Monday, July 18, 2016

Seorang Bocah Yang Mengalahkan Seorang Ulama Sombong

https://syarifalfarisi.blogspot.com

Di masa Imam Abu Hanifah masik kecil, sekitar umur 7 tahun,terdapatlah seorang ulama yang yang memiliki ilmu luas dan tiada bandingannya pada waktu itu namanya Dahriyyah. Seluruh ulama pada waktu itu tak mampu menandinginya disaat berdebat,terutama dalam bab tauhid,oleh karena dialah yang merasa pintar,maka muncullah sifat kesombongannya bahkan na’udzubillah akhirnya ia berani mengatakan bahwa Allah itu tidak ada,sayangnya para ulamapun tak mampu mengalahkan dia dalam berdebat,lalu pada suatu pagi dikumpulkanlah para ulama disuatu majlis milik Syaikh Himad guru Imam Abu Hanifah,dan hari itu Abu Hanifah yang masih kecil hadir dimajlis itu. Maka Dahriyyah naik kemimbar dan berkata dengan sombongnya.

Dahriyah : Siapakah diantara kalian hai para ulama yang akan sanggup menjawab pertanyaanku?

Sejenak suasana hening,para ulama semua diam,namun tiba-tiba berdirilah Abu Hanifah dan berkata,

Abu Hanifah : Omongan apa ini ? maka barang siapa tahu pasti ia akan menjawab pertanyaanmu.

Dahriyyah : Siapa kamu hai anak ingusan,berani kamu bicara denganku,tidakkah kamu tahu,bahwa banyak yang berumur tua,bersorban besar,para pejabat,para pemilik jubah kebesaran mereka semua kalah dan diam dari pertanyaanku,kamu masih ingusan dan kecil badan berani menantangku!

Abu Hanifah : Allah tidak menyimpan kemuliaan dan keagungan kepada pemilik sorban yang besar dan para pejabat,dan para pembesar,tetapi kemuliaan hanya diberikan kepada al-ulama.

Dahriyah : Apakah kamu akan menjawab pertanyanku?

Abu Hanifah : Ya aku akan menjawab pertanyaanmu dengan taufiq Allah.

Dahriyyah : Apakah Allah itu ada?

Abu Hanifah : Ya ada

Dahriyyah : Dimana Dia?

Abu Hanifah : Dia,tiada tempat bagi Dia

Dahriyyah : Bagaimana bisa disebut ada bila Dia tak punya tempat?

Abu Hanifah : Dalilnya ada dibadan kamu yaitu ruh, saya tanya, kalau kamu yakin ruh itu ada,maka dimana tempatnya? Dikepalamu,diperutmu atau dikakimu?

Dahriah diam seribu basa dengan muka malu. Lalu Abu Hanifah minta air susu pada gurunya Syaikh Himad,dan ia bertanya pada Dahriyyah

Abu Hanifah :  Apakah kamu yakin didalam susu ini ada manis?

Dahriyyah : Ya saya yakin disusu itu ada manis

Abu Hanifah : Kalau kamu yakin ada manisnya,saya tanya apakah manisnya ada di bawah,atau ditengah,atau di atas?


Baca Juga :

- Keutamaan Membaca Shalawat Kepada Nabi Muhammad Saw
- Malaikat Izrail Tertawa Dan Menangis
- Cara Setan Mengecoh Manusia

lagi lagi Dahriyyah diam dengan rasa malu,lalu abu hanifah menjelaskan : seperti ruh atau manis yang tidak memiliki tempat,maka seperti itu pula tidak akan ditemukan bagi Allah tempat di alam ini baik di arsy atau dunia ini. Lalu Dahriyyah bertanya lagi.

Dahriyyah : Sebelum Allah itu apa dan setelah Allah itu apa?

Abu Hanifah : Tidak ada apa-apa sebelum Allah dan sesudahnya tidak ada apa-apa.

Dahriyyah : Bagaimana bisa dijelaskan bila sebelum dan sesudahnya tak ada apa-apa?

Abu Hanifah : Dalilnya ada di jari tangan kamu,apakah sebelum jempol dan apakah setelah kelingking? Dan apakah kamu akan bisa menerangkan jempol duluan atau kelingking duluan? Demikianlah sifat Allah. Ada sebelum semuanya ada dan tetap ada bila semua tiada. Itulah makna kalimat Ada bagi hak Alloh.

Lagi-lagi Dahriyyah dipermalukan,lalu ia berkata,

Dahriyyah : Satu lagi pertanyaanku yaitu,apa perbuatan Allah sekarang ini?

Abu Hanifah : Kamu telah membalikan fakta, seharusnya yang bertanya itu di bawah mimbar dan yang di tanya di atas mimbar. Akhirnya Dahriyyah turun dari mimbar dan Abu Hanifah naik ke atas mimbar.

Dahriyyah : Apa perbuatan Allah sekarang?

Abu Hanifah : Perbuatan Allah sekarang adalah menjatuhkan orang yang tersesat sepe

rti kamu kebawah jurang neraka dan menaikan yang benar seperti aku keatas mimbar keagungan.

Maha suci Allah yang telah menyelamatkan Aqidah ahli sunnah wal jamaah melalui anak kecil.


Sumber : Kitab Fathul Majid karya Syekh Muhammad Nawawi bin Umar Al Jawi Asy Syafi’i

Sunday, July 17, 2016

Bagaimanakah Sikap Kita terhadap Orang Yang Menjelekan & Menyakiti Kita

Ceramah Habib ali Bin Abdurrahman Zainal Abidin Al-jufri

dalam pengajian "Ayyuhal Murid "

كيف تتعامل مع من يسيء إليك ؟

bagaimanakah bergaul dengan orang yang menyakitimu ?
Terjemahannya : 
habib ali menjelaskan : imam ali zainal arifin bin husain as sajad ,beliau adalah "imam" ahli bait dizamannya. (di masjid ini ada kamar yang imam ali zainal abidin selalu memasukinya ) yaitu setelah peperangan karbala , beliau dan ahli bait datang kesini . Imam ali zainal abidin suatu hari beliau keluar menuju ka'bah, beliau ini orang yang sholat 1.000 siang dan malam, jangan ditanya berapa menitkah sholat tersebut, coba amalkan 11 rokaat sholat witir pasti anda akan paham sendiri .

habib ali menjelaskan : beliau datang ke masjid kemudian menjalankan sholat dan berdoa dengan tenang setelah itu beliau keluar , ketika beliau keluar serempak dengan seseorang yang tidak suka dengan ahli bait (semoga Allah azza wajalla menjauhkan kita dari sifat itu karena sifat itu adalah sifat-sifat orang munafik/nifaq ) ketika lelaki itu melihat imam ali lantas ia berkata di hadapan didepan khalayak "apakah anda yang sering disebut zainal abidin (perhiasan orang beribadah) " imam zainal abidin menjawab "benar" , kemudian lelaki itu mencela dengan berkata : "kamu syainul abidin (pengotor orang beribadah). laki laki itu menyambung laki dengan perkataan "kamu ini fasiq, orang jahat dan sebagainya". laki laki itu melontarkan kata-kata keji dan kotor . padahal yang dia olok adalah imam ali bin husaen bin ali cucu fatimah binti rosulillah shollallohu alaihi wasallam, beliau adalah imam dizamannya. lantas orang disekeliling imam ali marah karena perkataan tersebut kemudian imam ali mengatakan : "biarkan dia menyelesaikan/menghabiskan perkataanya" setelah lelaki itu menyelesaikan perkataanya (olok2anya) yang panjang dan lebar itu kemudian imam ali berkata kepada dia "wahai pemuda apa yang anda katakan tadi semua memang ada dalam diriku, dan bahkan yang anda tidak tau lebih banyak lagi, adakah hajatmu untuk aku tunaikan agar aku membalas semua nasehatmu itu (padahal semua itu adalah hinaan yang keji)",

habib ali menjelaskan
: kemudian lelaki itu menangis seraya berkata "aku bersaksi bahwa anda adalah dari keturunan rosululloh, maafkan aku ya imam sesungguhnya ada sekelompok orang menghasutku dengan upah dengan berkata jika kamu mampu membuat imam ali ibnu husaen marah dan kau mampu membuat dia berbalik memakimu maka kami akan memberikanmu 1000 dinar emas"mendengar perkataan lelaki itu maka imam alipun tersenyum untuk kedua kalinya.

habib ali aljifri mnjelaskan " kau pernah tersenyum jika ada orang yang menghinamu, sikap seperti inilah yang seharusnya kau lakukan, setiap ada orang yang mengolokmu kau memberi senyuman kepadanya, ketika tersenyum itu ingatlah Allah dan pikirkan bagaimana cara agar Allah meridhoi untuk membalas perbuatan ini ". kemudian imam zainal abidin tersenyum kesekian kalinya seraya berkata "hanya karena 1000 dinar " lelaki itu berkata "benar", kemudian imam ali menjawab "jika kamu memberitaukanku (tentang kekurangan beliau) tanpa perlu kata apa apa, aku akan memberikanmu 1000 dinar" , kemudian imam ali bertanya kepada murid-murid beliau "adakah aku mempunyai 1000 dinar berikan pada dia "

habib ali menjelaskan pada jamaah pengajian ayyuhal murid : "sudah dengar kan, jangan kalian berkata sebab beliau adalah putra husain (cucu rosululloh shollollohu alaihi wasallam )" kalaupun beliau berkehendak memberi maka beliau akan memberi, inilah akhlak , akhlak adalah pusaka umat ini ,ia adalah perilaku mulia dengan Allah, perhatikan firman Allah

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ,

artinya :

"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (surat fushilat 41 : 34)"

habib ali menjelaskan : imam zainal abidin menolak kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, bagaimanakah selanjutnya ? (perhatiakan firman allah lagi) "maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia".

habib ali menjelaskan : janganlah kamu berkata "aku sudah membalas dengan yang lebih baik, tapi tetap tidak ada faedahnya....Ingatlah firman Allah tidak akan pernah salah dan janganlah berkata demikian dengan maksud mengingkari firman Allah tersebut ".. sungguh benar apa apa yang difirmankan Allah, jika kamu berfikir aku sudah menolak kejahatan itu dengan prilaku yang lebih baik namun tidak ada faedah (pengaruhnya) sama sekali, maka jangan katakan tidak ada faedahnya tetapi belum ada faedahnya (pengaruhnya).

habib ali menjelaskan : malam ini sebelum kamu tidur , pikirkan "berapa kali ada orang yang menyakiti aku dan bagaimana aku membalasnya ?
ya Allah....!!! bagaimana jikalau seseorang menghayati perilaku akhlak yang mulia ini, maka dia akan menertawai dirinya sendiri , Demi Allah...!!

habib ali menjelaskan : ketika kamu suatu saat didalam mobil (dijalan raya), sedangkan lampu hijau sudah menyala kemudian tiba tiba ada mobil melintas dijalanmu dan kamu hampir saja tertimpa kemalangan (musibah), kemudian kamu turun lantas marah dan memaki pengemudi mobil tersebut, maka jika teringat kisah diatas maka kamu akan berkata "oooh bolehkan aku membalas dengan bersikap seperti ini..., mungkin saja orang tersebut sibuk dan tergesa gesa sehingga sehingga mengendarai kendaraan dengan cepat ,, dan alhamdulillah Allah telah menyelamatkanku dari kemalangan ini (hampir tertabrak),, dan bersyukurlah kepada Allah Dari pada memaki orang lain.
Sumber : http://ahlulbaitrasulullah.blogspot.com

Bermadzhab Apakah Penting?

https://syarifalfarisi.blogspot.com

Mengenai keberadaan negara kita di indonesia ini adalah bermadzhabkan syafii, demikian guru-guru kita dan guru-guru dari guru-guru kita, sanad guru mereka jelas hingga Imam Syafii, dan sanad mereka muttashil hingga Imam Bukhari, bahkan hingga Rasul saw. 

Bukan sebagaimana orang-orang masa kini yang mengambil ilmu dari buku terjemahan atau menggunting dari internet lalu berfatwa untuk memilih madzhab semaunya. Anda benar, bahwa kita mesti menyesuaikan dengan keadaan, bila kita di Makkah misalnya, maka madzhab disana kebanyakan Hanafi, dan di Madinah madzhab kebanyakannya adalah Maliki, selayaknya kita mengikuti madzhab setempat, agar tak menjadi fitnah dan dianggap lain sendiri, beda dengan sebagian muslimin masa kini yang gemar mencari yang aneh dan beda, tak mau ikut jamaah dan cenderung memisahkan diri agar dianggap lebih alim dari yang lain, hal ini adalah dari ketidak fahaman melihat situasi suatu tempat dan kondisi masyarakat.

Memang tak ada perintah wajib bermadzhab secara shariih (shariih : jelas). Namun bermadzhab wajib hukumnya, karena kaidah syariah adalah Maa Yatimmul waajib illa bihi fahuwa wajib, yaitu apa-apa yang mesti ada sebagai perantara untuk mencapai hal yang wajib, menjadi wajib hukumnya.

Misalnya kita membeli air, apa hukumnya? tentunya mubah saja, namun bila kita akan shalat fardhu tapi air tidak ada, dan yang ada hanyalah air yang harus beli, dan kita punya uang, maka apa hukumnya membeli air? dari mubah berubah menjadi wajib tentunya. karena perlu untuk shalat yang wajib.

Demikian pula dalam syariah ini, tak wajib mengikuti madzhab, namun karena kita tak mengetahui samudera syariah seluruh madzhab, dan kita hidup 14 abad setelah wafatnya Rasul saw, maka kita tak mengenal hukum ibadah kecuali menelusuri fatwa yang ada di Imam-Imam Muhaddits terdahulu, maka bermadzhab menjadi wajib, karena kita tak bisa beribadah hal - hal yang fardhu atau wajib kecuali dengan mengikuti salah satu madzhab itu, maka bermadzhab menjadi wajib hukumnya.


Bermadzhab itu adalah untuk menjaga sanad keguruan kita agar tidak terputus dari Baginda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam… renungkanlah itu wahai saudaraku.

Berkata Imam Syafi’i : “Tiada ilmu tanpa sanad”,

Berkata pula Al Hafidh Imam Attsauri : “Sanad adalah senjata orang mukmin, maka bila kau tak memiliki senjata, maka dengan apa kau membela diri?”.

Berkata Imam Ibnul Mubarak rahimahullah : penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”

Berkata pula Imam Syafii : “penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan pencari kayu bakar yang mencari kayu bakar ditengah malam, yang  ia membawa tali pengikatnya adalah ular berbisa dan ia tak tahu” (Faidhul Qadir Juz 4 hal 442)

Dan masih banyak lagi, dan merupakan hal yang baku diantara para Muhadditsin bahwa mereka tak mengakui suatu ajaran/tuntunan ibadah dari seseorang ustadz/guru/kiyai/ulama kecuali orang itu mempunyai sanadnya.
 
"Semoga Bermanfaat, Sebarkan Tulisan Ini Untuk Mengingatkan Kepada Saudara Seiman Kita yang Masih Belum Mengetahui Betapa Pentingnya Bermadzhab"


sumber : http://ahlulbaitrasulullah.blogspot.com

Saturday, July 16, 2016

Ziarah Kubur

https://syarifalfarisi.blogspot.com

As-Sayyidi Al Murrabiruhina Al Habib Salim Ibn Abdullah Ibn Umar Asy Syathiry adalah seorang pemuka para ulama’ di Negeri Para Wali dan Sholihin, Tarim Hadlarmaut Yaman. Kedalaman dan kepakaran beliau dalam segala ilmu telah disepakati banyak ulama’, hingga sebuah gelar prestisius diberikan kepada beliau, yakni, Sulthonul ‘Ilmi. Nasehat-nasehat yang beliau berikan sangat dahsyat, menggugah hati-hati yang terlelap, dan menyinarinya dengan cahaya Nabawi, khas seorang pewaris Nabi. Kerugian yang besar jika nasehat hebat ini kita lewatkan. Mari menyantap hidangan rohani dari seorang pewaris para Nabi. Selamat membaca!

من عزّ مصابا كأنّ له مثله أجره

 

Siapa yang bertakziyah kepada orang yang tertimpa musibah, dia akan mendapat pahala seperti orang yang terkena musibah tersebut.

Orang yang bernasab pada orang sholeh akan mendapat manfaat dari keturunannya tersebut.

والذين آمنوا واتبعتم ذريتهم بإيمانهم ألحقنابهم ذرياتهم

 

Dan orang-orang yang beriman, yang keturunan-keturunan mereka mengikuti keimanan mereka, akan KAMI golongakan bersama mereka.

Sebagaimana seperti yang diceritakan dalam surat Kahfi, yang mana Nabi Musa AS diperintahkan oleh Nabi Khidir AS untuk membangun sebuah rumah, yang mana orang tua dari anak yang rumahnya dibangun tersebut adalah orang soleh.

Ahli tafsir menyebutkan bahwa yang dimaksud orang soleh yang disebut orang tua anak-anak kecil itu dari nasab ke-7 diatas mereka.

Ada orang yang menganggap bahwa tahlilan adalah bid’ah, mereka adalah orang-orang yang salah tapi merasa benar. Mereka tidak melaksanakan apa yang dikerjakan oleh kakek-kakek meraka.

Mereka membaca fatihah ketika sholat jenazah tapi menentang pembacaan fatihah untuk mayit.

Apa yang dilakukan pada waktu sholat jenazah bertentangan dengan dikatakannya. Misal pembacaan fatihah untuk mayit adalah sesuatu yang dilarang, pasti ALLAH akan melarang pembacaan fatihah pada saat sholat jenazah!

Dikisahkan seorang sahabat bernama Sa’ad berkata, ” Ya Rasulullah, aku mempunyai ibu yang sudah meninggal, seandainya dia hidup pasti dia akan bersedekah.”

Rasullullah SAW berkata, “Bersedekahlah untuknya!”

Sa’ad mempunyai sumur , dan sumur tersebut disedekahkan untuk kaum muslimin (atas nama ibunya).

Shodaqoh & membaca Al Qur’an untuk orang yang sudah meninggal adalah sesuatu yang disepakati para ulama bahwa hal itu akan bermanfaat untuk si mayit.

Berziarah kuburlah

لو لا أهل الدنيالهلك أهل القبور

 

Bila tidak ada penghuni dunia maka akan celaka penghuni kubur.

Hendaknya bertakziyah kepada saudaramu, karena,

كما تدين تدان

 

Semua orang juga butuh di ziarahi suatu saat nanti.

Tulislah wasiat…!!! Dalam hadits dikatakan bahwa orang yang meninggal dan tidak menulis wasiat maka diumpamakan meninggal dalam keadaan jahiliyah, cacat di mata ALLAH dan bisu.

Orang-orang yang meninggal saling mengunjungi, tapi orang yang tidak menulis wasiat tidak bisa berbicara dengan yang lain.

Perbaikilah keadaan kita, agar di akhir hidup kita dikenang dengan baik.

Ijazah dari Habib Salim,

 
Untuk pembebasan dari api neraka. Pembebasan yang kecil dan besar.

1. Membaca سبحنان الله بحمده سبحان الله العظيم 1000 x

2.Membaca لاإله إلاالله محمد الرسول الله صلى الله عليه وسلم
70.000 x.

Lalu hadiahkan pada mayit maka insyaaALLAH akan terbebas dari api neraka.

Ketika ingin menyampaikan pahala untuk mayit, maka bacalah:

1. اللَّهُم اجعل و أوصل إلى….
2.اللهم تقبل ما تصدقت أو ما قرأت و أوصله إلى….

Yaa ALLAH aku minta kabulkan (disebutkan apa yang disedekahkan atau di baca dan sampaikanlah pada si mayit).

Bila menyebut hal tersebut maka akan mendapat pahala buat kita dan buat mayit. Hal ini disebutkan oleh Habib Abdurrahman bin Ahmad al-Masyhur dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin.


Waallahu'alam


Sumber : http://ahlulbaitrasulullah.blogspot.co.id

Tuesday, July 12, 2016

Hilangnya Cincin Nabi Sulaiman A.S

https://syarifalfarisi.blogspot.com
Walaupun Baginda Nabi Sulaiman as hebat dan pintar, namun Beliau juga pernah digoda oleh setan atau Iblis.

Dikisahakan oleh Wahab bin Munabbib.

Nabi Sulaiman as ini selalu mengenakan cincin di jarinya dan tidak pernah dilepas baik pada siang ataupun malam, kecuali kalau beliau akan masuk ke kamar kecil barulah cincin itu dilepasnya.


Kisahnya
Pada suatu hari nabi Sulaiman as akan pergi ke kamar kecil, maka cincin tersebut dititipkan kepada bawahan yang dipercayainya. Di atas cincin itu tertulis nama Allah SWT. Ketika Nabi Sulaiman as berada di kamar kecil itulah setan datang dan mendekati bawahannya yang membawa cincin. Rupa dan bentuk setan itu sama persis dengan Nabi Sulaiman as. Sang ajudan pun tidak ragu sedikitpun, lalu diserahkannya cincin itu kepada setan yang menjelma menjadi Nabi Sulaiman as tersebut.

Setelah itu, setan itu memakai cincin itu di jari manisnya.
Setan kemudian menghadap para hulu balang dan duduk dengan tenangnya di atas singgasana kerajaan Nabi Sulaiman as. Saat itu pula maka datanglah semua anggota kerajaan baik yang dari golongan jin maupun manusia, para burung dan binatang lainnya. Mereka semua mengira bahwa yang duduk di singgasana itu adalah Nabi Sulaiman as yang asli.

Ketika Nabi Sulaiman as keluar dari kamar kecil, ia meminta cincin dari anak buahnya tadi, dan betapa kagetnya si anak buah karena cincin tadi telah diberikan kepada Sang Raja. Si anak buah dengan wajah agak heran, lalu bertanya kepada Sang Raja,
"Wahai Sang Raja, siapakah Anda ini?"
"Aku adalah Rajamu wahai pengawalku."
"Ampun paduka, bukankah Tuanku tadi telah meminta cincin tersebut lalu segera pergi keluar dan duduk di singgasana kerajaan..?"

Ditolak Penduduk Sekitar


Namanya juga NABI...
Benar saja, Nabi Sulaiman as telah mengetahui bahwa sesungguhnya setanlah yang telah menipu para pengawalnya.
Nabi Sulaiman as akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan istana menuju tempat yang sepi, yaitu di hutan. Dalam perjalanannya yang jauh itu, kadang-kadang beliau terpaksa meminta makanan kepada penduduk sekitar.

Orang-orang kampung bertanya,
"Wahai Saudara, siapakah Anda ini?"
"Aku adalah Sulaiman bin Dawud," jawab Nabi Sulaiman as.
"Kami tidak percaya. Kalau engkau adalah Sulaiman bin Dawud, pastilah engkau memakai cincin yang bertuliskan Allah SWT," sergah salah seorang penduduk.

Orang-orang penduduk sekitar tidak percaya sama sekali dengan pernyataan Nabi Sulaiman as.
Akhirnya Nabi Sulaiman melanjutkan perjalanan lagi, mengembara selama 40 hari 40 malam dengan menanggung rasa lapar yang amat sangat dan pakaian yang compang-camping, lagi kepalanya terbuka. Beliau datang ke pesisir pantai dan berteman dengan para nelayan yang mencari ikan di laut.

Dibantu Anak Buahnya yang Alim 

Pada suatu hari, Ashif bin Barkhaya (seseorang yang diberi ilmu oleh Allah SWT, yang juga anak buah Nabi Sulaiman) berkata kepada kaum Bani Israil, bahwa cincin Nabi Sulaiman as telah diambil alih oleh setan, lalu Nabi Sulaiman as pergi. Ketika setan sedang sedang duduk di singgasana kerajaan, Ashif menolak dengan tegas bahwa dia bukanlah Nabi Sulaiman as. Maka setan itu pun akhirnya lari dan membuang cincin itu ke tengah laut dan dimakan ikan.

Dari situlah Allah SWT mengarahkan Nabi-Nya ke tempat para nelayan dengan tujuan agar Nabi Sulaiman as memburu ikan yang menelan cincinnya itu. Atas perintah Allah SWT, ikan itu merapat ke pinggir dan berhasil ditangkat oleh Nabi Sulaiman as. Setelah itu, perut ikan itu dibedah dan ditemukan sebuah cincin yang beliau cari.

Setelah cincin diambil dan dipakai, Nabi Sulaiman as langsung sujud syukur kepada Allah SWT.
Nabi Sulaiman as akhirnya dapat memimpin kerajaannya kembali seperti sedia kala.

Allah SWT berfirman,

وَلَقَدْ فَتَنَّا سُلَيْمَانَ وَأَلْقَيْنَا عَلَى كُرْسِيِّهِ جَسَدًا ثُمَّ أَنَابَ

Artinya:
"Dan Sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian ia bertaubat."
(QS. As-Shaad: 34).


"Semoga sepenggal kisah Nabi Sulaiman a.s diatas bisa menjadi pelajaran yang berharga untuk kita semua khususnya bagi para pembaca blog ini"


Sumber : http://ahlulbaitrasulullah.blogspot.co.id 

Monday, July 11, 2016

Inilah Tentang Ibadah 500 Tahun

syarifalfarisi.blogspot.com

Saudara-saudariku, ternyata amal baik yang dilakukan siapapun selama 500 tahun siang malam tetap tidak dapat menjamin masuknya surga bagi hamba yang bersangkutan. Mengapa? Mari kita perhatikan & renungkan!

Dalam sebuah Hadits Riwayat Shahih Muslim yang cukup panjang, Diriwayatkan oleh sahabat Jabir (r.a), Rasulullah datang kepada kami, lalu Rasulullah Muhammad SAW bersabda:

”Baru saja Jibril datang kepadaku tadi, Jibril berkata:

”Hai Muhammad, Demi Allah: ”Bahwasanya ada seseorang melakukan ibadah kira-kira lima ratus tahun diatas puncak sebuah gugung yang luas, panjangnya 30 X 30 hasta, dan lautan yang melingkar di sekitarnya seluas 4000 farsakh dari setiap penjuru, di bawah gunung tersebut terdapat sumber air jernih kira-kira satu jari lebarnya, dan terdapat pula pohon buah delima yang sengaja disediakan oleh Allah untuknya dimana setiap hari mengeluarkan buahnya satu biji.

Setiap sore sesudah berwudlu, buah tersebut diambil dan dimakan, kemudian dia melakukan shalat seraya berdo’a mohon diambil nyawanya ditengah tengah melakukan sujud, agar tubuhnya tidak tersentuh Bumi atau yang lainnya, hingga ia bangkit di hari kiamat tengah bersujud kepada ALLAH. Maka permohonannya dikabulkan ALLAH, karena itu setiap kami lewat (naik-turun Langit) pasti dia tengah bersujud.”

Lanjut Jibril:”Kami temukan tulisnya (ceritanya) di lauhil mahfudz, bahwa: ia akan dibangkitkan kelak dihari kiamat dalam keadaan masih tetap bersujud dan diajukan kepada ALLAH, FirmanNya:”Masukkanlah hamba-Ku ini ke sorga karena Rahmat-Ku.” Tetapi hamba itu menjawab: ”Melainkan karena amalku semata.”

Lalu ALLAH menyuruh Malaikat untuk menghitung semua amalnya dibanding nikmat pemberianNya, dan ternyata setelah penotalan amal keseluruhan selesai, dan dimulai dengan menghitung nikmatnya mata saja sudah melebihi pahala ibadahnya sepanjang 500 tahun, padahal nikmat-nikmat yang lain-lainnya jauh lebih besar dan berharga.

Lalu ALLAH berFirman: ”Lemparkan ia ke dalam Neraka.” Kemudian Malaikat membawanya dan akan dilemparkan ke dalam Neraka, tetapi di tengah perjalanan menuju Neraka, ia menyadari kekeliruannya dan menyesal seraya berkata:”Ya ALLAH, masukkanlah aku ke surga karena Rahmat-Mu.”

Akhirnya Firman-Nya kepada Malaikat:”Kembalikanlah ia.”

Lalu ditanya ia:”Siapakah yang menciptakan kamu dari asalnya (tiada)?.”
Jawabnya:”Engkau ya ALLAH.”
Lalu hal itu dikarenakan amalmu ataukah Rahmat-Ku?.”
Jawabnya:”Karena Rahmat-Mu.”

Siapakah yang menguatkanmu beribadah selama lima ratus tahun?.”
Jawabnya lagi:”Engkau ya ALLAH.”

“Dan siapakah yang menempatkan kamu diatas Gunung dikelilingi lautan di sekitarnya, dikaki Gunung tersebut memancar sumber air tawar, dan tumbuh pohon delima yang buahnya kau petik setiap sore, padahal menurut hukum adat, delima hanya berbuah sekali dalam setahun, lalu kau minta mati dalam keadaan bersujud, siapa yang melakukan itu semua?.”

Jawabnya:” Engkau ya ALLAH.” FirmanNya:”Maka sadarlah kamu, bahwa itu semua adalah semata karena Rahmat-Ku, dan sekarang Aku masukkan kamu ke surga semata karena Rahmat-Ku.”

Kemudian Jibril berkata:”Segala-galanya dia alam ini bisa terjadi/ada, semua hanya karena rahmat ALLAH semata.”

Subhanallah, La hawla wa laa quwwata illa billah..!!
Saudara-saudariku,

Mengapa ini semua bisa terjadi? Bukankah hamba itu sudah sedemikian rajinnya beribadah?

Dari sini, ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil, diantaranya:

JANGAN TERJEBAK DENGAN SOMBONG/BANGGA/MENYEBUT/MENGHITUNG-HITUNG/TAFAKHUR DENGAN AMAL KITA.

Jika itu semua 500 tahun ibadahnya?
Lantas bagaimana usia kita?
Bagaimana Ibadah kita ?

Mudah-mudahan hal ini bisa menjadi renungan dan bermanfaat untuk kita semua.

Wallahu muwafiq ilaa aqwamit thariq
Was salamualaikum warahmamatullahi wabarakatuh.



Sumber : https://ahlulbaitrasulullah.blogspot.com

Sunday, July 10, 2016

Berkahnya Minum Darah Rasulullah Saw


syarifalfarisi.blogspot.com
 
Dalam perang Uhud, dua mata rantai topi besi telah menancap di wajah dan bagian kepala Rasulullah Saw. Melihat hal itu, Abu Bakar r.a. dan Abu Ubaidah bin Jarrah r.a. mencabut dua mata rantai topi besi yang melukai kepala Rasulullah saw. dengan giginya. Satu mata rantai itu tercabut, akibatnya sebuah gigi Abu Ubaidah r.a. tanggal, tapi ia tidak perduli, maka ia mencabut mata rantai yang kedua dengan giginya lagi, sehingga sebuah giginya tanggal. Mata rantai itu dapat dicabut dari tempatnya, lalu mengalirlah darah Rasulullah Saw. Kemudian darah itu dihisap oleh Malik bin Sinan r.a. ayah Abu Sa’id Al-Khudri r.a. dengan bibirnya dan ditelannya.


Apakah sahabat Nabi Malik bin Sinan yang menjilat luka pada kepala Nabi صلى الله عليه و سلم dan meminum darah yang mengucur itu, sampai darah tidak keluar lagi adalah seorang yang bodoh dan tidak mengerti hukum ?

Tidak ! Beliau adalah sahabat generasi terbaik yang bertemu langsung dan mendapat didikan dari Nabi Saw, Jadi sangat jauh skala keilmuan, ibadah dan ilmu adabnya dibanding generasi setelah mereka.


Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan:
“Barangsiapa hendak mengambil teladan maka teladanilah orang-orang yang telah meninggal. Mereka itu adalah para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang paling baik hatinya di kalangan umat ini. Ilmu mereka paling dalam serta paling tidak suka membeban-bebani diri. Mereka adalah suatu kaum yang telah dipilih oleh Allah guna menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan untuk menyampaikan ajaran agama-Nya. Oleh karena itu tirulah akhlak mereka dan tempuhlah jalan-jalan mereka, karena sesungguhnya mereka berada di atas jalan yang lurus.”
         (fadhailus shahabaah).

Lantas, Apakah pelanggaran etika dan estetika Malik bin Sinan yang di suruh Nabi untuk meludahkan (membuang) darah yang ada didalam mulutnya, sungguh secara syari'at, sempat para sahabat ketakutan dan menilai itu adalah pelanggaran dan dosa terbesar, karena Ibnu Sinan tidak patuh akan perintah Nabi.

Lantas apa jawaban Nabi kita Melihat apa yang dilakukan Malik bin Sinan, beliau bersabda, 
"Seseorang yang darahnya menyatu dengan darahku, maka api neraka tidak akan menyentuhnya."

Dalam riwayat lain Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda: 
 
"Muntahkan darah itu!" 
 
Malik رضي الله عنه menjawab: "Aku tidak akan memuntahkannya selama-lamanya." 
 
Bahkan, dia menelannya.

Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda: "Barang siapa ingin melihat seorang dari ahli syurga, maka lihatlah kepada orang ini."

Sungguh suatu keberuntungan besar bagi engkau wahai sahabat kekasih Allah..Malik bin Sinan....

APAKAH Abdullah ibn Zubair seorang yang celaka dan neraka tempatnya karena melanggar kesetiaannya pada Nabi, dikala Setelah selesai dibekam, Baginda SAW bersabda: "Wahai Abdullah (ibn Zubair)! Pergilah kamu dengan membawa darah ini dan buanglah ia di tempat yang tidak seorang pun dapat melihat kamu."

Setelah meninggalkan Rasulullah SAW, dia mengambil darah itu, lalu meminumnya. saat kembali Rasulullah SAW bertanya: "Apakah yang telah kamu lakukan dengan darah itu?" Dia menjawab: "Aku telah menempatkannya di tempat yang sangat tersembunyi, yang aku tahu ia sangat tersembunyi daripada orang ramai."

Baginda SAW bersabda: "Boleh jadi engkau telah meminumnya?" Dia menjawab: "Ya".

Nabi SAW bersabda: "Kenapa kamu minum darah itu? Celakalah manusia daripada kamu dan terselamatlah kamu daripada manusia." (riwayat Al-Hakim).

Setelah kejadian itu sahabat Ibnu Zubair, memiliki banyak kelebihan, dan Ulama Ahli hadits "Mereka (para sahabat) berpendapat bahwa kekuatan yang terdapat pada Abdullah ibn Zubair itu disebabkan keberkatan darah tersebut."

Inilah bahasa cinta Saudara-saudariku,
Sedikit pun kita tidak bakal pernah memahami seutuhnya tentang cinta yang hebat ini.
Nyawa akan jadi murah ketika berhadapan dengan cinta,
Nyawa tidak ada harganya ketika cinta membara,
Tidak ada sejarah cinta, seseorang takut akan kematian.
Semua pandangan hukum agama (bahkan syar'iat) sekalipun akan terbentur dengan kata cinta.

Mereka para sahabat nabi adalah generasi terbaik dan terhebat dalam cinta bahkan terkesan ekstrim, apakah mereka tidak tahu hadits larangan berlebihan dalam mencintai?
Tidak..!! mereka para sahabat sangat tahu soal hukum, tidak pernah ada sejarah mereka (sahabat nabi Muhammad) yang menjadikan Nabi Muhammad sebagai Tuhan untuk disembah.!
Lagi-lagi inilah bahasa cinta dan keagungan.
Hanya rahmat dan cinta Allah-lah yang membuat hati mereka penuh dengan cinta kepada Rasulullah.

Di akhir ini, simaklah firman suci dan menjadikan renungan kita semua:

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Allah telah ridha kepada orang-orang yang beriman (para sahabat Nabi) ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon (Bai’atu Ridwan). Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada mereka dan membalas mereka dengan kemenangan yang dekat.” (QS. Al Fath : 18).

Ingatlah..kelak kita akan dikumpulkan bersama seseorang yang kita cintai saat didunia..!
Tidak akan pernah ada orang-orang mencapai hubungan baik kepada al-khaliq (Allah Ta'ala) tanpa menanamkan cinta mereka kepada kekasih Allah ini, shalawatullah wa salamuhu 'alaihi wa alihi wa shahbih.


"Semoga kisah ini bisa menjadi sebuah pelajaran yang berharga untuk kita semua dan kita bisa semakin cinta kepada Rasulullah Saw"

 Oleh : Habib Quraisy Baharun
Sumber :  https://ahlulbaitrasulullah.blogspot.com