Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi Sulaiman as memohon kepada
Allah, "Ya Allah, Engkau telah menundukkan bagiku manusia, jin, binatang
buas, burung-burung dan para malaikat. Ya Allah, aku ingin menangkap
Iblis dan memenjarakan, merantai, serta mengikatnya, sehingga manusia
tidak berbuat dosa dan maksiat lagi."
Allah Swt kemudian
mewahyukan kepada Nabi Sulaiman as, "Wahai Sulaiman, tidak ada
kebaikan(nya) jika Iblis ditangkap."
Nabi Sulaiman as tetap memohon,
"Ya, Allah, keberadaan makhluk terkutuk itu tidak memiliki kebaikan di
dalamnya."
Allah Swt berfirman, "Jika Iblis tidak ada, maka banyak pekerjaan manusia yang akan ditinggalkan."
Nabi Sulaiman As berkata, "Ya Allah, aku ingin menangkap makhluk terkutuk ini selama beberapa hari saja."
Allah Swt ber-firman, "Bismillah, tangkaplah Iblis!"
Kemudian Nabi Sulaiman as menangkap Iblis itu. Beliau merantai dan memenjarakannya.
Dalam
pada itu, Nabi Sulaiman as juga merajut tas. Beliau makan dari hasil
jerih payahnya sendiri. Suatu hari, Beliau membuat tas untuk dijual ke
pasar. Dari hasil penjualan tas, beliau hendak membeli gandum sekadarnya
untuk membuat roti. Padahal dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa
setiap hari di dapur (istana) Nabi Sulaiman dimasak 4000 unta, 5000
sapi, dan 6000 kambing. Meski demikian, Nabi Sulaiman as membuat tas dan
menjualnya ke pasar untuk mencari makan.
Keesokan harinya, Nabi
Sulaiman as mengutus anak buahnya untuk menjual tasnya ke pasar. Mereka
melihat pasar itu tutup dan tak ada yang berdagang sama sekali. Mereka
kembali dan mengabarkan kepada Nabi Sulaiman as.
Nabi Sulaiman as bertanya, "Apa yang telah terjadi?" Mereka menjawab, "Kami tidak tahu."
Ya,
tas Nabi Sulaiman as tidak bisa dijual malam itu. Nabi Sulaiman as
hanya minum segelas air. Hari berikutnya, anak buah Nabi Sulaiman as
kembali menjual tas itu ke pasar. Mereka kembali membawa berita bahwa
pasar tetap tutup dan semua orang pergi ke pekuburan sibuk menangis dan
meratap. Semua orang siap-siap melakukan perjalanan ke alam akhirat.
Nabi Sulaiman as bertanya kepada Allah, "Ya, Allah, apa sebenarnya yang
telah terjadi? Mengapa orang-orang tidak bekerja mencari makan?"
Allah
Swt mewahyukan kepada Nabi Sulaiman as, "Wahai Sulaiman, engkau telah
menangkap Iblis itu, sehingga akibatnya manusia tidak bergairah bekerja
mencari nafkah. Bukankah sebelumnya telah kukatakan padamu bahwa
menangkap Iblis itu tidak mendatangkan kebaikan?"
Mendengar itu,
Nabi Sulaiman as segera membebaskan Iblis. Esok harinya, orang-orang
bergegas ke pasar dan membuka toko mereka masing-masing. Mereka pun
sibuk bekerja dan mencari nafkah. Jadi, jika tidak ada Iblis, pekerjaan
manusia akan kacau balau.
Dipetik dari Buku ” Kisah-Kisah Allah ” Karya Ahmad Mir Khalaf Zadeh & Qasim Mir Khalaf Zadeh.
7 (tujuh) MACAM PERSAHABATAN,
Tapi Hanya 1 Tersisa Sampai Di Akhirat .
1. “Ta’aruffan” , adalah persahabatan yang terjalin karena pernah berkenalan secara kebetulan, seperti pernah bertemu di kereta api, halte, rumah sakit, kantor pos, ATM, bioskop dan lainnya.
2. “Taariiihan”, adalah persahabatan yang terjalin karena faktor sejarah, misalnya teman sekampung, satu almamater, pernah kost bersama, diklat bersama dan sebagainya.
3. “Ahammiyyatan”, adalah persahabatan yang terjalin karena faktor kepentingan tertentu, seperti bisnis, politik, boleh jadi juga karena ada maunya dan sebagainya.
4. “Faarihan”, adalah persahabatan yang terjalin karena faktor hobbi, seperti teman futsal, badminton, tenis, berburu, memancing, dan sebagainya.
5. “Amalan”, adalah persahabatan yang terjalin karena satu profesi, misalnya sama-sama dokter, guru, dan sebagainya.
6. “Aduwwan”, adalah seolah sahabat tetapi musuh, di depan seolah baik tetapi sebenarnya hatinya penuh benci, menunggu, mengincar kejatuhan sahabatnya, “Bila engkau memperoleh nikmat, ia benci, bila engkau tertimpa musibah, ia senang” (QS 3:120).
Rasulullah mengajarkan doa, “Allahumma ya Allah selamatkanlah hamba dari sahabat yang bila melihat kebaikanku ia sembunyikan, tetapi bila melihat keburukanku ia sebarkan.”
7. “Hubban Iimaanan”, adalah sebuah ikatan persahabatan yang lahir batin, tulus saling cinta & sayang karena ALLAH, saling menolong, menasehati, menutupi aib sahabatnya, memberi hadiah, bahkan diam-diam dipenghujung malam, ia doakan sahabatnya.
Boleh jadi ia tidak bertemu tetapi ia cinta sahabatnya karena Allah Ta’ala.
"Dari ke 7 macam persahabatan diatas, 1 – 6 akan sirna di Akhirat. yang tersisa hanya ikatan persahabatan yang ke 7, yaitu persahabatan yang dilakukan karena Allah (QS 49:10),
“Teman2 akrab pada hari itu (Qiyamat) menjadi musuh bagi yang lain, kecuali persahabatan karena Ketaqwaan” (QS 43:67).
Selalu saling mengingatkan dlm kebaikan dan kesabaran.
Saudraku yang aku cintai karena Allah..
"Sahabat, dengarkanlah sejenak…
Di riwayatkan, bahwa: Apabila penghuni Surga telah masuk ke dalam Surga, lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu di dunia, mereka bertanya tentang sahabat mereka itu kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala …
"Yaa Rabb…Kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di Dunia, Shalat bersama kami, Puasa bersama kami dan berjuang bersama kami,"
Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: "Pergilah ke neraka, lalu keluarkan sahabatmu yang di hatinya ada Iman walaupun hanya sebesar dzarrah."
(HR. Ibnul Mubarak dalam kitab "Az-Zuhd")
Al-Hasan Al-Bashri berkata:
"Perbanyaklah Sahabat-sahabat Mu’min-mu, karena Mereka memiliki Syafa’at pada hari kiamat."
Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada Sahabat-sahabatnya sambil menangis:
"Jika kalian tidak menemukan aku nanti di surga bersama kalian, maka bertanyalah kepada Allah ta’ala tentang aku, "Wahai Rabb Kami.. Hamba-Mu fulan, sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang ENGKAU. Maka masukkanlah dia bersama kami di Surga-Mu.
" Sahabatku….
Mudah-mudahan dengan ini, aku telah Mengingatkanmu Tentang Allah ta’ala…Agar aku dapat bersamamu kelak di Surga & meraih Ridha-Nya…
Aku memohon kepada-Mu…
"Karuniakanlah kepadaku Sahabat-Sahabat yang selalu mengajakku untuk Tunduk, patuh & Taat kepada Syariat-Mu…Kekalkanlah persahabatan kami hingga kami bertemu di akhirat nanti dengan-Mu…Amiin..
Terima kasih sahabat…. Semoga Allah mengumpulkan kita didalam Jannah Firdaus-Nya…. Aamiin.
KISAH JENAZAH YANG DISHOLAWATI 70 RIBU MALAIKAT
Kisah ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a. :
Pada suatu pagi Rasulullah SAW bersama dengan sahabatnya Anas bin Malik r.a. melihat suatu keanehan.
Bagaimana tidak, matahari terlihat begitu redup dan kurang bercahaya seperti biasanya.
Tak lama kemudian Rasulullah SAW dihampiri oleh Malaikat Jibril.
Lalu Rasulullah SAW bertanya kepada Malaikat Jibril : "Wahai Jibril, kenapa Matahari pagi ini terbit dalam keadaan redup? Padahal tidak mendung?"
"Ya Rasulullah, Matahari ini nampak redup karena terlalu banyak sayap para malaikat yang menghalanginya." jawab Malaikat Jibril.
Rasulullah SAW bertanya lagi : "Wahai Jibril, berapa jumlah Malaikat yang menghalangi matahari saat ini?"
"Ya Rasulullah,70 ribu Malaikat." jawab Malaikat Jibril.
Rasulullah SAW bertanya lagi : "Apa gerangan yang menjadikan Malaikat menutupi Matahari?"
Kemudian Malaikat Jibril menjawab : "Ketahuilah wahai Rasulullah,sesungguhnya ALLAH SWT telah mengutus 70 ribu Malaikat agar membacakan shalawat kepada salah satu umatmu."
"Siapakah dia, wahai Jibril?" tanya Rasulullah SAW.
"Dialah Muawiyah...!!!" jawab Malaikat Jibril.
Rasulullah SAW bertanya lagi : "Apa yang telah dilakukan oleh Muawiyah sehingga saat ia meninggal mendapatkan kemuliaan yang sangat luar biasa ini?"
Malaikat Jibril menjawab : "Ketahuilah wahai Rasulullah,sesungguhnya Muawiyah itu semasa hidupnya banyak membaca Surat Al-Ikhlas di waktu malam, siang, pagi, waktu duduk, waktu berjalan, waktu berdiri, bahkan dalam setiap keadaan selalu membaca Surat Al-Ikhlas."
Malaikat Jibril melanjutkan penuturannya : "Dari itulah ALLAH SWT mengutus sebanyak 70 ribu malaikat untuk membacakan shalawat kepada umatmu yang bernama Muawiyah tersebut."
SubhanAllah ..
Walhamdulillah ..
Wala ilaha illallah ..
Wallahu akbar .
Rasulullah SAW bersabda : ''Apakah seorang di antara kalian tidak mampu untuk membaca sepertiga Al-Qur'an dalam semalam?"
Mereka menjawab,"Bagaimana mungkin kami bisa membaca sepertiga Al-Qur'an?"
Lalu Nabi SAW bersabda, "Qul huwallahu ahad itu sebanding dengan sepertiga Al-Qur'an.'' (H.R. Muslim no. 1922)
( Subhanallah & Semoga Bermanfaat dan kita bisa memetik hikmahnya )

JENDERAL PARA WALI DARI PULAU JAWA
Al-Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas
Sejarah Ringkas Habib Abdullah Dan Masjid Keramat Empang Bogor
Kawasan Empang Bogor Selatan, Kota Bogor menjadi terkenal karena di lokasi itu berdiri Masjid Keramat An Nur yang lokasinya tepat di Jalan Lolongok.
Di Kompleks Masjid An nur itulah, Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas di makamkan, bersama dengan makam anak-anaknya yaitu Al Habib Mukhsin Bin Abdullah Al Athas, Al Habib Zen Bin Abdullah Al Athas, Al Habib Husen Bin Abdullah Al Athas, Al Habib Abu Bakar Bin Abdullah Al Athas, Sarifah Nur Binti Abdullah Al Athas, dan makam murid kesayangannya yaitu Al Habib Habib Alwi Bin Muhammad Bin Tohir.
Dalam Manakib nya disebutkan bahwa Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas adalah seorang “Waliyullah” yang telah mencapai kedudukan mulia dekat dengan Allah SWT. Beliau termasuk salah satu Waliyullah yang tiada terhitung jasa-jasanya dalam sejarah pengembangan Islam dan kaum muslimin di Indonesia. Beliau seorang ulama “Murobi” dan panutan para ahli tasawuf sehingga menjadi suri tauladan yang baik bagi semua kelompok manusia maupun jin.
Al Habib Abdullah Bin Mukhsin. Bin Muhammad. Bin Abdullah. Bin Muhammad. Bin Mukhsin. Bin Husein. Bin Syeh Al Kutub, Al Habib Umar Bin Abdurrohman Al Athas adalah seorang tokoh rohani yang dikenal luas oleh semua kalangan umum maupun khusus. Beliau adalah “Ahli kasyaf” dan ahli Ilmu Agama yang sulit ditandingi keluasan Ilmunya, jumlah amal ibadahnya, kemuliaan maupun budi pekertinya.
Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas beliau asli dari Yaman Selatan dilahirkan di desa hawrat
salah satu desa di Al Kasar, Kampung kharaidhoh, “hadramaut” pada hari Selasa 20 Jumadi Awal 1275 hijriah. Sejak kecil beliau mendapatkan pendidikan rohani dan perhatian khusus dari Ayahnya. Beliau mepelajari Al Qur’an dimasa kecilnya dari Mu’alim Syeh Umar Bin Faraj Bin Sabah.
Dalam Usia 17 tahun beliau sudah hafal Al Qur’an. Kemudian beliau oleh Ayahnya diserahkan kepada ulama terkemuka di masanya. Beliau dapat menimba berbagai cabang ilmu Islam dan Keimanan.
Diantara guru–guru beliau, salah satunya adalah Assyayid Al Habib Al Qutbi Abu Bakar Bin Abdullah Al Athas, dari guru yang satu itu beliau sempat menimba Ilmu–Ilmu rohani dan tasawuf, Beliau mendapatkan do’a khusus dari Al Habib Abu Bakar Al Athas, sehingga beliau berhasil meraih derajat kewalian yang patut. Diantaranya guru rohani beliau yang patut dibanggakan adalah yang mulia Al Habib Sholih Bin Abdullah Al Athas penduduk Wadi a’mad.
Habib Abdullah pernah membaca Al Fatihah dihadapan Habib Sholeh dan Habib Sholeh menalkinkan Al Fatihah kepadanya Al A’rif Billahi Al Habib Ahmad Bin Muhammad Al Habsyi. ketika melihat Al Habib Abdullah Bin Mukhsin yang waktu itu masih kecil beliau berkata sungguh anak kecil ini kelak akan menjadi orang mulia kedudukannya.
Al Habib Abdullah Bin Mukhsin pernah belajar Kitab risalah karangan Al Habib Ahmad Bin Zen Al Habsyi kepada Al Habib Abdullah Bin A’lwi Alaydrus sering menemui Imam Al Abror Al Habib Ahmad Bin Muhammad Al Muhdhor. Selain itu beliau juga sempat mengunjungi beberapa Waliyulllah yang tingal di hadramaut seperti Al Habib Ahmad Bin Abdullah Al Bari seorang tokoh sunah dan asar. Dan Syekh Muhammad Bin Abdullah Basudan. Beliau menetap di kediaman Syekh Muhammad basudan selama beberapa waktu guna memperdalam Agama.
Pada tahun 1282 Hijriah, Habib Abdulllah Bin Mukhsin menunaikan Ibadah haji yang pertama kalinya.
Selama di tanah suci beliau bertemu dan berdialog dengan ulama–ulama Islam terkemuka. Kemudian, seusai menjalankan ibadah haji, beliau pulang ke Negrinya dengan membawa sejumlah keberkahan. Beliau juga mengunjungi Kota Tarim untuk memetik manfaat dari wali–wali yang terkenal.
Setelah dirasa cukup maka beliau meninggalkan Kota Tarim dengan membawa sejumlah berkah yang tidak ternilai harganya. Beliau juga mengunjungi beberapa Desa dan beberapa Kota di Hadramaut untuk mengunjungi para Wali dan tokoh–tokoh Agama dan Tasawuf baik dari keluarga Al Alwi maupun dari keluarga lain.
Pada tahun 1283 H, Beliau melakukan ibadah haji yang kedua. Sepulangnya dari Ibadah haji, beliau berkeliling ke berbagai pelosok dunia untuk mencari karunia Allah SWT dan sumber penghidupan yang merupakan tugas mulia bagi seorang yang berjiwa mulia. Dengan izin Allah SWT, perjalanan mengantarkan beliau sampai ke Indonesia. beliau bertemu dengan sejumlah Waliyullah dari keluarga Al Alwi antara lain Al Habib Ahmad Bin Muhammad Bin Hamzah Al Athas.
Sejak pertemuanya dengan Habib Ahmad beliau mendapatkan Ma’rifat. Dan, Habib Abdullah Bin Mukhsin diawal kedatangannya ke Jawa memilih Pekalongan sebagai Kota tempat kediamannya. Guru beliau Habib Ahmad Bin Muhammad Al Athas banyak memberi perhatian kepada beliau sehinga setiap kalinya gurunya menunjungi Kota Pekalongan beliau tidak mau bermalam kecuali di rumah Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athos.
Dalam setiap pertemuan Habib Ahmad selalu memberi pengarahan rohani kepada Habib Abdullah Bin Mukhsin sehingga hubungan antara kedua Habib itu terjalin amat erat. Dari Habib Ahmad beliau banyak mendapat manfaat rohani yang sulit untuk dibicarakan didalam tulisan yang serba singkat ini.
Dalam perjalan hidupnya Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas pernah dimasukan kedalam penjara oleh Pemerintah Belanda, mungkin pengalaman ini telah digariskan Allah. Sebab, Allah ingin memberi beliau kedudukan tinggi dan dekat dengannya. Nasib buruk ini pernah juga dialami oleh Nabi Yusuf AS yang sempat mendekam dalam penjara selama beberapa tahun. Namun, setelah keluar dari penjara ia diberi kedudukan tinggi oleh penguasa Mashor yang telah memenjarakannya.
Karomah dan Kekeramatan Habib Abdullah
Selama di penjara ke keramatan Habib Abdullah Bin Mukhsin semakin tampak sehingga semakin banyak orang yang datang berkunjung kepenjaraan tersebut. Tentu saja hal itu mengherankan para pembesar penjara dan penjaganya. Sampai mereka pun ikut mendapatkan berkah dan manfaat dari kebesaran Habib Abdullah dipenjara.
Setiap permohonan dan hajat yang pengunjung sampaikan kepada Habib Abdullah Bin Mukhsin selalu dikabulkan Allah SWT, para penjaga merasa kewalahan menghadapi para pengunjung yang mendatangi beliau Mereka lalu mengusulkan kepada kepala penjara agar segera membebaskan beliau. Namun, ketika usulan dirawarkan kepada Habib Abdullah beliau menolak dan lebih suka menungu sampai selesainya masa hukuman.
Pada suatu malam pintu penjara tiba–tiba terbuka dan datanglah kepada beliau kakek beliau Al Habib Umar Bin Abdurrohman Al Athas seraya berkata, Jika kau ingin keluar dari penjara keluarlah sekarang, tetapi jika engkau mau bersabar maka bersabarlah.
Beliau ternyata memilih untuk bersabar dalam penjara, pada malam itu juga Sayyidina Al Faqih Al Muqodam dan Syekh Abdul Qodir Zaelani serta beberapa tokoh wali mendatangi beliau. Pada kesempatan itu Sayyidina Al Faqih Al Muqodam memberikan sebuah kopiah. Ternyata dipagi harinya Kopiah tersebut masih tetap berada di kepala Al Habib Abdullah Padahal, beliau bertemu dengan Al Faqih Al Muqodam didalam impian.
Para pengujung terus berdatangan kepenjara sehingga berubahlah penjaraan itu menjadi rumah yang selalu dituju, Beliau pun mendapatkan berbagai kekeramatan yang luar biasa mengingatkan kembali hal yang dimiliki para salaf yang besar seperti Assukran dan syekh Umar Muhdor
Diantara Karomah yang beliau peroleh adalah sebagaimana yang disebutkan Al Habib Muhammad Bin Idrus Al Habsyi bahwa Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas ketika mendapatkan anugrah dari Allah SWT, beliau tenggelam penuh dengan kebesaran Allah, hilang dengan segala hubungan alam dunia dan segala isinya. Al Habib Muhammad Idrus Al Habsyi juga menuturkan, ketika aku mengujunginya Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athos dalam penjara aku lihat penampilannya amat berwibawa dan beliau terlihat dilapisi oleh pancaran Illahi. Sewaktu beliau melihat aku beliau mengucapkan bait –bait syair Habib Abdullah Al Hadad yang awal baitnya adalah sbb “ Wahai yang mengunjungi Aku di malam yang dingin, ketika tak ada lagi orang yang akan menebarkan berita fitrah, Selanjutnya, kata Habib Muhammad Idrus, kami selagi berpelukan dan menangis, “
Karomah lainnya setiap kali beliau memandang borgol yang membelegu kakinya, maka terlepaslah borgol itu.
Disebutkan juga bahwa ketika pimpinan penjara menyuruh bawahannya untuk mengikat leher Habib Abdullah Bin Mukhsin dengan rante besi maka atas izin Allah rantai itu terlepas, dan pemimpin penjara beserta keluarga dan kerabatnya mendapat sakit panas, dokter tak mampu mengobati penyakit pemimpin penjara dan keluarganya itu, barulah kemudian pemimpin penjara sadar bahwa penyakitnya dan penyakit keluarganya itu diakibatkan Karena dia telah menyakiti Al Habib yang sedang dipenjara.
Kemudian, kepala penjara mengutus bawahannya untuk mendo’akan, penyakit yang di derita oleh kepala penjara dan keluarganya itu agar sembuh Maka, berkatalah Habib Abdullah kepada utusan itu Ambillah borgol dan rante ini ikatkan di kaki dan leher pemimpin penjara itu, maka akan sembuhlah dia.
Kemudian dikerjakanlah apa yang dikatakan oleh Habib Abdullah, maka dengan izin Allah SWT penyakit pimpinan penjara dan keluarganya seketika sembuh. Kejadian ini menyebabkan pimpinan penjara makin yakin akan kekeramatan Habib Abdullah Mukhsin Al Athas. Sekeluarnya dari penjara beliau tinggal di Jakarta selama beberapa tahun.
Perjalanan ke Empang
Dari sumber lain disebutkan, bahwa awal mula kedatangan Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas ke Indonesia, pada tahun 1800 Masehi, waktu itu beliau diperintahkan oleh Al Habibul Imam Abdullah bin Abu Bakar Alayidrus, untuk menuju Kota Mekah. Dan sesampainya di Kota Mekah, beliau melaksanakan sholat dan pada malam harinya beliau mimpi bertemu dengan Rasulullah SAW, entah apa yang dimimpikannya, yang jelas ke esok harinya beliau berangkat menuju Negeri Indonesia.
Sesampainya di Indonesia, beliau dipertemukan dengan Al Habib Ahmad Bin Hamzah Al Athas yang ada dipakojan Jakarta dan beliau belajar ilmu agama darinya, lalu Habib Ahmad Bin Hamzah Al Athas memerintahkan agar beliau datang berziarah ke Habib Husein di luar Batang, dari sana sampailah perjalanan beliau ke Bogor, Beliau datang ke Empang dengan tidak membawa apa-apa.
Pada saat beliau datang ke Empang Bogor, disana disebutkan bahwa Empang yang pada saat itu belum ada penghuninya, namun dengan Ilmu beliau bisa menyala dan menjadi terang benderang Diceritakan, ada kekeramatan yang lain terjadi pula ketika beliau tengah makan dipinggiran empang, kebetulan pada saat itu datang kepada beliau seorang penduduk Bogor dan berkata “ Habib, kalau anda benar-benar seorang Habib Keramat, tunjukanlah kepada saya akan kekeramatannya.
Pada saat itu kebetulan Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas tengah makan dengan seekor ikan dan ikan itu tinggal separuh lagi. Maka Habib Abdullah berkata” Yaa sama Anjul ilaman Tabis,” ( wahai ikan kalau benar-benar cinta kepadaku tunjukanlah) maka atas izin Allah SWT, seketika itu juga ikan yang tinggal sebelah lagi meloncat ke empang. Konon ikan sebelah tersebut sampai sekarang masih hidup dilaut.
Masjid Keramat Empang didirikan sekitar tahun 1828 M. pendirian Masjid ini dilakukan bersama para Habaib dan ulama-ulama besar di Indonesia. Di Sekitar Areal Masjid Keramat terdapat peninggalan rumah kediaman Habib Abdullah, yang kini rumah itu ditempati oleh Khalifah Masjid, Habib Abdullah Bin Zen Al Athas. Didalam rumah tersebut terdapat kamar khusus yang tidak bisa sembarang orang memasukinya, karena kamar itu merupakan tempat khalwat dan zikir beliau. Bahkan disana terdapat peninggalan beliau seperti tempat tidur, tongkat , gamis dan sorbannya yang sampai sekarang masih disimpan utuh.
Kitab-kitab beliau kurang lebih ada 850 kitab, namun yang ada sekarang tinggal 100 kitab, sisanya disimpan di “Jamaturkhair atau di Rabitoh”. Tanah Abang Jakarta. Salah satu kitab karangan beliau yang terkenal adalah “Faturrabaniah” konon kitab itu hanya beredar dikalangan para ulama besar,
Adapun karangannya yang lain adalah kitab “Ratibul Ahtas dan Ratibul Hadad.” Kedua kitab itu merupakan pelajaran rutin yang diajarkan setiap magrib oleh beliau kepada murid-muridnya dimasa beliau masih hidup, bahkan kepada anak dan cucunya, Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas menganjurkan supaya tetap dibacanya.
Habib Abdullah Bin Al Athas, adalah seorang Waliyullah dengan kiprahnya menyebarkan Agama Islam dari satu negeri kenegeri lain. Di Kampung Empang beliau menikahi seorang wanita keturunan dalem Sholawat. Dari sanalah beliau mendapatkan wakaf tanah yang cukup luas, sampai sekarang 85 bangunan yang terdapat di kampung Empang didalam sertifikatnya atas nama Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas.
Semasa hidupnya sampai menjelang akhir hayatnya beliau selalu membaca Sholawat Nabi yang setiap harinya dilakukan secara dawam di baca sebanyak seribu kali, dengan kitab Sholawat yang dikenal yaitu “ Dala’l Khoirot” artinya kebaikan yang diperintahkan oleh Allah SWT.
Menurut Manakib, beliau dipanggil Allah SWT pada hari Selasa, 29 Zulhijjah 1351 Hijriah diawal waktu zuhur Jenazah beliau dimakamkan keesokan harinya hari Rabu setelah Sholat zuhur. Tak terhitung jumlah orang yang ikut mesholatkan jenazah. Beliau dimakamkan di bagian Barat Masjid An nur Empang,sebelum wafat beliau terserang sakit flu ringan.
“Sumber: kitab Manakib Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas dan wawancara “Gentra Madani” dengan Habib Hasan Bin Ja’far assegaf'pendiri majlis nurulmusthofa jakarta (Keturunan Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athos)
Alkisah, dalam kitab “Azhraf al-Zharfa'”, Joha bersama putranya pergi ke
pasar mengendarai keledai, sementara putranya berjalan di sampingnya.
Ketika melewati kerumunan, terdengar celoteh, "Dasar orang tua semena-mena, masak anaknya disuruh berjalan kaki."
Merasa tidak nyaman dengan celotehan, Joha turun dari punggung keledai dan berganti posisi dengan anak.
Di
kerumunan lain, terdengar cemoohan, "Dasar anak durhaka, tega sekali
membiarkan bapaknya berjalan kaki sementara ia duduk enak." Ia menyuruh
putranya turun dan berjalan kaki bersamanya sementara keledainya
dituntun.
Beberapa langkah kemudian, orang-orang berkomentar,
"Orang aneh, mengapa keledai itu tidak dinaiki." Ia bersama sang anak
menaiki punggung keledai.
Di lokasi selanjutnya, orang-orang
berseloroh, "Bapak dan anak sama dungunya, masak seekor keledai lemah
ditunggangi berdua." Tak mau dianggap orang bersalah, Joha dan anaknya
turun, lalu keledai itu dipanggul berdua.
Anak-anak kecil yang
melihatnya girang dan tertawa-tawa. Keduanya berjalan hingga sampai di
jembatan kecil. Joha bingung dan serba salah. Akhirnya, keledai itu
dilemparnya ke sungai.
Cerita di atas adalah gambaran orang yang
tidak teguh dalam prinsip. Nashruddin Joha atau dikenal dengan
Nashruddin Hoja, tokoh unik pada masa keemasan Islam. Ia bermaksud pergi
ke pasar untuk berdagang bersama putranya.
Dalam perjalanan, ia
terjebak dalam tindakan yang membuat dirinya kebingungan. Bingung bukan
lantaran tawar-menawar harga atau menghitung keuntungan, melainkan
bingung karena melakukan tindakan yang tak dimengerti oleh dirinya
sendiri.
Joha lupa bahwa tujuan perjalanannya adalah berdagang
ke pasar. Maksud hati menyenangkan setiap orang, apa daya bingung yang
didapat.
Karakter Joha dalam kisah di atas menurut teori
kepribadian dikenal dengan //conformist personality, pembawaan
kepribadian yang cenderung membiarkan sikap dan pendapat orang lain
untuk menguasai dirinya.
Tindakan ini muncul karena ada perasaan
khawatir tidak mendapat pengakuan dari orang lain. Dampak dari
kepribadian ini adalah rentan untuk dikuasai oleh pengaruh-pengaruh liar
dan tak mampu mempertahankan tujuan atau prinsip.
Menurut
hierarki Maslow, aktualisasi diri merupakan kebutuhan tertinggi
(meta-needs) dalam hidup. Aktualisasi diri muncul karena adanya
konsistensi terhadap tujuan. Aktualisasi diri penting sebab jika tak
terpenuhi (bagi sebagian orang yang telah terpenuhi kebutuhan dasarnya)
bisa berakibat metapatologi (penyakit kejiwaan), seperti sinisme,
kebencian, kegelisahan, depresi dan metapatologi lainnya.
Namun,
dalam kisah Joha, ia terlampau khawatir sehingga melakukan kekeliruan
cara meraihnya, bahkan mengorbankan tujuannya. Akibatnya, Joha menderita
kerugian waktu, energi, dan keledai.
Alquran memberi solusi
untuk mengantisipasi kekeliruan di atas, yaitu dengan istiqamah
(konsistensi). "Tetap teguhlah kamu pada jalan yang benar sebagaimana
yang telah diperintahkan kepadamu." (QS Hud: 112).
Selanjutnya,
bertawakal dengan keputusan yang telah diambil. "Kemudian apabila kamu
telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya." (QS Ali Imran: 159). Wallahu a'lam.

Pintu pertama, Ini adalah pintu terbesar yang akan dimasuki setan yaitu
hasad (dengki) dan tamak. Jika seseorang begitu tamak pada sesuatu,
ketamakan tersebut akan membutakan, membuat ...tuli
dan menggelapkan cahaya kebenaran, sehingga orang seperti ini tidak
lagi mengenal jalan masuknya setan. Begitu pula jika seseorang memiliki
sifat hasad, setan akan menghias-hiasi sesuatu seolah-olah menjadi baik
sehingga disukai oleh syahwat padahal hal tersebut adalah sesuatu yang
mungkar.
Pintu kedua, Ini juga adalah pintu terbesar yaitu
marah. Ketahuilah, marah dapat merusak akal. Jika akal lemah, pada saat
ini tentara setan akan melakukan serangan dan mereka akan menertawakan
manusia. Jika kondisi kita seperti ini, minta perlindunganlah pada
Allah.
Pintu ketiga, Yaitu sangat suka menghias-hiasi tempat
tinggal, pakaian dan segala perabot yang ada (secara berlebihan
mengikuti hawa nafsu). Orang seperti ini sungguh akan sangat merugi
karena umurnya hanya dihabiskan untuk tujuan ini.
Pintu keempat,
Yaitu kenyang karena telah menyantap banyak makanan. Keadaan seperti
ini akan menguatkan syahwat dan melemahkan untuk melakukan ketaatan pada
Allah. Kerugian lainnya akan dia dapatkan di akhirat.
Pintu
kelima, Yaitu tamak pada orang lain. Jika seseorang memiliki sifat
seperti ini, maka dia akan berlebih-lebihan memuji orang tersebut
padahal orang itu tidak memiliki sifat seperti yang ada pada pujiannya.
Akhirnya, dia akan mencari muka di hadapannya, tidak mau memerintahkan
orang yang disanjung tadi pada kebajikan dan tidak mau melarangnya dari
kemungkaran.
Pintu keenam, Yaitu sifat selalu tergesa-gesa dan
tidak mau bersabar untuk perlahan-lahan. Padahal terdapat sebuah hadits
dari Anas, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sifat
perlahan-lahan (sabar) berasal dari Allah. Sedangkan sifat ingin
tergesa-gesa itu berasal dari setan.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Abu
Ya’la dalam musnadnya dan Baihaqi dalam Sunanul Qubro. Syaikh Al Albani
dalam Al Jami’ Ash Shoghir mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Pintu ketujuh, Yaitu cinta harta. Sifat seperti ini akan membuat
berusaha mencari harta bagaimana pun caranya. Sifat ini akan membuat
seseorang menjadi bakhil (kikir), takut miskin dan tidak mau melakukan
kewajiban yang berkaitan dengan harta.
"semoga kita bisa terhindar dari sifat-sifat di atas dan bisa sama-sama meminta perlindungan dari Allah swt"

Dalam Kitab Al Jami' Liahkam Al-Qur'an karya
Imam Al Qurthubi dijelaskan bahwa ada 2 hal yang bisa menyebabkan iblis
menangis dengan sekeras-kerasnya.
PERTAMA, Ketika diturunkannya
Surat Al Fatihah, yang mana surat ini adalah surat yang paling afdhol
di dalam Al-Qur'an. Jadi dimanapun dan kapanpun surat al fatihah dibaca,
iblis laknatullah akan menjerit dan menangis.
KEDUA,
Kelahiran Nabi Muhammad SAW, makhluk yang paling mulia sejagad raya.
Karena berkat bimbingan Beliau, orang yang sudah memiliki dosa setumpuk
gunung bisa terhapus dosanya hanya dengan mengucapkan syahadat saja.
Sebagai contoh saja, pada zaman Rasulullah SAW ada orang yang tua renta
kisaran berumur 100 tahun lebih mengadu kepada Rasulullah SAW.
"Ya Rasulullah, apakah agamamu bisa menghapuskan dosa-dosa yang telah
aku perbuat, yang mana dosaku setumpuk gunung, berzina, mabuk, berjudi
dan sebagainya dan kalau dikumpulkan akan melebihi dosa orang yang
paling banyak dosanya di muka bumi ini," kata orang tua itu.
"Bisa," jawab Rasulullah SAW
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya orang tua itu.
Kemudian Rasulullah SAW bersabda,
"Ucapkanlah Syahadat."
Kemudian orang tua itu pergi menuju rumahnya.
Selang 3 hari kemudian terdengar kabar kalau orang tua itu meninggal dunia dan Rasulullah SAW pun bersabda,
"Orang tersebut termasuk golongan orang yang masuk surga."
KETIGA, Ucapan salam.
Ternyata ucapan salam dari seorang mukmin pada mukmin lainnya bisa membuat iblis menangis dengan kerasnya.
Hal ini seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra, Ibnu Abbas
berkata, "Sesungguhnya iblis yang terkutuk itu akan menangis pada saat
seorang mukmin bersalam dan dia (iblis) berkata, "Aduh, celakanya, kedua
mukmin itu tidak akan berpisah melainkan akan diampuni dosa-dosanya."
Rasulullah SAW sendiri sangat menekankan ucapan salam bagi seorang
mukmin sebelum perkataan lain diucapkan. Dalam hadits, Rasulullah SAW
bersabda,
"Barangsiapa yang berbicara sebelum memberi salam, maka janganlah kamu jawab."
Hadits lainnya ada yang mengatakan. Rasulullah SAW bersabda,
"Orang yang berkendaraan hendaklah memberi salam kepada orang yang
berjalan kaki, orang yang berjalan kaki hendaklah memberi salam kepada
orang yang duduk, dan orang yang sedikit hendaklah memberi salam kepada
orang yang banyak."
Itulah 3 hal yang bisa membuat iblis
menangis denga keras. Sungguh sangatlah beruntung kita ini dengan
lahirnya Nabi Muhammad SAW.
"Allahumma Sholli 'Alaa Muhammad..."