Saturday, December 26, 2015

Inilah Bercanda Sehat Ala Rasulullah SAW

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6350621372319428354#editor/target=post;postID=1249450321217773208;onPublishedMenu=allposts;onClosedMenu=allposts;postNum=0;src=link
-Bercanda Sehat Ala Rasulullah SAW-

Canda gurau adalah obat stres yang tentu menjadi kebutuhan setiap mahluk bernama manusia. Islam juga tidak melarang umatnya untuk bersenda gurau dan tertawa. Namun, syariat memberikan tuntunan bagaimana harusnya seorang Muslim menyikapinya.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم sebagai suri teladan telah memperlihatkan bagaimana semestinya seorang Muslim bersenda gurau. Beliau sendiri juga bercanda dengan keluarga dan para sahabatnya. Dengan bercanda, beliau bisa menambah keakraban, menghibur, menimbulkan kasih sayang, sekaligus memberikan edukasi positif.

Dalam suatu riwayat, seorang wanita tua mendatangi Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Ia menanyakan perihal surga. “Wanita tua tidak ada di surga,” sabda Rasulullah SAW. Mendengar ucapan itu, si nenek pun menangis tersedu-sedu. Rasulullah SAW segera menghiburnya dan menjelaskan makna sabdanya tersebut itu. “Sesungguhnya ketika masa itu tiba, Anda bukanlah seorang wanita tua seperti sekarang.”

Rasulullah pun kemudian membacakan ayat, “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari itu) dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan.“ (QS al-Waaqi’ah [56]: 35-36). Akhirnya, si nenek tua tadi pun tersenyum.

Mungkin ada yang menilai, betapa kasarnya guyonan Rasulullah sehingga membuat wanita yang sudah tua sampai menangis. Namun perlu dicermati, guyonan tersebut adalah suatu kebenaran, mempunyai nilai edukasi, dan sarat dengan ilmu pengetahuan. Si nenek diajarkan suatu ilmu baru, kelak para penghuni surga akan dikembalikan seperti masa ia ketika muda.

Rasulullah juga dikenal sebagai seorang suami yang hangat dalam keluarga. Suatu kali, Rasulullah menantang istrinya, Aisyah RA, lomba lari. Karena Aisyah masih sangat muda, ia berhasil mengalahkan Rasulullah SAW.

Mungkin saja Rasulullah hanya mengalah demi membahagiakan istrinya yang masih sangat muda itu. Ia ingin memupuk rasa cinta dan kasih sayang dengan istrinya.

Beberapa waktu setelah itu, Rasulullah kembali menantang Aisyah untuk lomba lari. Karena badannya sudah gemuk, Rasulullah pun memenangkan perlombaan itu. “Ini pembalasan untuk kekalahan yang dulu,” sabda Rasulullah.

Bagaimana mungkin seorang Rasul yang telah berusia senja dan menjadi pemimpin ummat itu malah bermain kejar-kejaran? Mungkin ada yang menilai perilaku Rasulullah kekanak-kanakan.

Mungkin juga ada yang menilai, beliau cukup egois karena tidak mau kalah dengan istrinya walau hanya sebatas lomba lari. Tetapi, begitulah Rasulullah SAW menciptakan permainan yang bisa memupuk rasa cinta dalam keluarganya.

Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah RA, seorang sahabat bertanya kepada Muhammad, “Wahai, Rasullullah! Apakah Engkau juga bersendau gurau bersama kami?” Rasulullah menjawab, “Benar. Hanya saja saya selalu berkata benar.” (HR Ahmad).

Begitulah model bercanda yang dicontohkan Rasulullah SAW. Dalam bercanda, beliau tidak pernah tertawa sampai terbahak-bahak. Tertawanya hanya sampai terlihat gigi taringnya saja. Beliau juga tidak melontarkan lelucon bohong, dusta, atau merendahkan orang lain. Beliau juga tidak berlebih-lebihan dalam bercanda. Hanya sebatas refreshing dan pelepas kesuntukan sesaat.

Seperti dipesankan Imam Nawawi, bercandanya Rasulullah tidak sampai membuat martabatnya rendah. Materi yang menjadi guyonan juga tidak mengada-ada. Bahkan, sarat dengan pelajaran dan ilmu pengetahuan.

Seperti sabda Rasul, “Celakalah bagi mereka yang berbicara, lalu berdusta supaya dengannya orang banyak yang tertawa. Celakalah baginya dan celakalah.” (HR Ahmad)

Model yang diajarkan Rasulullah sangat jauh dari fenomena yang terjadi di masyarakat. Seperti, tontonan-tontonan yang semata bertujuan membuat pemirsanya tertawa. Di antaranya, lawakan yang penuh dengan materi bohong, mengada-ada, dan berpura-pura bodoh.

Bahkan, ada yang menyalahi kodrat ilahi, seperti berpura-pura menjadi banci agar orang tertawa. Padahal, laki-laki yang berpura-pura menjadi wanita atau sebaliknya mendapat laknat yang keras disisi Allah SWT.

Kebanyakan dunia televisi menyajikan lawakan yang kasar. Kerap ditemui materi lawakan berupa olok-olokan yang merendahkan orang lain. Mereka sengaja menghina kekurangan rekan mereka hingga membuka aibnya.

Acara komedi seperti ini jelas bertentangan dengan firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”(QS al- Hujuraat [49]:11).

Imam Nawawi juga memesankan, seseorang dilarang bercanda dalam hal-hal serius, seperti membuat undang-undang, menentukan sebuah hukum, dalam pengadilan/ persidangan, ketika menjadi saksi, dan lain sebagainya.

Bercanda juga dilarang ketika situasi yang tidak tepat, seperti tempat yang terkena bencana, ketika sedang bertakziyah, atau ketika mengiringi jenazah. Intinya, perhatikanlah situasi dan kondisi sebelum melontarkan guyonan. Seorang Muslim yang bercanda tetap memperhatikan norma-norma kesopanan. Terlalu banyak tertawa juga akan mengeraskan dan mematikan hati.

Rasulullah menganjurkan umatnya untuk lebih banyak menangis ketimbang tertawa. Maksudnya, hendaklah seorang Muslim lebih menyibukkan diri dengan muhasabah dan mengevaluasi dirinya.

آللّهُمَ صلّ ۈسَلّمْ عَلَى سَيّد نَآ مُحَمّدْ

Thursday, December 24, 2015

Mengapa Beribadah Menghadap Kiblat ??

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6350621372319428354#editor/target=post;postID=67970819563656747


Kaum kuffar, -khususnya kristen-, sering kali menghina Islam dengan mengatakan Islam menyembah batu Hitam di Ka’bah. Mereka sering memfitnah muslim menyembah kotak Hitam Ka’bah itu sendiri dengan alasan umat Islam selalu menghadap Ka’bah dalam melaksanakan Shalat 5 waktu, Shalat Sunnat. Umat Islam pun dilarang buang air kecil maupun besar dengan menghadap Ka’bah.
Padahal, justru mereka kaum kuffar itu sendiri lah yang mengingkari Kitabnya yang ada di tangan mereka sendiri karena perintah menghadap Kiblat ini telah diperintahkan pula pada Nabi-Nabi sebelum Rasullullah Muhammad SAW baik dalam Perjanjian Lama maupun perjanjian baru.
Bahkan setiap Nabi memiliki Kiblat & tugu batu untuk melakukan Thawaf atau mengelilingi batu tersebut, hanya mereka kaum kuffar saja yang tidak pernah membaca Kitab mereka sehingga secara tidak sadar mereka malah menghina Kitab yang ada ditangan mereka sendiri.

Mengapa mereka tidak pernah membaca kitab mereka? Setidaknya ada 2 alasan:
1. Bagi umat Katolik, membaca Kitabnya merupakan hal yang tabu karena membaca Alkitab harus dibimbing oleh Pastur & dihindari membaca Alkitab secara sendiri.
2. Mereka telah merasa aman dan tidak perlu membaca alkitab secara keseluruhan karena doktrin gereja yang menjamin mereka masuk surga asal bermodal percaya & mengakui saja.

Dalam Alkitab mereka sendiri, jelas tertulis bahwa Shalat itu harus menghadap kiblat, ini ayatnya:

Mazmur 5:8 Tetapi aku, berkat kasih setia-Mu yang besar, aku akan masuk ke dalam rumah-Mu, sujud menyembah KE ARAH BAIT-Mu yang kudus dengan takut akan Engkau.

Mazmur 138:2 Aku hendak sujud KE ARAH BAIT-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala sesuatu.

Yehezkiel 44:4. Lalu dibawanya aku melalui pintu gerbang utara ke depan Bait Suci; aku melihat, sungguh, rumah TUHAN penuh kemuliaan TUHAN, maka aku sujud menyembah.

Daniel 6:10 Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka KE ARAH YERUSALEM; TIGA KALI SEHARI ia berlutut, BERDOA SERTA MEMUJI ALLAHNYA, seperti yang biasa dilakukannya.
Jelas disitu tertulis bahwa:

1. Beribadah itu dengan Sujud, muka ke tanah, mengapa umat Non Islam tidak pernah sujud?
2. Beribadah itu dengan menghadap ke Kiblat, mengapa umat Non Islam tidak pernah menghadap Kiblat?
3. Disamping sujud maka ada pula berlutut, duduk diantara dua sujud, mengapa umat Non Islam tidak berlutut?
4. Setidaknya dilaksanakan lima kali sehari, mengapa umat Non Islam tidak setiap hari? Malah hanya satu kali per minggu?
5. Setelah Shalat (Pray=berdoa) lalu dilanjutkan dengan memuji Allah (berdzikir), Umat mana yang melaksanakan ke lima hal ini? Umat Islam!

Setiap umat memiliki kiblatnya masing- masing, setiap umat memiliki arah masing-masing kemana dia menghadap. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Al-Qur’an:

QS.2: 148. Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

QS.2: 142. Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: “Apakah yang memalingkan mereka dari kiblatnya yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.”

Dalam Alkitab Kristen pun jelas tertulis bahwa nabi-nabi terdahulu pun memiliki bait Allah masing masing… banyak sekali ayatnya… lebih dari 100 ayat dan termasuk perjanjian baru pada masa Nabi Isa sekalipun…

Dan Yesus pun tidak pernah menghapus Taurat meski satu titik kecil sekalipun, artinya Hukum Taurat & kitab-kitab para Nabi terdahulu masih tetap berlaku:

Matius 5:17. “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.

5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.

5:19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.

Lukas 16:17 Lebih mudah langit dan bumi lenyap dari pada satu titik dari hukum Taurat batal.
Lalu mengapa mereka malah menghina Sujud menghadap Bait Allah? Mengapa mereka menghina Shalat & mengatakan nunggang nungging? Padahal Yesus pun Shalat dengan bersujud muka ke tanah dan Yesus pun berlutut serta merebahkan diri ke tanah persis bagaimana Muslim melaksanakan Shalat dengan Sujud, berlutut, merebahkan diri ke tanah:

Matius 26:39 Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa- Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”

Markus 14:35 Ia maju sedikit, merebahkan diri ke tanah dan berdoa supaya, sekiranya mungkin, saat itu lalu dari pada-Nya. Dari dua ayat diatas maka dapat disimpulkan:

1. Yesus sujud kepada Allah, sebagaimana orang Islam sujud. Tidak ada tata cara ibadah dengan sujud muka ke tanah kecuali umat Islam. Kenapa umat non Islam menghina Sujud dengan mengatakan nungging? Padahal Yesus pun sujud! Bibir mereka memuji Yesus, tapi hatinya jauh dari Yesus:
Matius 15:8 Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.
15:9 Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.”

2. Yesus menyembah pada Allah, berdoa kepada Allah. Setiap yang berdoa pada Allah berarti bukan Allah & bukan Tuhan, sebagaimana saudara berdoa pada Allah, berarti saudara bukan Allah. Hanya umat Islam-lah yang murni berdoa HANYA pada Allah langsung tanpa melalui perantara Yesus, tanpa perantara Malaikat, tanpa perantara Bunda Maria, tanpa perantara Rasul atau Santo.
Matius 4:10 Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan HANYA KEPADA DIA SAJALAH engkau berbakti!”

3. Yesus maju sedikit dari ke dua muridnya sebelum sujud, artinya Yesus menjadi Imam shalat bagi ke dua muridnya. Hal semacam ini pun hanya dilaksanakan oleh umat Islam, dimana imam maju sedikit, 1 shaft didepan para makmum lainnya. Adakah umat agama lain yang melaksanakan hal demikian?

4. Yesus tidak meminta sesuai kehendak dirinya, tapi sesuai kehendak Allah, artinya Yesus berserah diri pada Allah, berserah diri pada Allah ini artinya Muslim. Banyak sekali ayat dalam alkitab dimana Yesus berserah diri kepada Allah. Kata “Muslim” dalam bahasa arab pun berarti berserah diri pada Allah.

Dalam alkitab Kristen pun jelas menulis bahwa:
Nabi Ibrahim bersujud:
Kejadian 17:3 Lalu sujudlah Abram, dan Allah berfirman kepadanya…..
Nabi Lot bersujud:

Kejadian 19:1 Kedua malaikat itu tiba di Sodom pada waktu petang. Lot sedang duduk di pintu gerbang Sodom dan ketika melihat mereka, bangunlah ia menyongsong mereka, lalu sujud dengan mukanya sampai ke tanah.
Nabi Ezra bersujud:

Ezra 10:1 Sementara Ezra berdoa dan mengaku dosa, sambil menangis dengan bersujud di depan rumah Allah, berhimpunlah kepadanya jemaah orang Israel yang sangat besar jumlahnya, laki- laki, perempuan dan anak-anak. Orang- orang itu menangis keras-keras.
Nabi Yosua bersujud:

Yosua 5:14 Lalu sujudlah Yosua dengan mukanya ke tanah, menyembah dan berkata kepadanya: ”Apakah yang akan dikatakan tuanku kepada hambanya ini?
Nabi Daud bersujud:

Mazmur 95:6 Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan Tuhan yang menjadikan kita
Nabi Musa bersujud
Keluaran 34:8 Segeralah Musa berlutut ke tanah, lalu sujud menyembah
Nabi Harun bersujud
Bilangan 20:6 Maka pergilah Musa dan Harun dari umat itu ke pintu Kemah Pertemuan, lalu sujud. Kemudian tampaklah kemuliaan TUHAN kepada mereka.

Nabi Ibrahim bersujud, Nabi Daniel bersujud, Nabi Musa bersujud, Nabi Harun bersujud, Nabi Daud bersujud, Nabi Sulaiman bersujud, Nabi Yosua bersujud, Nabi Yehezkiel & para Nabi lain pun bersujud, bahkan Yesus pun bersujud!!!

Lalu mengapa orang Kristen menghina muslim bersujud dengan hinaan nunggang nungging? Mengapa mereka sendiri tidak pernah sujud? Apa mereka tidak ingin mengikuti jalan para Nabi terdahulu & Nabi Isa sendiri dengan bersujud muka ke tanah? Mengapa mereka mengingkari sujud yang dicontohkan para Nabi terdahulu?

Terlebih lagi, Nabi-nabi terdahulu selalu mendirikan tugu yang kemudian di dekatnya akan didirikan Rumah Allah / Bait Allah / Betel / Baitullah.
Kejadian 31:13 Akulah Allah yang di BETEL itu, di mana engkau mengurapi TUGU, dan di mana engkau bernazar kepada-Ku; maka sekarang, bersiaplah engkau, pergilah dari negeri ini dan pulanglah ke negeri sanak saudaramu.”

Kejadian 28:18 Keesokan harinya pagi- pagi Yakub mengambil BATU yang dipakainya sebagai alas kepala dan mendirikan itu MENJADI TUGU dan menuang minyak ke atasnya.

Kejadian 28:22 Dan BATU YANG KUDIRIKAN SEBAGAI TUGU ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu.”

Kejadian 31:45 Kemudian Yakub mengambil SEBUAH BATU DAN DIDIRIKANNYA MENJADI TUGU.

Kejadian 31:51 Selanjutnya kata Laban kepada Yakub: “Inilah TIMBUNAN BATU, DAN INILAH TUGU yang kudirikan antara aku dan engkau–

Kejadian 31:52 TIMBUNAN BATU DAN TUGU inilah menjadi kesaksian, bahwa aku tidak akan melewati timbunan batu ini mendapatkan engkau, dan bahwa engkaupun tidak akan melewati timbunan batu dan tugu ini mendapatkan aku, dengan berniat jahat.

Kejadian 35:14 Kemudian Yakub mendirikan tugu di tempat itu, yakni TUGU BATU; ia mempersembahkan korban curahan dan menuangkan minyak di atasnya.

Matius 23:16 Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat.
Jadi, mengapa mereka menghina ibadah Haji & Thawaf Keliling Ka’bah jika itu semua jelas terdapat dalam kitab mereka sendiri & juga dilakukan serta dicontohkan oleh para nabi terdahulu?

Didalam Islam, menghadap Ka’bah bukanlah merupakan suatu kebaikan, sebagaimana tertulis:
QS.2: 177. Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang- orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang- orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar; dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Ayat ber-haji pun terdapat baik dalam perjanjian baru maupun perjanjian lama, tapi insya Allah kita bahas di lain waktu.

Qs. 3 Ali Imran:85. Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali- kali tidaklah akan diterima daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

"Semoga ini bisa menjadi penguat iman & benteng aqidah dari musuh Islam yang mencoba memporah-porandakan aqidah serta tauhid kita" 
sumber : (islamterbuktibenar)

Penyakit Lisan

~Penyakit-Penyakit Lisan~

Manusia sering meremehkan dan tidak membentengi diri dari berbagai penyakit yang mungkin ditimbulkan oleh lisan. Padahal, lisan adalah senjata setan yang paling penting dalam memperdaya manusia. Berikut ini akan saya jelaskan penyakit-penyakit itu secara rinci dan cara untuk menghindarkan diri darinya. Sesungguhnya lisan merupakan salah satu bentuk anugerah dan keindahan ciptaan Allah. Ukurannya kecil, tetapi pahala dan dosa yang ditimbulkannya besar. Melalui lisan, kekafiran dan keimanan bisa dibedakan. Dengannya pula seseorang membicarakan semua yang wujud dan yang tidak wujud, sifat-sifat Sang Pencipta, dan sifat-sifat makhluk-Nya. Itulah keunikan lisan. Mata hanya bisa berinteraksi dengan gambar dan warna. Telinga hanya bisa berhubungan dengan suara. Tangan hanya bisa berurusan dengan benda berwujud. Adapun lisan mempunyai medan yang luas.

~Keutamaan Diam~

Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah bersabda, “Siapa yang diam, ia selamat.“ Diriwayatkan dari Anas bahwa Luqman pernah berkata, “Diam itu kebijaksanaan, tetapi sedikit yang melakukannya.”

Uqbah bin ‘Amir mengisahkan bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu?” Rasulullah menjawab, “Jaga lisanmu, berdiamlah di rumahmu (untuk beribadah], dan tangisi kesalahanmu.” Sahal bin Sa’ad menuturkan bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam pernah bersabda, “Siapa yang menjaga sesuatu di antara kedua rahangnya (yaitu lisan) dan sesuatu di antara kedua kakinya (yaitu kemaluan), aku menjaminkan surga baginya.”

Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam pernah ditanya mengenai perkara yang paling banyak membuat manusia masuk surga. Beliau menjawab, “Ketakwaan kepada Allah dan budi pekerti yang baik.” Beliau juga ditanya tentang perkara yang paling banyak membuat manusia masuk neraka. Beliau menjawab, “Dua rongga, yaitu mulut dan kemaluan.”

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud r.a. bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah bersabda, “Kebanyakan dosa anak Adam berasal dari mulutnya".  Rasulullah juga pernah bersabda, “Siapa yang menahan lisannya, Allah tutupi aibnya. Siapa yang bisa menguasai emosinya, Allah lindungi dia dari siksa-Nya. Dan siapa yang meminta ampun kepada-Nya, Allah terima permintaan ampunnya.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berkata yang baik atau diam” Diriwayatkan dari Barra’ bin Azib bahwa seorang badui menemui Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam dan bertanya, “Tunjukkan kepadaku suatu amal yang bisa membuatku masuk surga.” Rasulullah menjawab, “Beri makan orang yang lapar, beri minum orang yang haus, serukan kebaikan, dan cegah kemungkaran. Jika engkau tidak sanggup, tahan lidahmu kecuali untuk kebaikan.”

Abu Bakar meletakkan kerikil di dalam mulutnya untuk mencegah dirinya berbicara. Seraya menunjuk pada lisannya, ia menuturkan, “Inilah yang bisa membawaku pada kebinasaan.” Ibnu Mas’ud mengatakan, “Hanya lisan yang lebih memerlukan penjara dalam waktu lama.” Hasan Al-Bashri mengatakan, “Tidaklah memahami agamanya, orang yang tidak sanggup menjaga lisannya.” Yunus bin Ubaid mengatakan, “Seseorang yang senantiasa memberi perhatian yang besar pada lisan (ucapannya) niscaya engkau akan melihat kebaikan pada seluruh amal perbuatannya.” Rabi’ bin Khutsaim tidak pernah membicarakan urusan dunia selama 20 tahun. Ketika pagi tiba, ia mencatat apa yang ia bicarakan, lalu mengoreksinya pada sore hari. Mansur bin Al-Mu’tazz tidak pernah berbicara satu patah kata pun selepas waktu Isya selama 40 tahun.

Mungkin engkau bertanya, “Apa sebabnya sehingga diam memiliki keutamaan yang begitu besar?” Ketahuilah, sebabnya adalah banyaknya penyakit yang ditimbulkan oleh banyak bicara. Penyakit itu ada yang bersumber dari setan dan ada pula yang bersumber dari tabiat seseorang. Dengan diam, penyakit-penyakit itu tidak akan membebani seorang pendiam. Sementara itu, dalam diam, seseorang bisa menguatkan niat, senantiasa bersikap tenang, mempunyai waktu kosong untuk berzikir dan beribadah, dan selamat dari konsekuensi yang timbul dari ucapan, baik yang terkait dengan dunia maupun akhirat.

Dalam sebuah hadits disebutkan, “Siapa yang diam, ia selamat!’ Dan sungguh, demi Allah, ia pun mendapat anugerah berupa permata kebijaksanaan dan kalimat yang berbobot.

Al-Habib Ahmad bin Novel bin Jindan

Sumber: Amal Pemusnah Kebaikan Ringkasan Bab Mukhlikat Ihya ‘Ulum al-Din karya Al Habib Umar bin Hafidz

Pengaruh Bacaan Al-Qur’an pada Syaraf, Otak dan Organ Tubuh Manusia

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6350621372319428354#editor/target=post;postID=1444261737190398597

"Tak ada lagi bacaan yang dapat meningkatkan daya ingat dan memberikan ketenangan kepada seseorang kecuali Al-Qur'an..."

 
Dr. Al Qadhi, melalui penelitiannya yang panjang dan serius di Klinik Besar Florida Amerika Serikat, berhasil membuktikan bahwa hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Alquran, seorang Muslim, baik mereka yang mampu berbahasa Arab maupun bukan, dapat merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar.



Penurunan depresi, kesedihan, memperoleh ketenangan jiwa, menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yang dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya. 



Penemuan sang dokter ahli jiwa ini tidak sembarangan.  Penelitiannya didukung dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik. Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan, bacaan Alquran berpengaruh besar hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit.



Penelitian Dr. Al Qadhi ini diperkuat pula oleh penelitian lainnya yang dilakukan oleh dokter yang berbeda. Dalam laporan sebuah penelitian yang disampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984, disebutkan, Al-Quran terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang mendengarkannya.



Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston. Objek penelitiannya terhadap 5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. Kelima orang tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Arab dan mereka pun tidak diberi tahu bahwa yang akan diperdengarkannya adalah Al-Qur'an.



Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi, yakni membacakan Al-Qur'an dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur'an. Kesimpulannya, responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan Al-Qur'an dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur'an.



Al-Qur'an memberikan pengaruh besar jika diperdengarkan kepada bayi. Hal tersebut diungkapkan Dr. Nurhayati dari Malaysia dalam Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam di Malaysia pada tahun 1997. Menurut penelitiannya, bayi yang berusia 48 jam yang kepadanya diperdengarkan ayat-ayat Al-Qur'an dari tape recorder menunjukkan respons tersenyum dan menjadi lebih tenang.



Sungguh suatu kebahagiaan dan merupakan kenikmatan yang besar, kita memiliki Al-Qur'an. Selain menjadi ibadah dalam membacanya, bacaannya memberikan pengaruh besar bagi kehidupan jasmani dan rohani kita. Jika mendengarkan musik klasik dapat memengaruhi kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) seseorang, bacaan Al-Qur'an lebih dari itu. Selain memengaruhi IQ dan EQ, bacaan Al-Qur'an memengaruhi kecerdasan spiritual (SQ).



Mahabenar Allah yang telah berfirman, "Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, simaklah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat" (Q.S. 7: 204).


sumber : Saif Al Battar (zilzaal/arrahmah)

Wednesday, December 23, 2015

sajak : Duhai Ayah

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6350621372319428354#editor/target=post;postID=2673201271618210842;onPublishedMenu=posts;onClosedMenu=posts;postNum=0;src=link

_Duhai Ayah_


Duhai Ayah,,
Ketika aku mengingatmu serasa bergetar hati, jiwa serta raga ini, hingga mata zahir ku pun bergenang.. hampir saja menetes namun aku tahan karena aku tahu engkau bahagia dan tersenyum disana

Duhai Ayah,,
Betapa indahnya engkau sekarang karena engkau 1 atap dunia dengan penghulu umat dunia ini, dengan ruh manusia yang paling mulia di seluruh alam ini Baginda Sayyidina Muhammad SAW

Duhai Ayah,,
Terkadang aku pun "iri" ingin sekali berjumpa dengan "beliau" walau aku tahu aku hina dina & seorang pendosa..namun aku rindu engkau wahai Ayah dan "beliau" wahai sayyidina Muhammad SAW

Duhai Ayah,,
Maaf jk hati ini kadang lemah dan mudah tergoyah..

Duhai Ayah,,
Canda tawamu dipalung jiwa ku adalah penyemangat ku dan pengingat ku kepada sang khaliq,,

Duhai Ayah,,
Aku yakin aku akan menemukanmu disana.. didalam tenda kemuliaan baginda Sayyidina Muhammad SAW,,
bukan hanya aku, tetapi "kami". 


                                                                                                                          
                                                                                                                             -syarif alfarisi-

Tuesday, December 22, 2015

Inilah Fakta Unik Mengenai Adzan

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6350621372319428354#editor/target=post;postID=1177656071113960077

Setiap hari suara adzan selalu berkumandang, terlebih bagi negara yang mayoritas umatnya beragama islam. Apabila telah dikumandangkan, wajib hukumnya umat muslim di dunia untuk melaksanakan sholat. Dibalik merdunya suara Adzan yang berkumandang, ada keistimewaan tersendiri dari adzan, sehingga bagi muadzin (orang yang menyerukan azan) sekalipun, Allah telah menjanjikan pahala kepadanya. Di balik keistimewaannya, adzan juga menyimpan fakta unik.
 
1. Kalimat penyeru yang mengandung kekuatan dahsyat
Begitu adzan berkumandang, kaum muslim yang benar-benar beriman dan bertakwa kepada Allah akan segera bergegas ke masjid menunaikan salat. Tanpa sadar syaraf akan memerintahkan tubuh untuk segera menunaikan salat.
Simpul-simpul kesadaran psiko-religius dalam otak umat muslim mendadak bergetar hebat, terhubung secara simultan, dan dengan totalitas kesadaran seorang hamba (abdi). Seakan suara khas adzan telah tertanam dalam alam bawah sadar setiap muslim. Sehingga ketika mendengarnya, indra-indra tubuh mereka lalu bergerak untuk salat. Suara adzan seakan telah menyentuh fitrahnya untuk beribadah.
 
2. Banyak non-muslim yang menjemput hidayah setelah mendengar adzan
Banyak kisah perjalanan hidup kaum mualaf hingga akhirnya menemukan hidayah yang seringkali menyentuh nurani. Berbagai sebab mereka akhirnya masuk Islam. Salah satu sebab yang sering terjadi adalah suara adzan yang di dengar mereka, telah menggetarkan hari dan kesadaran terdalam untuk mengucap syahadat. Seakan fitrah Islam dalam diri mereka terbangkitkan melalui alunan adzan itu.
Kementerian Urusan Agama Turki pernah melansir sedikitnya 634 orang telah masuk Islam selama tahun 2011, termasuk 467 wanita, yang berusia rata-rata 30 sampai 35 tahun, dan berasal dari kebangsaan yang berbeda mulai dari Jerman, Maldiva, Belanda, Perancis, Cina, Brasil, AS, Rumania dan Estonia. Mereka adalah turis-turis yang tengah melancong ke Turki.
Di kota Kayseri Turki sendiri, sedikitnya 14 orang telah masuk islam selama empat tahun terakhir, termasuk 10 wanita. Grand Mufti kota Kayseri, Syaikh Ali Marasyalijil menyebutkan umumnya mereka masuk Islam setelah tersentuh mendengar alunan adzan.
Rapper papan atas Amerika Serikat, Chauncey L Hawkins yang populer disapa Loon bahkan mengakui masuk Islam setelah mendengar suara adzan saat dirinya tengah berkunjung ke Abu Dhabi, Dubai.
Masih banyak lagi kisah menyentuh mualaf yang masuk Islam setelah mendengar alunan kumandang adzan.
 
3. Perintah adzan datang melalui mimpi
Pada awalnya Rasulullah SAW tidak tahu dengan cara yang digunakan untuk mengingatkan umat muslim bila waktu salat tiba. Ada sahabat yang menyampaikan usul untuk mengibarkan bendera, menyalakan api di atas bukit, meniup terompet, dan membunyikan lonceng. Semua saran itu dianggap kurang cocok.
 
Hingga datanglah sahabat, Abdullah bin Zaid yang bercerita jika dia mimpi bertemu dengan seseorang yang memberitahunya untuk mengumandangkan adzan dengan menyerukan lafaz-lafaz adzan seperti saat ini. Lalu dikabarkanlah perihal mimpi ini kepada Rasulullah. Umar bin Khathab mendengar hal itu dan ternyata dia juga mengalami mimpi yang sama. ”Demi Tuhan yang mengutusmu dengan Hak, ya Rasulullah, aku benar-benar melihat seperti yang ia lihat (di dalam mimpi)”. Lalu Rasulullah bersabda: ”Segala puji bagimu.”
 
Rasulullah menyetujui untuk menggunakan lafaz-lafaz adzan itu sebagai tanda waktu salat tiba.
 
4. Dikumandangkan saat peristiwa-peristiwa bersejarah
Selain digunakan untuk menandakan waktu salat tiba, adzan juga dikumandangkan pada momen-momen penting dan bersejarah. Misalnya ketika seorang bayi lahir. Selain itu, saat peristiwa penting dalam Islam terjadi, adzan juga berkumandang. Ketika pasukan Rasulullah berhasil menguasai Makkah dan berhala-berhala di sekitar ka’bah dihancurkan, Bilal bin Rabbah mengumandangkan adzan dari atas Ka’bah.
Peristiwa lain, ketika Konstantinopel jatuh ke tangan pasukan Ottoman yang mengakhiri Kekaisaran Romawi Timur, beberapa perajurit Ottoman masuk ke dalam lalu mengumandangkan adzan sebagai tanda kemenangan mereka.
 
5. Miliaran kali dikumandangkan sejak 14 abad lalu
Adzan dikumandangkan 5 kali sehari. Semenjak adzan pertama kali dikumandangkan 14 abad lalu hingga saat ini, tak dapat dihitung berapa juta kali adzan telah berkumandang.
 
Anggaplah setahun 356 hari. Jika 14 abad adalah 1400 tahun, maka 1400 tahun x 356 hari = 511000 hari. Dalam satu hari, adzan 5x dikumandangkan. Sehingga sedikitnya adzan telah dikumandangkan 2.555.000 kali. Jika dalam satu hari ada 1 juta muslim di dunia yang mengumandangkan adzan, jadi adzan telah dikumandangkan sebanyak 2.555.000.000.000 kali. Subhanallah!
 
6. Tak henti dikumandangkan hingga kiamat
Bumi berbentuk bulat. Ini menyebabkan terjadi perbedaan waktu solat pada setiap daerah. Ketika adzan telah selesai berkumandang di satu daerah, maka selanjutnya adzan berkumandang di daerah lain.
Satu jam setelah adzan selesai di Sulawesi, maka adzan segera bergema di Jakarta, disusul pula Sumatera. Dan adzan belum berakhir di Indonesia, maka ia sudah dimulai di Malaysia. Burma adalah di baris berikutnya, dan dalam waktu beberapa jam dari Jakarta, maka adzan mencapai Dacca, ibukota Bangladesh. Dan begitu adzan berakhir di Bangladesh, maka ia ia telah dikumandangkan di barat India, dari Kalkuta ke Srinagar. Kemudian terus menuju Bombay dan seluruh kawasan India.
 
Srinagar dan Sialkot (sebuah kota di Pakistan utara) memiliki waktu adzan yang sama. Perbedaan waktu antara Sialkot, Kota, Karachi dan Gowadar (kota di Baluchistan, sebuah provinsi di Pakistan) adalah empat puluh menit, dan dalam waktu ini, adzan Fajar telah terdengar di Pakistan. Sebelum berakhir di sana, ia telah dimulai di Afghanistan dan Muscat. Perbedaan waktu antara Muscat dan Baghdad adalah satu jam. Adzan kembali terdengar selama satu jam di wilayah Hijaz al-Muqaddas (Makkah dan Madinah), Yaman, Uni Emirat Arab, Kuwait dan Irak.
 
Perbedaan waktu antara Bagdad dan Iskandariyah di Mesir adalah satu jam. Adzan terus bergema di Siria, Mesir, Somalia dan Sudan selama jam tersebut. Iskandariyah dan Istanbul terletak di bujur geografis yang sama. Perbedaan waktu antara timur dan barat Turki adalah satu setengah jam, dan pada saat ini seruan shalat dikumandangkan.
 
Iskandariyah dan Tripoli (ibukota Libya) terletak di lokasi waktu yang sama. Proses panggilan adzan sehingga terus berlangsung melalui seluruh kawasan Afrika. Oleh karena itu, kumandang keesaan Allah dan kenabian Muhammad saw yang dimulai dari bagian timur pulau Indonesia itu tiba di pantai timur Samudera Atlantik setelah sembilan setengah jam.
 
Sebelum adzan mencapai pantai Atlantik, kumandang adzan Zhuhur telah dimulai di kawasan timur Indonesia, dan sebelum mencapai Dacca, adzan Ashar telah dimulai. Dan begitu adzan mencapai Jakarta setelah kira-kira satu setengah jam kemudian, maka waktu Maghrib menyusul.
 
Begitu seterusnya adzan terus berkumandang di bumi dan tidak pernah berhenti hingga kiamat terjadi. Subahanallah.
Sumber: eramuslim (Fakta Unik Mengenai Adzan)

Monday, December 21, 2015

sajak : Sakura ku

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6350621372319428354#editor/target=post;postID=1194672689459399368

_Sakura ku_

Cinta,,
Seperti inilah aku saat kau jauh
Semua rasaku rapuh
Tak utuh jikala ingin ku rengkuh

Menggelepar bisu
Di malam yang penting
Di mana pencinta
Menjadi harap yang tercinta

Tanpa hati yang terperi
Bayang mu senyap
Tanpa bekas yang beriak
Kau pun tumbuh menjadi lara rindu

Cinta,,
Kala senyum kecil mu merebak
Saat itu,,
Kekal ku simpan sosok kesayangan

Suara nakal nan manja
Selalu menggeliati gundah kecil ku
Tiada pelipur jelmaan mu
Yang sanggup membuat gaduh seorang aku

Sakura ku,,
Seperti inilah aku
Seperti ini kah engkau..??


                                                   -syarif alfarisi-