Wednesday, August 3, 2016

Dunia Fana Ini Adalah Tempat Tinggal Sementara

http://syarifalfarisi.blogspot.com

TEMPAT TINGGAL SEMENTARA

Dikisahkan seorang Raja berkunjung ke kediaman seorang Guru Sufi yang sangat termasyhur. Sang Raja tersebut kaget melihat kediaman sang Guru Sufi terlihat sangat sederhana. Satu-satunya perabotan yang ada di rumah tersebut hanya sebuah tikar dan lampu ublik.
Karena penasaran, Sang Raja lalu bertanya,

"Wahai Guru, dimanakah perabotan-perabotan anda ???"

Sang Sufi lalu menjawab dengan balik bertanya kepada sang Raja tersebut,

"Bagaimana dengan anda, dimanakah perabotan-perabotan anda ?"

"Saya kan hanya seorang tamu di sini." Jawab sang Raja dengan nada keheranan.

Sang Guru Sufi lalu menjawab,

"Begitu juga saya, Saya hanya seorang tamu yang numpang lewat di dunia ini."
.
Dari Ibn Umar رضي اللّـہ عنہ, Beliau berkata bahwa Rasulullah ﷺ memegang kedua bahuku dan bersabda:

كُنْ فِى الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ وَعُدَّ نَفْسَكَ فِى أَهْلِ الْقُبُورِ

"Jadilah kamu di dunia seolah-olah orang asing atau orang lewat dan hitunglah dirimu termasuk penghuni kubur" (HR Ahmad, at-Tirmidzi, Ibn Majah, ath-Thabarani, al-Baihaqi).


BACA JUGA :

"Semoga kisah riwayat diatas bermanfaat dan bisa menjadi inspirasi didalam kehidupan kita sehari-hari"

Tuesday, August 2, 2016

Seorang Lelaki Penghuni Surga

http://syarifalfarisi.blogspot.com

Pada suatu hari, sahabat Abdullah bin Amr bin Ash radhiallahu anhu bersama Rasulullah Saw. dan para sahabat yang lain sedang duduk di halaman samping (teras) masjid. Kemudian Rasulullah Saw. bersabda,

"Akan datamg kepada kalian sekarang ini, seorang laki-laki penghuni surga."

Tidak lama kemudian setelah Rasulullah berkata memberitahu kepada para sahabat, masuklah seorang laki-laki dari kaum Anshar dengan bekas air wudhu yang menetes dari wajah dan janggutnya. Keesokan harinya Rasulullah mengulangi perkataan yang pernah beliau katakan seperti kemarin. Kemudian Abdullah bin Amr mengira atau menduga kalau yang datang kali ini bukanlah orang yang kemarin. Tidak lama setelah itu datang lagi orang yang sama seperti kemarin dengan keadaan yang sama persis seperti kemarin dengan air wudhu yang masih membasahi wajahnya dan menetes pada janggutnya. Hari ketiga berkata seperti dua hari yang lalu dan yang datang tetap orang itu juga.

Kemudian setelah itu Rasulullah Saw pergi, lalu Abdullah bin Amr bin Ash membuntuti laki-laki dari belakang hingga sampai kerumah laki-laki itu. Abdullah bin Amr kemudian mencari cara agar bisa mengetahui amalan apa yang dapat membuat laki-laki itu mendapatkan derajat yang tinggi sebagai penghuni surga seperti yang telah disabdakan Rasulullah Saw.

Lalu Abdullah bin Amr menghampiri dan berkata kepada laki-laki itu,

"Aku telah bertengkar dengan ayahku, kemudian aku bersumpah untuk tidak mendatanginya selama tiga hari. Jika engkau setuju, aku mau tinggal bersamamu selama tiga hari." Kata Abdullah bin Amr

Laki-laki itu kemudian menjawab, "Ya, silakan!".


BACA JUGA :

Selama Abdullah bin Ash berada dirumah laki-laki itu dan mengamati cara ibadah dan amalan apa yang dilakukan, ternyata Abdullah bin Ash tidak melihat amalan khusus yang istimewa. Laki-laki itu tidak pernah bangun malam untuk shalat Tahajjud, tapi ia hanya mendengar setiap kali laki-laki itu terbangun selalu membaca zikir dan takbir, ia baru bangun dari tidurnya ketika waktu shalat subuh tiba. Pada siang harinya laki-laki itu tidak pernah berpuasa sunnah. Selain itu Abdullah tidak pernah mendengar laki-laki itu berbicara, kecuali yang baik-baik saja.

Setelah tiga hari telah berlalu, Abdullah mohon izin pulang, karena ia tidak melihat suatu keistimewaan amalan yang dikerjakan oleh laki-laki itu. Kemudian Abdullah bin Ash berkata:

"Wahai hamba Allah, sesungguhnya tidak pernah terjadi pertengkaran antara aku dan ayahku. Tujuan aku menginap dirumahmu, karena aku ingin tahu amalan yang membuatmu menjadi penghuni surga, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Saw Dengan melihat amalanmu itu aku akan menirunya supaya bisa menjadi sepertimu. Ternyata kau tidak terlalu banyak beramal kebaikan. Apakah sebenarnya hingga kau mampu mencapai sesuatu yang dikatakan oleh rasulullah Saw.?"

"Aku tidak memiliki amalan, kecuali semua yang telah engkau lihat sendiri." Jawab laki-laki itu

Ketika Abdullah bin Ash keluar beberapa langkah dari rumah laki-laki itu, laki-laki tersebut memanggilnya, seraya berkata:

"Benar, amalanku hanya yang engkau lihat, tetapi aku tidak pernah berbuat curang kepada seorangpun dari kaum muslimin ataupun lainnya. Aku juga tidak iri kepada seseorang atas karunia yang telah diberikan oleh Allah Swt. kepadanya.!"

Abdullah bin Ash kemudian berkata:

"Kemungkinan amalan inilah yang membuatmu mendapatkan derajat yang tinggi. Dan inilah amalan yang sangat sulit untuk dilakukan."

"Demikianlah kisah ini diceritakan kembali, semoga kita juga dapat mencapai derajat yang tinggi dan menjadi ahli (penghuni) surga, walau tidak dengan amalan yang demikian. Karena banyak jalan menuju surga"


Sumber : http://ahlulbaitrasulullah.blogspot.com

Monday, August 1, 2016

Karomah Habib Luthfi bin Yahya

http://syarifalfarisi.blogspot.com
 Habib Luthfi bin Yahya dan Habib Mundzir al-Musawa
Kisah tentang sebuah niat yang mengalahkan logika ilmiah. Kisah nyata Muhammad Syamsuri, beliau adalah Anggota Helm aktif (Grup Helm MR yaitu aktivis Majelis Rasulullah saw yang bertugas mengatur lalu lintas dan menghimbau Jama’ah Majelis Rasulullah saw agar mematuhi peraturan lalu lintas dan menggunakan helm bagi pengendara motor, serta mengatur kelancaran lalu lintas ketika ada pengajian Majelis Rasulullah saw.)

Kisah ini dialami oleh saudara kita, namanya Muhammad Syamsuri. Beberapa waktu lalu beliau kecelakaan mobil di Tol Cipularang dan mengalami retak tulang kaki sehingga harus menggunakan kursi roda. Dokter sudah angkat tangan. Namun Syam tidak putus asa. Ia pergi ke Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan untuk minta doa. Syam ini adalah murid Habib Luthfi.

Pertama kali bertemu, Habib Luthfi bertanya kepada Syam tentang niatnya jika kakinya sembuh. Syam menjawab bahwa ia ingin kembali kerja di Jakarta. Spontan Habib Luthfi menjawab bahwa ia tidak mungkin sembuh seumur hidup, harus memakai kursi roda. Syam dan keluarganya menangis mendengar kabar itu. Setelah itu Habib Luthfi pun pergi dan membiarkan Syam selama 3 minggu di rumahnya.


BACA JUGA :

Selama waktu itu Syam hanya bengong dan meratapi nasibnya. Hingga suatu malam Syam bermimpi didatangi Habib Munzir al Musawa yang lantas rebahan di samping Syam dan memberikan lembar jadwal majlis MR sambil berbisik,"Bilang Habib Luthfi bahwa kamu ikut saya di Jakarta".

Pagi harinya Syam lantas menemui Habib Luthfi dan berkata bahwa ia di Jakarta membantu dakwah Habib Munzir dengan mengatur lalu lintas. Mendengar hal itu Habib Luthfi kaget dan lantas bertanya apa yang menyebabkan dia berubah niat? Syam lantas menceritakan mimpinya. Habib Lutfi kemudian memeluk Syam dan berkata,"Kamu besok sembuh. Pulang ke Jakarta berkah". Habib Luthfi kemudian mengusap kaki Syam dengan air beberapa kali.

Malam harinya yaitu Senin malam bertepatan dengan majlis rutin MR di Al Munawar minggu lalu, jam 21.00 kaki Syam sudah bisa digerakkan dan bisa untuk berjalan. Akhirnya Syam bisa berjalan seperti sebelumnya dan kini Syam sudah kembali membantu dakwah Habib Munzir dengan aktif membantu mengatur lalu lintas di Al Munawar.

Karomah dua orang wali dan niat yang lurus mengalahkan logika ilmiah medis yang sudah mengatakan tidak akan sembuh. Subhanallah.

"Semoga kisah diatas bisa menjadi inspirasi untuk hidup kita dan kita bisa sama-sama mengambil hikmahnya" 


Sumber : http://sufipasrah.blogspot.co.id

Sunday, July 31, 2016

Karomah Habib Munzir bin Fuad Almusawa

hhtp://syarifalfarisi.blogspot.com
 Cerita Karomah Guru Mulia Al-Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa

1. Al-Habib Munzir al-Musawa Tidak Memiliki Rumah

Seseorang pernah bertanya kepada Habib Munzir: “Wahai Habib, bukankah Rasul Saw. juga punya rumah walau sederhana?”
Beliau Habib Munzir tertegun dan menangis, beliau berkata: “Iya betul, tapi kan Rasul Saw. juga tidak beli tanah, beliau diberi tanah oleh kaum Anshar, lalu bersama-sama membangun rumah, saya takut dipertanyakan Allah kalau ada orang muslim yang masih berumahkan koran di pinggir jalan dan digusur-gusur, sedangkan bumi menyaksikan saya tenang-tenang di rumah saya.”

2. Perjumpaan Al-Habib Munzir dengan Wali Besar Tarim

Seorang wali besar Tarim, salah satu guru al-Habib Umar bin Hafidz yang bernama al-Habib Abdul Qadir al-Masyhur, saat al-Habib Munzir datang menjumpainya, maka al-Habib Abdul Qadir al-Masyhur yang ketika itu usianya sudah tua renta langsung menangis dan berkata: “Wahai Muhammad…! (Saw.)”
Maka al-Habib Munzir berkata: “Saya Munzir, nama saya bukan Muhammad.”
Lalu al-Habib Abdul Qadir al-Masyhur berkata: “Engkau Muhammad Saw.!, Engkau Muhammad Saw.!”
Maka al-Habib Munzir diam. Kemudian saat al-Habib Umar bin Hafidz datang maka segera al-Habib Abdul Qadir al-Masyhur berkata: “Wahai Umar, inilah Maula Jawa (Tuan Penguasa Pulau Jawa)”
Al-Habib Umar bin Hafidz pun hanya tersenyum mendengarnya.

3. Kesaksian Seorang Ibu dari Australia Jama’ah Majelis Rasulullah Saw.

Kita saksikan, ke manapun al-Habib Munzir pergi pasti disambut tangis ummat dan cinta. Bahkan sampai ke pedalaman Irian, ongkos sendiri, masuk ke daerah yang sudah ratusan tahun belum dijamah para da’i, ratusan orang yang sudah masuk Islam di tangan al-Habib Munzir, banyak orang bermimpi Rasul Saw. selalu hadir di majelisnya.
Dikisahkan bahwa ada seorang ibu-ibu dari Australia yang selalu mimpi jumpa Rasulullah Saw. Ia sudah bai’at dengan banyak thariqah, dan 10 tahun ia tak lagi bisa melihat Rasul Saw. entah kenapa. Namun ketika ia hadir di Majelis al-Habib Munzir tepatnya yaitu saat Majelis Rasulullah Saw. Digelar di Masjid Almunawar, ia bisa melihat lagi Rasulullah Saw.
Maka si ibu itu berkata: ”Sungguh Habib yang satu ini adalah Syeikh Futuhku, dia membuka hijabku tanpa ia mengenalku, dia benar-benar dicintai oleh Rasulullah Saw.”
Lalu kabar tersebut disampaikan kepada al-Habib Munzir, dan beliau hanya menunduk malu.

4. Al-Habib Munzir Saat Diminta Mendoakan Al-Habib Umar Maulakhela

Ketika banyak orang yang meminta supaya al-Habib Umar Maulakhela didoakan agar sembuh dari sakitnya, maka beliau al-Habib Munzir dengan tenang menjawab: “Al-Habib Novel bin Jindan yang akan wafat, dan al-Habib Umar Maulakhela masih panjang usianya.”
Benar saja, keesokan harinya al-Habib Novel bin Jindan wafat, dan al-Habib Umar Maulakhela sembuh dan keluar dari opname.

5. Al-Habib Munzir Saat Diminta Mendoakan Al-Habib Anis Al-Habsyi

Ketika al-Habib Anis al-Habsyi Solo sakit keras dan dalam keadaan kritis, orang-orang mendesak al-Habib Munzir untuk menyambangi dan mendoakan al-Habib Anis, maka beliau berkata pada orang-orang dekatnya bahwa al-Habib Anis akan sembuh dan keluar dari opname, Insya Allah kira-kira masih sebulan lagi usia beliau.
Betul saja, al-Habib Anis sembuh, dan sebulan kemudian wafat.


BACA JUGA :

6. Kejadian Hendak Meletusnya Gunung Papandayan

Ketika Gunung Papandayan bergolak dan sudah dinaikkan posisinya dari siaga 1 menjadi “Awas”, maka al-Habib Munzir dengan santai berangkat ke sana.
Sesampainya ke ujung kawah, al-Habib Munzir berdoa dan melemparkan jubahnya ke kawah. Sesaat kemudian kawah itu reda hingga kini. Kejadian ini sudah bertahun-tahun yang lalu sekitar 8 tahunan dan VCD/ -dokumentasinya disimpan di markas Majelis Rasulullah Saw. namun beliau al-Habib Munzir melarang untuk disebarkan.

7. Kisah Sang Dukun Beji Depok 1

Ketika al-Habib Munzir masuk ke wilayah Beji Depok, yang terkenal dengan sihir dan para dukun jahatnya, malam itu al-Habib Munzir mengadakan acara Maulid Nabi Saw.
Keesokan harinya seorang dukun mendatangi panitia acara tersebut dan berkata: “Saya ingin jumpa dengan Tuan Guru yang semalam buat Maulid di sini..!”
Orang-orang yang melihat dan mendengarnya menjadi kaget, karena dia terkenal dukun jahat dan tak pernah shalat serta tak mau dekat dengan ulama pun juga sangat ditakuti.
Ketika ditanya kenapa, dukun itu menjawab: “Saya mempunyai 4 Jin khodam, semalam mereka lenyap, lalu Shubuh tadi saya lihat mereka (para Jin khodam itu) sudah pakai baju putih dan sorban dan sudah masuk Islam. Ketika kutanya kenapa kalian masuk Islam dan jadi begini?, maka Jin-jin ku menjawab: “Apakah juragan tidak tahu? Semalam ada Kanjeng Rasulullah Saw. hadir di acara al-Habib Munzir, kami masuk Islam karenanya.”

8. Kisah Sang Dukun Beji Depok 2

Seorang dukun di Beji Depok yang mempunyai dua ekor macan jadi-jadian yang dipergunakan untuk menjaga rumahnya. Malam itu macan jejadiannya hilang, kemudian ia mencarinya. Ia menemukan kedua macan jadi-jadiannya itu sedang duduk bersimpuh di depan pintu masjid mendengarkan ceramah al-Habib Munzir.

9. Gangguan Jahat Menyerang Murid-murid Al-Habib Munzir

Saat berapa murid al-Habib Munzir berangkat ke Kuningan Jawa Barat, daerah yang terkenal ahli santet dan jago sihirnya, maka al-Habib Munzir menepuk bahu muridnya dan berkata: “Ma’annabiy...! -, berangkatlah, Rasul Saw. bersama kalian.”
Maka saat mereka membaca maulid, tiba-tiba terjadi angin ribut yang mengguncang rumah itu dengan dahsyat, lalu mereka meminta kepada Allah perlindungan, dan teringat al-Habib Munzir dalam hatinya. Tiba-tiba angin ribut tersebut reda, dan mereka semua mencium aroma minyak wangi yang biasa dipakai al-Habib Munzir yang seakan lewat di hadapan mereka. Dan terdengar pula ledakan bola-bola api di luar rumah yang tak bisa masuk ke rumah itu.
Ketika mereka pulang dan diceritakan semua kejadian tersebut kepada al-Habib Munzir, beliau hanya senyum dan menunduk malu.


10. Saat Al-Habib Munzir Berdakwah di Bali

Saat al-Habib Munzir berkunjung ke Bali dan hendak menginap di salah satu hotel, berkatalah muslimin di sana: “Habib, semua hotel penuh, kami tempatkan Habib di tempat yang dekat dengan kediaman Raja Leak (Raja Dukun Leak di Bali).”
Maka al-Habib Munzir membalasnya dengan senyuman pertanda setuju.
Keesokan harinya Raja Leak itu, yang terkenal sangat jarang keluar dari dalam rumahnya, siang itu dia keluar dari sarangnya seraya berkata: “Saya mencium wangi Raja dari Pulau Jawa ada di sekitar sini semalam.”

11. Sikap Al-Habib Munzir Terhadap Pencacinya

Dulu saat ramai-ramainya berita tentang Ahmadiyyah muncul, al-Habib Munzir dicaci-maki oleh seseorang dengan sebutan Munzir Ghulam Ahmad!, dengan alasan al-Habib Munzir tidak mau ikut demo anti Ahmadiyah.
Al-Habib Munzir tetap senyum dan bersabar dalam menanggapinya, beliau memilih jalan damai dan membenahi ummat dengan kedamaian daripada kekerasan. Dan al-Habib Munzir sudah memaafkan si pencaci itu sebelum orang itu meminta maaf padanya. Bahkan al-Habib Munzir saat itu menginstruksikan agar jamaahnya jangan ada yang mengganggu si pencaci yang disebut-sebut sebagai Da’i itu.
Beberapa waktu kemudian, tepatnya saat Majelis Rasulullah Saw. digelar di masjid Almakmur Tebet, al-Habib Munzir malah duduk berdampingan dengan si pencaci itu. Al-Habib Munzir tetap ramah dan sesekali bercanda dengan Da’i yang pernah mencacinya sebagai murtad dan pengikut Ahmadiyah.


Alhasil masih sangat banyak kisah-kisah kemuliaan Guru Mulia al-Habib Munzir al-Musawa. Semoga dari yang secuil ini bisa dijadikan pelajaran dalam kehidupan kita, mampu kita teladani akhlak luhur beliau sebagaimana yang pernah dicontohkan juga oleh Kakek beliau Rasulullah Saw.

Semoga bermanfaat.


Sumber : http://sufipasrah.blogspot.co.id

Karomah Habib Ahmad bin Alwi Al-haddad (Habib Kuncung)

http://syarifalfarisi.blogspot.com


Karomah Habib Kuncung, mampu menembus ruang dan waktu

Ahad sore pekan lalu, Hasan bin Mumammad bin Adullah al-Haddad, 65 tahun, duduk di kursi menghadap pintu gerbang makam. Tempat biasa petugas dan pengurus menyapa peziarah makam Habib Ahmad bin Alwi al-Haddad atau lebih dikenal dengan sebutan Habib Kuncung. 

Di kursi itu, Hasan terus memperhatikan pengunjung lewat. Sekali-sekali ia membalas salam dan senyum dari peziarah. "Di sini kita tidak mewajibkan pengunjung mengisi buku tamu, tidak mau merepotkan pengunjung" kata Hasan.

Tata cara berziarah juga dibebaskan. Pihaknya membolehkan peziarah membawa hadrah hingga yang doanya terbilang cepat sekalipun. Dengan kelonggaran seperti itu, dia keberatan dipanggil juru kunci makam.

Istilah juru kunci, menurut dia, terlalu kaku. Juru kunci merujuk kepada orang yang tugasnya menjelaskan dan membimbing peziarah. Padahal, kata Hasan, aliran dalam Islam memiliki berbagai pandangan tentang ziarah kubur dan tata caranya. Dengan membebaskan peziarah, dia tidak ingin membuat sekat antar aliran. Siapa pun bebas mengunjungi pusara Habib Kuncung.

Tugas pengurus hanya memastikan pengunjung berpakaian sopan. Seperti perempuan tidak menggunakan kerudung atau laki-laki memakai celana pendek. Peziarah melanggar langsung dicegat, diberitahukan, dan dipinjami kerudung atau sarung. Hasan menegaskan pengunjung harus menghormati makam wali Allah seperti Habib Kuncung.

Hasan menuturkan Habib Kuncung adalah ulama memiliki sikap sulit ditebak. Ia mencontohkan Habib Kuncung diajak ke Pekalongan, namun dia menolak. Saat rombongan sampai di Pekalongan ternayata Habib Kuncung sudah lebih dulu tiba di sana."Hanya orang-orang tertentu bisa melihat karomah yang dimilikinya," ujar Hasan. Ia menambahkan Habib Kuncung terkenal suka membantu orang lain dengan kemunculan tiba-tiba.

Hasan mengaku tidak mengetahui managib (kisah hidup) Habib Kuncung. Setahu dia, ia dilahirkan di Hadramaut. "Di sini saja tidak ada yang kuat dan berani menulis kisah hidup Habib Kuncung," kata Hasan. Sebutan habib Kuncung diberikan karena kebiasaanya menggunakan kopiah lancip menjulang. Dalam istilah Betawi disebut kuncung.

Setelah menyelesaikan pendidikannya, ia melakukan perjalanan spiritual seperti halnya ulama-ulama penyebar Islam. Dari riwayat yang ada, Habib Kuncung berdakwah pertama kali di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Setelah itu, ia ke Pulau Jawa hingga akhirnya menetap di Kalibata hingga wafat. Hasan memperkirakan Habib Kuncung meninggal pada 1926.

Hasan mengungkapkan tiap penutupan pengajian sepekan seblum Ramadan kmpleks pusara Habib Kuncung selalu diguyur hujan. Ia percaya Habib Kuncung memiliki banyak cara menguji pezaiarah. "Kalau tidak kuat akan lari saat hujan turun, tapi tidak sedikit juga mampu bertahan," ujarnya.

"Semoga bermanfaat untuk kita semua khususnya bagi para pembaca blog ini"


Sumber : https://www.facebook.com/KumpulanKaromahSyaikhAbdulQodirJailaniRa/

Wednesday, July 27, 2016

Dilarang Mengambil Yang Bukan Milik Kita

http://syarifalfarisi.blogspot.com

Dikisahkan bahwa salah seorang sahabat Rasulullah s.a.w dari kaum anshor yang bernama Abu dujanah.. Kebiasaannya adalah senantiasa sholat fajar persis dibelakang Rasulullah s.a.w ( yang menjadi imam ) namun suatu ketika ia terburu-buru keluar masjid setelah selesai sholat.

Hingga akhirnya pada suatu hari, Rasulullah s.a.w mencegahnya dan berkata padanya : 


" Wahai Abu dujanah, bukankah kau memiliki hajat kepada Allah ? "

kemudian berkata Abu dujanah r.a : " Wahai Rasulullah .. dialah tuhanku dan tidak berpaling darinya walaupun sekejap mata "

kemudian Rasulullah s.a.w berkata : " lantas, mengapa kau tidak menunggu disini selepas sholat dan berdoa kepada Allah apa yang kamu mau.. ( dan tidak langsung pergi )? "

kemudian Abu dujanah menjawab : " sesungguhnya saya memiliki seorang tetangga dari kaum yahudi, dan dia memiliki pohon kurma yang salah satu batangnya menjulang hingga masuk ke loteng rumah saya, dan apabila angin bersemilir pada malam hari buah kurma yang ada di sana berjatuhan masuk ke dalam rumahku, maka dari pada itu saya segera keluar ke rumah selepas sholat untuk mengumpulkan kurma yang berjatuhan tadi.. dan saya kembalikan kepada pemiliknya sebelum anak-anak saya terbangun dan memakannya.. karena mereka sedang kelaparan, dan saya bersumpah padamu wahai rasulullah , bahwa suatu ketika saya pernah melihat anak saya mengunyah salah satu kurma dan seketika saya memasukkan jari jemari saya ke kerongkongannya sebelum dia telan, dan ketika dia menangis karena kelaparan, saya berkata kepadanya :
"apakah kamu tidak malu .. bila kelak saya berhadapan dengan Allah dengan keadaan saya adalah seorang pencuri ?? "

Maka renungkanlah.. bagaimana seorang muslim tersebut berusaha agar tidak masuk ke perut anak-anaknya sesuatu yang haram... karena pengetahuannya akan apa yang akan terjadi kepada anaknya tersebut dari sisi negatif dan hal tersebut menyebabkan kerasnya hati mereka.

Semoga yang kita dapat dan kita makan Rezeki yang halal dan berkah untuk kita istri anak keluarga dan orang yang membutuhkan
Aamiin

“Ya Allah, limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW sang cahaya-Mu yang selalu bersinar dan pemberian-Mu yang tak kunjung putus, dan kumpulkanlah aku dengan Rasulullah SAW di setiap zaman, serta shalawat untuk keluarganya dan sahabatnya, wahai Sang Cahaya.”

آمين
...


Sumber : http://ahlulbaitrasulullah.blogspot.com

Tuesday, July 26, 2016

Kisah Ahmad Bin Miskin

http://syarifalfarisi.blogspot.com

Beberapa pakar sejarah Islam meriwayatkan sebuah kisah menarik. Kisah Ahmad bin Miskin, seorang ulama abad ke-3 Hijriah dari kota Basrah, Irak.


Menuturkan lembaran episode hidupnya, Ahmad bin Miskin bercerita:

Aku pernah diuji dengan kemiskinan pada tahun 219 Hijriyah. Saat itu, aku sama sekali tidak memiliki apapun, sementara aku harus menafkahi seorang istri dan seorang anak. Lilitan hebat rasa lapar terbiasa mengiringi hari-hari kami. Maka aku berazam untuk menjual rumah dan pindah ke tempat lain. Akupun berjalan-jalan mencari orang yang bersedia membeli rumahku. Bertemulah aku dengan sahabatku Abu Nashr dan kuceritakan kondisiku. Lantas, dia malah memberiku 2 lembar roti isi manisan dan berkata: 
"berikan makanan ini kepada keluargamu."
Di tengah perjalanan pulang, aku berpapasan dengan seorang wanita fakir bersama anaknya. Tatapannya jatuh di kedua lembar rotiku. Dengan memelas dia memohon:
"Tuanku, anak yatim ini belum makan, tak kuasa terlalu lama menahan siksa lapar. Tolong beri dia sesuatu yang bisa dia makan. Semoga Allah merahmati Tuan."
Sementara itu, si anak menatapku polos dengan tatapan yang takkan kulupakan sepanjang hayat. Tatapan matanya menghanyutkan akalku dalam khayalan ukhrowi, seolah-olah surga turun ke bumi, menawarkan dirinya kepada siapapun yang ingin meminangnya, dengan mahar mengenyangkan anak yatim miskin dan ibunya ini.
Tanpa ragu sedetikpun, kuserahkan semua yang ada ditanganku. "Ambillah, beri dia makan", kataku pada si ibu.
Demi Allah, padahal waktu itu tak sepeserpun dinar atau dirham kumiliki. Sementara di rumah, keluargaku sangat membutuhkan makanan itu. Spontan, si ibu tak kuasa membendung air mata dan si kecilpun tersenyum indah bak purnama.
Kutinggalkan mereka berdua dan kulanjutkan langkah gontaiku, sementara beban hidup terus bergelayutan dipikiranku. Sejenak, kusandarkan tubuh ini di sebuah dinding, sambil terus memikirkan rencanaku menjual rumah. 
Dalam posisi seperti itu, tiba tiba Abu Nashr terbang kegirangan  mendatangiku.
"Hei, Abu Muhammad! Kenapa kau duduk duduk di sini sementara limpahan harta sedang memenuhi rumahmu?", tanyanya.
"Subhanallah....!", jawabku kaget. "Dari mana datangnya?"
"Tadi ada pria datang dari Khurasan. Dia bertanya tanya tentang ayahmu atau siapapun yang punya hubungan kerabat dengannya. Dia membawa berduyun-duyun angkutan barang penuh berisi harta", ujarnya.
"Terus?", tanyaku keheranan.
"Dia itu dahulu saudagar kaya di Bashroh ini. Kawan ayahmu. Dulu ayahmu pernah menitipkan kepadanya harta yang telah ia kumpulkan selama 30 tahun. Lantas dia rugi besar dan bangkrut. Semua hartanya musnah, termasuk harta ayahmu.
Lalu dia lari meninggalkan kota ini menuju Khurasan. Di sana, kondisi ekonominya berangsur-angsur membaik. Bisnisnya melajit sukses. Kesulitan hidupnya perlahan lahan pergi, berganti dengan limpahan kekayaan.  


BACA JUGA :
Lantas dia kembali ke kota ini, ingin meminta maaf dan memohon keikhlasan ayahmu atau keluarganya atas kesalahannya yang lalu. Maka sekarang, dia datang membawa seluruh harta hasil keuntungan niaganya yang telah dia kumpulkan selama 30 tahun berbisnis. Dia ingin berikan semuanya kepadamu, berharap ayahmu dan keluarganya berkenan memaafkannya." 
 
Mengisahkan awal episode baru hidupnya, Ahmad bin Miskin berujar :
"Kalimat puji dan syukur kepada-Nya berdesakan meluncur dari lisanku. Sebagai bentuk syukurku, segera kucari wanita faqir dan anaknya tadi. Aku menyantuni dan menanggung biaya hidup mereka seumur hidup. 
Aku pun terjun di dunia bisnis seraya menyibukkan diri dengan kegiatan sosial, sedekah, santunan dan berbagai bentuk amal salih. Adapun hartaku, dia terus bertambah ruah tanpa berkurang. 
Tanpa sadar, aku merasa takjub dengan amal salihku. Aku merasa, telah mengukir lembaran catatan malaikat dengan hiasan amal kebaikan. Ada semacam harapan pasti dalam diri, bahwa namaku mungkin telah tertulis di sisi Allah dalam daftar orang orang shalih.

Suatu malam, aku tidur dan bermimpi.  Aku lihat, diriku tengah berhadapan dengan hari kiamat. Aku juga lihat, manusia bagaikan ombak, bertumpuk dan berbenturan satu sama lain. Aku juga lihat, badan mereka membesar. Dosa-dosa pada hari itu berwujud dan berupa, dan setiap orang memanggul dosa-dosa itu masing-masing di punggungnya.
Bahkan aku melihat, ada seorang pendosa yang memanggul di punggungnya beban besar seukuran KOTA (kota tempat tinggal), isinya hanyalah dosa-dosa dan hal hal yang menghinakan.  

Kemudian, timbangan amal pun ditegakkan, dan tiba giliranku untuk perhitungan amal. 
Seluruh amal burukku ditaruh di salah satu daun timbangan, sedangkan amal baikku di daun timbangan yang lain. Ternyata, amal burukku jauh lebih berat daripada amal baikku.
Tapi ternyata, perhitungan belum selesai. Mereka mulai menaruh satu persatu berbagai jenis amal baik yang pernah kulakukan.

Namun alangkah ruginya, ternyata dibalik semua amal itu terdapat NAFSU TERSEMBUNYI. Nafsu tersembunyi itu adalah riya, ingin dipuji, merasa bangga dengan amal shalih. Semua itu membuat amalku tak berharga. Lebih buruk lagi, ternyata tidak ada satupun amalku yang lepas dari nafsu-nafsu itu.

Aku putus asa. Aku yakin aku akan binasa. Aku tidak punya alasan lagi untuk selamat dari siksa neraka. Tiba-tiba, aku mendengar suara, "masihkah orang ini punya amal baik?"

"Masih", jawab seseorang. 

"Masih tersisa ini."

Aku pun penasaran, amal baik apa gerangan yang masih tersisa?
Aku berusaha melihatnya. Ternyata, itu HANYALAH  dua lembar roti isi manisan yang pernah kusedekahkan kepada wanita fakir dan anaknya.

Habis sudah harapanku.

Sekarang aku benar-benar yakin akan binasa sejadi jadinya. Bagaimana mungkin dua lembar roti  ini menyelamatkanku, sedangkan dulu aku pernah bersedekah 100 dinar sekali sedekah (100 dinar = +/- 425 gram emas), dan itu tidak berguna sedikit pun. Aku merasa benar benar tertipu habis habisan.

Segera 2 lembar roti itu ditaruh di timbanganku. Tak kusangka, ternyata timbangan kebaikanku bergerak turun sedikit demi sedikit, dan terus bergerak turun sampai sampai lebih berat sedikit dibandingkan timbangan kejelekan.

Tak sampai disitu, tenyata masih ada lagi amal baikku. Yaitu berupa air mata wanita faqir itu yang mengalir saat aku berikan sedekah. Air mata tak terbendung yang mengalir kala terenyuh akan kebaikanku. Aku, yang kala itu lebih mementingkan dia dan anaknya dibanding keluargaku.

Sungguh tak terbayang, saat air mata itu ditaruh, ternyata timbangan baikku semakin turun dan terus turun. Hingga akhirnya aku mendengar seseorang berkata, "Orang ini telah selamat."
 
SELESAI.

"Adakah terselip di dalam hati kita nafsu ingin dilihat hebat oleh orang lain pada ibadah-ibadah kita?"
"Semoga bermanfa'at dan semoga bisa menjadi pelajaran untuk diri kita masing-masing dalam mengarungi dunia yang fana ini"


Sumber : http://ahlulbaitrasulullah.blogspot.com