Monday, August 8, 2016

Ibadah Yang Cacat Atau Tidak

http://syarifalfarisi.blogspot.com

'Amilatun Naashibah

Kita sering membaca alqur'an ayat ke 3 surah Al-Ghosyiyah. Mari kita perhatikan sisi lain dari penjelasan ayat yang sangat menggugah itu.

*Allah Ta'ala berfirman*:

عاملة ناصبة

('aamilatun naashibah)

Artinya:
"Amal-amal yang hanya melelahkan."

Rangkaian ayat di awal surah ini bercerita tentang neraka & para penghuninya.
Ternyata salah satu penyebab orang dimasukkan ke neraka adalah amalan yang banyak dan beragam, tapi penuh cacat baik motif dan niatnya, maupun kaifiyat (tata caranya).

Astaghfirullah hal'adzim…

Sahabat Umar bin Khathab ra selalu menangis ketika mendengar ayat ini dibacakan.

Suatu hari Atha' As-Salami ra, seorang Tabi`in yang mulia, bermaksud menjual kain yang telah ditenunnya kepada penjual kain di pasar. Setelah diamati dan diteliti secara seksama oleh sang penjual kain, sang penjual kain mengatakan,


BACA JUGA :

"Ya Atha', sesungguhnya kain yang kau tenun ini cukup bagus, tetapi sayang ada cacatnya sehingga saya tidak dapat membelinya."

Begitu mendengar bahwa kain yang telah ditenunnya ada cacat, Atha' termenung lalu menangis.

Melihat Atha' menangis, sang penjual kain berkata,

"Atha' sahabatku, aku mengatakan dengan sebenarnya bahwa memang kainmu ada cacatnya sehingga aku tidak dapat membelinya. Kalaulah karena sebab itu engkau menangis, maka biarkanlah aku tetap membeli kainmu dan membayarnya dengan harga yang pas."

Kemudian Atha' menjawab tawaran itu,

"Wahai sahabatku, engkau menyangka aku menangis disebabkan karena kainku ada cacatnya? ketahuilah, sesungguhnya yang menyebabkan aku menangis bukan karena kain itu. Aku menangis disebabkan karena aku menyangka bahwa kain yang telah kubuat selama berbulan-bulan ini tidak ada cacatnya, tetapi di mata engkau sebagai ahlinya, ternyata kain itu ada cacatnya. Begitulah aku menangis kepada Allah dikarenakan aku menyangka bahwa ibadah yang telah aku lakukan selama bertahun- tahun ini tidak ada cacatnya, bisa jadi mungkin di mata Allah ibadahku penuh cacat dan cela. Itulah yang menyebabkan aku menangis."

"Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua, dan semoga bermanfaat untuk kita semua"

Saturday, August 6, 2016

Di Cium Oleh Rasulullah SAW


http://syarifalfarisi.blogspot.com

Dalam dunia tasawuf, dikenal seorang yang bernama Syibli. Lengkapnya: Abu Bakar Dalf bin Jahdar as-Syibli. Orang menyebutnya majnun, alias gila, sinting, nyeleneh. Dia pernah memakai celak mata yang dicampur dengan garam, supaya ia tidak tertidur di waktu malam. Dengan begitu, ia bisa menghidupkan malam dengan shalat-shalat sunnat.

Jika datang bulan Ramadhan, maka ia makin giat beribadah melebihi orang-orang di masanya. Mungkin inilah sebagian dari ke-sinting-an Syibli. Syibli lahir dan besar di Baghdad. Dia bersahabat dengan Junayd al-Baghdadi dan para ulama di masanya. Dia bermazhab Maliki. Wafat pada tahun 334 H atau 946 M, dan dimakamkan di Baghdad.

Syibli memang punya karamah. Dalam kitab Syarh Ratib al-Haddad, diceritakan bahwa Syibli mendatangi majlis Abu Bakar bin Mujahid. Melihat Syibli datang, Abu Bakar bangun dari duduknya, menyambutnya, memeluknya,dan mencium keningnya. Setelah kejadian itu, Abu Bakar ditanya oleh salah satu muridnya,

‘Duhai Guruku, engkau melakukan yang demikian kepada Syibli? Padahal, engkau dan semua penduduk Baghdad menganggapnya sinting?’


BACA JUGA :

Abu Bakar bin Mujahid menjawab, ‘Apa yang aku lakukan kepadanya adalah karena mencontoh yang dilakukan Rasulullah kepadanya. Aku pernah bermimpi melihat Syibli datang kepada Rasulullah. Lalu Rasulullah bangun dari duduknya dan mencium kening Syibli. Lalu dengan heran aku bertanya kepada Rasulullah, ‘Duhai Rasulullah, engkau berbuat demikian kepada Syibli?’ Rasululullah menjawab, ‘Ya begitulah. Itu karena orang ini (Syibli) sehabis shalat senantiasa membaca ayat:

۞Laqod jaa akum rasulun min anfusikum ‘aziizun ‘alaihi maa ‘anittum hariishun ‘alaikum bil mu’miniina ro-uufurrohiim ۞

‘Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin (at-Taubah: 128)’, lalu ia melanjutkannya dengan membaca shalawat kepadaku sebanyak 3 kali’.

Itulah buah dari ke-sinting-an Syibli.

Subhanallah…subhanallah… subhanallah wabihamdih…..

صلو على النبي الكامل الوجه الجميل

Friday, August 5, 2016

Al Madad Fil Masyhad, Sebut Namaku Lalu Berjalanlah Diatas Air

http://syarifalfarisi.blogspot.com

Tidak dipungkiri bahwa keagungan Nabi SAW melebihi segalanya, termasuk keagungan para Anbiya’ sebelumnya dan para Auliya sesudahnya. Rasulullah adalah batangnya (ashl ) sedang mereka semua adalah cabang–cabangnya (far’u).

“Wakulluhum min Rasulillahi multamisun, ghorfan minal bahhri au rashfan minad diyami.

Mereka semua meneguk secakup air dari lautan kemuliaan Rasulullah. Atau mereka menyesap tetes–tetes air dari hujan kemuliyaannya,  Al Bushiriy. Maka barangsiapa yang memperingati kemuliyaan para auliya, maka sejatinya mereka memperingati kemuliaan Rasulullah. Barangsiapa yang memuliakan para auliya maka sejatinya mereka memuliakan Rasulullah SAW.

Di dalam mukaddimah Jami’ Karomatil Auliya, Al Imam An Nabhaniy menjelaskan banyak hal tentang hal ini. Diantara yang beliau tulis di sana bahwa karomah para waliy adalah bagian dari mukjizat Nabi. Dengan munculnya keramat–keramat itu, maka umat sesudah zaman kenabian menjadi faham dan meyakini bahwa para auliya itu ada dalam agama yang haq. Berarti pembawa risalah dalam agama yang mereka bela itu (yakni Rasulullah) adalah haq pula.

Semakin besar seseorang memuliakan atau memperingati para auliya maka maknanya semakin besar pula dia memuliakan dan memperingati nabinya. Seseorang yang bersemangat membaca manaqib atau memperingati Haul Syaikh Abdul qadir al Jailani sebenarnya diapun sedang bersemangat dalam menghormati Baginda Nabi SAW.

Namun kemudian menjadi isykal jika pada saat yang sama dia ‘memandang remeh’ peringatan Nabi atau pembacaan maulid beliau. Contoh sederhana, jika dia membaca manaqib Syaikh dia akan menyembelih ayam jantan dan dibuat shadaqah. Tetapi saat membaca maulid Nabi dia hanya bersedekah krupuk.

Jika dia berbuat demikian karena dianggapnya maulid Nabi ‘cuma pantasnya’ dishadaqahi krupuk maka ini adalah perendahan rutbah Rasulullah SAW. Wal ‘iyadhu billah. Namun jika dia melakukannya disebabkan dominasi ‘rasa Syaikh’ di dalam hatinya maka hal seperti itu biasa saja.
Sebenarnya dia meyakini kemuliyaan Nabi jauh di atas kemuliyaan Syaikh. Namun di dalam hatinya pengaruh Syaikh telah memenuhi seluruh sisi-sisinya, fana’ itu menyebab kemuliaan yang lain tidak lagi terasa olehnya.

Saya kesulitan untuk memilih kalimat yang tepat di dalam permasalahan ini. Tetapi jika dapat di rumuskan lebih sederhana, mungkin saya akan memilih kalimat berikut ini:

“Didalam keyakinannya tetap mengetahui bahwa kemuliaan Nabi SAW ada diatas kemuliaan Waliy. Namun karena keterbatasan kemampuan hatinya dalam menangkap keagungan-keagungan, maka baru pada taraf kemuliaan Waliy saja yang bisa benar-benar dia rasakan, sehingga mengesankan dia terlihat begitu bersemangat di dalam memperingati Waliy melebihi semangat memperingati Nabi SAW“


BACA JUGA :

 Para hukama menyebut “AL MADAD FIL MASYHAD“ turunnya pertolongan, keberkahan berbanding lurus dengan kesiapan hati dan keyakinannya. Banyak kisah yang berhubungan dengan hal ini.
Seperti kisah seorang murid yang diperintahkan menyeberangi lautan oleh Syaikhnya dengan cara berjalan kaki di atasnya. Kata Syaikh:

“Wahai anakku, sebutkan namaku dan berjalanlah kamu di atas air menyeberangi laut.“

Murid tersebut menuruti perintah Syaikhnya. Begitu nama beliau ia sebut maka ia sanggup berjalan di atas air tanpa tenggelam. Namun mendadak dia dalam hatinya berfikir :

“Bagaimana aku ini? Bukankah Allah Azza Wajalla yang lebih tepat untuk aku ucapkan? Karena Allah adalah Tuhan sedangkan Syaikh ku hanyalah seorang manusia?“

Begitu terbersit di dalam hatinya fikiran tersebut maka saat itu juga tubuhnya jatuh tenggelam ke dalam laut. Dia terjebak dalam ombak, dan tenggelam nyaris celaka. Sampai kemudian dia teringat Syaikhnya dan diapun berteriak–teriak memanggil nama Syaikhnya.

“Wahai guruku, wahai Fulan …!“ Teriaknya memanggil. Dan tak menunggu lama, muncul Sang Syaikh berjalan diatas laut dan mengulurkan tangan dan menolong dirinya.
“Sudah aku katakan, sebutkan namaku saja, jangan yang lain. Engkau itu hanya mengenal diriku melebihi kenalmu kepada Tuhanmu“

Kisah ini memberi kefahaman bahwa bukan berarti Syaikh itu lebih mulia daripada Allah Ta’ala. 
Namun masyhad dalam hati murid tersebut hanya mengenal Syaikhnya dari pada Tuhannya, sehingga menyebut nama Syaikh bagi dia itu lebih bermanfaat dari pada menyebut nama Rabbnya.

Suatu saat Al Habib Abdurrahman bin Syaikh Al Athas berkata :

“Bagi diriku al Habib Hasan as Syathiriy itu lebih agung dibanding Syaikh Abdulqadir al Jaylaniy. Karena jika Syaikh Abdulqadir itu kemuliaannya bagiku hanya sebatas yang pernah aku baca saja dari buku–buku, namun Al Habib Hasan itu kemuliaannya bagiku langsung aku saksikan dengan kedua belah mataku.“

"Kesimpulan terakhir adalah Kemuliaan Nabi diatas Kemuliaan Waliy . Tetapi masyhad di dalam hati seseorang bisa jadi membuatnya lain. Bukan berarti merendahkan kemuliaan Nabi" 


Sumber : 

Thursday, August 4, 2016

Tak Pernah Diciptakan Tapi Selalu Dicari


Tak pernah diciptakan tapi selalu dicari.... apakah itu??? Nabi Muhammad ﷺ bertanya kepada malaikat Jibril As,

“ apakah engkau (malaikat Jibril) pernah tertawa ??? ”
قال له نعم
 

Malaikat Jibril menjawab kepada Rasulullah ﷺ : “ Ya ”
 

Nabi Muhammad ﷺ berkata kepada malaikat Jibril, “ Kapan ? ”
 

Berkata malaikat Jibril;
 

“ ketika manusia diciptakan dan dari mulai diciptakan sampai wafatnya, sedangkan dia mencari dari sesuatu yang tidak pernah diciptakan didunia Nabi ShallAllaahu alaihi wasallam merasa heran dan beliau bersabda; 

apakah sesuatu yang dicari dari manusia sedangkan hal tersebut tidak pernah diciptakan didunia?

قال جبرائيل: الراحه.
Berkata malaikat Jibril; “ KETENANGAN ”

Sesungguhnya ALLAH tidak menciptakan ketenangan di dunia tetapi ALLAH menciptakannya di akhirat. Maka manusia selalu mencari ketenangan.


BACA JUGA :

Maka anak kecil berkata kapan menjadi dewasa.

Sementara pemuda berkata andai saja aku kembali kecil.

Dan orang tua berkata andai saja masa muda kembali lagi.

Dan orang yang telah menikah berkata andai saja aku kembali pada masa lajang.

Dan orang yang lajang berkata andai saja aku telah menikah.

Dan yang memiliki banyak anak berkata andai saja aku memiliki (walau) satu anak saja.

Dan yang memiliki banyak anak berontak seraya berkata andai saja aku tidak memiliki banyak anak.

Dan yang telah menikah dengan satu perempuan menginginkan menikah lagi mencari ketenangan, semuanya mencari ketenangan akan tetapi tidak ada yang namanya ketenangan didunia ini. Maka wajib kita merasa cukup dengan apa-apa yang telah ALLAH menentukan untuk kita dan kita bersyukur atas hal tersebut (ketentuan ALLAH). Dan kita mengetahui, sesungguhnya ketenangan kita terdapat didalam ibadah kepadaNya & ketaatan kepadaNya agar supaya kita mendapatkan makna ketenangan di akhirat dan menangislah atas (kekurangan) dirimu.

فمن ترك قراءة القرآن ♡
Maka barangsiapa yang meninggalkan bacaan al-qur'an
ثلاثة أيام منْ غير عذر
3 hari tanpa udzur سُميّ هاجراً ! *
Dialah yang dikatakan orang yang menjauhi (dari al-qur'an, menjauhi dari ketenangan). 

Oleh Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz.

Wednesday, August 3, 2016

Dunia Fana Ini Adalah Tempat Tinggal Sementara

http://syarifalfarisi.blogspot.com

TEMPAT TINGGAL SEMENTARA

Dikisahkan seorang Raja berkunjung ke kediaman seorang Guru Sufi yang sangat termasyhur. Sang Raja tersebut kaget melihat kediaman sang Guru Sufi terlihat sangat sederhana. Satu-satunya perabotan yang ada di rumah tersebut hanya sebuah tikar dan lampu ublik.
Karena penasaran, Sang Raja lalu bertanya,

"Wahai Guru, dimanakah perabotan-perabotan anda ???"

Sang Sufi lalu menjawab dengan balik bertanya kepada sang Raja tersebut,

"Bagaimana dengan anda, dimanakah perabotan-perabotan anda ?"

"Saya kan hanya seorang tamu di sini." Jawab sang Raja dengan nada keheranan.

Sang Guru Sufi lalu menjawab,

"Begitu juga saya, Saya hanya seorang tamu yang numpang lewat di dunia ini."
.
Dari Ibn Umar رضي اللّـہ عنہ, Beliau berkata bahwa Rasulullah ﷺ memegang kedua bahuku dan bersabda:

كُنْ فِى الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ وَعُدَّ نَفْسَكَ فِى أَهْلِ الْقُبُورِ

"Jadilah kamu di dunia seolah-olah orang asing atau orang lewat dan hitunglah dirimu termasuk penghuni kubur" (HR Ahmad, at-Tirmidzi, Ibn Majah, ath-Thabarani, al-Baihaqi).


BACA JUGA :

"Semoga kisah riwayat diatas bermanfaat dan bisa menjadi inspirasi didalam kehidupan kita sehari-hari"

Tuesday, August 2, 2016

Seorang Lelaki Penghuni Surga

http://syarifalfarisi.blogspot.com

Pada suatu hari, sahabat Abdullah bin Amr bin Ash radhiallahu anhu bersama Rasulullah Saw. dan para sahabat yang lain sedang duduk di halaman samping (teras) masjid. Kemudian Rasulullah Saw. bersabda,

"Akan datamg kepada kalian sekarang ini, seorang laki-laki penghuni surga."

Tidak lama kemudian setelah Rasulullah berkata memberitahu kepada para sahabat, masuklah seorang laki-laki dari kaum Anshar dengan bekas air wudhu yang menetes dari wajah dan janggutnya. Keesokan harinya Rasulullah mengulangi perkataan yang pernah beliau katakan seperti kemarin. Kemudian Abdullah bin Amr mengira atau menduga kalau yang datang kali ini bukanlah orang yang kemarin. Tidak lama setelah itu datang lagi orang yang sama seperti kemarin dengan keadaan yang sama persis seperti kemarin dengan air wudhu yang masih membasahi wajahnya dan menetes pada janggutnya. Hari ketiga berkata seperti dua hari yang lalu dan yang datang tetap orang itu juga.

Kemudian setelah itu Rasulullah Saw pergi, lalu Abdullah bin Amr bin Ash membuntuti laki-laki dari belakang hingga sampai kerumah laki-laki itu. Abdullah bin Amr kemudian mencari cara agar bisa mengetahui amalan apa yang dapat membuat laki-laki itu mendapatkan derajat yang tinggi sebagai penghuni surga seperti yang telah disabdakan Rasulullah Saw.

Lalu Abdullah bin Amr menghampiri dan berkata kepada laki-laki itu,

"Aku telah bertengkar dengan ayahku, kemudian aku bersumpah untuk tidak mendatanginya selama tiga hari. Jika engkau setuju, aku mau tinggal bersamamu selama tiga hari." Kata Abdullah bin Amr

Laki-laki itu kemudian menjawab, "Ya, silakan!".


BACA JUGA :

Selama Abdullah bin Ash berada dirumah laki-laki itu dan mengamati cara ibadah dan amalan apa yang dilakukan, ternyata Abdullah bin Ash tidak melihat amalan khusus yang istimewa. Laki-laki itu tidak pernah bangun malam untuk shalat Tahajjud, tapi ia hanya mendengar setiap kali laki-laki itu terbangun selalu membaca zikir dan takbir, ia baru bangun dari tidurnya ketika waktu shalat subuh tiba. Pada siang harinya laki-laki itu tidak pernah berpuasa sunnah. Selain itu Abdullah tidak pernah mendengar laki-laki itu berbicara, kecuali yang baik-baik saja.

Setelah tiga hari telah berlalu, Abdullah mohon izin pulang, karena ia tidak melihat suatu keistimewaan amalan yang dikerjakan oleh laki-laki itu. Kemudian Abdullah bin Ash berkata:

"Wahai hamba Allah, sesungguhnya tidak pernah terjadi pertengkaran antara aku dan ayahku. Tujuan aku menginap dirumahmu, karena aku ingin tahu amalan yang membuatmu menjadi penghuni surga, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Saw Dengan melihat amalanmu itu aku akan menirunya supaya bisa menjadi sepertimu. Ternyata kau tidak terlalu banyak beramal kebaikan. Apakah sebenarnya hingga kau mampu mencapai sesuatu yang dikatakan oleh rasulullah Saw.?"

"Aku tidak memiliki amalan, kecuali semua yang telah engkau lihat sendiri." Jawab laki-laki itu

Ketika Abdullah bin Ash keluar beberapa langkah dari rumah laki-laki itu, laki-laki tersebut memanggilnya, seraya berkata:

"Benar, amalanku hanya yang engkau lihat, tetapi aku tidak pernah berbuat curang kepada seorangpun dari kaum muslimin ataupun lainnya. Aku juga tidak iri kepada seseorang atas karunia yang telah diberikan oleh Allah Swt. kepadanya.!"

Abdullah bin Ash kemudian berkata:

"Kemungkinan amalan inilah yang membuatmu mendapatkan derajat yang tinggi. Dan inilah amalan yang sangat sulit untuk dilakukan."

"Demikianlah kisah ini diceritakan kembali, semoga kita juga dapat mencapai derajat yang tinggi dan menjadi ahli (penghuni) surga, walau tidak dengan amalan yang demikian. Karena banyak jalan menuju surga"


Sumber : http://ahlulbaitrasulullah.blogspot.com

Monday, August 1, 2016

Karomah Habib Luthfi bin Yahya

http://syarifalfarisi.blogspot.com
 Habib Luthfi bin Yahya dan Habib Mundzir al-Musawa
Kisah tentang sebuah niat yang mengalahkan logika ilmiah. Kisah nyata Muhammad Syamsuri, beliau adalah Anggota Helm aktif (Grup Helm MR yaitu aktivis Majelis Rasulullah saw yang bertugas mengatur lalu lintas dan menghimbau Jama’ah Majelis Rasulullah saw agar mematuhi peraturan lalu lintas dan menggunakan helm bagi pengendara motor, serta mengatur kelancaran lalu lintas ketika ada pengajian Majelis Rasulullah saw.)

Kisah ini dialami oleh saudara kita, namanya Muhammad Syamsuri. Beberapa waktu lalu beliau kecelakaan mobil di Tol Cipularang dan mengalami retak tulang kaki sehingga harus menggunakan kursi roda. Dokter sudah angkat tangan. Namun Syam tidak putus asa. Ia pergi ke Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan untuk minta doa. Syam ini adalah murid Habib Luthfi.

Pertama kali bertemu, Habib Luthfi bertanya kepada Syam tentang niatnya jika kakinya sembuh. Syam menjawab bahwa ia ingin kembali kerja di Jakarta. Spontan Habib Luthfi menjawab bahwa ia tidak mungkin sembuh seumur hidup, harus memakai kursi roda. Syam dan keluarganya menangis mendengar kabar itu. Setelah itu Habib Luthfi pun pergi dan membiarkan Syam selama 3 minggu di rumahnya.


BACA JUGA :

Selama waktu itu Syam hanya bengong dan meratapi nasibnya. Hingga suatu malam Syam bermimpi didatangi Habib Munzir al Musawa yang lantas rebahan di samping Syam dan memberikan lembar jadwal majlis MR sambil berbisik,"Bilang Habib Luthfi bahwa kamu ikut saya di Jakarta".

Pagi harinya Syam lantas menemui Habib Luthfi dan berkata bahwa ia di Jakarta membantu dakwah Habib Munzir dengan mengatur lalu lintas. Mendengar hal itu Habib Luthfi kaget dan lantas bertanya apa yang menyebabkan dia berubah niat? Syam lantas menceritakan mimpinya. Habib Lutfi kemudian memeluk Syam dan berkata,"Kamu besok sembuh. Pulang ke Jakarta berkah". Habib Luthfi kemudian mengusap kaki Syam dengan air beberapa kali.

Malam harinya yaitu Senin malam bertepatan dengan majlis rutin MR di Al Munawar minggu lalu, jam 21.00 kaki Syam sudah bisa digerakkan dan bisa untuk berjalan. Akhirnya Syam bisa berjalan seperti sebelumnya dan kini Syam sudah kembali membantu dakwah Habib Munzir dengan aktif membantu mengatur lalu lintas di Al Munawar.

Karomah dua orang wali dan niat yang lurus mengalahkan logika ilmiah medis yang sudah mengatakan tidak akan sembuh. Subhanallah.

"Semoga kisah diatas bisa menjadi inspirasi untuk hidup kita dan kita bisa sama-sama mengambil hikmahnya" 


Sumber : http://sufipasrah.blogspot.co.id