Sunday, July 17, 2016

Bermadzhab Apakah Penting?

https://syarifalfarisi.blogspot.com

Mengenai keberadaan negara kita di indonesia ini adalah bermadzhabkan syafii, demikian guru-guru kita dan guru-guru dari guru-guru kita, sanad guru mereka jelas hingga Imam Syafii, dan sanad mereka muttashil hingga Imam Bukhari, bahkan hingga Rasul saw. 

Bukan sebagaimana orang-orang masa kini yang mengambil ilmu dari buku terjemahan atau menggunting dari internet lalu berfatwa untuk memilih madzhab semaunya. Anda benar, bahwa kita mesti menyesuaikan dengan keadaan, bila kita di Makkah misalnya, maka madzhab disana kebanyakan Hanafi, dan di Madinah madzhab kebanyakannya adalah Maliki, selayaknya kita mengikuti madzhab setempat, agar tak menjadi fitnah dan dianggap lain sendiri, beda dengan sebagian muslimin masa kini yang gemar mencari yang aneh dan beda, tak mau ikut jamaah dan cenderung memisahkan diri agar dianggap lebih alim dari yang lain, hal ini adalah dari ketidak fahaman melihat situasi suatu tempat dan kondisi masyarakat.

Memang tak ada perintah wajib bermadzhab secara shariih (shariih : jelas). Namun bermadzhab wajib hukumnya, karena kaidah syariah adalah Maa Yatimmul waajib illa bihi fahuwa wajib, yaitu apa-apa yang mesti ada sebagai perantara untuk mencapai hal yang wajib, menjadi wajib hukumnya.

Misalnya kita membeli air, apa hukumnya? tentunya mubah saja, namun bila kita akan shalat fardhu tapi air tidak ada, dan yang ada hanyalah air yang harus beli, dan kita punya uang, maka apa hukumnya membeli air? dari mubah berubah menjadi wajib tentunya. karena perlu untuk shalat yang wajib.

Demikian pula dalam syariah ini, tak wajib mengikuti madzhab, namun karena kita tak mengetahui samudera syariah seluruh madzhab, dan kita hidup 14 abad setelah wafatnya Rasul saw, maka kita tak mengenal hukum ibadah kecuali menelusuri fatwa yang ada di Imam-Imam Muhaddits terdahulu, maka bermadzhab menjadi wajib, karena kita tak bisa beribadah hal - hal yang fardhu atau wajib kecuali dengan mengikuti salah satu madzhab itu, maka bermadzhab menjadi wajib hukumnya.


Bermadzhab itu adalah untuk menjaga sanad keguruan kita agar tidak terputus dari Baginda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam… renungkanlah itu wahai saudaraku.

Berkata Imam Syafi’i : “Tiada ilmu tanpa sanad”,

Berkata pula Al Hafidh Imam Attsauri : “Sanad adalah senjata orang mukmin, maka bila kau tak memiliki senjata, maka dengan apa kau membela diri?”.

Berkata Imam Ibnul Mubarak rahimahullah : penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”

Berkata pula Imam Syafii : “penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan pencari kayu bakar yang mencari kayu bakar ditengah malam, yang  ia membawa tali pengikatnya adalah ular berbisa dan ia tak tahu” (Faidhul Qadir Juz 4 hal 442)

Dan masih banyak lagi, dan merupakan hal yang baku diantara para Muhadditsin bahwa mereka tak mengakui suatu ajaran/tuntunan ibadah dari seseorang ustadz/guru/kiyai/ulama kecuali orang itu mempunyai sanadnya.
 
"Semoga Bermanfaat, Sebarkan Tulisan Ini Untuk Mengingatkan Kepada Saudara Seiman Kita yang Masih Belum Mengetahui Betapa Pentingnya Bermadzhab"


sumber : http://ahlulbaitrasulullah.blogspot.com

Saturday, July 16, 2016

Ziarah Kubur

https://syarifalfarisi.blogspot.com

As-Sayyidi Al Murrabiruhina Al Habib Salim Ibn Abdullah Ibn Umar Asy Syathiry adalah seorang pemuka para ulama’ di Negeri Para Wali dan Sholihin, Tarim Hadlarmaut Yaman. Kedalaman dan kepakaran beliau dalam segala ilmu telah disepakati banyak ulama’, hingga sebuah gelar prestisius diberikan kepada beliau, yakni, Sulthonul ‘Ilmi. Nasehat-nasehat yang beliau berikan sangat dahsyat, menggugah hati-hati yang terlelap, dan menyinarinya dengan cahaya Nabawi, khas seorang pewaris Nabi. Kerugian yang besar jika nasehat hebat ini kita lewatkan. Mari menyantap hidangan rohani dari seorang pewaris para Nabi. Selamat membaca!

من عزّ مصابا كأنّ له مثله أجره

 

Siapa yang bertakziyah kepada orang yang tertimpa musibah, dia akan mendapat pahala seperti orang yang terkena musibah tersebut.

Orang yang bernasab pada orang sholeh akan mendapat manfaat dari keturunannya tersebut.

والذين آمنوا واتبعتم ذريتهم بإيمانهم ألحقنابهم ذرياتهم

 

Dan orang-orang yang beriman, yang keturunan-keturunan mereka mengikuti keimanan mereka, akan KAMI golongakan bersama mereka.

Sebagaimana seperti yang diceritakan dalam surat Kahfi, yang mana Nabi Musa AS diperintahkan oleh Nabi Khidir AS untuk membangun sebuah rumah, yang mana orang tua dari anak yang rumahnya dibangun tersebut adalah orang soleh.

Ahli tafsir menyebutkan bahwa yang dimaksud orang soleh yang disebut orang tua anak-anak kecil itu dari nasab ke-7 diatas mereka.

Ada orang yang menganggap bahwa tahlilan adalah bid’ah, mereka adalah orang-orang yang salah tapi merasa benar. Mereka tidak melaksanakan apa yang dikerjakan oleh kakek-kakek meraka.

Mereka membaca fatihah ketika sholat jenazah tapi menentang pembacaan fatihah untuk mayit.

Apa yang dilakukan pada waktu sholat jenazah bertentangan dengan dikatakannya. Misal pembacaan fatihah untuk mayit adalah sesuatu yang dilarang, pasti ALLAH akan melarang pembacaan fatihah pada saat sholat jenazah!

Dikisahkan seorang sahabat bernama Sa’ad berkata, ” Ya Rasulullah, aku mempunyai ibu yang sudah meninggal, seandainya dia hidup pasti dia akan bersedekah.”

Rasullullah SAW berkata, “Bersedekahlah untuknya!”

Sa’ad mempunyai sumur , dan sumur tersebut disedekahkan untuk kaum muslimin (atas nama ibunya).

Shodaqoh & membaca Al Qur’an untuk orang yang sudah meninggal adalah sesuatu yang disepakati para ulama bahwa hal itu akan bermanfaat untuk si mayit.

Berziarah kuburlah

لو لا أهل الدنيالهلك أهل القبور

 

Bila tidak ada penghuni dunia maka akan celaka penghuni kubur.

Hendaknya bertakziyah kepada saudaramu, karena,

كما تدين تدان

 

Semua orang juga butuh di ziarahi suatu saat nanti.

Tulislah wasiat…!!! Dalam hadits dikatakan bahwa orang yang meninggal dan tidak menulis wasiat maka diumpamakan meninggal dalam keadaan jahiliyah, cacat di mata ALLAH dan bisu.

Orang-orang yang meninggal saling mengunjungi, tapi orang yang tidak menulis wasiat tidak bisa berbicara dengan yang lain.

Perbaikilah keadaan kita, agar di akhir hidup kita dikenang dengan baik.

Ijazah dari Habib Salim,

 
Untuk pembebasan dari api neraka. Pembebasan yang kecil dan besar.

1. Membaca سبحنان الله بحمده سبحان الله العظيم 1000 x

2.Membaca لاإله إلاالله محمد الرسول الله صلى الله عليه وسلم
70.000 x.

Lalu hadiahkan pada mayit maka insyaaALLAH akan terbebas dari api neraka.

Ketika ingin menyampaikan pahala untuk mayit, maka bacalah:

1. اللَّهُم اجعل و أوصل إلى….
2.اللهم تقبل ما تصدقت أو ما قرأت و أوصله إلى….

Yaa ALLAH aku minta kabulkan (disebutkan apa yang disedekahkan atau di baca dan sampaikanlah pada si mayit).

Bila menyebut hal tersebut maka akan mendapat pahala buat kita dan buat mayit. Hal ini disebutkan oleh Habib Abdurrahman bin Ahmad al-Masyhur dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin.


Waallahu'alam


Sumber : http://ahlulbaitrasulullah.blogspot.co.id

Tuesday, July 12, 2016

Hilangnya Cincin Nabi Sulaiman A.S

https://syarifalfarisi.blogspot.com
Walaupun Baginda Nabi Sulaiman as hebat dan pintar, namun Beliau juga pernah digoda oleh setan atau Iblis.

Dikisahakan oleh Wahab bin Munabbib.

Nabi Sulaiman as ini selalu mengenakan cincin di jarinya dan tidak pernah dilepas baik pada siang ataupun malam, kecuali kalau beliau akan masuk ke kamar kecil barulah cincin itu dilepasnya.


Kisahnya
Pada suatu hari nabi Sulaiman as akan pergi ke kamar kecil, maka cincin tersebut dititipkan kepada bawahan yang dipercayainya. Di atas cincin itu tertulis nama Allah SWT. Ketika Nabi Sulaiman as berada di kamar kecil itulah setan datang dan mendekati bawahannya yang membawa cincin. Rupa dan bentuk setan itu sama persis dengan Nabi Sulaiman as. Sang ajudan pun tidak ragu sedikitpun, lalu diserahkannya cincin itu kepada setan yang menjelma menjadi Nabi Sulaiman as tersebut.

Setelah itu, setan itu memakai cincin itu di jari manisnya.
Setan kemudian menghadap para hulu balang dan duduk dengan tenangnya di atas singgasana kerajaan Nabi Sulaiman as. Saat itu pula maka datanglah semua anggota kerajaan baik yang dari golongan jin maupun manusia, para burung dan binatang lainnya. Mereka semua mengira bahwa yang duduk di singgasana itu adalah Nabi Sulaiman as yang asli.

Ketika Nabi Sulaiman as keluar dari kamar kecil, ia meminta cincin dari anak buahnya tadi, dan betapa kagetnya si anak buah karena cincin tadi telah diberikan kepada Sang Raja. Si anak buah dengan wajah agak heran, lalu bertanya kepada Sang Raja,
"Wahai Sang Raja, siapakah Anda ini?"
"Aku adalah Rajamu wahai pengawalku."
"Ampun paduka, bukankah Tuanku tadi telah meminta cincin tersebut lalu segera pergi keluar dan duduk di singgasana kerajaan..?"

Ditolak Penduduk Sekitar


Namanya juga NABI...
Benar saja, Nabi Sulaiman as telah mengetahui bahwa sesungguhnya setanlah yang telah menipu para pengawalnya.
Nabi Sulaiman as akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan istana menuju tempat yang sepi, yaitu di hutan. Dalam perjalanannya yang jauh itu, kadang-kadang beliau terpaksa meminta makanan kepada penduduk sekitar.

Orang-orang kampung bertanya,
"Wahai Saudara, siapakah Anda ini?"
"Aku adalah Sulaiman bin Dawud," jawab Nabi Sulaiman as.
"Kami tidak percaya. Kalau engkau adalah Sulaiman bin Dawud, pastilah engkau memakai cincin yang bertuliskan Allah SWT," sergah salah seorang penduduk.

Orang-orang penduduk sekitar tidak percaya sama sekali dengan pernyataan Nabi Sulaiman as.
Akhirnya Nabi Sulaiman melanjutkan perjalanan lagi, mengembara selama 40 hari 40 malam dengan menanggung rasa lapar yang amat sangat dan pakaian yang compang-camping, lagi kepalanya terbuka. Beliau datang ke pesisir pantai dan berteman dengan para nelayan yang mencari ikan di laut.

Dibantu Anak Buahnya yang Alim 

Pada suatu hari, Ashif bin Barkhaya (seseorang yang diberi ilmu oleh Allah SWT, yang juga anak buah Nabi Sulaiman) berkata kepada kaum Bani Israil, bahwa cincin Nabi Sulaiman as telah diambil alih oleh setan, lalu Nabi Sulaiman as pergi. Ketika setan sedang sedang duduk di singgasana kerajaan, Ashif menolak dengan tegas bahwa dia bukanlah Nabi Sulaiman as. Maka setan itu pun akhirnya lari dan membuang cincin itu ke tengah laut dan dimakan ikan.

Dari situlah Allah SWT mengarahkan Nabi-Nya ke tempat para nelayan dengan tujuan agar Nabi Sulaiman as memburu ikan yang menelan cincinnya itu. Atas perintah Allah SWT, ikan itu merapat ke pinggir dan berhasil ditangkat oleh Nabi Sulaiman as. Setelah itu, perut ikan itu dibedah dan ditemukan sebuah cincin yang beliau cari.

Setelah cincin diambil dan dipakai, Nabi Sulaiman as langsung sujud syukur kepada Allah SWT.
Nabi Sulaiman as akhirnya dapat memimpin kerajaannya kembali seperti sedia kala.

Allah SWT berfirman,

وَلَقَدْ فَتَنَّا سُلَيْمَانَ وَأَلْقَيْنَا عَلَى كُرْسِيِّهِ جَسَدًا ثُمَّ أَنَابَ

Artinya:
"Dan Sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian ia bertaubat."
(QS. As-Shaad: 34).


"Semoga sepenggal kisah Nabi Sulaiman a.s diatas bisa menjadi pelajaran yang berharga untuk kita semua khususnya bagi para pembaca blog ini"


Sumber : http://ahlulbaitrasulullah.blogspot.co.id 

Monday, July 11, 2016

Inilah Tentang Ibadah 500 Tahun

syarifalfarisi.blogspot.com

Saudara-saudariku, ternyata amal baik yang dilakukan siapapun selama 500 tahun siang malam tetap tidak dapat menjamin masuknya surga bagi hamba yang bersangkutan. Mengapa? Mari kita perhatikan & renungkan!

Dalam sebuah Hadits Riwayat Shahih Muslim yang cukup panjang, Diriwayatkan oleh sahabat Jabir (r.a), Rasulullah datang kepada kami, lalu Rasulullah Muhammad SAW bersabda:

”Baru saja Jibril datang kepadaku tadi, Jibril berkata:

”Hai Muhammad, Demi Allah: ”Bahwasanya ada seseorang melakukan ibadah kira-kira lima ratus tahun diatas puncak sebuah gugung yang luas, panjangnya 30 X 30 hasta, dan lautan yang melingkar di sekitarnya seluas 4000 farsakh dari setiap penjuru, di bawah gunung tersebut terdapat sumber air jernih kira-kira satu jari lebarnya, dan terdapat pula pohon buah delima yang sengaja disediakan oleh Allah untuknya dimana setiap hari mengeluarkan buahnya satu biji.

Setiap sore sesudah berwudlu, buah tersebut diambil dan dimakan, kemudian dia melakukan shalat seraya berdo’a mohon diambil nyawanya ditengah tengah melakukan sujud, agar tubuhnya tidak tersentuh Bumi atau yang lainnya, hingga ia bangkit di hari kiamat tengah bersujud kepada ALLAH. Maka permohonannya dikabulkan ALLAH, karena itu setiap kami lewat (naik-turun Langit) pasti dia tengah bersujud.”

Lanjut Jibril:”Kami temukan tulisnya (ceritanya) di lauhil mahfudz, bahwa: ia akan dibangkitkan kelak dihari kiamat dalam keadaan masih tetap bersujud dan diajukan kepada ALLAH, FirmanNya:”Masukkanlah hamba-Ku ini ke sorga karena Rahmat-Ku.” Tetapi hamba itu menjawab: ”Melainkan karena amalku semata.”

Lalu ALLAH menyuruh Malaikat untuk menghitung semua amalnya dibanding nikmat pemberianNya, dan ternyata setelah penotalan amal keseluruhan selesai, dan dimulai dengan menghitung nikmatnya mata saja sudah melebihi pahala ibadahnya sepanjang 500 tahun, padahal nikmat-nikmat yang lain-lainnya jauh lebih besar dan berharga.

Lalu ALLAH berFirman: ”Lemparkan ia ke dalam Neraka.” Kemudian Malaikat membawanya dan akan dilemparkan ke dalam Neraka, tetapi di tengah perjalanan menuju Neraka, ia menyadari kekeliruannya dan menyesal seraya berkata:”Ya ALLAH, masukkanlah aku ke surga karena Rahmat-Mu.”

Akhirnya Firman-Nya kepada Malaikat:”Kembalikanlah ia.”

Lalu ditanya ia:”Siapakah yang menciptakan kamu dari asalnya (tiada)?.”
Jawabnya:”Engkau ya ALLAH.”
Lalu hal itu dikarenakan amalmu ataukah Rahmat-Ku?.”
Jawabnya:”Karena Rahmat-Mu.”

Siapakah yang menguatkanmu beribadah selama lima ratus tahun?.”
Jawabnya lagi:”Engkau ya ALLAH.”

“Dan siapakah yang menempatkan kamu diatas Gunung dikelilingi lautan di sekitarnya, dikaki Gunung tersebut memancar sumber air tawar, dan tumbuh pohon delima yang buahnya kau petik setiap sore, padahal menurut hukum adat, delima hanya berbuah sekali dalam setahun, lalu kau minta mati dalam keadaan bersujud, siapa yang melakukan itu semua?.”

Jawabnya:” Engkau ya ALLAH.” FirmanNya:”Maka sadarlah kamu, bahwa itu semua adalah semata karena Rahmat-Ku, dan sekarang Aku masukkan kamu ke surga semata karena Rahmat-Ku.”

Kemudian Jibril berkata:”Segala-galanya dia alam ini bisa terjadi/ada, semua hanya karena rahmat ALLAH semata.”

Subhanallah, La hawla wa laa quwwata illa billah..!!
Saudara-saudariku,

Mengapa ini semua bisa terjadi? Bukankah hamba itu sudah sedemikian rajinnya beribadah?

Dari sini, ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil, diantaranya:

JANGAN TERJEBAK DENGAN SOMBONG/BANGGA/MENYEBUT/MENGHITUNG-HITUNG/TAFAKHUR DENGAN AMAL KITA.

Jika itu semua 500 tahun ibadahnya?
Lantas bagaimana usia kita?
Bagaimana Ibadah kita ?

Mudah-mudahan hal ini bisa menjadi renungan dan bermanfaat untuk kita semua.

Wallahu muwafiq ilaa aqwamit thariq
Was salamualaikum warahmamatullahi wabarakatuh.



Sumber : https://ahlulbaitrasulullah.blogspot.com

Sunday, July 10, 2016

Berkahnya Minum Darah Rasulullah Saw


syarifalfarisi.blogspot.com
 
Dalam perang Uhud, dua mata rantai topi besi telah menancap di wajah dan bagian kepala Rasulullah Saw. Melihat hal itu, Abu Bakar r.a. dan Abu Ubaidah bin Jarrah r.a. mencabut dua mata rantai topi besi yang melukai kepala Rasulullah saw. dengan giginya. Satu mata rantai itu tercabut, akibatnya sebuah gigi Abu Ubaidah r.a. tanggal, tapi ia tidak perduli, maka ia mencabut mata rantai yang kedua dengan giginya lagi, sehingga sebuah giginya tanggal. Mata rantai itu dapat dicabut dari tempatnya, lalu mengalirlah darah Rasulullah Saw. Kemudian darah itu dihisap oleh Malik bin Sinan r.a. ayah Abu Sa’id Al-Khudri r.a. dengan bibirnya dan ditelannya.


Apakah sahabat Nabi Malik bin Sinan yang menjilat luka pada kepala Nabi صلى الله عليه و سلم dan meminum darah yang mengucur itu, sampai darah tidak keluar lagi adalah seorang yang bodoh dan tidak mengerti hukum ?

Tidak ! Beliau adalah sahabat generasi terbaik yang bertemu langsung dan mendapat didikan dari Nabi Saw, Jadi sangat jauh skala keilmuan, ibadah dan ilmu adabnya dibanding generasi setelah mereka.


Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan:
“Barangsiapa hendak mengambil teladan maka teladanilah orang-orang yang telah meninggal. Mereka itu adalah para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang paling baik hatinya di kalangan umat ini. Ilmu mereka paling dalam serta paling tidak suka membeban-bebani diri. Mereka adalah suatu kaum yang telah dipilih oleh Allah guna menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan untuk menyampaikan ajaran agama-Nya. Oleh karena itu tirulah akhlak mereka dan tempuhlah jalan-jalan mereka, karena sesungguhnya mereka berada di atas jalan yang lurus.”
         (fadhailus shahabaah).

Lantas, Apakah pelanggaran etika dan estetika Malik bin Sinan yang di suruh Nabi untuk meludahkan (membuang) darah yang ada didalam mulutnya, sungguh secara syari'at, sempat para sahabat ketakutan dan menilai itu adalah pelanggaran dan dosa terbesar, karena Ibnu Sinan tidak patuh akan perintah Nabi.

Lantas apa jawaban Nabi kita Melihat apa yang dilakukan Malik bin Sinan, beliau bersabda, 
"Seseorang yang darahnya menyatu dengan darahku, maka api neraka tidak akan menyentuhnya."

Dalam riwayat lain Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda: 
 
"Muntahkan darah itu!" 
 
Malik رضي الله عنه menjawab: "Aku tidak akan memuntahkannya selama-lamanya." 
 
Bahkan, dia menelannya.

Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda: "Barang siapa ingin melihat seorang dari ahli syurga, maka lihatlah kepada orang ini."

Sungguh suatu keberuntungan besar bagi engkau wahai sahabat kekasih Allah..Malik bin Sinan....

APAKAH Abdullah ibn Zubair seorang yang celaka dan neraka tempatnya karena melanggar kesetiaannya pada Nabi, dikala Setelah selesai dibekam, Baginda SAW bersabda: "Wahai Abdullah (ibn Zubair)! Pergilah kamu dengan membawa darah ini dan buanglah ia di tempat yang tidak seorang pun dapat melihat kamu."

Setelah meninggalkan Rasulullah SAW, dia mengambil darah itu, lalu meminumnya. saat kembali Rasulullah SAW bertanya: "Apakah yang telah kamu lakukan dengan darah itu?" Dia menjawab: "Aku telah menempatkannya di tempat yang sangat tersembunyi, yang aku tahu ia sangat tersembunyi daripada orang ramai."

Baginda SAW bersabda: "Boleh jadi engkau telah meminumnya?" Dia menjawab: "Ya".

Nabi SAW bersabda: "Kenapa kamu minum darah itu? Celakalah manusia daripada kamu dan terselamatlah kamu daripada manusia." (riwayat Al-Hakim).

Setelah kejadian itu sahabat Ibnu Zubair, memiliki banyak kelebihan, dan Ulama Ahli hadits "Mereka (para sahabat) berpendapat bahwa kekuatan yang terdapat pada Abdullah ibn Zubair itu disebabkan keberkatan darah tersebut."

Inilah bahasa cinta Saudara-saudariku,
Sedikit pun kita tidak bakal pernah memahami seutuhnya tentang cinta yang hebat ini.
Nyawa akan jadi murah ketika berhadapan dengan cinta,
Nyawa tidak ada harganya ketika cinta membara,
Tidak ada sejarah cinta, seseorang takut akan kematian.
Semua pandangan hukum agama (bahkan syar'iat) sekalipun akan terbentur dengan kata cinta.

Mereka para sahabat nabi adalah generasi terbaik dan terhebat dalam cinta bahkan terkesan ekstrim, apakah mereka tidak tahu hadits larangan berlebihan dalam mencintai?
Tidak..!! mereka para sahabat sangat tahu soal hukum, tidak pernah ada sejarah mereka (sahabat nabi Muhammad) yang menjadikan Nabi Muhammad sebagai Tuhan untuk disembah.!
Lagi-lagi inilah bahasa cinta dan keagungan.
Hanya rahmat dan cinta Allah-lah yang membuat hati mereka penuh dengan cinta kepada Rasulullah.

Di akhir ini, simaklah firman suci dan menjadikan renungan kita semua:

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Allah telah ridha kepada orang-orang yang beriman (para sahabat Nabi) ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon (Bai’atu Ridwan). Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada mereka dan membalas mereka dengan kemenangan yang dekat.” (QS. Al Fath : 18).

Ingatlah..kelak kita akan dikumpulkan bersama seseorang yang kita cintai saat didunia..!
Tidak akan pernah ada orang-orang mencapai hubungan baik kepada al-khaliq (Allah Ta'ala) tanpa menanamkan cinta mereka kepada kekasih Allah ini, shalawatullah wa salamuhu 'alaihi wa alihi wa shahbih.


"Semoga kisah ini bisa menjadi sebuah pelajaran yang berharga untuk kita semua dan kita bisa semakin cinta kepada Rasulullah Saw"

 Oleh : Habib Quraisy Baharun
Sumber :  https://ahlulbaitrasulullah.blogspot.com

Friday, July 8, 2016

Karomahnya Habib Soleh bin Muhsin Al-Hamid (Habib Tanggul)

syarifalfarisi.blogspot.com

Habib Soleh Bin Muhsin Al Hamid, Beliau adalah Seorang wali qhutub yang lebih dikenal Dengan nama habib Sholeh Tanggul, Berasal dari Hadramaut dan pertama kali melakukan da’wahnya ke Indonesia sekitar tahun 1921 M dan menetap di daerah tanggul Jember Jawa timur. Mengisahkan tentang Habib Sholeh Tanggul tidak bisa lepas dari peristiwa yang mempertemukan dirinya dengan Nabi Khidir AS. Kala itu, layaknya pemuda keturunan Arab lainnya, orang masih memanggilnya Yik, kependekan dari kata Sayyid, yang artinya Tuan, sebuah gelar untuk keturunan Rasulullah.

Suatu ketika Yik Sholeh sedang menuju stasiun Kereta Api Tanggul yang letaknya memang dekat dengan rumahnya. Tiba-tiba datang seorang pengemis meminta uang. Yik Sholeh yang sebenarnya membawa sepuluh rupiah menjawab tidak ada, karena hanya itu yang dimiliki. Pengemis itupun pergi, tetapi kemudian datang dan minta uang lagi. Karena dijawab tidak ada, ia pergi lagi, tetapi lalu datang untuk ketiga kalinya. Ketika didapati jawaban yang sama, orang itu berkata, “Yang sepuluh rupiah di saku kamu?” seketika Yik Sholeh merasakan ada yang aneh. Lalu ia menjabat tangan pengemis itu. Ketika berjabat tangan, jempol si pengemis terasa lembut seperti tak bertulang. Keadaan seperti itu, menurut beberapa kitab klasik, adalah ciri fisik nabi Khidir. Tangannyapun dipegang erat-erat oleh Yik Sholeh, sambil berkata, “Anda pasti Nabi Khidir, maka mohon doakan saya.” Sang pengemispun berdoa, lalu pergi sambil berpesan bahwa sebentar lagi akan datang seorang tamu.

Tak lama kemudian, turun dari kereta api seorang yang berpakaian serba hitam dan meminta Yik Sholeh untuk menunjukkan rumah Habib Sholeh. Karena di sekitar sana tidak ada yang nama Habib Sholeh, dijawab tidak ada. Karena orang itu menekankan ada, Yik Sholeh menjawab, “Di daerah sini tidak ada yang nama Habib Sholeh, yang ada Sholeh, ya saya sendiri ini, “Kalau begitu andalah yang saya cari,” jawab orang itu lalu pergi, membuat Yik Sholeh tercengang.

Sejak itu, rumah Habib Sholeh selalu ramai dikunjungi orang, mulai sekedar silaturrahmi, sampai minta berkah doa. Tidak hanya dari tanggul, tetapi juga luar Jawa bahkan luar negeri, seperti Belanda, Afrika, Cina, Malaysia, Singapura dan lain-lain. Mantan wakil Presiden Adam malik adalah satu dari sekian pejabat yang sering sowan kerumahnya. Satu bukti kemasyhuran beliau, jika Habib Sholeh ke Jakarta, penjemputnya sangat banyak, melebihi penjemputan Presiden,” ujar KH. Abdillah yang mengenal dengan baik Habib Sholeh

KH.Ahmad Qusyairi bin Shiddiq, mertua Kyai Abdul Hamid Pasuruan adalah sahabat karib Habib Sholeh. Dulunya Habib Sholeh sering mengikuti pengajian KH. Ahmad Qusyairi di Tanggul, tetapi setelah tanda-tanda kewalian Habib Sholeh mulai menampak, KH. Qusyairilah yang mengaji kepada Habib Sholeh.

Suatu saat, KH. Qusyairi sowan kepada rumah Habib Sholeh. Tidak seperti biasa, sambutan Habib Sholeh begitu hangat, sampai dipeluknya erat-erat sang Kyai. Habib pun menyembelih seekor kambing khusus untuk menjamu sang teman karib. Disela-sela bercengkrama, Habib mengatakan bahwa itu terakhir kali yang ia lakukan. Ternyata beberapa hari kemudian KH. Qusyairi wafat di kediamannya di Pasuruan.

Tersebutlah seorang jenderal yang konon pernah mendapat hadiah pulpen dari Presiden AS D. Esenhower. Suatu ketika pulpen itu raib saat dibawa ajudannya kepasar (kecopetan). Karuan saja sang ajudan kalang kabut kehilangan barang yang sangat dicintai oleh sang Jenderal dan takut mendapat hukuman, sehingga disarankan oleh seorang kenalannya agar minta tolong ke Habib Sholeh.

Sampai di sana, Habib menyuruhnya mencari ke pasar Tanggul. Sekalipun aneh, dituruti saja, dan ternyata pulpen itu tidak ditemukan. Habib menyuruh lagi, lagi-lagi tidak ditemukan. Karena memaksa, Habib masuk kedalam kamarnya, dan tak lama kemudian keluar dengan menjulurkan sebuah Pulpen. “Apa seperti ini pulpen itu? Sang ajudan tertegun, karena ternyata itulah pulpen sang jenderal yang sudah pindah ke genggaman pencopet.

Nama Habib Sholeh kian terkenal dan harum. Kisah-kisah yang menuturkan karamah beliau tak terhitung. Tetapi perlu dicatat, karamah hanyalah suatu indikasi kewalian seseorang. Kelebihan itu dapat dicapai setelah melalui proses panjang yaitu pelaksanaan ajaran Islam secara Kaffah. Dan itu dilakukan secara konsekuen dan terus menerus (istiqamah), sampai dikatakan bahwa Istiqamah itu lebih mulia dari seribu karamah.

Tengok saja komitmen Habib terhadap nilai-nilai keislaman, termasuk kepeduliannya terhadap fakir miskin, janda dan anak yatim, menjadi juru damai ketika ada perselisihan. Beliau dikenal karena akhlak mulianya, tidak pernah menyakiti hati orang lain, bahkan berusaha menyenangkan hati mereka, sampai-sampai dikenal tidak pernah menolak permintaan orang. Siapapun yang bertamu akan dijamu sebaik mungkin. Habib Sholeh sering menimba sendiri air sumur untuk mandi dan wudhu para tamunya.

Maka buah yang didapat, seperti ketika Habib Ahmad Al-Hamid pernah berkata kepada baliau, kenapa Allah selalu mengabulkan doanya. Habib Sholeh menjawab, “Bagaimana tidak? Sedangkan aku belum pernah melakukan hal yang membuat-Nya Murka.”


Suatu hari datanglah seorang wanita dari Swiss kepada Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid. Wanita Swiss tersebut sebelumnya bermimpi aneh. Di dalam mimpinya ia ketemu dengan seorang yang memperkenalkan dirinya sebagai Habib Sholeh dari Tanggul Jember Indonesia.

Tanpa banyak berpikir, si wanita pun menurut dan langsung terbang dari Swiss menuju Indonesia, ke Tanggul, sebuah tempat yang namanya asing baginya. Ternyata ia mempunyai persoalan rumit. Empat hari lagi ia akan menikah dengan seorang pria yang ia cintai. Tetapi malang, pria tersebut ternyata digaet oleh seorang perempuan jalang. Maka rencana pernikahan pun terancam batal.

Di tengah-tengah kegalauannya itulah, di suatu malam, ia bermimpi didatangi seseorang yang kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Habib Sholeh yang katanya beralamat di Tanggul, Jember, Indonesia. Kepadanya dikatakan, Habib Sholeh itu dapat menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Itulah yang membuatnya penasaran dan ingin segera mencari tahu dan menemui seorang Habib seperti dimaksud dalam mimpinya.
Tak disangka, setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, ia pun tak mendapatkan kesulitan yang berarti. Setelah bertanya ke petugas bandara tentang siapa gerangan Habib Sholeh Tanggul, ternyata salah seorang di antara petugas ada yang tahu dan bersedia mengantarnya.
 

Di sana ia terkejut. Ternyata ia betul-betul melihat orang yang sama persis dengan yang dilihatnya dalam mimpi. Tak lain tak bukan, dialah Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid. Pada saat itu kebetulan sedang banyak tamu. Setelah memperkenalkan diri, tak lama kemudian, ia dipersilahkan masuk dan berganti pakaian. Sebab ia orang Eropa yang biasa dengan pakaian bebas. Setelah itu, ia pun dipersilahkan mengutarakan maksud kedatangannya.
 

Tidak lama ia bertamu di kediaman Habib Sholeh. Sebab setelah itu, sang Habib menyuruhnya segera bertolak ke Swiss. Kepadanya dikatakan “Segeralah pulang ke Swiss. Nanti setibanya kamu disana, calon suamimu akan menangis di depan pintu rumahmu sambil mengakui kesalahannya dan memohon maaf kepadamu.” Tanpa banyak tanya lagi, wanita itu pun segera bertolak menuju Swiss.

Lama tak terdengar kabar, beberapa bulan kemudian, wanita tersebut datang kembali. Namun dengan keadaan yang berbeda. Ternyata apa yang dikatakan oleh Habib Sholeh kepadanya pada kunjungannya yang pertama menjadi kenyataan. Kini ia telah hidup bahagia sebagai sepasang suami istri. Kepada Habib Sholeh ia berucap terima kasih. Dan ia pun menawarkan apa saja yang Habib Sholeh minta, semuanya akan ia penuhi. Tetapi sebagai seorang waliyullah, Habib Sholeh tak mengharapkan imbalan apapun, melainkan ikhlas karena Allah semata.

‘Hanya saja, kalau boleh saya meminta.” Ujar sang Habib, “dan tidak ada sama sekali paksaan……kalau kamu berkenan, saya meminta kamu memeluk islam.” Alhamdulillah, dengan penuh kesadaran serta keikhlasan, wanita tersebut beserta suaminya memeluk agama Islam.


Pada saat Adam Malik ( mantan Menteri Luar Negeri ) menjabat sebagai Kepala Kantor Berita Antara; suatu saat lewat Lembaga yang dipimpinnya, beliau mengungkap keterlibatan Menlu Soebandrio, yang saat itu dikenal sebagai tokoh berfaham ajaran komunis. Karuan saja, berita-berita yang dimuat itu membuat Soebandrio dan jajarannya kalang kabut karena merasa terpojokkan. Ia marah besar dan mengancam Adam Malik.

Mendapat ancaman tersebut, Adam Malik pun berusaha mencari perlindungan. Maka datanglah ia kepada Habib Sholeh Al-Hamid di Tanggul, Jember. Adam Malik menceritakan latar belakang persoalannya. Mendengar pengaduan itu, Habib Sholeh Tanggul hanya tersenyum. Beliau berkata : “Jangan takut terhadap ancamannya. Nanti kamu yang akan menggantikan kedudukannya.”

Alhamdulillah, waktu pun berjalan dan Adam Malik selamat dari ancaman Soebandrio dan gerombongan komunis lainnya. Dan sesuai dengan ramalan Habib Sholeh, setelah Soeharto menjabat Presiden, giliran Adam Malik yang menjabat menteri luar negeri.

Kisah serupa terjadi sekitar 30 tahun yang lalu. Alwi Shihab mantan menteri luar negeri di era presiden K.H. Abdurrahman Wahid, pernah datang ke kediaman Habib Sholeh Tanggul. Pada masa itu, ia datang diantar oleh ayahandanya. Keperluannya mohon doa restu untuk belajar ke luar negeri. Tujuannya belajar ke Amerika di Harvard University.
Pada kesempatan itu, Alwi Shihab mengutarakan apa yang menjadi problemnya. Antara lain, ia tidak punya biaya yang cukup untuk mengurus visa dan paspor. Mendengar keluhan Alwi Shihab, Habib Sholeh Tanggul menyarankan agar Alwi Shihab mandi di ke dua sumur yang terdapat di sekitar kediamannya.

Alwi Shihab pun mandi di ke dua sumur tersebut. Setelah itu, kepada Alwi Shihab, Habib Sholeh Tanggul menasehati agar ia datang ke Adam Malik yang saat itu menjabat Menlu. Kontan, Alwi Shihab mengatakan kekhawatirannya karena Ia hanya rakyat biasa, bagaimana bisa bertemu dengan seorang menteri?

Mendengar kekhawatiran Alwi Shihab, akhirnya Habib Sholeh menasehatinya agar tidak takut, seraya menyuruhnya supaya menemui Adam Malik dengan membawa surat darinya, “Bawa surat saya ini. Jangan takut pada Adam Malik, kelak kamu akan menjadi seperti Adam Malik.” Kata Habib Sholeh Tanggul. Ternyata di kemudian hari, ucapan Habib Sholeh menjadi sebuah kenyataan, Alwi Shihab menjadi Menteri di Era Presiden Gus Dur.


"Semoga kisah ini bisa menjadi motivasi untuk kita semua khususnya bagi para pembaca blog ini"


Sumber : https://ahlulbaitrasulullah.blogspot.co.id

Thursday, July 7, 2016

Inilah Larangannya Mengganggu Keturunannya Rasulullah SAW

syarifalfarisi.blogspot.com

Oleh : Al-Faqir ila Allah As-Sayyid Al-Habib 'Aqil bin Muhsin bin Syeikh Al-Atthas.
Satu hukum syarak yang juga khas mengenal ahlilbaitnya Rasulullah s.a.w. Ialah larangan mengganggu mereka karena mereka itu zuriat Rasulullah s.a.w. Siapa yang mengganggu mereka karena keturunannya maka Ia telah mengganggu Rasulullah s.a.w., dalilnya Ialah seperti berikut :


1. “Sesungguhnya orang-orang yang mencaci Allah dan Rasul-Nya maka Allah akan mengutuk mereka di dunia dan di akhirat dan akan menyediakan untuk mereka siksaan yang penuh dengan kehinaan. Dan orang-orang yang mencela kaum lelaki dan perempuan yang beriman, dengan tiada kesalahan yang diperbuat mereka, sesungguhnya orang-orang itu telah memikul kebohongan dan dosa yang terang ”.(Surah Al-Ahzab ayat 57-58).


2. Bersabda Nabi Muhammad Shollallahu alaihi waalihi wa sallam oleh Almiswar bin Makhramah r.a. Bahawa Rasulullah s.a.w. Bersabda: “Fatimah adalah sebagian dariku, siapa yang memurkakannya ia telah memurkakan aku ”. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.

3. Dari Ibnu Zubair r.a. Bahawa Nabi s.a.w. Bersabda: “Sesungguhnya Fatimah adalah sebahagian dari padaku, menyiksa aku apa-apa yang menyiksanya dan menyusahkan aku apa-apa yang menyusahkannya ”. Diriwayatkan Ahmad, Tirmizi dan Al-hakim.
Saya berpendapat bahawa zuriat Fatimah adalah sebahagian daripadanya, siapa yang mengganggunya ia mengganggu Fatimah ia telah mengganggu Rasulullah s.a.w.

4. Bersabda Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wa alihi wasallam : “Siapa yang mengganggu keluargaku walaupun sehujung rambut sekalipun, maka ia telah menggangguku dan siapa menggangguku maka ia telah mengganggu ALLAH ”. Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dari Al-Imam Ali r.a.

5. Bersabda Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wa alihi wa sallam : dalam suatu hadits putri Abu Lahab ketika dikatakan kepadanya sesaat ia berhijrah bahawa hijrahnya tidak memberi manfaat apa-apa kepadamu karena kamu adalah putri kayu api neraka, maka marahlah Rasulullah s.a.w. setelah mendengarnya. Lalu berkhutbahlah Rasulullah di atas mimbarnya: “Mengapa masih ada sebilangan kaum yang mengganggu nasab dan keluargaku? Ketahuilah siapa yang mengganggu nasab keluargaku maka ia telah menggangguku dan siapa yang telah menggangguku maka ia telah mengganggu ALLAH ”. Diriwayatkan oleh Ibnu Abil Asim. Tabarani dan Baihaqi.

"Semoga bermanfaat untuk kita semua khususnya bagi para pembaca blog ini"
 
Sumber : https://ahlulbaitrasulullah.blogspot.com