Monday, January 4, 2016

Mang Udin Dan Bang Soleh Tentang Pertolongan Allah swt

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6350621372319428354#editor/target=post;postID=4112134174457294666


Mang Udin, begitulah dia dipanggil, seorang penjual jasa perbaikan sepatu yang sering disebut tukang sol. Pagi buta sudah melangkahkan kakinya meninggalkan anak dan istrinya yang berharap, nanti sore hari mang Udin membawa uang untuk membeli nasi dan sedikit lauk pauk. Mang Udin terus menyusuri jalan sambil berteriak menawarkan jasanya. Sampai tengah hari, baru satu orang yang menggunakan jasanya. Itu pun hanya perbaikan kecil.

Perut mulai keroncongan. Hanya air teh bekal dari rumah yang mengganjal perutnya. Mau beli makan, uangnya tidak cukup. Hanya berharap dapat order besar sehingga bisa membawa uang ke rumah. Perutnya sendiri tidak dia hiraukan.

Di tengah keputus asaan, dia berjumpa dengan seorang tukang sol lainnya. Wajahnya cukup berseri. “Pasti, si Abang ini sudah dapat uang banyak nich.” pikir mang Udin. Mereka berpapasan dan saling menyapa. Akhirnya berhenti untuk bercakap-cakap.

“Bagaimana dengan hasil hari ini bang? Sepertinya laris nich?” kata mang Udin memulai percakapan.

“Alhamdulillah. Ada beberapa orang memperbaiki sepatu.” kata tukang sol yang kemudian diketahui namanya Bang Soleh.

“Saya baru satu bang, itu pun cuma benerin jahitan.” kata mang Udin memelas.

“Alhamdulillah, itu harus disyukuri.”

“Mau disyukuri gimana, nggak cukup buat beli beras juga.” kata mang Udin sedikit kesal.

“Justru dengan bersyukur, nikmat kita akan ditambah.” kata bang Soleh sambil tetap tersenyum.

“Emang begitu bang?” tanya mang Udin, yang sebenarnya dia sudah tahu harus banyak bersyukur.

“Insya Allah. Mari kita ke Masjid dulu, sebentar lagi adzan dzuhur.” kata bang Soleh sambil mengangkat pikulannya.

Mang udin sedikit kikuk, karena dia tidak pernah “mampir” ke tempat shalat.

“Ayolah, kita mohon kepada Allah supaya kita diberi rezeki yang barakah.”

Akhirnya, mang Udin mengikuti bang Soleh menuju sebuah masjid terdekat. Bang Soleh begitu hapal tata letak masjid, sepertinya sering ke masjid tersebut.

Setelah shalat, bang Soleh mengajak mang Udin ke warung nasi untuk makan siang. Tentu saja mang Udin bingung, sebab dia tidak punya uang. Bang Soleh mengerti,

“Ayolah, kita makan dulu. Saya yang traktir.”

Akhirnya mang Udin ikut makan di warung Tegal terdekat. Setelah makan, mang Udin berkata,

“Saya tidak enak nich. Nanti uang untuk dapur abang berkurang dipakai traktir saya.”

“Tenang saja, Allah akan menggantinya. Bahkan lebih besar dan barakah.” kata bang Soleh tetap tersenyum.

“Abang yakin?”

“Insya Allah.” jawab bang soleh meyakinkan.

“Kalau begitu, saya mau shalat lagi, bersyukur, dan mau memberi kepada orang lain.” kata mang Udin penuh harap.

“Insya Allah. Allah akan menolong kita.” Kata bang Soleh sambil bersalaman dan mengucapkan salam untuk berpisah.

Keesokan harinya, mereka bertemu di tempat yang sama. Bang Soleh mendahului menyapa.

“Apa kabar mang Udin?”

“Alhamdulillah, baik. Oh ya, saya sudah mengikuti saran Abang, tapi mengapa kok penghasilan saya malah turun? Hari ini, satu pun pekerjaan belum saya dapat.” kata mang Udin setengah menyalahkan.

Bang Soleh hanya tersenyum. Kemudian berkata,

“Masih ada hal yang perlu mang Udin lakukan untuk mendapat rezeki barakah.”

“Oh ya, apa itu?” tanya mang Udin penasaran.

“Tawakal, ikhlas, dan sabar.” kata bang Soleh sambil kemudian mengajak ke Masjid dan mentraktir makan siang lagi.

Keesokan harinya, mereka bertemu lagi, tetapi di tempat yang berbeda. Mang Udin yang berhari-hari ini sepi order berkata setengah menyalahkan lagi,

“Wah, saya makin parah. Kemarin nggak dapat order, sekarang juga belum. Apa saran abang tidak cocok untuk saya?”

“Bukan tidak, cocok. Mungkin keyakinan mang Udin belum kuat atas pertolongan Allah. Coba renungkan, sejauh mana mang Udin yakin bahwa Allah akan menolong kita?” jelas bang Soleh sambil tetap tersenyum.

Mang Udin cukup tersentak mendengar penjelasan tersebut. Dia mengakui bahwa hatinya sedikit ragu. Dia “hanya” coba-coba menjalankan apa yang dikatakan oleh bang Soleh.

“Bagaimana supaya yakin bang?” kata mang Udin sedikit pelan hampir terdengar.

Rupanya, bang Soleh sudah menebak, kemana arah pembicaraan.

“Saya mau bertanya, apakah kita janjian untuk bertemu hari ini, disini?” tanya bang Soleh.

“Tidak.”

“Tapi kenyataanya kita bertemu, bahkan 3 hari berturut-turut. Mang Udin dapat rezeki bisa makan bersama saya. Jika bukan Allah yang mengatur, siapa lagi?” lanjut bang Soleh. Mang Udin terlihat berpikir dalam. Bang Soleh melanjutkan, “Mungkin, sudah banyak petunjuk dari Allah, hanya saja kita jarang atau kurang memperhatikan petunjuk tersebut. Kita tidak menyangka Allah akan menolong kita, karena kita sebenarnya tidak berharap. Kita tidak berharap, karena kita tidak yakin.”

Mang Udin manggut-manggut. Sepertinya mulai paham. Kemudian mulai tersenyum.

“OK dech, saya paham. Selama ini saya akui saya memang ragu. Sekarang saya yakin. Allah sebenarnya sudah membimbing saya, saya sendiri yang tidak melihat dan tidak mensyukurinya. Terima kasih abang.” kata mang Udin, matanya terlihat berkaca-kaca.

“Berterima kasihlah kepada Allah. Sebentar lagi dzuhur, kita ke Masjid yuk. Kita mohon ampun dan bersyukur kepada Allah.”

Mereka pun mengangkat pikulan dan mulai berjalan menuju masjid terdekat sambil diiringi rasa optimis bahwa hidup akan lebih baik. 


"semoga sepenggal kisah di atas membawa kita kepada keyakinan yang mantap atas pertolongan Allah swt dan menjadi inspirasi dalam hidup kita"

Sunday, January 3, 2016

Pengusaha Yang Sekarat Dan Malaikat Maut

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6350621372319428354#editor/target=post;postID=2474519832049825500


Seorang pengusaha sukses jatuh di kamar mandi dan akhirnya stroke. Sudah 7 malam dirawat di RS di ruang ICU. Di saat orang-orang terlelap dalam mimpi malam, dalam dunia roh seorang malaikat menghampiri si pengusaha yang terbaring tak berdaya.

Malaikat memulai pembicaraan, "Kalau dalam waktu 24 jam ada 50 orang berdoa buat kesembuhanmu, maka kau akan hidup. Dan sebaliknya jika dalam 24 jam jumlah yang aku tetapkan belum terpenuhi, itu artinya kau akan meninggal dunia!

"Kalau hanya mencari 50 orang, itu mah gampang .. . " kata si pengusaha ini dengan yakinnya.

Setelah itu Malaikat pun pergi dan berjanji akan datang 1 jam sebelum batas waktu yang sudah disepakati.

Tepat pukul 23:00, Malaikat kembali mengunjunginya; dengan antusiasnya si pengusaha bertanya, "Apakah besok pagi aku sudah pulih? Pastilah banyak yang berdoa buat aku, jumlah karyawan yang aku punya lebih dari 2000 orang, jadi kalau hanya mencari 50 orang yang berdoa pasti bukan persoalan yang sulit".

Dengan lembut si Malaikat berkata, aku sudah berkeliling mencari suara hati yang berdoa buatmu tapi sampai saat ini baru 3 orang yang berdoa buatmu, sementara waktumu tinggal 60 menit lagi. Rasanya mustahil kalau dalam waktu dekat ini ada 50 orang yang berdoa buat kesembuhanmu".

Tanpa menunggu reaksi dari si pengusaha, si malaikat menunjukkan layar besar berupa TV siapa 3 orang yang berdoa buat kesembuhannya. Di layar itu terlihat wajah duka dari sang istri, di sebelahnya ada 2 orang anak kecil, putra putrinya yang berdoa dengan khusyuk dan tampak ada tetesan air mata di pipi mereka".

Kata Malaikat, "Aku akan memberitahukanmu, kenapa Tuhan rindu memberikanmu kesempatan kedua? Itu karena doa istrimu yang tidak putus-putus berharap akan kesembuhanmu"

Kembali terlihat dimana si istri sedang berdoa jam 02:00 subuh, "Tuhan, aku tahu kalau selama hidupnya suamiku bukanlah suami atau ayah yang baik! Aku tahu dia sudah mengkhianati pernikahan kami, aku tahu dia tidak jujur dalam bisnisnya, dan kalaupun dia memberikan sumbangan, itu hanya untuk popularitas saja untuk menutupi perbuatannya yang tidak benar dihadapanMu. Tapi Tuhan, tolong pandang anak-anak yang telah Engkau titipkan pada kami, mereka masih membutuhkan seorang ayah. Hamba tidak mampu membesarkan mereka seorang diri."

Dan setelah itu istrinya berhenti berkata-kata tapi air matanya semakin deras mengalir di pipinya yang kelihatan tirus karena kurang istirahat.

Melihat peristiwa itu, tanpa terasa, air mata mengalir di pipi pengusaha ini. Timbul penyesalan bahwa selama ini bahwa dia bukanlah suami yang baik. Dan ayah yang menjadi contoh bagi anak-anaknya..

Malam ini dia baru menyadari betapa besar cinta istri dan anak-anak padanya.

Waktu terus bergulir, waktu yang dia miliki hanya 10 menit lagi. Melihat waktu yang makin sempit semakin menangislah si pengusaha ini, penyesalan yang luar biasa. Tapi waktunya sudah terlambat! Tidak mungkin dalam waktu 10 menit ada yang berdoa 47 orang!

Dengan setengah bergumam dia bertanya,"Apakah diantara karyawanku, kerabatku, teman bisnisku, teman organisasiku tidak ada yang berdoa buatku?"

Jawab si Malaikat, " Ada beberapa yang berdoa buatmu. Tapi mereka tidak Tulus. Bahkan ada yang mensyukuri penyakit yang kau derita saat ini. Itu semua karena selama ini kamu arogan, egois dan bukanlah atasan yang baik. Bahkan kau tega memecat karyawan yang tidak bersalah". Si pengusaha tertunduk lemah, dan pasrah kalau malam ini adalah malam yang terakhir buat dia. Tapi dia minta waktu sesaat untuk melihat anak dan si istri yang setia menjaganya sepanjang malam.

Air matanya tambah deras, ketika melihat anaknya yang sulung tertidur di kursi rumah sakit dan si istri yang kelihatan lelah juga tertidur di kursi sambil memangku si bungsu.

Ketika waktu menunjukkan pukul 24:00, tiba-tiba si Malaikat berkata, Tuhan melihat air matamu dan penyesalanmu!! Kau tidak jadi meninggal, karena ada 47 orang yang berdoa buatmu tepat jam 24:00".

Dengan terheran-heran dan tidak percaya, si pengusaha bertanya siapakah yang 47 orang itu. Sambil tersenyum si Malaikat menunjukkan suatu tempat yang pernah dia kunjungi bulan lalu.

Bukankah itu Panti Asuhan ? kata si pengusaha pelan. "Benar anakku, kau pernah memberi bantuan bagi mereka beberapa bulan yang lalu, walau aku tahu tujuanmu saat itu hanya untuk mencari popularitas saja dan untuk menarik perhatian pemerintah dan investor luar negeri."

"Tadi pagi, salah seorang anak panti asuhan tersebut membaca di koran kalau seorang pengusaha terkena stroke dan sudah 7 hari di ICU. Setelah melihat gambar di koran dan yakin kalau pria yang sedang koma adalah kamu, pria yang pernah menolong mereka dan akhirnya anak-anak panti asuhan sepakat berdoa buat kesembuhanmu."

Doa sangat besar kuasanya. Tak jarang kita malas. Tidak punya waktu. Tidak terbeban untuk berdoa bagi orang lain.

Ketika kita mengingat seorang sahabat lama/keluarga, kita pikir itu hanya kebetulan saja padahal seharusnya kita berdoa bagi dia. Mungkin saja pada saat kita mengingatnya dia dalam keadaan butuh dukungan doa dari orang-orang yang mengasihi dia.

Disaat kita berdoa bagi orang lain, kita akan mendapatkan kekuatan baru dan kita bisa melihat kemuliaan Tuhan dari peristiwa yang terjadi.

Hindarilah perbuatan menyakiti orang lain... Sebaliknya perbanyaklah berdoa buat orang lain.

sajak : Bukan Cinta


https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6350621372319428354#editor/target=post;postID=6020250003955330548

Bukan Cinta,,


Tak tahu mengapa
Mata mereka tertutup buta
Tak tahu menahu tentang cinta
Semua mengatas namakan cinta

Padahal..
Cinta bukan sumber bahagia
Namun..
Ketiadaan cinta jadi sumber derita

Lenyapkan saja cinta
Biar tak jadi gila
Permainkan cinta
Sebelum di permainkan cinta

Cinta..
Adalah ocehan indah belaka
Jika cinta datang
Kadang di situlah derita tertanam


                                     -syarif alfarisi-

sajak : pupus


https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6350621372319428354#editor/target=post;postID=6154539204728899677;onPublishedMenu=allposts;onClosedMenu=allposts;postNum=0;src=link


Pupus..


Jawab yang selalu di harap
Ternyata keluar kata yang pedas
Apa boleh buat, terima saja..

Tertawa.. Tertawa..
Padahal hatinya menangis
Sudah, jika tak tahan menangislah
Jangan paksakan diri menahan air mata

Optimis buat menangis..
Pesimis buat terkikis..
Semua habis, hilang, melayang
Tak berbekas impian

Kejam, dendam
Bagai kerikil tajam
Terpintas selalu di khayal

Lupakan..
Lupakan..
Masih banyak kecantikan..


                                     -syarif alfarisi-

Mustajabnya Doa Seorang Ibu

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6350621372319428354#editor/target=post;postID=3419310400459480666;onPublishedMenu=posts;onClosedMenu=posts;postNum=1;src=link


Ibu, Doanya di dengar Allah swt, laknatnya di aminkan malaikat, dan caci makinya tembus sampai langit ke tujuh.

Ibu jangan di pancing-pancing kemarahannya, jangan bangkitkan kesalahannya, dan jangan di buat meluap murkanya. Sekali meluncur dari mulutnya kata-kata yang tidak baik, sama artinya "sabada dadi" terjadilah yang akan terjadi.

Berbahagialah wahai orang-orang yang masih sempat hidup bersama ibunya. Syurga ada di telapak kaki ibu. Keberkahan hidup akan terus mengalir bersama sang ibu. Jangan biarkan waktu berlalu tanpa ada pengabdian kepada sang ibu. Terlalu banyak dan bahkan tidak terhingga pengorbanannya.

Ingatlah, ketika kalian masih hidup  bersama ibu dan orang tua, kalian layaknya seorang raja atau ratu. Kalian tidak pernah repot. Mau apa saja tinggal menyuruh ibu. Ingin makan tinggal berteriak kepada ibu. Padahal semua yang ada adalah milik ibu dan orang tua. Mereka yang punya uang, mereka yang mencari duit, dan mereka yang mempunyai perlengkapan. Satu yang di harapkan oleh orang tua, kelak kalian mampu "mikul duwur mendem jero", artinya "mengangkat harkat dan martabat orang tua"

Sungguh sangat ironis apa yang terjadi, "ketika orang tua kaya anaknya menjadi raja", dan "ketika anaknya kaya, orang tua menjadi pembantu". fenomena ini tidak di pungkiri, walau prosentasenya kecil. Imam muslim dalam kumpulan hadits shahihnya yang menceritakan kisah seorang anak yang "didemo" atau terkena fitnah karena mengabaikan panggilan ibunya.

Adalah seorang yang taat beribadah dari kaum bani israel, bernama Juraij. Tidak diragukan lagi keshalehannya, sampai seluruh kaum mengenalnya. Mereka semua menaruh hormat dan menyanjungnya. Hubungan sosialnya bagus, suka menolong, dan sangat peduli kepada kaum dhuafa'.

Pada suatu hari ketika ia sedang melakukan ibadah di sebuah mushalla, ibunya datang memanggilnya, mungkin ada sebuah keperluan yang tidak seberapa. "Juraij, anakku," katanya.

Sang anak sedang shalat. Dia mendengar panggilan ibunya, tetapi ada kebimbangan antara meneruskan shalat atau membatalkan shalat. "Yaa allah, ibuku atau shalatku?'', katanya dalam hati.
Dan akhirnya panggilan ibunya itu di abaikan, dia memilih meneruskan shalatnya.

Ibunya pulang ke rumah tanpa mendapat jawaban, tidak ada kata "ya" atau "tidak" yang keluar dari juraij. Ibunya tahu juraij sedang shalat. "tak apalah, besok masih ada waktu", katanya sambil beranjak meninggalkan mushalla.

Keesokan harinya datang kembali dan memanggil : "juraij, anakku" ibunya memanggil. Namun juraij sedang khusyuk dalam shalatnya. Dia mendengar panggilan ibunya dari balik tembok mushalla. Batinnya bertanya : "yaa Allah, ibuku atau shalatku?". Ada kebimbangan pilihan, menemui ibunya atau terus menjalankan ibadah. Dan juraij memilih terus menjalankan ibadah, membiarkan ibunya menunggu di luar.

Lama sekali ibunya menanti di luar mushalla, tetapi tetap tidak ada jawaban. "Jawaban saja tidak ada, ngapain lama-lama disini," kata ibu itu berbisik sambil beranjak meninggalkan mushalla.

Untuk kali ketiga ibunya datang ke mushalla. Kali ini panggilannya agak di keraskan sedikit. Pagi itu, juraij benar-benar sedang sujud di hadapan Allah swt. Dia konsentrasi penuh dalam ibadah. Panggilan ibunya di abaikan. Dia lebih memilih bertemu Allah dari pada menemui ibunya. Padahal semestinya, menemui ibunya terlebih dahulu, baru menghadap Allah swt. Sebab ibu adalah pintu yang membuka jalan untuk bertemu Allah swt.

Jawaban yang di tunggu-tunggu tidak kunjung terdengar, sama dengan hari pertama dan hari kedua. Habis sudah keinginannya untuk bertemu dengan anaknya, sekalipun tidak pernah habis kesabarannya. Dalam kejengkelannya, ibu ini berdoa : "yaa Allah, janganlah engkau matikan juraij sebelum dia di lilit masalah pelacuran".

Hari terus berlalu. Semua orang di hebohkan berita yang menggemparkan. Seorang pelacur hamil tanpa ayah. Dia mengaku telah di zinai oleh juraij dalam mushalla tempat ibadahnya. Masyarakat berbondong-bondong mendatangi mushalla dengan teriakan dan yel-yel "habisi juraij, bakar mushalla yang di jadikan tempat mesum" dan sebagainya. Mereka terlanjur emosi, tidak perlu dialog dan negosiasi dengan juraij. "Jelas, ini sebuah penistaan simbol-simbol agama", kata pemimpin dari mereka. Tiba-tiba seseorang mulai melemparkan batu ke mushalla, karuan saja yang lain ikut beramai-ramai menyerbu mushalla. Mushalla roboh dan hancur berantakan.

Juraij tidak punya waktu untuk menanyakan masalah, masyarakat sudah tidak terkendalikan amarahnya. Dia terpaksa keluar demi menyelamatkan diri dari runtuhan bangunan. Habis sudah bangunan itu, luluh lantah rata dengan tanah. Ketika situasi agak mereda, juraij bertanya kepada mereka : "ada apa ini?"

Mereka menjelaskan : "seorang perempuan telah melahirkan anak tanpa bapak. Dia mengaku kamu yang telah melakukannya". 

"Ini adalah fitnah. coba bawa kesini bayi yang di lahirkan?" juraij meminta kepada mereka. Kemudian mereka pun mendatangkan bayi yang di maksud.

Dengan izin Allah swt, bayi itu di pegang perut dan kepalanya, lalu di tanya oleh juraij : "Hai anak kecil, siapakah bapak mu?"

Bayi itu menjawab : "bapakku adalah si fulan penggembala kambing, dan ibuku adalah si fulanah seorang pelacur".

Seketika itu seluruh masyarakat tertegun, takjub saling memandang satu dengan yang lainnya, seakan menunjukan penyesalan atas tindakannya yang sembrono tanpa klarifikasi terlebih dahulu. Namun mereka masih kurang yakin sebelum menanyakan langsung kepada pelacur dan penggembala yang di maksud. Pelacur itu mengaku, bahwa memang benar apa yang di katakan sang bayi. Suatu senja dia datang ke mushalla juraij dan ingin mengajaknya berhubungan intim. Tetapi juraij tidak bergeming atas rayuan dan dandanan yang merangsang, dia terus beribadah. "Padahal nafsuku benar-benar sedang memuncak", katanya. Dalam kondisi seperti itu, ada seorang penggembala kambing yang lewat, lalu di ajak menyalurkan nafsunya di emperan mushalla. Maka terjadilah apa yang sudah terjadi, hamil dan melahirkan.

Kini menjadi jelas masalahnya. Mushalla terlanjur porak poranda. Masyarakat ingin membangunnya kembali dalam bentuk yang lebih indah, akan di hias dengan emas dan perak, tetapi juraij hanya meminta supaya di kembalikan seperti sedia kala yaitu bangunan dari tanah.

Kisah ini memberi pelajaran kepada kita betapa pentingnya menyambut panggilan seorang ibu, dan betapa mustajabnya doa seorang ibu. Ibu mana yang tega melihat anaknya menderita. Dan inilah yang harus di sadari oleh kita. Jangan ada kata "entar" ketika ibu menyuruh dalam hal kebaikan. Jangan ada kata "tidak" ketika ibu memerintah, kecuali kalau kita sedang dalam keadaan darurat. Buatlah sesenang mungkin ibu kita, supaya kalimat yang keluar dari mulutnya adalah kalimat pujian bukan kalimat cacian.

Perempuan Sholeha

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6350621372319428354#editor/target=post;postID=4287441712601961586

Saya akan meriwayatkan kepada anda kisah yang sangat berkesan ini, seakan-akan anda mendengarnya langsung dari lisan ibunya. 

Berkatalah si ibu gadis kecil tersebut:

Saat aku mengandung putriku, Afnan, ayahku melihat sebuah mimpi di dalam tidurnya. Ia melihat banyak burung pipit yang terbang di angkasa. Di antara burung-burung tersebut terdapat seekor merpati putih yang sangat cantik, terbang jauh meninggi ke langit. Maka aku bertanya kepada ayah tentang tafsir dari mimpi tersebut. Maka ia mengabarkan kepadaku bahwa burung-burung pipit tersebut adalah anak-anakku, dan sesungguhnya aku akan melahirkan seorang gadis yang bertakwa. Ia tidak menyempurnakan tafsirnya, sementara akupun tidak meminta tafsir tentang takwil mimpi tersebut.

Setelah itu aku melahirkan putriku, Afnan. Ternyata dia benar-benar seorang gadis yang bertakwa. Aku melihatnya sebagai seorang wanita yang shalihah sejak kecil. Dia tidak pernah mau mengenakan celana, tidak juga mengenakan pakaian pendek, dia akan menolak dengan keras, padahal dia masih kecil. Jika aku mengenakan rok pendek padanya, maka ia mengenakan celana panjang di balik rok tersebut.

Afnan senantiasa menjauh dari segenap perkara yang membuat murka Allah. Setelah dia menduduki kelas 4 SD, dia semakin menjauh dari segenap perkara yang membuat murka Allah. Dia menolak pergi ke tempat-tempat permainan, atau ke pesta-pesta walimah. Dia adalah seorang gadis yang berpegang teguh dengan agamanya, sangat cemburu di atasnya, menjaga shalat-shalatnya, dan sunnah-sunnahnya. Tatkala dia sampai SMP mulailah dia berdakwah kepada agama Allah. Dia tidak pernah melihat sebuah kemungkaran kecuali dia mengingkarinya, dan memerintah kepada yang ma'ruf dan senantiasa menjaga hijabnya.

Permulaan dakwahnya kepada agama Allah adalah permulaan masuk Islamnya pembantu kami yang berkebangsaan Srilangka.

Ibu Afnan melanjutkan ceritanya:


Tatkala aku mengandung putraku, Abdullah, aku terpaksa mempekerjakan seorang pembantu untuk merawatnya saat kepergianku, karena aku adalah seorang karyawan. Ia beragama Nashrani. Setelah Afnan mengetahui bahwa pembantu tersebut tidak muslimah, dia marah dan mendatangiku seraya berkata: "Wahai ummi, bagaimana dia akan menyentuh pakaian-pakaian kita, mencuci piring-piring kita, dan merawat adikku, sementara dia adalah wanita kafir?! Aku siap meninggalkan sekolah, dan melayani kalian selama 24 jam, dan jangan menjadikan wanita kafir sebagai pembantu kita!!"

Aku tidak memperdulikannya, karena memang kebutuhanku terhadap pembantu tersebut amat mendesak. Hanya dua bulan setelah itu, pembantu tersebut mendatangiku dengan penuh kegembiraan seraya berkata: "Mama aku sekarang menjadi seorang muslimah, karena jasa Afnan yang terus mendakwahiku. Dia telah mengajarkan kepadaku tentang Islam." Maka akupun sangat bergembira mendengar kabar baik ini.

Saat Afnan duduk di kelas 3 SMP, pamannya memintanya hadir dalam pesta pernikahannya. Dia memaksa Afnan untuk hadir, jika tidak maka dia tidak akan ridha kepadanya sepanjang hidupnya. Akhirnya Afnan menyetujui permintaannya setelah ia mendesak dengan sangat, dan juga karena Afnan sangat mencintai pamannya tersebut.

Afnan bersiap untuk mendatangi pernikahan itu. Dia mengenakan sebuah gaun yang menutupi seluruh tubuhnya. Dia adalah seorang gadis yang sangat cantik. Setiap orang yang melihatnya akan terkagum-kagum dengan kecantikannya. Semua orang kagum dan bertanya-tanya, siapa gadis ini? Mengapa engkau menyembunyikannya dari kami selama ini?

Setelah menghadiri pernikahan pamannya, Afnan terserang kanker tanpa kami ketahui. Dia merasakan sakit yang teramat sakit pada kakinya. Dia menyembunyikan rasa sakit tersebut dan berkata: "Sakit ringan di kakiku." Sebulan setelah itu dia menjadi pincang, saat kami bertanya kepadanya, dia menjawab: "Sakit ringan, akan segera hilang insya Allah." Setelah itu dia tidak mampu lagi berjalan. Kamipun membawanya ke rumah sakit.

Selesailah pemeriksaan dan diagnosa yang sudah semestinya. Di dalam salah satu ruangan di rumah sakit tersebut, sang dokter berkebangsaan Turki mengumpulkanku, ayahnya, dan pamannya. Hadir pula pada saat itu seorang penerjemah, dan seorang perawat yang bukan muslim. Sementara Afnan berbaring di atas ranjang.

Dokter mengabarkan kepada kami bahwa Afnan terserang kanker di kakinya, dan dia akan memberikan 3 suntikan kimiawi yang akan merontokkan seluruh rambut dan alisnya. Akupun terkejut dengan kabar ini. Kami duduk menangis. Adapun Afnan, saat dia mengetahui kabar tersebut dia sangat bergembira dan berkata "Alhamdulillah... alhamdulillah... alhamdulillah." Akupun mendekatkan dia di dadaku sementara aku dalam keadaan menangis. Dia berkata: "Wahai ummi, alhamdulillah, musibah ini hanya menimpaku, bukan menimpa agamaku."

Diapun bertahmid memuji Allah dengan suara keras, sementara semua orang melihat kepadanya dengan tercengang!!

Aku merasa diriku kecil, sementara aku melihat gadis kecilku ini dengan kekuatan imannya dan aku dengan kelemahan imanku. Setiap orang yang bersama kami sangat terkesan dengan kejadian ini dan kekuatan imannya. Adapun penerjemah dan para perawat, merekapun menyatakan keislamannya!!

Berikutnya adalah perjalanan dia untuk berobat dan berdakwah kepada Allah.

Sebelum Afnan memulai pengobatan dengan bahan-bahan kimia, pamannya meminta akan menghadirkan gunting untuk memotong rambutnya sebelum rontok karena pengobatan. Diapun menolak dengan keras. Aku mencoba untuk memberinya pengertian agar memenuhi keinginan pamannya, akan tetapi dia menolak dan bersikukuh seraya berkata: "Aku tidak ingin terhalangi dari pahala bergugurannya setiap helai rambut dari kepalaku."

Kami (aku, suami dan Afnan) pergi untuk pertama kalinya ke Amerika dengan pesawat terbang. Saat kami sampai di sana, kami disambut oleh seorang dokter wanita Amerika yang sebelumnya pernah bekerja di Saudi selama 15 tahun. Dia bisa berbicara bahasa Arab. Saat Afnan melihatnya, dia bertanya kepadanya: "Apakah engkau seorang muslimah?" Dia menjawab: "Tidak."

Afnanpun meminta kepadanya untuk mau pergi bersamanya menuju ke sebuah kamar kosong. Dokter wanita itupun membawanya ke salah satu ruangan. Setelah itu dokter wanita itu kemudian mendatangiku sementara kedua matanya telah terpenuhi linangan air mata. Dia mengatakan bahwa sesungguhnya sejak 15 tahun dia di Saudi, tidak pernah seorangpun mengajaknya kepada Islam. dan di sini datang seorang gadis kecil yang mendakwahinya. Akhirnya dia masuk Islam melalui tangannya.

Di Amerika, mereka mengabarkan bahwa tidak ada obat baginya kecuali mengamputasi kakinya,karena dikhawatirkan kanker tersebut akan menyebar sampai ke paru-paru dan akan memarikannya akan tetapi Afnan sama sekali tidak takut terhadap amputasi, yang dia khawatirkan adalah perasaan kedua orangtuanya.

Pada suatu hari Afnan berbicara dengan salah satu temanku melalui Messenger. Afnan bertanya kepadanya: "Bagaimana menurut pendapatmu, apakah aku akan menyetujui mereka untuk mengamputasi kakiku?" Maka dia mencoba untuk menenangkannya, dan bahwa mungkin kaki palsu sebagai gantinya. Maka Afnan menjawab dengan satu kalimat: "Aku tidak memperdulikan kakiku, yang aku inginkan adalah mereka meletakkanku di dalam kuburku sementara aku dalam keadaan sempurna. " Temanku tersebut berkata: "Sesungguhnya setelah jawaban Afnan, aku merasa kecil di hadapan Afnan, Aku tidak memahami sesuatupun, seluruh pikiranku saat itu tertuju kepada bagaimana dia nanti akan hidup, sedangkan fikirannya lebih tinggi dari itu, yaitu bagaimana nanti dia akan mati."

Kamipun kembali ke Saudi setelah kami amputasi kaki Afnan, dan tiba-tiba kanker telah menyerang paru-paru!!

Keadaannya sungguh membuat putus asa, karena mereka meletakkannya di atas ranjang, dan disisinya terdapat sebuah tombol. Hanya dengan menekan tombol tersebut maka dia akan tersuntik dengan jarum bius dan jarum infus.

Di rumah sakit tidak terdengar suara adzan dan keadaannya seperti orang yang koma. Tetapi hanya dengan masuknya waktu shalat dia terbangun dari komanya, kemudian meminta air, kemudian wudhu dan shalat, tanpa ada seorangpun yang membangunkannya!!

Di hari-hari terakhir Afnan, para dokter mangabari kami bahwa tidak ada gunanya lagi ia di rumah sakit. Sehari atau dua hari lagi dia akan meninggal. Aku ingin dia menghabiskan hari-hari terakhirnya di rumah ibuku.

Di rumah, dia tidur di sebuah kamar kecil. Aku duduk di sisinya dan berbicara dengannya.

Pada suatu hari, istri pamannya datang menjenguk. Aku katakan bahwa dia berada di dalam kamar sedang tidur. Ketika dia masuk ke dalam kamar, dia terkejut kemudian menutup pintu. Akupun terkejut dan khawatir terjadi sesuatu pada Afnan. Maka aku bertanya kepadanya, tetapi dia tidak menjawab. Maka aku tidak mampu lagi menguasai diri, akupun pergi kepadanya. Saat aku membuka kamar, apa yang kulihat membuatku tercengang. Saat itu lampu dalam keadaan dimatikan, sementara wajah Afnan memancarkan cahaya di tengah kegelapan malam. Dia melihat kepadaku kemudian tersenyum.
Dia berkata: "Ummi kemarilah, aku mau menceritakan sebuah mimpi yang telah kulihat."
Kukatakan: "(Mimpi) yang baik Insya Allah. "

Dia berkata: "Aku melihat diriku sebagai pengantin di hari pernikahanku, aku mengenakan gaun berwarna putih yang lebar. Engkau dan keluargaku, kalian semua berada disekelilingku. Semuanya berbahagia dengan pernikahanku, kecuali engkau ummi."

Akupun bertanya kepadanya: "Bagaimana menurutmu tentang tafsir mimpimu tersebut."

Dia menjawab: "Aku menyangka, bahwasanya aku akan meninggal, dan mereka semua akan melupakanku, dan hidup dalam kehidupan mereka dalam keadaan berbahagia kecuali engkau ummi. Engkau terus mengingatku, dan bersedih atas perpisahanku."

Benarlah apa yang dikatakan Afnan. Aku sekarang ini, saat aku menceritakan kisah ini, aku menahan sesuatu yang membakar dari dalam diriku, setiap kali aku mengingatnya, akupun bersedih atasnya.

Pada suatu hari, aku duduk dekat dengan Afnan, aku dan ibuku. Saat itu Afnan berbaring diatas ranjangnya kemudian dia terbangun. Dia berkata: "Ummi, mendekatlah kepadaku, aku ingin menciummu." Maka diapun menciumku. Kemudian dia berkata: "Aku ingin mencium pipimu yang kedua ." Akupun mendekat kepadanya, dan dia menciumku, kemudian kembali berbaring di atas ranjangnya. Ibuku berkata kepadanya: "Afnan, ucapkanlah la ilaaha illallah."

Kemudian dia menghadapkan wajah ke arah qiblat dan berkata: "Asyhadu allaa ilaaha illallaah." Dia mengucapkannya sebanyak 10 kali. Kemudian dia berkata: "Asyhadu allaa ilaaha illallahu wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah." Dan keluarlah rohnya.

Maka kamar tempat dia meninggal di dalamnya dipenuhi oleh aroma minyak kesturi selama 4 hari. Aku tidak mampu untuk tabah, keluargaku takut akan terjadi sesuatu terhadap diriku. Maka merekapun meminyaki kamar tersebut dengan aroma lain sehingga aku tidak bisa lagi mencium aroma Afnan. Dan tidak ada yang aku katakan kecuali alhamdulillah rabbil 'aalamin.

 

(Majalah Qiblati edisi 04 tahun III 01-2008/12-1428)

sajak : Maut

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6350621372319428354#editor/target=post;postID=6310858902546627685;onPublishedMenu=posts;onClosedMenu=posts;postNum=1;src=link

Maut..


Ketika rumah terakhir adalah tanah
Kain kafan adalah pakaiannya
Sebuah keranda jadi kendaraannya
Mungkin dulu semua yang kau punya adalah berbeda
Namun akhirnya adalah sama jua
 
Harta, tahta dunia tiada guna
Lenyaplah kenikmatannya
Hilanglah kelezatannya
 

Terputuslah semuanya
Saat itu tangis tiada guna
Penyesalanpun fatamorgana

Tiada sanak dan saudara
Tinggalah sebatangkara,,
Tiada daya dan upaya,,
Hanya Allah azza wajalla yang jadi penawarnya


                                                      -syarif alfarisi-