Tentara Jepang Tidak Melihat Adanya Mobil
Sekitar dua minggu setelah kelahiran putra pertama, sang bayi mungil yang diberi nama Ahmad Qusyairi, Abdul Ghani berkeinginan memboyong kembali keluarganya dari desa Tunggul Irang Seberang ke kampung asalnya yaitu Keraton. Keraton yang telah ditinggalkan berbulan-bulan, menyiratkan kerinduan Abdul Ghani terhadap kampung kelahirannya ini. Kampung yang sesungguhnya sangat damai dan tenang, namun kedatangan tentara kolonial Dai Nippon atau tentara Jepanglah yang membuat Abdul Ghani sekeluarga harus meninggalkan Keraton dan mengungsi dirumah Abdullah, famili istrinya Masliyah.
Malam itu terasa amat mencekam, informasi yang Sampai ketelinga keluarga Abdul Ghani menyatakan bahwa di kota Martapura malam itu tentara Jepang menjaga ketat seluruh ruas jalan. Lebih dari itu mereka juga memberlakukan jam malam, dan mengultimatum warga agar jangan keluar rumah dan berjalan di malam hari. Siapapun yang mencoba untuk berjalan dijalan umum akan di tembak ditempat, kata ultimatum itu lebih lanjut.
Namun tekad dan niat yang bulat dari Abdul Ghani, seakan membuyarkan semua itu. Apalagi untuk menuju Kampung keraton, ia sekeluarga menggunakan mobil butut atau mobil jamban milik seseorang, yang dikemudikan oleh Habib Hasan, seorang Sayyid yang masih tinggal di desa Tunggul Irang itu. Meski masih diliputi rasa khawatir dan was was, namun diiringi sebuah do’a dan permohonan kepada Allah SWT, Abdul Ghani sekeluarga meninggalkan kampung Tunggul Irang.
Sampai di kota Martapura, nampak barikade dan penjagaan tentara Jepang, memang terlihat sangat kuat. Disana sini nampak dijaga ketat. Tentara bermata sipit itu kelihatan sangat siaga memantau keadaan, sehingga segala akses jalan seakan tidak bisa ditembus. Dijalan tidak seorang pun penduduk Martapura yang berani melanggar ultimatum tentara Dai Nippon. Karena siapapun tahu, bahwa tentara Jepang tidak main-main.
Sementara itu, mobil yang ditumpangi keluarga Abdul Ghani pun terus meluncur, tanpa memperdulikan penjagaan ketat itu. Semua memasang wajah tegang dan ada rasa khawatir, jika sampai mobil ini distop mereka. Namun keajaiban terjadi, barisan tentara Jepang itu sama sekali tidak perduli dengan mobil yang lewat, bahkan seakan akan tidak melihat ada mobil yang lewat. Brikade tentara bermata sipit itupun bisa dilewati tanpa insiden. Dan Abdul Ghani pun bisa bernafas lega hingga sampai ketempat tinggalnya di Kampung Keraton.
Di Didik Secara Rohani Oleh Para Ulama Besar
Sebagai anak yang dididik dengan didikan agama yang ketat, akhlak yang mulia, hati yang begitu bersih, jiwa yang penuh dengan Tauhid dan Ma’rifat kepada Allah, maka tidak aneh jika Zaini Muda disayangi bukan saja oleh orang tua dan keluarganya, guru gurunya, bahkan juga para Aulia baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Diusia beliau yang sangat muda beberapa ulama besar yang sudah diakui sebagai Waliyullah datang untuk mendidik Zaini muda secara rohani seperti Syekh Ali Junaidi Berau bin Qadhi H. Muhammad Amin bin Mufti H. Jamaluddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Syekh Ali Junaidi Berau ini adalah guru pertama bagi Zaini muda secara rohani.
Banyak petunjuk petunjuk Syekh Ali Junaidi yang membawa Zaini muda menjadi ulama besar diantaranya memerintahkan agar Zaini muda mengamalkan zikir sebanyak 24 ribu kali sehari, beliau juga memberikan petunjuk agar mengaji masalah Nur Muhammad kepada Syekh Muhammad bin Syekh Salman Al Farisi Gadung Rantau, dan beberapa hal lain, Zaini muda seringkali mendapat petunjuk beliau. Selain Syekh Junaidi Berau, Zaini muda juga dididik secara rohani oleh Syekh Abdurrahman Siddiq bin Muhammad Afif (Datu Landak), dan beberapa Aulia hingga Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.
Menumpang Safinatul Auliya
Di suatu malam Jum'at yang penuh berkah Guru Zaini sewaktu mudanya melihat dalam mimpinya yang luar biasa sebuah kapal besar yang bertuliskan ”Safinatul Auliya” yang berarti Bahtera Para Auliya. Beliau lalu mendekati kapal itu dan berusaha untuk masuk kedalamnya. Namun ternyata penjaga kapal itu melarang beliau untuk masuk kekapal, setelah itu beliau terbangun. Di malam Jum’at selanjutnya, Guru Zaini juga bermimpi persis seperti mimpinya yang pertama itu. Dan dimalam Jum’at selanjutnya lagi beliau bermimpi seperti mimpi beliau sebelumnya, namun kali ini beliau diizinkan untuk masuk ke kapal "Safinatul Aulia” tersebut.
Di dalam kapal itu ternyata beliau telah disambut oleh seseorang yang dikemudian hari menjadi salah satu Murabbi Mursyidnya. Ketika Guru Zaini melihat suasana dikapal, ternyata masih banyak kursi yang kosong. Dan mereka yang ada dikapal itu sebagian adalah orang yang sudah dikenal dan sebagian lagi tidak di kenal.
Bioskop Yang Listriknya Padam, Besoknya Runtuh
Suatu sore Zaini muda duduk sendirian, tiba-tiba datang temannya yang masih familinya itu. Temannya itu mengajak untuk jalan-jalan ke pasar. Zaini tidak keberatan, asal tidak terlalu lama. Akhirnya mereka berdua berjalan menyusuri sepanjang pasar. Dan tanpa sadar mereka sudah berada didepan sebuah bioskop. Temannya itu mencoba mengajak Zaini untuk masuk kedalam bioskop. Dengan berbagai alasan, Zaini menolak halus ajakan itu. Namun sang teman tetap memaksa masuk, sambil menarik tangan Zaini. Dengan hati berat Zaini menuruti keinginan temannya itu. Akhirnya, apa yang terjadi? Tanpa diduga sebelumnya, seketika seluruh aliran listrik dibioskop itu mati total, dan pemutaran film pun berhenti. Bukan sekedar itu, keesokan harinya terbetik sebuah kabar bahwa bioskop itu runtuh. Sebuah tempat yang dimasuki oleh kekasih Allah, akan berubah menjadi baik dan hilang kebatilan dari tempat itu.
Peringatan Haulnya Dihadiri Jutaan Jamaah
Tanpa bermaksud mengecilkan Peringatan Haul para Habaib, para Ulama dan Kiai lainnya diberbagai tempat, belum sepuluh tahun kewafatannya, Haul Al Allamah Syekh Muhammad Zaini Ghani atau Guru Sekumpul telah dihadiri jutaan jamaah. Ini sangat berbeda dengan peringatan haul dibeberapa tempat,yang semula jamaah yang hadir sedikit, kemudian semakin tahun semakin bertambah hingga ribuan orang. Tetapi peringatan Haul di Sekumpul, sejak tahun pertama sudah diikuti ratusan ribu jamaah. Dengan kenyataan ini, menunjukkan bahwa peringatan Haul di Sekumpul Martapura adalah ”aruh ganal nang paling ganal” atau peringatan Haul yang ' paling besar yang pernah kita temui. Dan menariknya jamaah maupun tokoh yang datang itupun tanpa undangan. Artinya kedatangan mereka murni keinginan mereka, karena mereka merasa memiliki terhadap figur yang amat mereka cintai dan kagumi.
Dari realita dilapangan, para jamaah peringatan Haul Sekumpul ini memang datang dari berbagai tempat, baik Kalimantan Selatan, Tengah, Timur, dan Barat,Jawa dan Sumatera. Bahkan ada yang datang dari negara tetangga Malaysia, Brunei dan Singapura. Melihat realita tersebut pihak panitia Haul Sekumpul, pada peringatan Haul Ke 10 tahun 1436 H tadi menyiapkan hampir setengah juta nasi kotak. ltu belum termasuk sumbangsih masyarakat sekitar Sekumpul yang dengan sukarela menyiapkan ratusan bahkan ribuan nasi kotak pada setiap rumah mereka.
Akses jalan dan transportasipun diatur oleh panitia Haul dengan cukup cermat, mengingat kemacetan yang cukup parah pada beberapa kali haul sebelumnya, hingga puluhan kilometer. Pada beberapa tahun terakhir, telah diatur, bagi jamaah yang datang dari luar daerah diminta untuk sudah berada dilokasi beberapa hari sebelum hari H, atau minimal sehari sebelumnya. Dengan demikian pada hari H, transportasi lebih mudah dikendalikan, untuk mengantisipasi kemungkinan kemacetan. Demikian pula pantauan dari sisi akomodasi, hotel, penginapan dan sejenisnya yang ada di Martapura dan sekitarnya sudah penuh dipesan jauh-jauh hari beberapa bulan sebelum hari puncak haul.
Meski acara di peringatan Haul Sekumpul sebenarnya sangat sederhana, dimulai dengan shalat Maghrib berjamaah, kemudian Wirid, pengajian ayat suci Al Qur'an, Maulid, pembacaan Yasin, Tahlil dan do’a. Namun demikian, acara ini terasa sangat khidmat dan khusyu. Inilah keberkahan yang nampak dari kemuliaan seorang Wali Besar Maulana Syekh Muhammad Zaini Abdul Ghani.
sumber : 100 Karomah dan Kemuliaan Abah Guru Sekumpul oleh KH.M.Anshary El Kariem,Darul Muhibbin.
Setidaknya ada 3 wanita yang paling dekat dalam kehidupan pribadi seorang lelaki, mereka adalah ibu, istri dan anak wanitanya. Dan dari ketiga subyek tersebut, ibu dan istri adalah yang paling sering menimbulkan topik headline dalam sebuah kehidupan berkeluarga.
- Bagaimana sikap kita, sebagai lelaki dalam memperlakukan keduanya menurut syariat yang benar dimataNYA?
Berikut ada curhatan inspiratif dari seorang istri ke ibu mertuanya. Dan memang begitulah sikap dan perilaku seharusnya yang harus dijaga.
Curhat Inspiratif :
Aku Milik Suamiku Dan Suamiku Milik Ibunya
Seburuk apapun mertua, aku selalu ingat bahwa dia, adalah wanita yang mengandung suamiku dalam kepayahan selama 9 bulan. Dia adalah wanita yang air susunya menjadi makanan pertama bagi suamiku. Dia ialah wanita yang mendidik dan membesarkan suamiku, yang mengajarkan kepada suamiku akhlaq sehingga aku nyaman di sisi suamiku saat ini.
Aku, tidak pernah keluar uang sepeserpun untuk nyekolahin suamiku, hingga ia dapat ijazah, yang sekarang ijazah itu ia gunakan untuk mencari nafkah, untuk menafkahi aku. Aku, tidak sedikitpun mendidik suamiku hingga kini ia jadi pria yang penuh tanggung jawab, dan aku merasakan bahagia menjadi istrinya.
Setelah pengorbanannya yang bertubi tubi, anak laki-lakinya menikah denganku, dia bagi kasih sayang anaknya denganku. Cemburu...?? Pasti dia cemburu. Aku wanita asing, yang kini selalu disayang-sayang oleh anak laki lakinya.
Harta anak laki lakinya tercurah untuk kunikmati, padahal ia yang melahirkan, membesarkan dan mendidik. Aku memahami cemburu itu, walau aku pun merasakan cemburu ketika suamiku lebih memihak mertuaku. Aku bukan malaikat yang tidak pernah jengkel dengan mertuaku, dan mertuaku pun bukan malaikat yang selalu kubela.
Adakalanya aku marah, cemburu dan sakit hati. Namun aku ingat semua jasanya pada suamiku, jasa yang sampai akhir hayatpun aku tidak akan mampu membayarnya. Pada ujung tangisku, terngiang nasehat ibundaku tercinta, "Nak, dukunglah suamimu untuk berbakti pada ibunya. Jangan suruh ia memilih antara kau dan ibunya. Karena, kelak kau akan merasakan bagaimana sakitnya diperlakukan seperti itu oleh anak laki lakimu. Apa yang kau lakukan pada mertuamu, akan dilakukan pula oleh menantumu. Segala sesuatu pasti ada timbal baliknya".
Dan tangisku makin deras.
Oh suamiku, bahagiakanlah orang tuamu semampumu. Semoga kelak anak-anak kita pun membahagiakan kita, sebagai balasan baktimu pada orang tuamu. Mumpung mereka masih hidup, belum tentu pula mereka masih bisa ngerepoti kita. Ridho Ilaahi karena ridhonya dan murka Ilaahi karena murkanya.....jangan kau patuh kepada yang lain sebelum kau bisa patuh pada ibumu......jangan menjadi anak durhaka.
Syurga istri ada di balik ridho suaminya dan syurga suamimu karena ridho ibunya.
Semoga bermanfaat
Sumber : Rektor ITS, Prof. Ir. Joni Hermana, M.Sc.ES.PhD
Andai kita mengetahui bahwa sebagian dari bacaan sholat itu adalah dialog antara RASULULLAH صلى الله عليه وسلم dengan ALLAH AZZA WAJALLA, tentu kita tidak akan terburu-buru melakukannya di dalam sholat, bahkan terkadang tanpa kita sadari kita telah mengucapkannya begitu saja tanpa perenungan apa-apa.
ALLAHU AKBAR ternyata bacaan sholat itu dapat membuat kita seperti berada di syurga. Pada malam itu, Jibril AS mengantarkan Rasulullah SAW naik ke Sidratul Muntaha. Namun karena Jibril AS tidak diperkenankan untuk mencapai Sidratul Muntaha, maka Jibril AS pun mengatakan kepada Rasulullah untuk melanjutkan perjalanan sendiri tanpa dirinya. Rasulullah pun melanjutkan perjalanan perlahan sambil terkagum-kagum melihat indahnya istana ALLAH SWT hingga tiba di 'Arsy. Setelah sekian lama menjadi seorang Rasul, inilah pertama kalinya Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم berhadapan dan berbincang langsung dengan ALLAH Azza wa Jalla. Bayangkanlah betapa indahnya moment ini, Masya Allah.
Percakapan antara Muhammad Rasulullah صلى الله عليه وسلم dengan Allah Subhanahu wata'ala :
1). Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun mendekat dan memberi salam penghormatan kepada ALLAH SWT:
ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH... (Semua ucapan penghormatan, pengagungan dan pujian hanyalah milik ALLAH).
2). Kemudian Allah SWT menjawab sapaannya : ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH. (Segala pemeliharaan dan pertolongan ALLAH untukmu wahai Nabi, begitu pula rahmat ALLAH dan segala karunia-Nya).
3). Mendapatkan jawaban ini, Rasulullah tidak merasa jumawa atau berbesar diri, justru beliau tidak lupa kepada umatnya (ini yang membuat kita sangat terharu).
Beliau menjawab dengan ucapan : ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN. (Semoga perlindungan dan pemeliharaan diberikan kepada kami dan semua hamba ALLAH yang sholih).
Bacalah percakapan mulia itu sekali lagi… itu adalah percakapan Sang Tuhan dan hamba-NYA, Sang Pencipta dan ciptaan-NYA. Lihat betapa Rasulullah صلى الله عليه وسلم mencintai kita umatnya, bahkan beliau tidak lupa kepada kita ketika Beliau di hadapan ALLAH SWT.
4). Melihat peristiwa ini, para malaikat yang menyaksikan dari luar Sidratul Muntaha terkagum betapa Maha Agungnya ALLAH SWT, betapa penyayangnya DIA dan betapa mulianya Rasul-Nya Muhammad صلى الله عليه وسلم.
Para malaikat pun mengucap dengan penuh keyakinan: "ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH.
(Kami bersaksi bahwa tiada Tuhan selain ALLAH dan kami bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul Allah).
Dan rangkaian percakapan ini diikuti dengan sholawat kepada Nabi sebagai sanjungan dan penghormatan umatnya kepada Beliau. Mudah-mudahan kisah ini bisa menambah khusyu' shalat kita dan menambah kecintaan kita kepada الله dan Rasulullah صلى الله عليه وسلم .
وَاللّهُ أعلَم بِالصَّوَاب
Sumber :
Kitab Qissotul Mi'roj
"pembuat karikatur Nabi SAW terperanjat dengan ucapan habib Ali"
"Dengan izin Allah Ta`ala Al Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman Al Jufri, Uni Emirat Arab, terpilih untuk bertemu dengan Kurt Westergaard seorang yang membuat karikatur Nabi Muhammad SAW yang nyeleneh dan menyebar ke pelbagai penjuru dunia, membuat ummat islam marah.
Kurt tampak gelisah,berbicarapun terlihat super hati-hati, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Habib Ali, tenang, khusu`, ramah, santun dan senantiasa tersenyum. Sama sekali tidak terlihat kemarahan di wajahnya.
Sampai-sampai Kurt terheran-heran, mengapa Habib Ali Al Jufri yang sosok perawakannya seperti manusia yang pernah ia gambar, Rasulullah SAW yang bersorban dan berjubah bersikap sedemikian rupa.
“Mengapa anda menerima saya? padahal saya ini dicari-cari orang-orang Islam sedunia untuk di bunuh. Mereka menganggap saya menghina Rasulullah SAW karena membuat gambarnya.
Tapi ketika saya bertemu anda. Anda tidak marah malah sebaliknya. Mengapa?”, Tanya Kurt.
Habib Ali dengan lembut menjawab, Mengapa saya harus marah kepada anda ?”
Apakah karena anda menggambar Rasulullah SAW dengan karikatur?”
Kalau anda menggambar seperti itu, saya menyadari bahwa anda tidak kenal dengan Rasulullah SAW. Anda tidak mengetahui figur Rasulullah SAW yang sebenarnya.
Jadi wajar saja anda berbuat seperti itu. Seandainya anda bertemu Rasulullah SAW, saya yakin beliaupun
tidak akan marah dengan apa yang anda gambarkan. Saya juga yakin, anda akan dikasihi dan di sayangi oleh beliau shalallahu alaihi wasallam.
Beliau (saw) itu mempunyai sifat kasih sayang kepada setiap umat manusia, kepada umatnya, bahkan kepada musuhnya, kepada siapa saja. Karena beliau saw diberi tugas oleh Allah sebagai rahmat didunia ini, dan menyampaikan agama islam, agama yang baik untuk semua orang.
Jika sudah mempelajari figur nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam secara obyektif, anda pasti akan mencintai beliau. Anda menggambarkan seperti itu karena anda tidak tahu siapa beliau.”
Kurt pun terperanjat dengan ucapan Habib Ali ini. Dia lantas memuji-muji Habib Ali dan merasa bangga karena telah bertemu dengannya.
Habib Ali Al-jufri dikenal sebagai da`i yang santun banyak dari para cendikiawan non muslim dari negara- negara Eropa sampai Amerika masuk agama Islam.
Habib Ali menghimbau kepada umat islam agar menyikapi para pencela Islam dengan santun, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam
Menurutnya sikap santun dan ramah serta penuh kasih itu akan membuka mata orang-orang non muslim bahkan berdampak positif bagi umat islam yang tinggal di negara-negara berpenduduk minoritas muslim..
semoga bermanfaat..
KISAH TITIP SALAMNYA KANJENG NABI MUHAMMAD SAW KEPADA KYAI KHOZIN BUDURAN-SIDOARJO
Salah seorang waliyullah yang terkenal keramat, Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan-Madura, suatu kali menunaikan ibadah haji. Beberapa saat ketika beliau singgah di Madinah hendak berziaroh kemakam Rasulullah saw di Ar-Roudhoh, beliau berjumpa dengan Nabi SAW. Ketika itu beliau terlihat mesra sekali bercengkrama dengan Nabi, hingga sebelum berpisah, Nabi mengatakan kepada Syaikhona Kholil Bangkalan bahwasannya kalau Syaikhona kembali ketanah air supaya menyampaikan salamnya Nabi kepada Khozin dari Buduran-Sidoarjo.
Begitulah, selepas kapal yang ditumpangi Kyai Kholil sandar di pelabuhan Kota Surabaya ( sekarang Tanjung Perak ), beliau tidak langsung menuju Bangkalan-Madura, akan tetapi langsung menuju Buduran-Sidoarjo mencari orang yang bernama Khozin sebagaimana yang disarankan Nabi SAW kepadanya. Begitu sampai di Buduran, beliau menanyai beberapa orang yang dijumpainya, menanyakan rumah Khozin. Setiap jawaban yang beliau peroleh berfariasi, mulai Khozin tukang cukur rambut, tukang sepatu sampai profesi yang disebutkan, dan semuanya tidak cocok dengan sosok yang beliau bayangkan.
Hingga suatu saat kemudian dipagi hari beliau bertemu dengan bapak tua berpakaian kaos oblong, dengan memakai sarung yang agak dicincingnya sedang menyapu halaman sebuah rumah yang mirip sebuah pesantren dengan beberapa gothaan ( bilik-bilik bambu para santri ), Kyai Kholil lalu menghampiri bapak tersebut yang tengah sibuk dengan aktifitasnya tersebut. Setelah mengucapkan salam dan dijawab oleh bapak tersebut, beliau bertanya ;
" Pak, dimanakah rumah Khozin ?"
" Kalau nama Khozin, banyak disini ". Jawab orang tersebut.
" Tapi kalau Kyai hendak mencari Khozin yang dimaksud Rasulullah sewaktu sampean di Madinah, ya saya ini Khozin yang beliau maksud ". Lanjut bapak tersebut.
Syaikhona Kholil tersentak kaget setelah mendengar jawaban spontan tersebut. Serta merta beliau menjatuhkan koper perbekalan yang dibawanya dan mencium tangan bapak tersebut berulang kali.
Ya, itulah Kyai Khozin Khoiruddin pengasuh pondok Siwalan Panji Buduran sekaligus perintis tradisi khotaman Tafsir Jalalain, yang diera Kyai Ya'kub Hamdani terkenal sebagai pondoknya para wali. Hadrotussyaikh Kyai Hasyim Asy'ari adalah alumni ponpes ini, dimana beliau sempat diambil menantu oleh Kyai Ya'qub dengan mempersunting puterinya yang bernama Khodijah, dari perkawinan beliau lahir seorang putra bernama Abdulloh. Tapi sayang keduanya ( Nyai Khodijah dan Abdulloh putranya ) wafat di Makkah pada tahun 1930, dipondok ini gothaan kyai Hasyim ketika masih nyantri sampai sekarang diabadikan, dan diantara alumni yang lain adalah seperti Mbah Hamid Abdulloh Pasuruan, Kyai As'ad Syamsul Arifin Situbondo, Mbah Ud Pagerwojo, Mbah Jaelani Tulangan ( konon menurut penuturan cucunya kepada saya, disuatu musim kemarau waktu itu banyak para petani yang kehausan karena sumur disawah maupun rumah kering kerontang, ditengah kehausan itu tiba-tiba mereka melihat Mbah Jaelani melayang-layang diudara sambil membawa timba-timba berisi air beserta pikulannya ).
Ada juga wali kendil ( kakak beradik yang meninggal ketika masih menjadi santri) . Si adik ahli mutholaah kitab sedangkan si kakak ahli tirakat, hingga pada suatu hari kakaknya marah melihat adiknya menanak nasi karena tidak menghormati kakaknya yang sedang berpuasa. Ditendangnya kendil buat menanak nasi itu hingga pecah berantakan. Melihat itu si adik diam sambil mengambil serpihan-serpihan kendil yang pecah berantakan itu ditempelkannya lagi potongan serpihan itu dengan ludahnya hingga kembali utuh seperti sedia kala. Hingga ketika keduanya meninggal, makam adiknya tidak mau berjejer berdampingan dengan kakaknya, setiap hari makam adiknya bergeser maju bahkan konon sampai menembus pagar batas makam, dan pada akhirnya oleh Kyai Ya'kub makam santrinya itu diperingatkan agar cukup sampai disitu saja. Hingga sampai sekarang makam keduanya yang awalnya berjejer sudah tidak lagi seperti pertama kali dimakamkan, makam adiknya lebih maju kedepan melewati batas nisan kakaknya ),dan Kyai Kholil Bangkalan sendiri termasuk alumni Siwalan Panji.
Pondok Siwalan Panji ini berdiri sekitar tahun 1787 oleh Kyai Hamdani. Menurut Gus Rokhim ( alm ) pemangku pondok Khamdaniyah yang juga generasi ke tujuh dari Mbah Khamdani, ketika tanah siwalanpanji masih berupa tanah rawa, Mbah Hamdani meminta kepada Allah agar tanah rawah ini diangkat kepermukaan untuk dijadikan sebagai kawasan syiar Islam waktu itu.
“Ketika itu Mbah Hamdani meminta pertolongan kepada Allah, tidak berselang lama, tanah yang sebelumnya rawa, tiba-tiba terangkat dan menjadi daratan,”. Tidak hanya itu, pada awal awal pengerjaan pondok, kayu bangunan pondok yang didatangkan dari cepu melalui jalur laut tiba-tiba pecah dan terserak dan berpencar. Namun karena pertolongan Allah, kayu-kayu yang semula berpencar ini, bergerak sendiri melalui sungai menuju sungai di seberang kawasan pondok.
“Ada satu kayu yang tersangkut di kawasan Kediri, dan sekarang disebut menjadi kayu cagak Panji,” cerita Gus Rokhim.
Dijuluki pondoknya para wali karena setiap tahun alumni yang keluar beberapa diantaranya sudah mempunyai karomah-karomah luar biasa ketika masih menjadi santri.
Konon dari beberapa riwayat yang saya kumpulkan, dipondok Panji atau Siwalan Panji inilah kitab Tafsir Jalalain pertama kalinya dibaca secara klasikal pada tahun 1789 M. Sistem penddikan ala madrosah Diniyyah juga sudah ada pada waktu itu, hanya saja formatnya tidak seperti sekarang yang tersusun sistematis dan terencana.
Semenjak itu Syaikhona Kholil selalu mewanti wanti agar santri beliau yang boyong agar tabarrukan dulu di pondok Panji yang diasuh Kyai Khozin ketika itu, sebagai bentuk ketakdzhiman Syaikhona Kholil kepada Kyai Khozin.
Mungkin inilah salah satu alasan mengapa sampai sekarang pondok Panji, terutama pondok Al Khozini banyak dipenuhi santri dari Madura, sebagai bentuk ketakdzhiman mereka pada dawuh Syaikhona Kholil Bangkalan.
Wallohu a'lamu bis showab
————————
Danny Ma'shoum
Sidoarjo, Rabu 5 Agustus 2015.
Ada dua orang bersahabat,
yang satu bernama "Logika" dan yang satunya lagi bernama "Takdir".
Keduanya naik mobil, dalam sebuah perjalanan yang panjang…
Di tengah perjalan mobil mereka kehabisan bahan bakar dan mogok.
Keduanya berusaha melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sebelum datang waktu malam.
Keduanya berusaha menemukan tempat
beristirahat, setelah itu baru melanjutkan lagi perjalanan.
Si Logika memutuskan untuk tidur di bawah sebatang pohon..
Sedangkan si Takdir memilih tidur di tengah jalan.
Logika berkata kepada Takdir: Kamu gila! Kamu menjatuhkan dirimu kepada kematian. Boleh jadi ketika kamu tidur ada mobil yang lewat dan melindas tubuhmu.
Takdir menjawab: Saya tidak akan tidur kecuali di tengah jalan ini. Boleh jadi ada mobil yang datang lalu ia melihatku dan mengajakku bersamanya.
Akhirnya Logika betul-betul tidur di bawah pohon dan Takdir tidur di tengah jalan.
Tidak beberapa lama setelah keduanya tertidur, lewat sebuah mobil besar dalam kecepatan tinggi.
Tatkala ia melihat seseorang tidur di tengah jalan, ia berusaha berhenti dengan mendadak, tapi sayang ia tidak bisa.
Akhirnya ia membanting stir dan mobil itu berbelok ke arah pohon dan langsung menabrak Logika, dan selamatlah si Takdir.
- Inilah kenyataan hidup, Takdir memainkan peranannya di tengah-tengah manusia. Kadang-kadang sekalipun ia bertentangan dengan Logika.
- Maka boleh jadi terjadinya delay dalam penerbangan ada keselamatan di balik itu.
- Boleh jadi tertunda kita mendapatkan hak kita krn ada hak orang lain yang selama ini kita abaikan dan kita tidak memperdulikan.
- Boleh jadi kita terlambat menikah ada keberkahan di balik itu.
- Boleh jadi kita belum dikaruniai anak ada kebaikan di balik itu.
- Boleh jadi ditolaknya lamaran kerja kita ada hikmah besar di balik itu.
- Tertundanya pertolongan dan kemenangan pasti ada manfaat yang sangat besar di belakang itu.
- "Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal ia baik bagimu".
Yang dikagumi terkadang tidak mengerti.
Yang dicintai terkadang tidak merasa.
Yang dirindukan terkadang tidak tahu.
Yang dikasihi terkadang menyakitkan perasaan.
Yang diinginkan terkadang tidak sesuai dan sejalan.
Yang tidak disangka terkadang terjadi.
Yang kaya terkadang bisa jatuh miskin.
Yang dihina terkadang bisa jadi sangat sukses.
Takdir adalah suatu misteri, tapi jika engkau takut pada Allah dan mengikuti jalan-Nya,
YAKINLAH TAKDIRMU ITU INDAH, karena hanya DIA bisa mengubah...
Sayyidi Al Habib Ali Al Jufri :
Aku pernah berada di kota Aden, berada dalam satu majlis dengan seorang bekas penguasa / pemimpin yang sangat dzolim, dimana ketika berkuasa dia melakukan banyak kemungkaran dengan membantai atau membunuh banyak ulama ulama besar hadramaut, diantaranya, salah satu yg menjadi korbannya adalah guru mulia kami assyahid Al Habib al Imam Muhammad bin Salim Bin Hafidz, ayahanda dari guru kami Habib Umar Bin Hafidz.
Takdir telah membawaku untuk bertemu dengannya dan Ketika menatapnya (setelah aku diberitahu siapa dia) timbul perasaan tidak suka / tidak nyaman bahkan aku tidak mau berbicara dengannya, meskipun sekedar berdakwah sekalipun, aku tahu sikapku ini keliru dan salah, karena memanggil orang ke jalan Allah harus diutamakan, tak peduli siapa mereka atau apa yang pernah mereka lakukan.
Dan tiba tiba saja, orang dzolim itu menghampiriku dan berkata, "aku ingin bertobat! Apa yang harus kulakukan?".
Aku berusaha keras untuk menguasai diriku, agar bisa menjawab permintaannya dengan baik, aku berusaha tersenyum supaya ia tidak pergi menjauh dari kebenaran yang ia inginkan, segera setelah keluar dari majlis aku tetap merasa sangat terganggu dan tidak nyaman, maka aku menelepon guruku Sayyidil Habib Umar Bin Hafidz serta menceritakan dengan siapa aku telah bertemu, dan beliau hanya bertanya, "Apa maunya?", aku katakan keinginan orang itu untuk bertobat dan minta maaf, tapi aku tak mampu menuntunnya dengan baik karena hatiku sangat tak menyukai dengan apa yang telah ia lakukan dimasa lalu.
Habib Umar kemudian berkata, "Ali, penuhilah haq Allah atas mu, yaitu menuntun ia kepada Allah, tunjukkan kasih sayang dan perhatian atasnya dari dasar hatimu yang paling dalam ..
Dan untuk perasaanmu yang tidak suka berkumpul bersamanya atau ketidaknyamananmu itu alihkan kepada kebencian terhadap 'perbuatannya', bukan kepada individu atau orangnya, Rasulullah ﷺ tetap menerima keislaman Wahsyi (orang suruhan Hindun istri abu Sofyan) yang telah membunuh paman tercinta nabi, Sayyidina Hamzah (dengan cara menombaknya dari jauh kemudian memutilasinya), Nabi tetap memaafkan dan mengampuni Wahsyi meski beliau mengalami kesulitan menatap wahsyi dan berkata jangan biarkan aku melihatnya lagi (karena akan membuat beliau ﷺ teringat lagi keadaan paman beliau kala syahid)"..
Kata kata Habib Umar ini sungguh tak ternilai dan sangat amat berharga, karena beliau sedang berbicara tentang Manusia yang pernah melakukan kejahatan terbesar dalam hidup Habib Umar (membunuh Ayah beliau) dan memisahkannya dengan keluarga beliau!! Tetapi Habib Umar tetap teguh mengikuti Sunnah Baginda Rasulullah ﷺ..
Allahumma sholli alaa Sayyidina Muhammad wa alaa aali Sayyidina Muhammad
"Semoga kita bisa mengambil hikmah serta pelajaran dari adab dan akhlak beliau lewat kisah yang singkat di atas"