aku sudah memasuki seribu lebih kondisi wujud yang berbeda-beda, dengan tujuan untuk membebaskan diri dari dunia milik kalian ini, dan keadaan yang menimpaku itu hanya dapat dipandang sebagai bentuk ketololan, kegilaan, dan ketidakwarasan. 

Aku biasa berjalan tanpa alas kaki, melewati onak duri, kerikil tajam, dan tempat-tempat berbahaya sejenisnya.Tidak pernah sekalipun jiwa rendahku menang atas diriku, tidak juga ada satupun kemilau dunia yangmampu mengodaku”.

Ujian dari al-Khidir a.s

Beliau, al-Khidhir, datang kepadaku untuk memberikan suatu ujian, sebagaimana ia telah menguji para wali-wali Allah yang lain sebelumku. Dia menyingkap kepadaku rahasia dari wujudnya dengan cara
menampakkan wawasan menuju materi-materi yang aku dapatkan bersamanya, kemudian aku berkata
kepadanya, “Wahai Khidhir, jika benar engkau pernah berkata pada Musa a.s. (kamu tidak akan pernah dapat bersabar bersamaku), maka sekarang aku akan katakan kepadamu, “Wahai Khidhir, bahwa kamu tidak akan pernah bersabar bersamaku, kamu seorang Israili, sementara aku adalah seorang Muhammadi, inilah kita, kamu dan aku, dan ini adalah bola polonya, celanaku masih terikat kuat dan pedangku belum disarungkan.”

Anugerah Jubah Sufi

Beliau juga berkata, “Selama sebelas tahun aku membetahkan diriku tinggal direruntuhan benteng yang saat ini disebut menara Persia. Tempat itu menjadi pemukiman panjangku. Di tempat itu aku membuat perjanjian dengan Allah Swt. bahwa aku tidak akan pernah makan sampai akhirnya ada yang menyediakan makanan buatku, dan aku tidak akan pernah minum sampai ada yang memberiku sarana
untuk memuaskan dahagaku. Kemudian aku tinggal di situ selama empat puluh hari tanpa makan dan minum. Pada hari keempat puluh, datang seorang laki-laki membawa sepotong roti dan beberapa makanan, dia meletakannya di depanku dan segera beranjak pergi meninggalkanku sendiri. Nafsuku kemudian cepat- cepat memaksakan keinginan untuk menyambar makanan tersebut, maka aku katakana, “Demi Allah, makanan ini tidak sejalan dengan perjanjian yang aku ikrarkan kepada Allah,” kemudian di dalam batinku aku mendengar suara yang keras dan berteriak, “Lapar!” tapi aku tetap menolak untuk menurutinya.

Kebetulan pada saat itu Syekh Abu Sa’id al-Makarimi melintas di depanku dan mendengar suara teriakan itu, lalu ia mendekatiku dan bertanya kepadaku, “Apa arti teriakan tadi, wahai ‘Abdul Qadir al-Jailani?” Aku menjawab, “Tadi itu hanyalah bisikan jiwa rendahku, seperti halnya ruh, ia akan reda dengan sendirinya.” Kemudian ia berkata kepadaku, “Datanglah ke gerbang Al-Azaj.” Lalu ia pergi
meninggalkanku, dan aku berkata kepada diriku sendiri, “Aku tidak akan pernah meninggalkan tempat
ini, kecuali Tuhan sendiri yang memerintahkanku.” Kemudian al-Khidhir a.s. datang kepadaku dan berkata, “Bangunlah dan pergilah ke Abu Sa’id al-Makarimi.” Maka akupun bergegas pergi, dan di sana aku menjumpainya sedang berdiri di depan rumahnya tengah menanti kedatanganku.

“Wahai ‘Abdul Qadir al-Jailani,” katanya kepadaku, “Apakah belum cukup bagiku ketika aku katakana, “Datanglah kepadaku,” kemudian ia menganugerahkan jubah sufi dengan tangannya sendiri, dan semenjak saat itu, aku dengan tekun membaktikan diriku kepadanya, dan menjadi muridnya yang rajin. Semoga Allah meridhoinya.

Melayang saat Berdakwah

Al-Khatab, pembantu Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani, berkata: suatu hari ketika Syekh sedang memberikan ceramah, beliau tiba-tiba naik beberapa langkah ke angkasa dan beliau berkata, “Wahai Israil, berhentilah dan dengarkan kata-kata Sang Muhammad!” Kemudian beliau kembali ke tempat duduknya semula. Ketika beliau diminta untuk menjelaskan kejadian tersebut, beliau menjawab, “Abu al-Abbas al-Khidhir berada di atas sana. Tadi ia sedang melintasi majelis kita ini, maka aku memintanya berhenti dan berkata kepadanya apa saja yang aku dakwahkan kepada kalian semua.”

Diludahi Nabi Saw Tujuh Kali, Ali Enam Kali

Ini diriwayatkan oleh Syekh Abu Muhammad al-Juba’I, bahwasannya beliau Syekh Abdul Qadir al-
Jailani berkata, “Aku suatu kali berjumpa dengan Rasulullah Saw. dalam penampakan ruhani sebelum
waktu zuhur, dan beliau Saw. berkata kepadaku, “Wahai anakku terkasih, kenapa engkau tidak berbicara (berdakwah) kepada manusia?” Maka aku menjawab, “Wahai bapakku terkasih, aku adalah seorang ‘Ajam (bukan orang Arab), lalu bagaimana aku bisa berkata-kata dengan fasih di tengah-tengah orang Baghdad yang jelas mereka pandai berbahasa Arab.” Kemudian beliau Saw. Berkata, “Sekarang, bukalah mulutmu!” Maka aku membuka mulutku lebar-lebar, dan beliau meludahiku sebanyak tujuh kali.

Kemudian beliau Saw. berkata kepadaku, “Kamu harus berdakwah kepada manusia sekarang, ajaklah mereka menuju jalan Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik.” Aku kemudian menunaikan shalat zuhur, dan kemudian aku duduk setelah itu hendak berceramah, namun aku masih kehilangan kata-kataku. Kemudian aku melihat penampakan Sayidina ‘Ali kwh., dan beliau berkata, “Bukalah mulutmu!” Aku lalu membuka mulutku, dan beliau meludahiku sebanyak enam kali, lalu aku bertanya kepada beliau, “Kenapa engkau tidak meludahiku sebanyak tujuh kali seperti halnya Rasulullah Saw. Melakukannya?” Beliau menjawab, “Sebagai adab penghormatanku kepada Rasulullah.” Setelah mengucapkan kata-kata itu, beliau pergi.

Menghilang ke Balik Matahari

Pengasuh Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani menceritakan, bahwa sewaktu beliau masih kecil seringkali ketika dia menggendong sang Syekh, mendadak beliau sudah tidak ada lagi di tangannya. Dia mengatakan, bahwa kemudian dia melihat Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani terbang ke langit dan bersembunyi di balik cahaya matahari. Ketika Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani sudah dewasa, sang pengasuhnya mengunjunginya dan bertanya, apakah beliau masih sering melakukan hal yang dulu sewaktu kecil beliau lakukan. Kemudian Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani menjawab, “Itu dulu ketika aku
masih kecil, dan pada waktu itu aku masih lemah, maka aku bersembunyi di balik matahari, namun kini daya dan kekuatanku telah sedemikian besar, sehingga bila 1000 matahari dating, pasti mereka semua akan bersembunyi di balik diriku.”

Bertarung Melawan Setan, Iblis, dan Hawa Nafsu

Kisah ini diriwayatkan oleh Syekh ‘Utsman as-Sirafani, baliau berkata, Aku suatu kali mendengar tuan kita, Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani berkata: “Aku pernah bermukim sendirian di sebuah kawasan gersang. Setiap hari dan setiap malam setan-setan sering datang kepadaku berbaris-baris dalam wujud
manusia jadi-jadian yang membawa berbagai macam senjata serta memikul berbagai benda yang berbunyi sangat keras. Mereka terlibat perkelahian denganku dan melempariku dengan bola api. Saat menghadapi keadaan seperti itu, aku mendapati di dalam hatiku suatu rasa tentram yang sulit terucapkan dengan kata-kata, aku mendengar suara dalam hatiku yang berkata, “Berdirilah dan serang mereka wahai ‘Abdul Qadir al-Jailani, karena Kami selalu siap menambah kekuatanmu, dan Kami akan datang dengan pasukan yang tidak mungkin terkalahkan oleh mereka.” Dan saat aku melemparkan satu serangan kepada para setan itu, mereka sontak berlari tunggang langgang
dan pergi menghilang.

Setelah itu, ada sesosok setan datang dari tengah-tengah para setan yang berlari menjauh dariku. Setan
itu menghampiriku dan berkata kepadaku, “Pergilahdari sini atau aku akan melakukan begini dan begitu
kepadamu.” Dia memperingatkanku akan akibat apa saja jika aku tidak pergi dari wilayah itu, maka
kemudian aku menamparnya dengan tanganku dan diapun melarikan diri dariku, lalu aku berucap,“Tidak
ada daya dan kekuatan kecuali bersama Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.” Setan itu diterkam
oleh api dan aku melihatnya terbakar hangus. Pada waktu yang lain, aku didatangi oleh sosok yang
penampilanya benar-benar menakutkan, dan baubadannya sangat menjijikkan, baunya sangat bacin dan
memuakkan, dia berkata kepadaku, “Aku adalah iblis. Aku datang kepadamu dengan maksud untuk menjadi budakmu, karena kamu telah berhasil menggagalkan segala upayaku dan mengalahkan pengikutku.” Aku berkata kepadanya, “Pergilah! karena aku tidak percaya sama sekali kepadamu.” Tapi pada saat itu sebuah tangan turun dari sisi iblis dan memukul tengkorak kepalanya dengan kekuatan yang sangat besar hingga membuat iblis itu terjungkal keras melesat ke dalam tanah, dan dia pun menghilang entah kemana.

Iblis itu datang kembali kepadaku untuk kedua kalinya dengan membawa anak panah api di tangannya dan hendak menyerangku, tetapi dengan cepat seseorang yang memakai jubah penutup kepala lari menuju diriku dengan menaiki kuda berwarna kelabu dan dengan tangkas melemparkan pedang kepadaku. Melihat itu, iblis secepat kilat langsung lari terbirit-birit dari hadapanku. Dan ketika aku bertemu dengannya lagi untuk yang ketiga kalinya, iblis itu sedang duduk dengan jarak yang agak jauh dariku, berlinangan air mata, sekujur tubuhnya dipenuhi oleh debu, dan ia berkata, “Aku sungguh telah putus asa menghadapi orang sepertimu, wahai ‘Abdul Qadir al-Jailani.” Aku lalu berkata kepadanya, “Enyahlah kau dari sini, sang terkutuk! karena aku tidak akan pernah berhenti membentengi diriku sendiri (dengan perlindungan Allah) untuk melawanmu. Dan dia berkata, “Apa yang telah kau ucapkan itu lebih menyakitkan bagiku ketimbang jepitan besi neraka.”

Menembus Jarak

Diriwayatkan dari Syekh Umar, beliau berkata: aku suatu kali mendengar tuan kami Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani bercerita: keadaan ruhani (ahwal) pernah datang kepadaku tanpa terduga sama sekali. Pada awal masa-masa aku melakukan pengembaraan dan berada di padang tandus di wilayah Baghdad, aku berlari melewati jarak kira-kira satu jam perjalanan, dan aku benar-benar tidak sadar bahwa aku sedang berlari, saat aku kembali dalam kesadaranku yang normal, aku mendapati diriku sampai di kawasan Syastar, di mana jarak tersebut dengan Baghdad kira-kira sekitar dua belas hari perjalanan.

Ketika sampai di sana, aku berdiri dan melihat-lihat sekeliling, lalu seorang wanita datang kepadaku sambil berkata, “Apakah yang kamu alami itu membuatmu terkejut dan heran, padahal kamu tidak lain adalah ‘Abdul Qadir al-Jailani?!”

Melihat al-Lauh al-Mahfudz

Tertulis dalam riwayat, bahwa Syekh Abul Hafash menyatakan, “Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani biasa
melayang di udara dan berkata ‘Matahari tidak pernah terbit tanpa mengucapkan salam kepadaku. Demi
kemuliaan dan murka Allah, aku melihat semua manusia yang baik maupun yang jahat, mataku tertuju
pada al-Lauh al-Mahfudz. Berkali-kali aku menyelam ke samudera ilmu dan kebijaksanaan yang dianugrahkan oleh Allah, dan akulah kebaikan murni Allah kepada manusia dan utusan khusus kakekku,
Rasulullah Saw., dan akulah khalifah beliau di bumi.”

Kuasa atas Raja Jin

Syekh Abu Futub Muhammad bin Abul ‘Ash Yusuf bin Isma’il bin Ahmad ‘Ali Qarsyi at-Tamimi al-Bakari al- Baghdadi meriwayatkan, bahwa suatu ketika Syekh Abu Sa’id ‘Abdullah bin Ahmad bin Muhammad al- Baghdadi al-Azja’i datang kepada Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani dan mengatakan bahwa putrinya yang berusia 16th, Fatimah yang sangat cantik, kemarin naik ke tingkat rumah, tapi tiba-tiba dia lenyap dari sana. Ketika Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani mendengar hal ini, beliau menghiburnya dan mengatakan kepadanya agar tidak perlu khawatir.

Sang Wali Agung kemudian memerintahkan dia untuk pergi ke sebuah hutan pada malam hari. Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani menyatakan bahwa di dalam hutan dia akan melihat banyak gundukan pasir. Dia harus duduk di gundukan pasir keenam yang dilewatinya, dan harus membuat sebuah gambar lingkaran di sekeliling dirinya sambil berkata, “Bismillah,” dan kemudian berkata, “Abdul Qadir.” Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani berkata, “Menjelang sepertiga malam terakhir kau akan melihat pasukan jin berlalu.

Mereka tampak sangat mengerikan dan ganas, tetapi engkau tak perlu takut, engkau harus tetap duduk dan menunggu. Tepat pada saat cahaya matahari pertama tampak, raja jin yang paling berkuasa akan lewat, dan dia akan menghampirimu lalu menanyakan permasalahanmu. Jelaskanlah permasalahanmu kepadanya, dan katakan bahwa aku yang mengutusmu. Beritahukan kepada raja jin itu tentang putrimu yang hilang.” Syekh Muhammad al-Baghdadi berkata, “Aku mengerjakan apa yang Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani perintahkan. Aku duduk di gundukan pasir tersebut dan menunggu. Setelah beberapa waktu, aku melihat pasukan jin dalam rupa-rupa yang mengerikanmelintas. Mereka sangat marah kepadaku karena aku duduk di tengah-tengah jalannya, namun mereka tetap berlalu tanpa mengucap sepatah katapun, karenamereka tidak berani memasuki lingkaran tersebut.

Pada waktu fajar, sang raja jin melintas, lalu menanyakan permasalahanku. Ketika aku mengatakan bahwa yang mengutusku adalah Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani, maka dia segera turun dari kudanya dan
berdiri dengan penuh hormat mendengarkan perkataanku, lalu dia mengutus para jin untuk mencari jin yang telah menculik putriku. Akhirnya, putrikupun kembali, dan jin yang telah menculik putriku itu
dihukum oleh sang raja jin.”

Pengakuan 360 Wali

‘Abdullah al-Jubbai suatu kali berkata: “Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani memiliki seorang murid bernama ‘Umar al-Hawali, dia meninggalkan Baghdad dan tinggal di tempat lain selama beberapa tahun. Ketika ia akhirnya kembali ke Baghdad, maka aku berkata kepadanya, “Sekian lama ini kamu berada di mana?” Dia menjawab, “Aku mengembara menyinggahi kota-kota di Suriah, Mesir, Persia, dan aku bertemu dengan tiga ratus enam puluh Syekh, yang kesemuanya adalah para wali Allah. Tidak ada seorangpun dari mereka yang tidak berkata, “Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani adalah Syekh kami, dan merupakan pembimbing teladan kami menuju Allah Swt.”

Syekh Hammad ad-Dabbas konon berkata, “Ketika Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani yang pada waktu itu
masih remaja, disebut dalam majelisnya “Aku melihat dua tanda di kepalanya, yang terpasang tegak di
antara kebinatangan terendah dan kedaulatan tertinggi. Dan aku telah mendengar tentara kerajaannya memangil-mangilnya dengan suara yang keras lagi jelas pada cakrawala tertinggi. Semoga Allah meridhoinya.” Syekh Hammad ad-Dabbas kemudian berkata, “Kamu adalah penghulu para ‘Arifin di zamanmu nanti. Panjimu tertancap kuat untuk dibentangkan, baik dari kawasan timur sampai kawasan barat. Pundak orang- orang di zamanmu akan tunduk di bawah kendalimu, dan kamu akan diangkat pada suatu tingkatan spiritual yang mengungguli semua orang yang sebaya denganmu.”

Pernyataan “Kakiku Berada di Tengkuk Para Wali”

Diriwayatkan oleh al-Hafidz Abu al-Izz ‘Abd al-Mugtis bin Harb al-Baghdadi beserta banyak lagi
lainya, “Kami menghadiri majelis Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani. Di ruang tamu beliau banyak sekali para Syekh dan wali yang mengikuti majelis beliau waktu itu. Ada sekitar kurang lebihnya empat puluh tujuh para Syekh, dan masih banyak lagi yang berada dalam majelisnya. Ketika Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani berbicara, tampak sekali hati beliau dalam keadaan kesadaran penuh, yakni ketika beliau menyatakan,“Kakiku Berada di Atas Tengkuk Para Wali Allah.”

Syekh ‘Ali bin al-Haiti melangkahkan kakinya saat itu juga, lalu naik beberapa langkah ke mimbar Sang
Syekh, di mana kemudian dia memegang kaki Sang Syekh dan meletakkannya di atas tengkuknya sembari memposisikan kepalanya di bawah keliman jubah Syekh. Semua yang hadir di situpun membungkuk seperti yang dilakukan oleh Syekh al-Haiti. Dan tidak ada satupun seorang wali Allah di muka bumi ini yang pada saat itu tidak menundukkan tengkuknya sebagai pengakuan tulus terhadap Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani, serta sebagai penghormatan kedudukan ruhani beliau yang khusus. Ada 300 auliya’ Allah dan 700 rijaul ghaib yang hadir di majelis itu. Bahkan kumpulan para jin berkumpul pada saat itu. Para jin shalih tersebut keluar dari segala penjuru cakrawala demi menghormati pernyataan beliau tersebut.

Mereka mengucapkan selamat kepada Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani dan menunjukkan laku taubat melaluitangan beliau. Syekh al-Makarimi menyatakan, “Pada hari itu, seluruh Wali Allah tahu, bahwa panji kesultanan wali telah tertancapkan di sisi Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani. Semua wali dari timur hingga barat serentak membungkukkan badan mematuhi pernyataan beliau ini.” Sayyid Syekh Khalifatul Akbar berkisah, “Aku bermimpi bertemu dengan Rasul Saw. tercinta, dan aku bertanya kepada beliau tentang pernyataan Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani tersebut. Rasul Saw. Menjawab, “‘Abdul Qadir al-Jailani telah mengatakan hal yang sebenarnya, karena dia sang Quthb, dan dia kuberikan tempat di bawah sayapku dan dalam perlindunganku.”

Kitab Dan Risalah Syekh Abdul Qadir Al-jailani

Al-Ghauts Al-A'zham R.a Syekh Abdul Qadir Al-jailani juga adalah penulis, banyak kitab dalam pelbagai bidang. Karya-karya beliau di penuhi samudera ilmu, kebijaksanaan, kewaskitaan. Dua kitab beliau yang paling terkenal adalah Al-Ghunyah dan Futuh Al-Gaib. Selain kedua kitab ini, banyak ulama terkemuka yang mengikuti pengajian beliau telah mencatat ajaran beliau. Banyak dari catatan ini yang masih lestari dalam susunan aslinya hingga hari ini yang terdapat di pelbagai belahan dunia.

Peristiwa-Peristiwa Di Seputar Wafatnya Beliau

Pesan kepada anak beliau, Sebelum Syekh Abdul Qadir Al-jailani wafat, putra beliau Syekh Saifudin 'Abdul Wahhab meminta wasiat kepada beliau. Menjawab permintaan ini Syekh Abdul Qadir berkata, "Takutlah kepada Allah Swt, jangan takut kepada selain Allah Swt. Selalulah menghadapkan diri kepadanya. Mohonkan segala permintaan mu kepada Allah Swt. Jangan meminta kepada selain Allah Swt. Jangan menyembah kepada selain Allah Swt. Teguhlah dalam tauhid. Tidak ada keselamatan selain dengan tauhid. Jika hati tersambung kepada Allah swt, maka tidak ada hal lain yang indah di mata sang pemilik hati itu. Aku telah mencapai maqam Cinta sejati. Di situ tidak ada tempat bagi kecintaan duniawi."

Kehadiran Makhluk-Makhluk Selain Manusia

Sebelum wafat, beliau berpaling kepada putera-puteri beliau, "menjauhlah dariku. saat ini, tampak seolah-olah hanya kalian yang ada di sini, namun sesungguhnya bukan hanya kalian yang hadir. Selain kalian, hadir pula makhluk-makhluk Allah lain. Beri tempat untuk mereka. Tunjukan rasa hormat kepada mereka. Minggirlah. Kini adalah saat-saat rahmat dan ampunan. Jangan sesaki tempat ini." Setelah mengucapkan kata-kata ini, beliau melanjutkan, "semoga keselamatan, rahmat dan ampunan Allah terlimpahkan atas kalian. Semoga kita semua diampuni dan semoga Allah memberikan rahmatnya kepada kita." Ucapan ini adalah jawaban terhadap salam dari para malaikat yang hadir di hadapan beliau. Di riwayatkan bahwa beliau menjawab salam mereka sepanjang siang-malam penuh.

Keadaan Beliau

Pada waktu itu putera beliau, Sayyid Abdur Rahman r.a menanyakan keadaan beliau, dan beliau menjawab : "Janganlah menanyakan apapun. Dengarlah! Keadaanku senantiasa berubah di hadirat Allah swt. Derajatku terus-menerus di tinggikan seiring waktu berjalan.

Rasa Sakit Beliau

Putera beliau, Sayyid Abdul Aziz r.a menanyakan sakit yang beliau rasakan. Beliau menjawab : "Kalian tidak bisa membayangkan sakit yang ku derita. Tidak satu pun manusia, jin, ataupun malaikat pernah merasakan sakit yang ku alami."

Keadaan Hati Beliau 

Putera beliau, Sayyid Abdul Jabbar r.a, menanyakan apakah beliau merasa sakit. Beliau menjawab : "Seluruh badanku merasa sakit kecuali hatiku. Hatiku terlindungi, oleh karena hatiku adalah perbendaharaan dada yang senantiasa berdzikir kepada Allah swt dan yang merupakan kota nur Nabi Muhammad SAW."

Saat-Saat Terakhir Beliau

Pada saat-saat terakhir beliau di atas dunia fisik ini, Syeikh Abdul Qadir Aljailani berkata : "Aku memohon pertolongan Allah. Aku bersaksi bahwa tiada yang patut di sembah kecuali Allah. Dialah yang maha agung dan satu-satunya wujud hakiki yang tidak mengenal mati. Maha suci dia, yang menguasai hamba-hambanya dan mematikan mereka. Tiada yang patut di sembah kecuali Allah. Muhammad adalah Nabi Allah.

Wafat Beliau

Pada malam wafat beliau, Syeikh Abdul Qadir Aljailani berkata : "Aku meminta maaf kepada kalian semua. Tahukah kalian siapakah aku? Aku sama sekali tidak takut kepada manusia, jin, bahkan kepada malaikat pencabut nyawa. Wahai malaikat pencabut nyawa! Bawalah aku ke hadirat Sang penciptaku, yang telah menganugerahiku kesempatan menjadi wali, Dia sang maha tinggi yang maha memerintah aku." Pada bulan rabi'ul akhir 561H (ada beberapa riwayat mengenai tanggal wafatnya beliau, 11 atau 17), Sang kekasih Nabi SAW, Bintang benderang Sayyidina Ali r.a, buah hati Sayyidah Fathimah Rda, Keagungan imam Hasan r.a, Cahaya imam Husain r.a, Kesayangan Sayyid Abu Shalih r.a dan Sayyidah Ummul Khair Fathimah Rda, obor pembimbing dan ilmu pengetahuan, Khalifah Habib Allah Nabi SAW, tempat keselamatan bagi seluruh murid, Quthb para Quthb, Ghauts dari segala Ghauts, Wali dari seluruh Wali, Sultan para wali dan Wali teragung, Sang pembangkit agama, Penghulu manusia dan jin, al-Ghauts al-A'zham, Syeikh Sayyid Syeikh Muhyiddin Abdul Qadir Aljailani AlBaghdadi r.a, Bersinar untuk terakhir kalinya di bumi ragawi ini. Sang wali agung nan bercahaya telah menyebrang jembatan kematian, yang membawa sang pencinta kepada yang tercinta..inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.

Makam Beliau

Makam beliau yang penuh berkah (mazar) terletak di Baghdad, irak. Makam tersebut ramai di kunjungi umat muslim, ulama besar, dan tentu saja oleh Auliya' setiap zaman. Semoga Allah mengokohkan kita di atas jalan Ahl as-Sunnah wa al-jamaah. Semoga kecintaan kita pada al-Ghauts al-A'zham Syeikh Abdul Qadir Aljailani r.a tetap lestari dan senantiasa meneladani beliau dan hamba-hamba Allah yang taat.


Bagi Muslimah Yang Jomblo inilah Cara Yang Baik Menawarkan Diri Kepada Calon Suami

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6350621372319428354#editor/target=post;postID=4217255064999189149
 
 
Muslimah Jomblo.. Begini Lho Cara Menawarkan Diri Pada Calon Suami..
Cara muslimah yang masih single menawarkan diri kepada calon suami merupakan salah satu ikhtiar demi melindungi dirinya dari fitnah.

Yang sering kita ketahui saat ini adalah pria yang melamar dan wanitalah yang menerima maupun menolak lamaran tersebut. Namun ternyata ada pola lain yang dicontohkan oleh para sahabiyat di jaman Rasul yakni menawarkan kepada laki-laki yang beriman dan dipandang baik untuk menjadi imam keluarga.

Bagaimana caranya? Nah berikut ini beberapa contoh yang diambil dari kisah putri Nabi dan juga para sahabiyat.

Meminta Orang Lain Yang Menyampaikan

Contoh ini dilakukan oleh Ummu Khadijah yang berkeinginan untuk diperistri oleh Nabi Muhammad SAW. Dasar keinginannya tersebut adalah karena melihat keagungan akhlak yang terdapat pada sosok pemuda tersebut. Apalagi pegawainya yang lain menyebutkan sifat kebaikan yang ada pada pemuda Muhammad.

Setelah mantap dengan keputusannya, Khadijah pun mengutus Nafisah binti Munayyah untuk menyampaikan keinginannya tersebut. namun jangan dikira Nafisah langsung serta merta menyampaikan secara lisan keinginan dari Khadijah tersebut.

Yang dilakukan oleh Nafisah adalah dengan menanyakan dahulu kepada Muhammad apakah diusianya yang menginjak 25 tahun tidak ada keinginan untuk menikah. Setelah tahu bahwa Nabi Muhammad SAW menyampaikan bahwa ia memiliki keinginan untuk menikah namun tidak tahu harus menikah dengan siapa, barulah Nafisah menyebutkan berbagai kriteria yang dimiliki oleh Khadijah.

Nafisah berkata : "Muhammad, jika ada seorang wanita yang rupawan, memiliki kedudukan mulia, hartawan dan bangsawan yang ingin menikah denganmu, apakah kamu mau menikah dengannya juga?" Dari pertanyaan tersebut, barulah Muhammad mengetahui bahwa yang dimaksud Nafisah adalah Khadijah. Pemuda Muhammad pun menyetujuinya.

Berkata Secara Langsung

Sangat sedikit wanita yang mau mengatakan langsung perihal keinginannya untuk menikah dengan pemuda shaleh agar kelak menjadi imamnya.

Pernah seorang wanita di jaman Rasul mendatangi Rasul yang berada di tengah para sahabatnya dan berkata "Wahai Rasul, aku menyerahkan diriku sepenuhnya padamu". Mendengar hal ini Rasul pun menundukkan pandangannya dan sang wanita pun merasa malu.

Salah satu sahabat kemudian bertanya" Wahai Rasulullah, jika engkau tidak bersedia menikahinya, izinkahlah aku menikah dengannya".

Rasul kemudian mengabulkan permintaan sahabat tersebut dan wanita tersebut pun menyetujuinya. Saat ditanya tentang mahar ternyata sahabat tersebut tidak memiliki harta sepeser pun untuk dijadikan suatu mahar. Setelah tidak mendapati apa yang bisa dijadikan mahar, ia pun memberikan mahar berupa pembacaan surat dalam Al Quran yang ia kuasai.

Meminta Bantuan Orang Tua

Cara yang terakhir adalah dengan menceritakan dahulu isi hatinya kepada orang tua dan orang tualah yang menawarkan anak perempuannya tersebut pada lelaki yang dimaksud.

Seperti inilah yang terjadi pada putri Nabi Syuaib setelah Nabi Musa membantunya mengambilkan air. Kepribadian dan kemuliaan Nabi Musa telah membuat sang putri jatuh hati dan berinisiatif untuk menjadikannya seorang pegawai lewat perantaraan sang ayah yaitu Nabi Syuaib. Pengangkatan sebagai pegawai tersebut merupakan siasat halus sang putri dan akhirnya Nabi Syuaib tahu jika putrinya memang menyukai Nabi Musa. Pada akhirnya keduanya pun melangsungkan pernikahan.

Demikianlah cara muslimah menawarkan diri kepada calon suami. Meski pada keumuman masyarakat terdapat beberapa hal yang tabu, namun bagi mereka yang mengerti tentang kisah jaman dahulu maka hal tersebut dianggap sebagai suatu kemuliaan. Dengan kata lain cara tersebut lebih mulia dibandingkan dengan pacaran.

Saturday, January 16, 2016

Rindunya Nabi Muhammad SAW

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6350621372319428354#editor/target=post;postID=8015929855152576853

“Aku rindu… aku rindu…”, kata Rasulullah Saw ketika sedang duduk bersama para sahabat.

Para sahabat bertanya kepada beliau Saw, “Siapakah gerangan yang engkau rindukan itu ya Rasulullah?”

“Aku rindu kepada saudara-saudaraku..”, jawab beliau Saw

“Bukankah kami ini saudara-mu ya Rasulullah?”, tanya para sahabat.

“Kalian sahabat-sahabatku dan aku mencintai kalian, namun aku sangat rindu kepada saudara-saudaraku”, jawab Rasulullah Saw.

Sahabat semakin penasaran dan sekali lagi bertanya kepada beliau Saw

“Ya Rasulullah, siapakah gerangan mereka yang engkau panggil dengan sebutan ‘saudaramu’ dan engkau sangat rindukan itu?”

Rasulullah Saw menjawab, “Mereka adalah umatku kelak, yang mana mereka belum pernah melihat wajahku, belum pernah bertemu denganku, belum pernah berbincang-bincang denganku, tetapi mereka sangat merindukanku dengan tulus, ikhlas dan penuh rasa hormat kepadaku, mereka adalah orang-orang yang melanjutkan perjuanganku dan tidak jarang pula mereka meneteskan air mata karena menahan rindu yang sangat kepadaku, aku rindu kepada mereka dan aku ingin bertemu dengan mereka…”

السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ الله, السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا نَبِيَّ الله, السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ الله, السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا خَاتَمَ النَّبِيِّيْنَ, أَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ الرِّسَالَةَ وَأَقَمْتَ الصَّلاَةَ وَآتَيْتَ الزَّكَاةَ وَأَمَرْتَ بِالْمَعْرُوْفِ وَنَهَيْتَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَعَبَدْتَ اللّه مُخْلِصاً حَتَّى أتَاكَ الْيَقِيْنُ فَصَلَوَاتُ الله عَلَيْكَ وَرَحْمَتُهُ وَعَلَى أهْلِ بَيْتِكَ الطَّاهِرِيْنَ

Friday, January 15, 2016

Perampok yang Membawa Kebaikan

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6350621372319428354#editor/target=post;postID=7834111972341661886

Pada suatu malam, sekelompok prampok tengah keluar bermaksud menghalang kafilah dengan barang dagangannya. Akan tetapi, malam itu ternyata kafilah tidak juga lewat.

Maka, para prampok itu pun mencari tempat untuk bermalam dan mereka menemukan sebuah rumah terpencil dari desa terdekat.

Salah satu dari mereka pun mengetuk pintu dan berkata kepada penghuninya, "Kami adalah tentara muslim yang kemalaman. Jika diperbolehkan, kami akan menginap di sini dalam beberapa hari."
Maka, penghuninya pun mempersilahkan mereka serta melayani mereka dengan senang hati.

Ia berfikir bahwa yang ia layani adalah tentara - tentara Allah SWT. Penghuninya pun tak henti berdoa kepada Allah SWT agar diberi keberkahan karena ia telah membantu tentara Allah SWT.

Penghuni rumah ini mempunyai seorang anak laki-laki yang lumpuh. Maka, pada suatu saat, ketika mereka melayani para perampok tadi dengan menyediakan makanan, mereka mengambil sisa makanan dan minuman para perampok tersebut dan memberikannya kepada anak mereka yang lumpuh. Kenapa? Ia melakukan itu dengan maksud agar ia mendapat berkah dari para tentara Allah SWT yang tak lain adalah perampok itu.

Kemudian mereka mengusap kaki anak mereka dengan sisa minuman para perampok tersebut. Keajaiban pun terjadi. Pada pagi harinya, anak tersebut telah sembuh dari lumpuh yang di deritanya. Kini ia dapat berjalan dengan normal.

Sedangkan pada saat itu. Para perampok tengah melaksanakan rencana mereka. Ketika sore harinya para perampok itu kembali ke rumah itu, mereka melihat anak lumpuh itu kini telah berjalan menyambutnya.

Kemudian, mereka pun bertanya kepada orang tuanya. "Benarkah anak ini adalah anak yang kemarin lumpuh .?"
Penghuni rumah itu pun menjawab, "ya benar. Ini semua karena aku mengambil sisa minuman kalian dan mengusapkannya ke kaki anak kami agar anak kami mendapat berkah dari para tentara Allah SWT seperti kalian. Dan, tidak sia- sia Allah SWT telah menjawab doa kami."

Maka para perampok itu pun menangis dan berkata, "Wahai ibu, ketahuilah, kami bukanlah tentara muslim. Tapi kami adalah perampok para kafilah yang lewat. Allah SWT telah memberi kesembuhan kepada anak ibu bukan karena kami tetapi karena kebaikan niat dan prasangka ibu,"
Maka mereka pun bertobat dan menjadi pasukan muslim hingga akhir hayat mereka.

Hikmah : Allah SWT Berfirman melalui qudsi, " Aku seperti Prasangka Hamba-Ku" Artinya jika seorang misalkan menyangkal bahwa Allah SWT tidak bisa melimpahkan rezeki maka Allah SWT pun akan membiarkan orang itu tertimpa kemiskinan atau kesusahan terus-menerus. Jika kita menyangka dan optimis dalam berdoa bahwa Allah SWT lapang rahmat-Nya maka Allah SWT pun akan melapangkan untuk kita, begitu pula ketika kita bersangka baik kepada makhluk Allah SWT lainnya.

Kisah Seekor Ulat Merah Dengan Nabi Daud A.S

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6350621372319428354#editor/target=post;postID=4066085894408438081

Dalam sebuah kitab Imam Al-Ghazali menceritakan pada suatu ketika tatkala Nabi Daud A.S sedang duduk dalam suraunya sambil membaca kitab az-Zabur, dengan tiba-tiba dia terpandang seekor ulat merah pada debu.
Lalu Nabi Daud A.S. berkata pada dirinya, "Apa yang dikehendaki Allah dengan ulat ini?"

Setelah Nabi Daud selesai berkata begitu, maka Allah pun mengizinkan ulat merah itu berbicara. Lalu ulat merah itu pun mula berbicara kepada Nabi Daud A.S. "Wahai Nabi Allah! Allah S.W.T telah mengilhamkan kepadaku untuk membaca ‘Subhanallahu walhamdulillahi wala ilaha illallahu wallahu akbar’ setiap hari sebanyak 1000 kali dan pada malamnya Allah mengilhamkan kepadaku supaya membaca ‘Allahumma solli ala Muhammadin annabiyyil ummiyyi wa ala alihi wa sohbihi wa sallim’ setiap malam sebanyak 1000 kali.

Setelah ulat merah itu berkata demikian, maka dia pun bertanya kepada Nabi Daud A.S, "Apakah yang dapat kamu katakan kepadaku agar aku dapat faedah darimu?"
Karena pertanyaan Nabi Daud tersebut terkesan meremehkan kata-kata ulat tadi. Nabi Daud segera tersadar bahwa telah memandang sebelah mata kepada ulat tersebut, dan dia sangat takut kepada Allah S.W.T.. Maka Nabi Daud A.S. pun bertaubat dan menyerahkan diri kepada Allah S.WT.

Begitulah sikap para Nabi A.S. apabila mereka menyadari kekhilafan yang telah dilakukan maka dengan segera mereka akan bertaubat dan menyerah diri kepada Allah S.WT. Kisah- kisah yang berlaku pada zaman para Nabi bukanlah untuk kita ingat sebagai bahan sejarah, tetapi hendaklah kita jadikan sebagai teladan supaya kita tidak memandang rendah kepada apa saja makhluk Allah yang berada di bumi yang sama-sama kita tumpangi ini.

Dikutip dari 115 Kisah Teladan Penuh Hikmah [ ALLAH TIDAK PERNAH TIDUR ]
Penerbit : Karta Media

Thursday, January 14, 2016

Kisah Kematian Nabi Adam A.S

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6350621372319428354#editor/target=post;postID=2257496141677883327

Dari Uttiy bin Dhamurah As-Sa’di berkata, "Aku melihat seorang Syaikh di Madinah sedang berbicara. Lalu aku bertanya tentangnya." Mereka menjawab, "Itu adalah Ubay bin Ka’ab." Ubay berkata, "Ketika maut datang menjemput Adam, dia berkata kepada anak-anaknya, ’Wahai anak-anakku, aku ingin makan buah surga.’ Lalu anak-anaknya pergi mencari untuknya. Mereka disambut oleh para malaikat yang telah membawa kafan Adam dan wewangiannya. Mereka juga membawa kapak, sekop, dan cangkul. 
Para Malaikat bertanya, ’Wahai anak-anak Adam, apa yang kalian cari? Atau apa yang kalian mau? Dan ke mana kalian pergi?’

Mereka menjawab, ’Bapak kami sakit, dia ingin makan buah dari surga.’

Para malaikat menjawab, ’Pulanglah, karena ketetapan untuk bapak kalian telah tiba.’

Lalu para malaikat datang. Hawa melihat dan mengenali mereka, maka dia berlindung kepada Adam. Adam berkata kepada Hawa, ’Menjauhlah dariku. Aku pernah melakukan kesalahan karenamu. Biarkan aku dengan Malaikat Tuhanku Tabaraka wa Taala.’ 

Lalu para malaikat mencabut nyawanya, memandikannya, mengkafaninya, memberinya wewangian, menyiapkan kuburnya dengan membuat liang lahat di kuburnya, menshalatinya. Mereka masuk ke kuburnya dan meletakkan Adam di dalamnya, lalu mereka meletakkan bata di atasnya. Kemudian mereka keluar dari kubur, mereka menimbunnya dengan batu. Lalu mereka berkata, ’Wahai Bani Adam, ini adalah sunnah kalian.’" 

Takhrij Hadis
Hadis ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Imam Ahmad dalam Zawaidul Musnad, 5/ 136.
Ibnu Katsir setelah menyebutkan hadis ini berkata, "Sanadnya shahih kepadanya." (Yakni kepada Ubay bin Ka’ab). (Al-Bidayah wan Nihayah, 1/98).
 
Al-Haitsami berkata, "Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad. Rawi-rawinya adalah rawi-rawi Hadis shahih, kecuali Uttiy bin Dhamurah. Dia adalah rawi tsiqah." (Majmauz Zawaid, 8/199). 
Hadis ini walaupun mauquf(sanadnya tidak sampai pada Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam) pada Ubay bin Kaab, tetapi mempunyai kekuatan hadis marfu’, karena perkara seperti ini tidak membuka peluang bagi akal untuk mengakalinya. 

Penjelasan Hadis
Hadis ini menceritakan tentang bapak kita, Adam, manakala maut datang menjemputnya, Adam rindu buah surga. Ini menunjukkan betapa cinta Adam kepada surga dan kerinduannya untuk kembali kepadanya. Bagaimana dia tidak rindu surga, sementara dia pernah tinggal di dalamnya, merasakan kenikmatan dan keenakannya untuk beberapa saat.
 

Bisa jadi keinginan Adam untuk makan buah surga merupakan tanda dekatnya ajal. Sebagian hadis menyatakan bahwa Adam mengetahui hitungan tahun-tahun umurnya. Dia mengitung umurnya yang telah berlalu. Nampaknya dia mengetahui bahwa tahun-tahun umurnya telah habis. Perpindahannya ke alam akhirat telah dekat. Dan tanpa ragu, Adam mengetahui bahwa anak-anaknya tidak mungkin memenuhi permintaannya. Mana mungkin mereka bisa menembus surga lalu memetik buahnya. Anak-anak Adam juga menyadari hal itu. Akan tetapi, karena rasa bakti mereka kepada bapak mereka, hal itulah yang mendorong mereka untuk berangkat mencari.

Belum jauh anak-anak Adam meninggalkan bapaknya mereka telah dihadang oleh beberapa malaikat yang menjelma dalam wujud orang laki-laki. Mereka telah membawa perlengkapan untuk menyiapkan orang mati. Para malaikat memperagakan apa yang dilakukan oleh kaum muslimin terhadap jenazah seperti pada hari ini. Mereka membawa kafan, wewangian, juga membawa kapak, cangkul, dan sekop yang lazim diperlukan untuk menggali kubur. 

Ketika anak-anak Adam menyampaikan tujuan mereka dan apa yang mereka cari, para malaikat meminta mereka untuk pulang kepada bapak mereka, karena bapak mereka telah habis umurnya dan ditetapkan ajalnya.

Manakala para malaikat maut datang kepada Adam, Hawa mengenalinya sehingga dia berlindung kepada Adam. Sepertinya Hawa hendak membujuk Adam agar memilih hidup di dunia, karena para rasul tidak diambil nyawanya sebelum mereka diberi pilihan (antara kehidupan dunia dan akhirat) sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam kepada kita. Adam tidak menggubris dan menghardiknya dengan berkata, "Menjauhlah dariku, karena aku pernah melakukan dosa karenamu." Adam mengisyaratkan rayuan Hawa untuk makan pohon yang dilarang semasa keduanya berada di Surga. 

Para Malaikat mengambil ruh Adam. Mereka sendirilah yang mengurusi jenazahnya dan menguburkannya, sementara anak-anak Adam melihat mereka. Para malaikat itu memandikannya, mengkafaninya, memberinya wangi-wangian, menggali kuburnya, membuat liang lahat, menshalatinya, masuk ke kuburnya, meletakkannya di dalamnya, lalu mereka menutupnya dengan bata. Kemudian mereka keluar dari kubur dan menimbunkan tanah kepadanya. Para Malaikat mengajarkan semua itu kepada anak-anak Adam. Mereka berkata, "Wahai Bani Adam, ini adalah sunnah kalian." Yakni, cara yang Allah pilih untuk kalian dalam hal mayat kalian. 

Cara ini adalah syariat umum yang berlaku untuk seluruh rasul dan semua orang beriman di bumi ini, mulai sejak saat itu sampai sekarang. Dan cara apa pun yang menyelisihinya berarti menyimpang dri petunjuk Allah, yang besar kecilnya tergantung pada kadar penyimpangannya. Barangsiapa melihat tuntunan kaum muslimin dalam urusan jenazah yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, niscaya dia pasti melihat kesamaan antara hal itu dengan perlakuan para malaikat kepada Adam. 

Sepanjang sejarah, petunjuk ini telah banyak diselisihi oleh sebagian besar umat manusia. Ada yang membakar orang mati. Ada yang membangun bangunan-bangunan megah, seperti pyramid, untuk mengubur orang mati dengan meletakkan makanan, minuman, mutiara dan perhiasan bersamanya. Ada yang meletakkan mayit di kotak batu atau kayu. Semua itu menuntut biaya yang mahal dan hanya membuang-buang energi untuk sesuatu yang tidak berguna. Dan yang paling utama, semua itu telah menyelisihi petunjuk yang Allah syariatkan kepada mayit Bani Adam.

 Pelajaran-Pelajaran dan Faedah-Faedah Hadis
  1. Disyariatkan menyiapkan mayit dan menguburkannya seperti disebutkan di dalam hadis.
  2. Sunnah-sunnah terhadap mayit yang demikian itu adalah petunjuk semua rasul dalam setiap syariat mereka.
  3. Pengajaran malaikat kepada anak-anak Adam tentang sunnah ini dengan ucapan dan perbuatan.
  4. Semua cara menangani mayit selain cara yang disebutkan di dalam hadis di atas adalah penyimpangan dari manhaj dan petunjuk Allah.
  5. Keutamaan bapak kita Adam, di mana para malaikat mengurusi jenazahnya, menshalatkannya dan menguburkannya.
  6. Kemampuan para malaikat untuk menjelma menjadi manusia dan melakukan sesuatu yang dilakukan oleh manusia.
  7. Sudah munculnya beberapa peralatan sejak zaman manusia pertama, seperti kapak, cangkul dan sekop.
  8. Seseorang harus berhati-hati terhadap isterinya yang bisa menjadi penyebab penyimpangannya. Adam memakan buah karena hasutan Hawa. Dan Allah telah meminta kita agar berhati-hati terhadap sebagian isteri dan anak-anak kita, "Sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah terhadap mereka." (At-Taghabun:14).

Sumber: diadaptasi dari DR. Umar Sulaiman Abdullah Al-Asyqar, Shahih Qashashin Nabawi, atau Ensklopedia Kisah Shahih Sepanjang Masa, terj. Izzudin Karimi, Lc. (Pustaka Yassir, 2008), hlm. 39-43.