Saturday, March 12, 2016

Kisah Kisah Keajaiban Sholawat

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6350621372319428354#editor/target=post;postID=3697984888661881063;onPublishedMenu=posts;onClosedMenu=posts;postNum=0;src=link

سْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Shalawat Nabi SAW dipercaya telah menjadi syafaat, rahmat, berkah, dan obat yang orisinil untuk menyelamatkan kehidupan seseorang baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan kerap kali shalawat ini memutarbalikkan sebuah fakta inderawi. Berikut beberapa buah kisah yang bertutur tentang keajaiban shalawat.

1. SEORANG SUFI DAN PENJAHAT

Konon seorang sufi menceritakan pengalaman hidupnya tentang keajaiban dari shalawat Nabi SAW. Ia menuturkan bahwa ada seorang penjahat yang sangat melampaui batas yang kehidupannya hanya diisi dengan perbuatan-perbuatan maksiat.

Demikian tenggelamnya penjahat itu ke dalam lumpur kemaksiatan seperti kebiasaan mabuk-mabukan, ia tidak bisa lagi membedakan mana hari kemarin, hari ini, dan hari esok. Sang sufi lalu menasehati sang penjahat agar ia tidak mengulangi lagi kedurhakaannya, dan segera bertobat pada Allah SWT. Namun demikian, penjahat tetaplah penjahat, nasehat sang sufi tidaklah digubrisnya. Ia tetap bersikeras untuk melakukan perbuatan-perbuatan bejatnya sampai sang ajal datang menjemputnya.

Sang penjahat, menurut sufi, benar-benar yang bernasib tidak baik karena ia tidak sempat mengubah haluan hidupnya yang hina dan bahkan tidak sempat bertobat. Secara logis, sang sufi mengatakan bahwa si penjahat akan dijebloskan Allah SWT ke dalam azab neraka.

Namun apa yang terjadi?

Pada suatu malam, sang sufi bermimpi, ia melihat sang penjahat menempati posisi yang amat tinggi dan mulia dengan memakai pakaian surga yang hijau yang merupakan pakaian kemuliaan dan kebesaran.

Sang sufi pun terheran-heran dan bertanya pada sang penjahat, “Apakah gerangan yang menyebabkanmu mendapatkan martabat setinggi ini?”

Sang penjahat menjawab, “Wahai sang sufi, ketika aku hadir di suatu majelis yang sedang melakukan dzikir, aku mendengarkan orang yang alim yang ada disitu berkata,

“Barangsiapa yang bershalawat atas Nabi Muhammad SAW niscaya menjadi wajib baginya mendapatkan surga.”

Kemudian sang alim itu mengangkatkan suaranya demi membacakan shalawat atas Nabi SAW dan aku pun beserta orang-orang yang hadir disekitarnya mengangkat suara untuk melakukan hal yang sama. Maka, pada saat itulah, aku dan kami semua diampuni dan dirahmati oleh Allah SWT Yang Maha Pemurah terhadap nikmatNya.

2. SEORANG MUSAFIR DAN AYAHNYA

Dalam kisah lain, juga diriwayatkan tentang seorang musafir bersama ayahnya. Sang musafir mengisahkan bahwa di suatu ketika di suatu negeri, ayahnya meninggal dunia sehingga wajah dan sekujur tubuhnya menjadi hitam dan perutnya membusung.

Sang musafir lalu mengucapkan “La haula wala quwwata illa billahil aliyyil azhim (Tiada daya dan kekuatan kecuali Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung).

Ayah sang musafir tersebut mati dalam kedukaan, dan hal ini diumpamakan dengan kelakuan sang ayah ketika ia masih hidup. Pada saat itulah sang musafir merasakan beban teramat berat menimpanya karena mendapatkan ayahnya mati dalam kondisi seperti itu.

Tetapi, ketika ia terlelap tertidur, ia bermimpi bahwa seorang laki-laki yang sangat tampan dan tubuhnya dipenuhi bulu halus datang kepada ayahnya dan menyapu wajah dan tubuh ayahnya tersebut dengan tangannya sehingga jasad sang ayah menjadi putih kembali, bahkan lebih bagus daripada bentuknya semula dan berseri-seri dengan cahaya.

Melihat perlakuan baik lelaki ini terhadap ayahnya sang musafir takjub dan kemudian bertanya, “Siapakah Anda, yang telah menyampaikan karunia Ilahi atas ayahku?” Laki-laki itu menjawab,

“Aku adalah Rasulullah. Ayahmu termasuk diantara orang-orang yang memperbanyak bershalawat atasku. Maka, tatkala ia berhasil melakukannya aku pun datang untuk membersihkannya.”

Kemudian sang musafir merasa sangat berbahagia. Ia melihat pancaran dan cahaya keputihan itu ada pada ayahnya.

Dia mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT mengangungkan dan menanamkanNya didalam hatinya serta bershalawat kepada Nabi SAW.

3. UNTA MENJADI SAKSI BAGI ORANG YANG DIFITNAH .

Pada masa permulaan Islam, ada seorang muslim yang difitnah telah mencuri seekor unta. Pemfitnahnya mengajukan saksi-saksi palsu, yakni orang-orang munafik yang tidak segan untuk bersumpah palsu. Maka, orang yang seyogyanya tak bersalah itu diputus oleh hakim sebagai pencuri.

Menurut hukum Islam, seorang pencuri harus dihukum potong tangan.

Lalu, orang mukmin yang malang ini pun berdoa,

“Tuhanku, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Mereka telah memfitnahku. Aku tidak mencuri unta itu. Engkau Mahatahu, selamatkanlah aku dari kehinaan ini, karena aku telah bershalawat pada Nabi paling mulia. Engkau Mahakuasa, izinkanlah unta itu berbicara. Jadikanlah ia sebagai saksiku.”

Setelah berdoa demikian, dia mendesah keras, dan rahmat Allah SWT pun meliputi dirinya. Tak sulit bagi Sang Mahaperkasa dan Mahakuasa untuk membuat unta tersebut dapat berbicara dengan bahasa manusia. Hewan ini berkata,

“ Ya, Rasulullah, aku milik orang beriman ini. Orang-orang itu adalah saksi palsu dan si pemfitnah telah membuat tuduhan palsu terhadap orang mukmin sejati ini.”

Lantas unta tersebut mendekati pemiliknya dengan sikap tunduk dan duduk didepannya.

Syahdan, terkuaklah kebohongan saksi-saksi palsu ini, mereka tak dapat berkutik dengan kesaksian unta itu dan merasa malu.

Seiring dengan itu, tumbuhlah cahaya iman dalam hati orang-orang yang turut menyaksikan peristiwa menakjubkan ini.

Nabi Muhammad SAW bertanaya, “Wahai orang mukmin, bagaimana engkau dapat memperoleh keajaiban itu?”

Orang mukmin tadi menjawab, Ya Rasulullah, saya selalu bershalawat kepadamu sepuluh kali sebelum tidur.”

Nabi yang adil dan suci bersabda, “Karena shalawatmu kepadaku, Allah SWT bukan hanya menyelamatkanmu dari hukuman potong tangan di dunia ini, tetapi juga akan menyelamatkanmu dari siksa neraka di akhirat.

Barangsiapa bershalawat kepadaku sepuluh kali pada sore hari dan sepuluh kali pada pagi hari, Allah SWT akan membangkitkannya bersama para nabi kesayangan dan kepercayaanNya dan wali-wali yang patuh, dan Dia akan melimpahkan berkah kepadanya sebagaimana berkah kepada nabiNya.

4. SUFYAN ATS-TSAURI DAN KISAH ANAK SI TUKANG RIBA

Sufyan ats-Tsauri menuturkan, “ Aku pergi haji. Manakala Tawaf di Ka’bah, aku melihat seoerang pemuda yang tak berdoa apapun selain hanya bershalawat kepada Nabi SAW. Baik ketika di Ka’bah, di Padang Arafah, di mudzdalifah dan Mina, atau ketika tawaf di Baytullah, doanya hanyalah shalawat kepada Baginda Nabi SAW.”

Saat kesempatan yang tepat datang, aku berkata kepadanya dengan hati-hati, “Sahabatku, ada doa khusus untuk setiap tempat. Jikalau engkau tidak mengetahuinya, perkenankanlah aku mengajarimu.”

Namun, dia berkata, “Aku tahu semuanya. Izinkan aku menceritakan apa yang terjadi padaku agar engkau mengerti tindakanku yang aneh ini.”

“Aku berasal dari Khurasan. Ketika para jamaah haji mulai berangkat meninggalkan daerah kami, ayahku dan aku mengikuti mereka untuk menunaikan kewajiban agama kami. Naik turun gunung, lembah, dan gurun. Kami akhirnya memasuki kota Kufah. Disana ayahku jatuh sakit, dan pada tengah malam dia meninggal dunia.

Dan aku mengkafani jenazahnya. Agar tidak mengganggu jemaah lain, aku duduk menangis dalam batin dan memasrahkan segala urusan pada Allah SWT. Sejenak kemudian, aku merasa ingin sekali menatap wajah ayahku, yang meninggalkanku seorang diri di daerah asing itu. Akan tetapi, kala aku membuka kafan penutup wajahnya, aku melihat kepala ayahku berubah jadi kepala keledai.

Terhenyak oleh pemandangan ini, aku tak tahu apa yang mesti kulakukan. Aku tidak dapat menceritakan hal ini pada orang lain.

Sewaktu duduk merenung, aku seperti tertidur. Lalu, pintu tenda kami terbuka, dan tampaklah sesosok orang bercadar. Seraya membuka penutup wajahnya, dia berkata, “Alangkah tampak sedih engkau! Ada apakah gerangan?” Aku pun berkata, “Tuan, yang menimpaku memang bukan sukacita. Tapi, aku tak boleh meratap supaya orang lain tak bersedih.”

Lalu orang asing itu mendekati jenazah ayahku, membuka kain kafannya, dan mengusap wajahnya. Aku berdiri dan melihat wajah ayahku lebih berseri-seri ketimbang wajah tuanya.

Wajahnya bersinar seperti bulan purnama. Melihat keajaiban ini, aku mendekati orang itu dan bertanya, “Siapakah Anda, wahai kekasih kebaikan?”

Dia menjawab, “Aku Muhammad al Musthafa” (semoga Allah melimpahkan kemuliaan dan kedamaian kepada Rasul pilihanNya).

Mendengar perkataan ini, aku pun langsung berlutut di kakinya, menangis dan berkata, “Masya Allah, ada apa ini? Demi Allah, mohon engkau menjelaskannya ya Rasulullah.”

Kemudian dengan lembut beliau berkata, “ayahmu dulunya tukang riba. Baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Wajah mereka berubah menjadi wajah keledai, tetapi disini Allah Yang Maha agung mengubah lagi wajah ayahmu. Ayahmu dulu mempunyai sifat dan kebiasaan yang baik.

Setiap malam sebelum tidur, dia melafalkan shalawat seratus kali untukku. Saat diberitahu perihal nasib ayahmu, aku segera memohon izin Allah untuk memberinya syafaat karena shalawatnya kepadaku. Setelah diizinkan, aku datang dan menyelamatkan ayahmu dengan syafaatku.”

Sufyan menuturkan, “Anak muda itu berkata, “Sejak saat itulah aku bersumpah untuk tidak berdoa selain shalawat kepada Rasulullah, sebab aku tahu hanya shalawatlah yang dibutuhkan manusia di dunia dan di akhirat.”

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW telah bersabda bahwa, “Malaikat Jibril, Mikail, Israfil, dan Izrail Alaihumus Salam telah berkata kepadaku.

Jibril As. berkata, “Wahai Rasulullah, siapa yang membaca shalawat atasmu tiap-tiap hari sebanyak sepuluh kali, maka akan kubimbing tangannya dan akan ku bawa dia melintasi titian seperti kilat menyambar.”

Berkata pula Mikail As., “Mereka yang bershalawat atasmu akan aku beri mereka itu minum dari telagamu.”

Dan Israfil As. berkata pula, “Mereka yang bershalawat kepadamu, maka aku akan bersujud kepada Allah SWT dan aku tidak akan mengangkat kepalaku sehingga Allah SWT mengampuni orang itu.”

Kemudian Malaikat Izrail As. pun berkata, ”Bagi mereka yang bershalawat atasmu, akan aku cabut ruh mereka itu dengan selembut-lembutnya seperti aku mencabut ruh para nabi.”

Bagaimana kita tidak cinta kepada Rasulullah SAW? Sementara para malaikat memberikan jaminan masing-masing untuk orang-orang yang bershalawat atas Rasulullah SAW.

Dengan kisah yang dikemukakan ini, semoga kita tidak akan melepaskan peluang untuk selalu bershalawat kepada nabi kita yaitu Nabi Muhammad SAW.


"Semoga kita semua mendapatkan manfaat serta hikmah dari kisah diatas, dan semoga rasa cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW semakin bertambah, bertambah, dan bertambah"

Friday, March 11, 2016

sajak : Hidup

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6350621372319428354#editor/target=post;postID=7508106231716577962;onPublishedMenu=posts;onClosedMenu=posts;postNum=0;src=link


Hidup..


Dalam dunia ada hidup..
Dalam hidup ada cinta..
Dalam cinta ada harapan..
Dan jika sebuah kesetiaan-kesetiaan yang singgah maka Cinta akan hidup, Dan hidup akan penuh dengan Cinta..

Dalam penat, jiwa ini belajar gembira..
Dalam letih, hati ini belajar bahagia..
Dalam bodoh, raga ini belajar menerka, tanpa itu mata ini seakan buta, buta sebuta-butanya..

Tak selamanya hidup itu mudah..
Tak selamanya hidup itu susah..
Tinggal bagaimana dan seperti apa setiap diri menjadi QANA'AH..

Walau dunia terasa sesak..
Hingga kedua kakipun masih bisa berpijak..
Tak ada alasan sesaat untuk mengelak..

Diri ini hina dina..
Tiada daya dan tiada upaya..
Setiap saat berlumur dosa nan nista..
Tiada pelipur itu semua kecuali hanya kepada engkau Azza Wajalla..


                                                                                            -Syarif alfarisi-

Uang 1 Milyar Ryal Habis Hanya Dalam Beberapa Jam Saja

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6350621372319428354#editor/target=post;postID=70556229036100043;onPublishedMenu=posts;onClosedMenu=posts;postNum=1;src=link

 "HADIAH 1 MILYAR RYAL YANG DIBERIKAN KEPADA AL-QUTHB AL-HABIB ABDUL QADIR BIN AHMAD ASSEGAF - JEDDAH. HABIS HANYA DALAM BEBERAPA JAM SAJA"

Al Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurahman Al Jufri menceritakan pengalamannya yang tak akan pernah beliau lupakan bersama Al Habib Abdul Qadir bin Ahmad Asseqqaf.

"Di pagi itu...seorang Muhibbin yang datang ke rumah Habib Abdul Qadir dan menghadiahkan uang kepada beliau sebanyak 1 milyar ryal (mungkin sekitar 250 milyar rupiah), beliau menerima uang itu dan berterima kasih kepada si pemberi, tak lama kemudian beliau memanggilku lantas berkata :

"Ali...panggil supir kita ...kita akan keluar sekarang juga".

Beliau mengajakku keluar dan tak lupa membawa uang 1 milyar itu...sampai di suatu jalan beliau menyuruh supir berhenti...beliau memberiku sejumlah uang dan berkata :

"Ali...dirumah ini, dilantai 2 ada seorang janda dan anak-anaknya...berikan uang ini untuk mereka."

Sampai di jalan lain...beliau menyuruhku berhenti lagi, memberiku uang lalu berkata :

"Dirumah ini ada saudara kita yang tak mampu, berikan uang ini untuknya."

Begitu seterusnya..kami berkeliling Jeddah untuk membagi-bagikan uang itu untuk janda-janda, anak yatim, fakir miskin, hingga saat kami kembali kerumah beliau sebelum Ashar , uang satu Milyar itu tidak tersisa sepersenpun.

Yang sungguh mengagumkan dan membuat hati ini merasa seakan-akan dicambuk oleh akhlakul karimah (akhlak terpuji) beliau....

"Habib Abdul Qadir tidur tanpa makan, karena tak mempunyai sepersen uang pun untuk membeli makanan".

Subhanallah...

Yang ada dalam fikiran dan hati Al-Habib hanya ummat dan para fakir miskin, sedikitpun beliau tidak ada keinginan untuk menggunakan uang tersebut untuk pribadi beliau.

Sumber : { Habib Ali Zainal bin Abdurrahman Al Jufri }

Mulianya Akhlak Al-Habib Umar bin Hafidz

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6350621372319428354#editor/target=post;postID=9184850046795916759;onPublishedMenu=posts;onClosedMenu=posts;postNum=1;src=link

 KELUHURAN AKHLAK MULIA AL-HABIB UMAR BIN HAFIZ

Berikut ini ada sekelumit kisah menarik tentang keluhuran budi pekerti Alhabib Umar bin Hafidz yang dikisahkan langsung oleh Si Penulisnya. Berikut saya akan kutip kisahnya, semoga lantaran kisah ini semakin membuat kita akan rindu kehadiran beliau di bumi Indonesia pertiwi ditahun-tahun berikutnya.

Ini adalah pengalaman pribadi saya (Habib Ahmad bin Muhammad Alkaff) yang tak akan pernah terlupa tentang kemuliaan akhlak Alhabib Umar bin Hafidz. Waktu itu pertengahan april 1994 musim sejuk di kota Tarim-Hadramaut mulai menyapa kami yang memang kami belum terbiasa dengan dinginnya cuaca Tarim ketika musim dingin. Alhabib Umar pun telah menyiapkan untuk kami para pelajarnya dari Indonesia yang waktu itu sangatlah manja dengan sebuah selimut tebal yang mahal, masing-masing dari kami mendapatkan satu selimut.

Kisah pun bermula, seperti biasanya selepas Ashar kami dan Alhabib Umar menuju kota Tarim untuk menghadiri “rauhah” dan maulid di kota tersebut. Selepas acara kami pun kembali ke kediaman Alhabib Umar di kota Aidid. Biasanya kami pulang larut malam dan kerana pada waktu itu Alhabib Umar hanya memiliki 1 mobil maka kami pun selalu berebutan untuk menaiki mobil tersebut. Terkadang mobil Nissan patrol itu dimuat oleh 20 orang lebih sehingga penuh di dalam dan di atas mobil. Kami berebut karena memang jika kami tidak dapat tempat di mobil tersebut terpaksa kami akan pulang dengan berjalan kaki yang berjarak kurang lebihnya 5 km.

Saya dan dua teman saya pada waktu itu kurang beruntung. Walhasil, kami bertiga berjalan kaki untuk pulang ke rumah Alhabib Umar. Sesampainya di tempat Alhabib Umar, kami mendapati teman-teman kami yang lain telah mendapatkan selimut tebal yang baru saja dibagikan oleh Alhabib Umar. Kami pun bergegas menemui Alhabib Umar. Tetapi, lagi-lagi kami kurang beruntung karena selimutnya telah habis. Alhabib Umar mengatakan bahwa kedai penjual selimutnya kehabisan stok dan berjanji akan memenuhi kekurangannya besok pagi.

Kami pun minta izin pergi kepada beliau untuk tidur. Akan tetapi, sebelum kami pergi Alhabib Umar menyuruh kami untuk menunggu. Kami menunggu Alhabib Umar yang masuk ke dalam rumahnya. Beberapa saat kemudian Habib Umar pun keluar dengan membawa beberapa selimut tipis dan lusuh dan membagikannya kepada kami bertiga. Kami pun menerima selimut itu tanpa pikir panjang lalu kami pun pulang menuju asrama yang berada tepat di belakang rumah Alhabib Umar. Kami membagikan selimut tipis dan lusuh pemberian Alhabib Umar yang berjumlah 2 selimut besar dan 3 selimut kecil untuk kami bertiga.

Baru saja kami meluruskan badan untuk tidur terdengar tangisan bayi yang tak henti-hentinya yang kami yakin itu adalah tangisan anak Alhabib Umar yang masih bayi pada waktu itu. Kami pun sempat bertanya tanya dalam hati kenapa bayi itu menangis sepanjang malam. Sambil tetap berusaha untuk memejamkan mata. Menjelang Subuh suara tangisan bayi pun berhenti, mungkin karena kelelahan menangis sepanjang malam. Kami pun bergegas menuju ke masjid Aidid yang terletak persis di depan rumah Alhabib Umar sambil membawa kitab Nahwu yang akan kami pelajari setelah shoat Subuh di bawah bimbingan langsung Alhabib Umar.

Setelah selesai belajar Nahwu kami pun pulang ke asrama kami. Di pertengahan jalan kami bertemu dengan Habib Salim anak dari Alhabib Umar bin Hafidz yang waktu itu masih berusia 6 tahun. Kami coba menyapa dan bertanya, “Wahai Salim mengapa adik bayimu menangis tak henti-hentinya tadi malam? Apakah dia sakit?

Habib Salim pun menjawab, “Tidak, adikku tidak sakit.” Jawab Habib Salim.

“Lalu apa yang membuatnya menangis?” Tanya lagi kami.

Dengan keluguannya Salim pun menjawab, “Mungkin karena kedinginan, karena semalam kami sekeluarga tidur tanpa selimut?!”

Bagai tersambar petir kami terkejut mendengar ucapan tersebut. Kami pun berlari menuju asrama untuk mengambil selimut lusuh yang ternyata milik keluarga Alhabib Umar yang beliau berikan kepada kami, dan beliau sekeluarga rela tidur tanpa selimut didinginnya malam kota Tarim demi anak-anak muridnya. Kami kembalikan selimut tersebut kepada Alhabib Umar sambil membendung air mata dan tanpa tahu harus berkata apa. Dengan senyum dan seolah-olah tak terjadi apa-apa, Alhabib Umar menerima selimut dari kami dan menggantikan selimut tersebut dengan yang baru, yang juga baru saja dikirim oleh pemilik toko. Kami pun kembali ke asrama tanpa dapat membendung lagi air mata kami yang melihat kemuliaan yang beliau berikan kepada kami.

Sambil berkata di dalam hati, “Ya Allah ternyata di abad ini masih ada orang yang berhati begitu mulia seperti beliau. Terimakasih Ya Allah yang telah mempertemukan aku dengan manusia mulia dikehidupanku ini.”


Sumber : Habib Ahmad bin Muhammad Alkaff

Wednesday, March 9, 2016

"Abda" Si Unta milik Rasulullah SAW Yang Bisa Bicara

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6350621372319428354#editor/target=post;postID=6752582766815963457;onPublishedMenu=posts;onClosedMenu=posts;postNum=2;src=link

"Abda" unta Rasulullah SAW, Penyampai Salam Fatimah Kepada Ayah Tercinta, Rasulullah saw. Setelah Rasulullah SAW memperoleh kehormatan di alam ukhrawi, Fatimah tidak mau makan dan minum, dan ia melupakan segala canda-ria dan kebahagiaan. Fatimah sepanjang siang dan malam menangis mengenang ayah tercinta yang telah wafat.

Ia mengisi waktu dengan air mata dan menarik nafas panjang seolah ada sesuatu yang menekan perasaannya dan tidak ada satu pun yang mampu menghapus kesedihannya. Sesaat ia menyelesaikan pekerjaan rumah dan merawat suaminya Ali Karamallahu Wajhah dan putra-putra mereka, Hasan dan Husein, ia kembali meneteskan air mata dan bergumam,

" Duhai ayah tercintaku, mengapa engkau meninggalkan Fatimahmu?"

Enam bulan berlalu dalam situasi seperti ini, Fatimah menjadi semangkin kurus, sampai-sampai tidak ada sesuatupun yang tersisa kecuali kulit dan tulang yang menyelimuti tubuhnya

Suatu malam kala kesedihan itu menjadi-jadi, dalam tangisan sedu, ia mendengar suara dari luar memanggil-manggil,

"Duhai putri tercinta Rasulullah, duhai putri tercinta Rasulullah,!" 

Ia mengintip keluar, ia mengetahui bahwa yang didengarnya adalah suara 'Abda', nama unta Rasulullah SAW yang telah kabur dari Madinah setelah beliau wafat.

Kepergian Nabi membuat 'Abda'-sang unta seperti kebingungan, ia kabur ke pegunungan dan padang pasir. Beberapa hari kemudian ia datang lagi ke Madinah dan berdiri di pintu gerbang Masjid Nabi, memandangi ruang tempat shalat Rasulullah SAW, tetapi ia tidak menemukan Rasul. Ia meringkik dan mengeluarkan suara yang dalam mengusap-ngusapkan mukanya ke tanah dan meneteskan air mata dan kemudian berlari lagi ke padang pasir yang sunyi. Kini unta itu telah tiba di depan pintu rumah Fatimah ra. dan berbicara dengan bahasa yang fasih,

"Hai putri Rasulullah! Mudah-mudahan Allah berkenan memberikan kedamaian kepada Anda. Ayah anda pergi meninggalkan dunia ini, aku dilarang makan dan minum. Dambaku terhadap Rasulullah semangkin tinggi. Aku telah menetapkan untuk dalam waktu singkat pergi menuju alam lain, menuju sisi Rasulullah. Apakah anda memerintahkan sesuatu kepadaku?" 

Fatimah menangis tersedu, ia rangkul leher unta, mencium kedua matanya seraya berkata,

"Hai 'Abda', Ucapkan salam kepada ayahku." Fatimah-cahaya Rasulullah, tidak mampu lagi menanggung keterpisahan ini. 

Lalau terisak Fatimah melanjutkan,

"Aku meminta engkau memberi tahu ayahku agar berkenan membawa diriku disisi beliau." 

Sang unta menjawab,

Baiklah, hamba akan mengingat dan melaksanakannya,"

Abda mencium kaki putri kekasih Allah itu dan meninggalkannya dan kembali menuju masjid Nabi saw. Ia memandang ruang tempat Rasulullah sholat. Tatkala ia bersuara dan menyandarkan kepalanya di bebatuan besar. Kemudian Fatimah melihat Rasulullah di dalam mimpi,

"Ya Fatimah, cahaya kedua mataku, aku ingin berjumpa denganmu, aku merindukanmu. Esok hari engkau akan datang kepadaku." 

Pada pagi hari, ia berdiri dengan hati berbunga di hadapan hadirat Allah SWT untuk shalat, lalu membasuh dan menyisir Imam Hasan dan Imam Husein (yang dikemudian hari menjadi Martir), dan memberi mereka busana baru yang mereka kenakan. Ia membersihkan rumah Imam Ali Sang Terpilih.

Ketika Imam Ali tiba di rumah, ia terpesona melihat istrinya sangat gembira. Imam Ali bertanya alasan kebahagiaannya, tapi Fatimah tidak menjawab. Fatimah lalu menyiapkan hidangan, lalu mereka makan pagi bersama. 

"Ya Fatimah, kata Ali Sang Terpilih, berbicaralah kepadaku, demi Allah, aku tidak pernah melihatmu demikian bahagia semenjak kepergian Rasulullah SAW, ada apakah gerangan?"

Fatimah menjawab,

"Duhai pemabawa Air Kautsar dan Pemegang Khaibar. Duhai suamiku, kita akan berjumpa lagi di hari Kebangkitan. Aku bermimpi tentang sebuah lawatan indah. Malam kemarin aku melihat ayahku tercinta. Beliau memanggilku agar aku berada di sampingnya, dan hari ini aku meminta izin kepadamu. Aku meminta izin kepadamu untuk membebaskan aku dari kewajiban-kewajibanku dan aku menyerahkan diriku kepada Allah dan selanjutnya kepadamu tentang pengasuhan anak kita Hasan dan Husein. Rawatlah mereka dengan baik. Perlakukan mereka dengan cinta kasih yang sabar dan keramahan. Jangan beritahu mereka bahwa aku tidak lama lagi berada di dunia ini. Ya Ali, Aku menjadi anak yatim dua kali, kehilangan ibuku dan kemudian ayahku tercinta. Ingatlah aku dan lakukanlah sholat untukku setiap kali engkau melihat anak yatim yang kesepian di dunia ini."

Mendengar ucapan ini dari istrinya tercinta, Imam Ali tidak mampu menahan air matanya. Ia menangis, 

"Duhai cahaya mata Rasulullah, jangan mengeluhkan tentang diriku kepada ayahmu. Aku masih jauh dari mencukupi untuk memperlakukanmu sebagaimana yang pantas engkau terima. Aku fakir dan tidak mampu membahagiakamu. Jangan menyatakan hal tersebut untuk mengeluhkan tentang diriku."

Kemudian Imam Ali Karamallahu Wajha  merangkulnya dengan lembut dan mereka meneteskan airmata. Hasan dan Husein pun turut larut dalam tangisan.


"Subhanallah..semoga kita bisa dipertemukan denga mereka nanti Disana, Dan Allah jadikan untuk mereka istana syurga yang megah,,insya allah kita bisa mengambil hikmahnya"

Tuesday, March 8, 2016

Akibat Sang Ibu Tidak Ridho, Ibadahpun Bukan Jaminan


https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6350621372319428354#editor/target=post;postID=341212143885919308

Tersebutlah seorang ahli ibadah pada masa Nabi Muhammad SAW. Hari-hari digunakan untuk berdzikir dan mengerjakan sholat tahajjud. Ia pun senang bersedekah dan mengerjakan kebaikan-kebaikan. Orang-orang memanggilnya Alqomah. Ia tinggal di sebuah rumah bersama istri yang dicintainya. Sementara ibu Alqomah yang sudah tua tinggal sendiri di desa.

SUATU ketika Alqomah jatuh sakit. Makin lama sakitnya makin para. Hingga ia pun tidak bisa berbuat apa-apa melainkan hanya berbaring di atas tempat tidur. Istrinya yang merasa bahwa Alqomah sedang mengalami naza’ atau sakaratulmaut mengutus seseorang untuk melaporkan keadaan ini kepada Rasulullah SAW. Setelah mendengar cerita itu, Rasullullah mengutus tiga orang sahabat yaitu Bilal, Amar dan Suhaib untuk menengok Alqomah. Beliau berpesan agar mereka mengajarkan kalimat talqin pada Alqomah.

Sesampainya di rumah Alqomah, ketiganya langsung menemui Alqomah yang sedang mengalami sakaratulmaut. Mereka lalu menuntunnya agar melafazkan kalimat Laa ilaaha illallah. Tetapi apa yang terjadi? Mulut Alqomah tidak terbuka sedikitpun. Berkali-kali ketiga pemudah itu mengajarkan, berkali-kali pula mulut Alqomah seperti terkunci. Ketiganya heran. Padahal Alqomah adalah orang yang ahli ibadah, tapi kenapa tidak bisa membaca kalimat sesederhana itu. Dengan menyimpan rasa tidak percaya ketiganya pulang menghadap Rasulullah. Mereka langsung menceritakan kejadian itu. Rasullulah bertanya.

"Apakah orang tua Alqomah masih hidup?"

"Wahai Rasulullah… Alqomah mempunyai seorang ibu yang tua."

"Kalau begitu pergilah kalian menemui Ibunda Alqomah. Jika ia masih kuat untuk berjalan, mintalah ia agar datang kemari. Tapi jika tidak, biar aku saja yang kesana."

Maka pergilah Bilal, Amar dan Suhaib ke rumah Ibunda Alqomah. Sesampainya disana mereka langsung mengutarakan maksud kedatangan mereka. Tanpa berpikir panjang Ibunda Alqomah bergegas memenuhi panggilan Rasulullah walaupun berjalan tertatih-tatih menggunakan tongkat.

Sesampainya di rumah Rasulullah, Ibunda Alqomah diberitahu mengenai keadaan anaknya. Namun ia nampak biasa saja mendengar berita itu seolah tidak mau tahu tentang apa yang sedang dialami oleh Alqomah. Hal ini membuat Rasulullah ingin mengetahui apa sebenarnya yang terjadi antara ibu dan anak tersebut.

"Wahai Ibunda Alqomah…, Aku ingin bertanya kepadamu dan jawablah pertanyaanku dengan jujur. Bagaimana pendapat Ibu terhadap putra Ibu yang bernama Alqomah?"

Ibunda Alqomah diam sejenak, lalu berkata, "Alqomah adalah seorang anak laki-laki yang ahli sholat, ahli puasa dan ahli shodaqoh... Akan tetapi....”

Ibu Alqomah tidak meneruskan kalimatnya. Matanya berkaca-kaca seolah memendam suatu beban perasaan yang sangat berat.

“Akan tetapi apa Ibu…?” tanya Rasulullah.

“Aku sangat marah kepadanya…”

Ibu Alqomah tidak dapat membendung air matanya. Ia menangis terisak-isak dihadapan Rasulullah.

“Apa masalahnya Ibu...?”

“Semenjak Alqomah menikah dengan perempuan yang dicintainya, ia mulai melupakan aku... bahkan meremehkan aku. Ia lebih mendahulukan kepentingan istrinya daripada aku. Ia lebih mendengar kata-kata istrinya daripada nasehatku. Padahal akukan ibunya… aku sangat sakit hati, karena Alqomah tidak pernah sedikitpun menyadari kesalahannya lalu minta maaf kepadaku… Yaaahh... sampai sekarang aku tidak ridho kepadanya…”

Rasulullah telah menemukan jawaban atas keadaan yang dialami Alqomah. Kemarahan ibunyalah yang menyebabkan Alqomah mengalami beratnya sakaratulmaut, karena lisannya tidak mampu melafadzkan kalimat “Laa ilaaha illalloh…”

“Wahai Bilal…” panggil Rasulullah.

“Cari dan kumpulkan kayu bakar yang banyak!”

Ibunda Alqomah merasakan sesuatu yang janggal dari ucapan Rasulullah. “Untuk apakah kayu bakar itu, wahai Rasulullah… Apa yang akan kau perbuat terhadap Alqomah?”

“Membakarnya...” jawab Rasulullah singkat.

“Apa?! Wahai Rasulullah… Betapapun marahnya aku kepada Alqomah, mana mungkin aku sampai hati kalau ia dibakar api. Mohon jangan lakukan itu...”

“Tahukah Ibu… Adzab Allah lebih mengerikan dan lebih kekal. Kalau memang Ibu ingin Allah mengampuni dosa Alqomah, maka Ibu harus mau memaafkan semua kesalahan Alqomah terhadap Ibu lalu Ibu meridhoinya… Sebab semua ibadah yang telah dikerjakan Alqomah, seperti, sholat, berpuasa dan bersedekah, semua itu tidak ada artinya bagi Alqomah selama Ibu masih memendam amarah terhadapnya..”

Walau bagaimanapun, orang tua tetaplah orang tua yang tidak mungkin tega melihat anaknya menderita. Ibunda Alqomah pun tidak rela kalau anaknya mendapat adzab dari Allah.

“Baiklah wahai Rasulullah, aku bersaksi kepada Allah dan para malaikatNya. Aku juga bersaksi dihadapan orang-orang iman yang hadir di sini bahwa sekarang juga aku memaafkan semua kesalahan yang pernah dilakukan oleh Alqomah terhadapku… Dan aku meridhoinya…”

“Bilal…!”

“Ya, Rasulullah…”

“Pergilah ke rumah Alqomah. Lihatlah, apakah ia sudah bisa mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallah… Aku khawatir jangan-jangan pernyataan Ibunda Alqomah tadi tidak berasal dari dalam hatinya melainkan hanyalah sungkan kepadaku”

Berangkatlah Bilal menuju rumah Alqomah. Begitu sampai di depan rumah ia menjumpai telah banyak orang-orang berdatangan. Tiba-tiba Bilal mendengar suara Alqomah dengan fasih dan jelas melafadzkan kalimat Laa ilaaha illallah…

Sampai didalam rumah Bilal menjumpai Alqomah telah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Lalu Bilal berkata, “Wahai orang-orang yang hadir di sini. Ketahuilah bahwa amarah ibunya telah menghalang-halangi Alqomah untuk membaca kalimat talkin. Dan sekarang berkat ridho ibunya ia bisa mengucapkan kalimat itu…”

Tak lama kemudian Rasulullah beserta beberapa sahabatnya datang berta’ziyah. Mereka lalu memandikan, mengkafani dan mensholati jenazah Alqomah. Kemudian diantar beriringan oleh Rasulullah dan para sahabat menuju tempat pemakaman.

Pemakaman Alqomah pun selesai dilaksanakan. Sementara para pengantar masih berada di tempat pemakaman, Rasulullah bersabda, “Wahai orang-orang beriman, muhajir dan anshor…… Siapa saja yang mengutamakan kepentingan istrinya hingga melalaikan ibunya, maka ia akan mendapatkan laknat Allah, laknat para Malaikat dan laknat semua para manusia. Allah tidak menerima amal ibadahnya, baik yang wajib maupun yang sunnah, kecuali jika ia bertaubat dan berbuat baik serta mencari ridho ibunya. Sebab ridho Alloh beserta ridhonya ibu dan murka Alloh beserta murkanya ibu”.



"Semoga kita semua bisa mengambil hikmahnya dari kisah nyata di atas, dan bisa lebih menghormati dan menyayangi kedua orang tua kita khususnya IBU kita"

Sekilas Ali Bin Abi Thalib R.A


https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6350621372319428354#editor/target=post;postID=1520073847671946703

Imam Ali bin Abi Thalib adalah khalifah rasyid yang keempat setelah  Utsman bin Affan. Beliau adalah sepupu dari nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan setelah menikah dengan Fatimah az-Zahra, ia menjadi menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ali bin Abi Thalib adalah salah seorang pemeluk Islam pertama.
Nasabnya
Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhar bin Kinanah. Rasulullah memberinya kun-yah Abu Turab. Ia adalah sepupu sekaligus menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibunya bernama Fathimah binti Asad bin Hasyim bin Qushay bin Kilab. Ali memiliki beberapa orang saudara laki-laki yang lebih tua darinya, mereka adalah: Thalib, Aqil, dan Ja’far. Dan dua orang saudara perempuan; Ummu Hani’ dan Jumanah.

Ayahnya, Abu Thalib yang nama aslinya adalah Abdu Manaf. Abu Thalib adalah paman kandung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat menyayangi Nabi, namun ia wafat dalam agama jahiliyah.

Kelahiran
Ali dilahirkan di Mekkah, daerah Hejaz, Jazirah Arab, pada tanggal 13 Rajab. Menurut sejarawan, Ali dilahirkan 10 tahun sebelum dimulainya kenabian nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sekitar tahun 599 Masehi atau 600(perkiraan). Usia Ali terhadap nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam masih diperselisihkan hingga kini, sebagian riwayat menyebut berbeda 25 tahun, ada yang berbeda 27 tahun, ada yang 30 tahun bahkan 32 tahun.

Beliau bernama asli Haydar bin Abu Thalib. Haydar yang berarti Singa adalah harapan keluarga Abu Thalib untuk mempunyai penerus yang dapat menjadi tokoh pemberani dan disegani di antara kalangan Quraisy Mekkah. Setelah mengetahui sepupu yang baru lahir diberi nama Haydar, Nabi SAW memanggil dengan Ali yang berartiTinggi(derajat di sisi Allah).

Ali dilahirkan dari ibu yang bernama Fatimah binti Asad, dimana Asad merupakan anak dari Hasyim, sehingga menjadikan Ali, merupakan keturunan Hasyim dari sisi bapak dan ibu. Bersama istri beliau Khadijah, nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengasuh Ali sejak kecil dan menjadikannya putra angkat.

Masa Remaja
Ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, riwayat-riwayat lama seperti Ibnu Ishaq menjelaskan Ali adalah lelaki pertama yang mempercayai wahyu tersebut atau orang ke 2 yang percaya setelah Khadijah istri Nabi sendiri. Pada titik ini Ali berusia sekitar 10 tahun.

Pada usia remaja setelah wahyu turun, Ali banyak belajar langsung dari Nabi SAW karena sebagai anak asuh, berkesempatan selalu dekat dengan Nabi hal ini berkelanjutan hingga beliau menjadi menantu Nabi.

Didikan langsung dari Nabi kepada Ali dalam semua aspek ilmu Islam baik aspek zhahir (exterior) atau syariah dan bathin (interior) atau tasawuf menggembleng Ali menjadi seorang pemuda yang sangat cerdas, berani dan bijak.

Kehidupan di Mekkah sampai Hijrah ke Madinah
Ali bersedia tidur di kamar Nabi untuk mengelabui orang-orang Quraisy yang akan menggagalkan hijrah Nabi. Beliau tidur menampakkan kesan Nabi yang tidur sehingga masuk waktu menjelang pagi mereka mengetahui Ali yang tidur, sudah tertinggal satu malam perjalanan oleh Nabi yang telah meloloskan diri ke Madinah bersama Abu Bakar.

Pernikahan
Setelah masa hijrah dan tinggal di Madinah, Ali dinikahkan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan putri kesayangannya Fatimah az-Zahra.

Pertempuran yang diikuti pada masa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
Hampir semua peperangan beliau ikuti kecuali perang Tabuk karena mewakili nabi Muhammad untuk menjaga kotaMadinah.

Perang Badar - Beberapa saat setelah menikah, pecahlah perang Badar, perang pertama dalam sejarah Islam. Di sini Ali betul-betul menjadi pahlawan disamping Hamzah, paman Nabi. Banyaknya Quraisy Mekkah yang tewas di tangan Ali masih dalam perselisihan, tapi semua sepakat beliau menjadi bintang lapangan dalam usia yang masih sangat muda sekitar 25 tahun.
Perang Khandaq - Perang Khandaq juga menjadi saksi nyata keberanian Ali bin Abi Thalib ketika memerangi Amar bin Abdi Wud.
Perang Khaibar - Setelah Perjanjian Hudaibiyah yang memuat perjanjian perdamaian antara kaum Muslimin dengan Yahudi, dikemudian hari Yahudi mengkhianati perjanjian tersebut sehingga pecah perang melawan Yahudi yang bertahan di Benteng Khaibar yang sangat kokoh, biasa disebut dengan perang Khaibar. Di saat para sahabat tidak mampu membuka benteng Khaibar, Nabi saw bersabda: "Besok, akan aku serahkan bendera kepada seseorang yang tidak akan melarikan diri, dia akan menyerang berulang-ulang dan Allah akan mengaruniakan kemenangan baginya. Allah dan Rasul-Nya mencintainya dan dia mencintai Allah dan Rasul-Nya". Maka, seluruh sahabat pun berangan-angan untuk mendapatkan kemuliaan tersebut. Namun, temyata Ali bin Abi Thalib yang mendapat kehormatan itu serta mampu menghancurkan benteng Khaibar.
Setelah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat
Sampai disini hampir semua pihak sepakat tentang riwayat Ali bin Abi Thalib, perbedaan pendapat mulai tampak ketika Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Syi'ah berpendapat sudah ada wasiat (berdasar riwayat Ghadir Khum) bahwa Ali harus menjadi Khalifah bila Nabi SAW wafat. Tetapi Sunni tidak sependapat, sehingga pada saat Ali dan Fatimah masih berada dalam suasana duka orang-orang Quraisy bersepakat untuk membaiat Abu Bakar.

Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah yang pertama tentu tidak disetujui keluarga Nabi, Ahlul Bait dan pengikutnya. Beberapa riwayat berbeda pendapat waktu pem-bai'at-an Ali bin Abi Thalib terhadap Abu Bakar sebagai Khalifah pengganti Rasulullah. Ada yang meriwayatkan setelah Nabi dimakamkan, ada yang beberapa hari setelah itu, riwayat yang terbanyak adalah Ali mem-bai'at Abu Bakar setelah Fatimah meninggal, yaitu enam bulan setelah meninggalnya Rasulullah demi mencegah perpecahan dalam ummat. Ada yang menyatakan bahwa Ali belum pantas untuk menyandang jabatan Khalifah karena umurnya yang masih muda, ada pula yang menyatakan bahwa kekhalifahan dan kenabian sebaiknya tidak berada di tangan Bani Hasyim.

Sebagai khalifah
Peristiwa pembunuhan terhadap Khalifah Utsman bin Affan (khalifah ketiga) mengakibatkan kegentingan di seluruh dunia Islam yang waktu itu sudah membentang sampai ke Persia dan Afrika Utara. Pemberontak yang waktu itu menguasai Madinah tidak mempunyai pilihan lain selain Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, waktu itu Ali berusaha menolak, tetapi Zubair bin Awwam dan Talhah bin Ubaidillah memaksa beliau, sehingga akhirnya Ali menerima bai'at mereka. Menjadikan Ali satu-satunya Khalifah yang dibai'at secara massal, karena khalifah sebelumnya dipilih melalui cara yang berbeda-beda.

Sebagai Khalifah ke-4 yang memerintah selama sekitar 5 tahun. Masa pemerintahannya mewarisi kekacauan yang terjadi saat masa pemerintah Khalifah sebelumnya, Utsman bin Affan. Untuk pertama kalinya perang saudara antara umat Muslim terjadi saat masa pemerintahannya, Pertempuran Basra. 20.000 pasukan pimpinan Ali melawan 30.000 pasukan pimpinan Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah, dan Ummul mu'minin Aisyah binti Abu Bakar, Istri Rasulullah. Perang tersebut dimenangkan oleh pihak Ali.

Peristiwa pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan yang menurut berbagai kalangan waktu itu kurang dapat diselesaikan karena fitnah yang sudah terlanjur meluas dan sudah diisyaratkan (akan terjadi) oleh Nabi Muhammad SAW ketika beliau masih hidup, dan diperparah oleh hasutan-hasutan para pembangkang yang ada sejak zaman Utsman bin Affan, menyebabkan perpecahan di kalangan kaum muslim sehingga menyebabkan perang tersebut. Tidak hanya selesai di situ, konflik berkepanjangan terjadi hingga akhir pemerintahannya. Pertempuran Shiffin yang melemahkan kekhalifannya juga berawal dari masalah tersebut.

Wafat
Ali bin Abi Thalib, seseorang yang memiliki kecakapan dalam bidang militer dan strategi perang, mengalami kesulitan dalam administrasi negara karena kekacauan luar biasa yang ditinggalkan pemerintahan sebelumya. Ia meninggal di usia 63 tahun karena pembunuhan oleh Abdrrahman bin Muljam, seseorang yang berasal dari golongan Khawarij(pembangkang) saat mengimami salat subuh di masjid Kufah, pada tanggal 19 Ramadhan, dan Ali menghembuskan napas terakhirnya pada tanggal 21 Ramadhan tahun 40 Hijriyah. Ali dikuburkan secara rahasia di Najaf, bahkan ada beberapa riwayat yang menyatakan bahwa ia dikubur di tempat lain.


Keturunan
Ali memiliki delapan istri setelah meninggalnya Fatimah az-Zahra dan memiliki keseluruhan 36 orang anak. Dua anak laki-lakinya yang terkenal, lahir dari anak Nabi Muhammad, Fatimah, adalah Hasan dan Husain.

Keturunan Ali melalui Fatimah dikenal dengan Syarif atau Sayyid, yang merupakan gelar kehormatan dalam Bahasa Arab, Syarif berarti bangsawan dan Sayyed berarti tuan. Sebagai keturunan langsung dari Muhammad, mereka dihormati oleh Sunni dan Syi'ah.

Menurut riwayat, Ali bin Abi Thalib memiliki 36 orang anak yang terdiri dari 18 anak laki-laki dan 18 anak perempuan. Sampai saat ini keturunan itu masih tersebar, dan dikenal dengan Alawiyin atau Alawiyah. Sampai saat ini keturunan Ali bin Abi Thalib kerap digelari Sayyid.


"Semoga artikel tentang sahabat Nabi SAW yang singkat ini bisa menjadi sebuah pelajaran"