Sunday, January 3, 2016

sajak : pupus


https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6350621372319428354#editor/target=post;postID=6154539204728899677;onPublishedMenu=allposts;onClosedMenu=allposts;postNum=0;src=link


Pupus..


Jawab yang selalu di harap
Ternyata keluar kata yang pedas
Apa boleh buat, terima saja..

Tertawa.. Tertawa..
Padahal hatinya menangis
Sudah, jika tak tahan menangislah
Jangan paksakan diri menahan air mata

Optimis buat menangis..
Pesimis buat terkikis..
Semua habis, hilang, melayang
Tak berbekas impian

Kejam, dendam
Bagai kerikil tajam
Terpintas selalu di khayal

Lupakan..
Lupakan..
Masih banyak kecantikan..


                                     -syarif alfarisi-

Mustajabnya Doa Seorang Ibu

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6350621372319428354#editor/target=post;postID=3419310400459480666;onPublishedMenu=posts;onClosedMenu=posts;postNum=1;src=link


Ibu, Doanya di dengar Allah swt, laknatnya di aminkan malaikat, dan caci makinya tembus sampai langit ke tujuh.

Ibu jangan di pancing-pancing kemarahannya, jangan bangkitkan kesalahannya, dan jangan di buat meluap murkanya. Sekali meluncur dari mulutnya kata-kata yang tidak baik, sama artinya "sabada dadi" terjadilah yang akan terjadi.

Berbahagialah wahai orang-orang yang masih sempat hidup bersama ibunya. Syurga ada di telapak kaki ibu. Keberkahan hidup akan terus mengalir bersama sang ibu. Jangan biarkan waktu berlalu tanpa ada pengabdian kepada sang ibu. Terlalu banyak dan bahkan tidak terhingga pengorbanannya.

Ingatlah, ketika kalian masih hidup  bersama ibu dan orang tua, kalian layaknya seorang raja atau ratu. Kalian tidak pernah repot. Mau apa saja tinggal menyuruh ibu. Ingin makan tinggal berteriak kepada ibu. Padahal semua yang ada adalah milik ibu dan orang tua. Mereka yang punya uang, mereka yang mencari duit, dan mereka yang mempunyai perlengkapan. Satu yang di harapkan oleh orang tua, kelak kalian mampu "mikul duwur mendem jero", artinya "mengangkat harkat dan martabat orang tua"

Sungguh sangat ironis apa yang terjadi, "ketika orang tua kaya anaknya menjadi raja", dan "ketika anaknya kaya, orang tua menjadi pembantu". fenomena ini tidak di pungkiri, walau prosentasenya kecil. Imam muslim dalam kumpulan hadits shahihnya yang menceritakan kisah seorang anak yang "didemo" atau terkena fitnah karena mengabaikan panggilan ibunya.

Adalah seorang yang taat beribadah dari kaum bani israel, bernama Juraij. Tidak diragukan lagi keshalehannya, sampai seluruh kaum mengenalnya. Mereka semua menaruh hormat dan menyanjungnya. Hubungan sosialnya bagus, suka menolong, dan sangat peduli kepada kaum dhuafa'.

Pada suatu hari ketika ia sedang melakukan ibadah di sebuah mushalla, ibunya datang memanggilnya, mungkin ada sebuah keperluan yang tidak seberapa. "Juraij, anakku," katanya.

Sang anak sedang shalat. Dia mendengar panggilan ibunya, tetapi ada kebimbangan antara meneruskan shalat atau membatalkan shalat. "Yaa allah, ibuku atau shalatku?'', katanya dalam hati.
Dan akhirnya panggilan ibunya itu di abaikan, dia memilih meneruskan shalatnya.

Ibunya pulang ke rumah tanpa mendapat jawaban, tidak ada kata "ya" atau "tidak" yang keluar dari juraij. Ibunya tahu juraij sedang shalat. "tak apalah, besok masih ada waktu", katanya sambil beranjak meninggalkan mushalla.

Keesokan harinya datang kembali dan memanggil : "juraij, anakku" ibunya memanggil. Namun juraij sedang khusyuk dalam shalatnya. Dia mendengar panggilan ibunya dari balik tembok mushalla. Batinnya bertanya : "yaa Allah, ibuku atau shalatku?". Ada kebimbangan pilihan, menemui ibunya atau terus menjalankan ibadah. Dan juraij memilih terus menjalankan ibadah, membiarkan ibunya menunggu di luar.

Lama sekali ibunya menanti di luar mushalla, tetapi tetap tidak ada jawaban. "Jawaban saja tidak ada, ngapain lama-lama disini," kata ibu itu berbisik sambil beranjak meninggalkan mushalla.

Untuk kali ketiga ibunya datang ke mushalla. Kali ini panggilannya agak di keraskan sedikit. Pagi itu, juraij benar-benar sedang sujud di hadapan Allah swt. Dia konsentrasi penuh dalam ibadah. Panggilan ibunya di abaikan. Dia lebih memilih bertemu Allah dari pada menemui ibunya. Padahal semestinya, menemui ibunya terlebih dahulu, baru menghadap Allah swt. Sebab ibu adalah pintu yang membuka jalan untuk bertemu Allah swt.

Jawaban yang di tunggu-tunggu tidak kunjung terdengar, sama dengan hari pertama dan hari kedua. Habis sudah keinginannya untuk bertemu dengan anaknya, sekalipun tidak pernah habis kesabarannya. Dalam kejengkelannya, ibu ini berdoa : "yaa Allah, janganlah engkau matikan juraij sebelum dia di lilit masalah pelacuran".

Hari terus berlalu. Semua orang di hebohkan berita yang menggemparkan. Seorang pelacur hamil tanpa ayah. Dia mengaku telah di zinai oleh juraij dalam mushalla tempat ibadahnya. Masyarakat berbondong-bondong mendatangi mushalla dengan teriakan dan yel-yel "habisi juraij, bakar mushalla yang di jadikan tempat mesum" dan sebagainya. Mereka terlanjur emosi, tidak perlu dialog dan negosiasi dengan juraij. "Jelas, ini sebuah penistaan simbol-simbol agama", kata pemimpin dari mereka. Tiba-tiba seseorang mulai melemparkan batu ke mushalla, karuan saja yang lain ikut beramai-ramai menyerbu mushalla. Mushalla roboh dan hancur berantakan.

Juraij tidak punya waktu untuk menanyakan masalah, masyarakat sudah tidak terkendalikan amarahnya. Dia terpaksa keluar demi menyelamatkan diri dari runtuhan bangunan. Habis sudah bangunan itu, luluh lantah rata dengan tanah. Ketika situasi agak mereda, juraij bertanya kepada mereka : "ada apa ini?"

Mereka menjelaskan : "seorang perempuan telah melahirkan anak tanpa bapak. Dia mengaku kamu yang telah melakukannya". 

"Ini adalah fitnah. coba bawa kesini bayi yang di lahirkan?" juraij meminta kepada mereka. Kemudian mereka pun mendatangkan bayi yang di maksud.

Dengan izin Allah swt, bayi itu di pegang perut dan kepalanya, lalu di tanya oleh juraij : "Hai anak kecil, siapakah bapak mu?"

Bayi itu menjawab : "bapakku adalah si fulan penggembala kambing, dan ibuku adalah si fulanah seorang pelacur".

Seketika itu seluruh masyarakat tertegun, takjub saling memandang satu dengan yang lainnya, seakan menunjukan penyesalan atas tindakannya yang sembrono tanpa klarifikasi terlebih dahulu. Namun mereka masih kurang yakin sebelum menanyakan langsung kepada pelacur dan penggembala yang di maksud. Pelacur itu mengaku, bahwa memang benar apa yang di katakan sang bayi. Suatu senja dia datang ke mushalla juraij dan ingin mengajaknya berhubungan intim. Tetapi juraij tidak bergeming atas rayuan dan dandanan yang merangsang, dia terus beribadah. "Padahal nafsuku benar-benar sedang memuncak", katanya. Dalam kondisi seperti itu, ada seorang penggembala kambing yang lewat, lalu di ajak menyalurkan nafsunya di emperan mushalla. Maka terjadilah apa yang sudah terjadi, hamil dan melahirkan.

Kini menjadi jelas masalahnya. Mushalla terlanjur porak poranda. Masyarakat ingin membangunnya kembali dalam bentuk yang lebih indah, akan di hias dengan emas dan perak, tetapi juraij hanya meminta supaya di kembalikan seperti sedia kala yaitu bangunan dari tanah.

Kisah ini memberi pelajaran kepada kita betapa pentingnya menyambut panggilan seorang ibu, dan betapa mustajabnya doa seorang ibu. Ibu mana yang tega melihat anaknya menderita. Dan inilah yang harus di sadari oleh kita. Jangan ada kata "entar" ketika ibu menyuruh dalam hal kebaikan. Jangan ada kata "tidak" ketika ibu memerintah, kecuali kalau kita sedang dalam keadaan darurat. Buatlah sesenang mungkin ibu kita, supaya kalimat yang keluar dari mulutnya adalah kalimat pujian bukan kalimat cacian.

Perempuan Sholeha

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6350621372319428354#editor/target=post;postID=4287441712601961586

Saya akan meriwayatkan kepada anda kisah yang sangat berkesan ini, seakan-akan anda mendengarnya langsung dari lisan ibunya. 

Berkatalah si ibu gadis kecil tersebut:

Saat aku mengandung putriku, Afnan, ayahku melihat sebuah mimpi di dalam tidurnya. Ia melihat banyak burung pipit yang terbang di angkasa. Di antara burung-burung tersebut terdapat seekor merpati putih yang sangat cantik, terbang jauh meninggi ke langit. Maka aku bertanya kepada ayah tentang tafsir dari mimpi tersebut. Maka ia mengabarkan kepadaku bahwa burung-burung pipit tersebut adalah anak-anakku, dan sesungguhnya aku akan melahirkan seorang gadis yang bertakwa. Ia tidak menyempurnakan tafsirnya, sementara akupun tidak meminta tafsir tentang takwil mimpi tersebut.

Setelah itu aku melahirkan putriku, Afnan. Ternyata dia benar-benar seorang gadis yang bertakwa. Aku melihatnya sebagai seorang wanita yang shalihah sejak kecil. Dia tidak pernah mau mengenakan celana, tidak juga mengenakan pakaian pendek, dia akan menolak dengan keras, padahal dia masih kecil. Jika aku mengenakan rok pendek padanya, maka ia mengenakan celana panjang di balik rok tersebut.

Afnan senantiasa menjauh dari segenap perkara yang membuat murka Allah. Setelah dia menduduki kelas 4 SD, dia semakin menjauh dari segenap perkara yang membuat murka Allah. Dia menolak pergi ke tempat-tempat permainan, atau ke pesta-pesta walimah. Dia adalah seorang gadis yang berpegang teguh dengan agamanya, sangat cemburu di atasnya, menjaga shalat-shalatnya, dan sunnah-sunnahnya. Tatkala dia sampai SMP mulailah dia berdakwah kepada agama Allah. Dia tidak pernah melihat sebuah kemungkaran kecuali dia mengingkarinya, dan memerintah kepada yang ma'ruf dan senantiasa menjaga hijabnya.

Permulaan dakwahnya kepada agama Allah adalah permulaan masuk Islamnya pembantu kami yang berkebangsaan Srilangka.

Ibu Afnan melanjutkan ceritanya:


Tatkala aku mengandung putraku, Abdullah, aku terpaksa mempekerjakan seorang pembantu untuk merawatnya saat kepergianku, karena aku adalah seorang karyawan. Ia beragama Nashrani. Setelah Afnan mengetahui bahwa pembantu tersebut tidak muslimah, dia marah dan mendatangiku seraya berkata: "Wahai ummi, bagaimana dia akan menyentuh pakaian-pakaian kita, mencuci piring-piring kita, dan merawat adikku, sementara dia adalah wanita kafir?! Aku siap meninggalkan sekolah, dan melayani kalian selama 24 jam, dan jangan menjadikan wanita kafir sebagai pembantu kita!!"

Aku tidak memperdulikannya, karena memang kebutuhanku terhadap pembantu tersebut amat mendesak. Hanya dua bulan setelah itu, pembantu tersebut mendatangiku dengan penuh kegembiraan seraya berkata: "Mama aku sekarang menjadi seorang muslimah, karena jasa Afnan yang terus mendakwahiku. Dia telah mengajarkan kepadaku tentang Islam." Maka akupun sangat bergembira mendengar kabar baik ini.

Saat Afnan duduk di kelas 3 SMP, pamannya memintanya hadir dalam pesta pernikahannya. Dia memaksa Afnan untuk hadir, jika tidak maka dia tidak akan ridha kepadanya sepanjang hidupnya. Akhirnya Afnan menyetujui permintaannya setelah ia mendesak dengan sangat, dan juga karena Afnan sangat mencintai pamannya tersebut.

Afnan bersiap untuk mendatangi pernikahan itu. Dia mengenakan sebuah gaun yang menutupi seluruh tubuhnya. Dia adalah seorang gadis yang sangat cantik. Setiap orang yang melihatnya akan terkagum-kagum dengan kecantikannya. Semua orang kagum dan bertanya-tanya, siapa gadis ini? Mengapa engkau menyembunyikannya dari kami selama ini?

Setelah menghadiri pernikahan pamannya, Afnan terserang kanker tanpa kami ketahui. Dia merasakan sakit yang teramat sakit pada kakinya. Dia menyembunyikan rasa sakit tersebut dan berkata: "Sakit ringan di kakiku." Sebulan setelah itu dia menjadi pincang, saat kami bertanya kepadanya, dia menjawab: "Sakit ringan, akan segera hilang insya Allah." Setelah itu dia tidak mampu lagi berjalan. Kamipun membawanya ke rumah sakit.

Selesailah pemeriksaan dan diagnosa yang sudah semestinya. Di dalam salah satu ruangan di rumah sakit tersebut, sang dokter berkebangsaan Turki mengumpulkanku, ayahnya, dan pamannya. Hadir pula pada saat itu seorang penerjemah, dan seorang perawat yang bukan muslim. Sementara Afnan berbaring di atas ranjang.

Dokter mengabarkan kepada kami bahwa Afnan terserang kanker di kakinya, dan dia akan memberikan 3 suntikan kimiawi yang akan merontokkan seluruh rambut dan alisnya. Akupun terkejut dengan kabar ini. Kami duduk menangis. Adapun Afnan, saat dia mengetahui kabar tersebut dia sangat bergembira dan berkata "Alhamdulillah... alhamdulillah... alhamdulillah." Akupun mendekatkan dia di dadaku sementara aku dalam keadaan menangis. Dia berkata: "Wahai ummi, alhamdulillah, musibah ini hanya menimpaku, bukan menimpa agamaku."

Diapun bertahmid memuji Allah dengan suara keras, sementara semua orang melihat kepadanya dengan tercengang!!

Aku merasa diriku kecil, sementara aku melihat gadis kecilku ini dengan kekuatan imannya dan aku dengan kelemahan imanku. Setiap orang yang bersama kami sangat terkesan dengan kejadian ini dan kekuatan imannya. Adapun penerjemah dan para perawat, merekapun menyatakan keislamannya!!

Berikutnya adalah perjalanan dia untuk berobat dan berdakwah kepada Allah.

Sebelum Afnan memulai pengobatan dengan bahan-bahan kimia, pamannya meminta akan menghadirkan gunting untuk memotong rambutnya sebelum rontok karena pengobatan. Diapun menolak dengan keras. Aku mencoba untuk memberinya pengertian agar memenuhi keinginan pamannya, akan tetapi dia menolak dan bersikukuh seraya berkata: "Aku tidak ingin terhalangi dari pahala bergugurannya setiap helai rambut dari kepalaku."

Kami (aku, suami dan Afnan) pergi untuk pertama kalinya ke Amerika dengan pesawat terbang. Saat kami sampai di sana, kami disambut oleh seorang dokter wanita Amerika yang sebelumnya pernah bekerja di Saudi selama 15 tahun. Dia bisa berbicara bahasa Arab. Saat Afnan melihatnya, dia bertanya kepadanya: "Apakah engkau seorang muslimah?" Dia menjawab: "Tidak."

Afnanpun meminta kepadanya untuk mau pergi bersamanya menuju ke sebuah kamar kosong. Dokter wanita itupun membawanya ke salah satu ruangan. Setelah itu dokter wanita itu kemudian mendatangiku sementara kedua matanya telah terpenuhi linangan air mata. Dia mengatakan bahwa sesungguhnya sejak 15 tahun dia di Saudi, tidak pernah seorangpun mengajaknya kepada Islam. dan di sini datang seorang gadis kecil yang mendakwahinya. Akhirnya dia masuk Islam melalui tangannya.

Di Amerika, mereka mengabarkan bahwa tidak ada obat baginya kecuali mengamputasi kakinya,karena dikhawatirkan kanker tersebut akan menyebar sampai ke paru-paru dan akan memarikannya akan tetapi Afnan sama sekali tidak takut terhadap amputasi, yang dia khawatirkan adalah perasaan kedua orangtuanya.

Pada suatu hari Afnan berbicara dengan salah satu temanku melalui Messenger. Afnan bertanya kepadanya: "Bagaimana menurut pendapatmu, apakah aku akan menyetujui mereka untuk mengamputasi kakiku?" Maka dia mencoba untuk menenangkannya, dan bahwa mungkin kaki palsu sebagai gantinya. Maka Afnan menjawab dengan satu kalimat: "Aku tidak memperdulikan kakiku, yang aku inginkan adalah mereka meletakkanku di dalam kuburku sementara aku dalam keadaan sempurna. " Temanku tersebut berkata: "Sesungguhnya setelah jawaban Afnan, aku merasa kecil di hadapan Afnan, Aku tidak memahami sesuatupun, seluruh pikiranku saat itu tertuju kepada bagaimana dia nanti akan hidup, sedangkan fikirannya lebih tinggi dari itu, yaitu bagaimana nanti dia akan mati."

Kamipun kembali ke Saudi setelah kami amputasi kaki Afnan, dan tiba-tiba kanker telah menyerang paru-paru!!

Keadaannya sungguh membuat putus asa, karena mereka meletakkannya di atas ranjang, dan disisinya terdapat sebuah tombol. Hanya dengan menekan tombol tersebut maka dia akan tersuntik dengan jarum bius dan jarum infus.

Di rumah sakit tidak terdengar suara adzan dan keadaannya seperti orang yang koma. Tetapi hanya dengan masuknya waktu shalat dia terbangun dari komanya, kemudian meminta air, kemudian wudhu dan shalat, tanpa ada seorangpun yang membangunkannya!!

Di hari-hari terakhir Afnan, para dokter mangabari kami bahwa tidak ada gunanya lagi ia di rumah sakit. Sehari atau dua hari lagi dia akan meninggal. Aku ingin dia menghabiskan hari-hari terakhirnya di rumah ibuku.

Di rumah, dia tidur di sebuah kamar kecil. Aku duduk di sisinya dan berbicara dengannya.

Pada suatu hari, istri pamannya datang menjenguk. Aku katakan bahwa dia berada di dalam kamar sedang tidur. Ketika dia masuk ke dalam kamar, dia terkejut kemudian menutup pintu. Akupun terkejut dan khawatir terjadi sesuatu pada Afnan. Maka aku bertanya kepadanya, tetapi dia tidak menjawab. Maka aku tidak mampu lagi menguasai diri, akupun pergi kepadanya. Saat aku membuka kamar, apa yang kulihat membuatku tercengang. Saat itu lampu dalam keadaan dimatikan, sementara wajah Afnan memancarkan cahaya di tengah kegelapan malam. Dia melihat kepadaku kemudian tersenyum.
Dia berkata: "Ummi kemarilah, aku mau menceritakan sebuah mimpi yang telah kulihat."
Kukatakan: "(Mimpi) yang baik Insya Allah. "

Dia berkata: "Aku melihat diriku sebagai pengantin di hari pernikahanku, aku mengenakan gaun berwarna putih yang lebar. Engkau dan keluargaku, kalian semua berada disekelilingku. Semuanya berbahagia dengan pernikahanku, kecuali engkau ummi."

Akupun bertanya kepadanya: "Bagaimana menurutmu tentang tafsir mimpimu tersebut."

Dia menjawab: "Aku menyangka, bahwasanya aku akan meninggal, dan mereka semua akan melupakanku, dan hidup dalam kehidupan mereka dalam keadaan berbahagia kecuali engkau ummi. Engkau terus mengingatku, dan bersedih atas perpisahanku."

Benarlah apa yang dikatakan Afnan. Aku sekarang ini, saat aku menceritakan kisah ini, aku menahan sesuatu yang membakar dari dalam diriku, setiap kali aku mengingatnya, akupun bersedih atasnya.

Pada suatu hari, aku duduk dekat dengan Afnan, aku dan ibuku. Saat itu Afnan berbaring diatas ranjangnya kemudian dia terbangun. Dia berkata: "Ummi, mendekatlah kepadaku, aku ingin menciummu." Maka diapun menciumku. Kemudian dia berkata: "Aku ingin mencium pipimu yang kedua ." Akupun mendekat kepadanya, dan dia menciumku, kemudian kembali berbaring di atas ranjangnya. Ibuku berkata kepadanya: "Afnan, ucapkanlah la ilaaha illallah."

Kemudian dia menghadapkan wajah ke arah qiblat dan berkata: "Asyhadu allaa ilaaha illallaah." Dia mengucapkannya sebanyak 10 kali. Kemudian dia berkata: "Asyhadu allaa ilaaha illallahu wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah." Dan keluarlah rohnya.

Maka kamar tempat dia meninggal di dalamnya dipenuhi oleh aroma minyak kesturi selama 4 hari. Aku tidak mampu untuk tabah, keluargaku takut akan terjadi sesuatu terhadap diriku. Maka merekapun meminyaki kamar tersebut dengan aroma lain sehingga aku tidak bisa lagi mencium aroma Afnan. Dan tidak ada yang aku katakan kecuali alhamdulillah rabbil 'aalamin.

 

(Majalah Qiblati edisi 04 tahun III 01-2008/12-1428)

sajak : Maut

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6350621372319428354#editor/target=post;postID=6310858902546627685;onPublishedMenu=posts;onClosedMenu=posts;postNum=1;src=link

Maut..


Ketika rumah terakhir adalah tanah
Kain kafan adalah pakaiannya
Sebuah keranda jadi kendaraannya
Mungkin dulu semua yang kau punya adalah berbeda
Namun akhirnya adalah sama jua
 
Harta, tahta dunia tiada guna
Lenyaplah kenikmatannya
Hilanglah kelezatannya
 

Terputuslah semuanya
Saat itu tangis tiada guna
Penyesalanpun fatamorgana

Tiada sanak dan saudara
Tinggalah sebatangkara,,
Tiada daya dan upaya,,
Hanya Allah azza wajalla yang jadi penawarnya


                                                      -syarif alfarisi-

Saturday, January 2, 2016

3 Orang Pemuda Yang Bertawasul Dengan Amal Sholeh

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6350621372319428354#editor/target=post;postID=1590741251602103593;onPublishedMenu=posts;onClosedMenu=posts;postNum=1;src=link

Hadits riwayat Abdullah bin Umar ra.:
Dari Rasulullah saw beliau bersabda: Ketika tiga orang pemuda sedang berjalan, tiba-tiba turunlah hujan lalu mereka pun berlindung di dalam sebuah gua yang terdapat di perut gunung. Sekonyong-konyong jatuhlah sebuah batu besar dari atas gunung menutupi mulut gua yang akhirnya mengurung mereka.

Kemudian sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: Ingatlah amal saleh yang pernah kamu lakukan untuk Allah, lalu mohonlah kepada Allah dengan amal tersebut agar Allah berkenan menggeser batu besar itu.

Salah seorang dari mereka berdoa: Ya Allah, sesungguhnya dahulu aku mempunyai kedua orang tua yang telah lanjut usia, seorang istri dan beberapa orang anak yang masih kecil di mana akulah yang memelihara mereka. Setelah aku mengandangkan hewan-hewan ternakku, aku segera memerah susunya dan memulai dengan kedua orang tuaku terdahulu untuk aku minumkan sebelum anak-anakku.

Suatu hari aku terlalu jauh mencari kayu (bakar) sehingga tidak dapat kembali kecuali pada sore hari di saat aku menemui kedua orang tuaku sudah lelap tertidur. Aku pun segera memerah susu seperti biasa lalu membawa susu perahan tersebut. Aku berdiri di dekat kepala kedua orang tuaku karena tidak ingin membangunkan keduanya dari tidur namun aku pun tidak ingin meminumkan anak-anakku sebelum mereka berdua padahal mereka menjerit-jerit kelaparan di bawah telapak kakiku. Dan begitulah keadaanku bersama mereka sampai terbit fajar. Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu untuk mengharap keridhaan-Mu, maka bukalah sedikit celahan untuk kami agar kami dapat melihat langit.

"Lalu Allah menciptakan sebuah celahan sehingga mereka dapat melihat langit"
Yang lainnya kemudian berdoa: Ya Allah, sesungguhnya dahulu aku pernah mempunyai saudara seorang puteri paman yang sangat aku cintai, seperti cintanya seorang lelaki terhadap seorang wanita. Aku memohon kepadanya untuk menyerahkan dirinya tetapi ia menolak kecuali kalau aku memberikannya seratus dinar. Aku pun bersusah payah sampai berhasillah aku mengumpulkan seratus dinar yang segera aku berikan kepadanya.

Ketika aku telah berada di antara kedua kakinya (selangkangan) ia berkata: Wahai hamba Allah, takutlah kepada Allah dan janganlah kamu merenggut keperawanan kecuali dengan pernikahan yang sah terlebih dahulu. Seketika itu aku pun beranjak meninggalkannya. Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu untuk mencari keridhaan-Mu, maka ciptakanlah sebuah celahan lagi untuk kami.

"Kemudian Allah pun membuat sebuah celahan lagi untuk mereka"

Yang lainnya berdoa: Ya Allah, sesungguhnya aku pernah mempekerjakan seorang pekerja dengan upah enam belas liter beras (padi). 


Ketika ia sudah merampungkan pekerjaannya, ia berkata: Berikanlah upahku!

Lalu aku pun menyerahkan upahnya yang sebesar enam belas liter beras namun ia menolaknya. Kemudian aku terus menanami padinya itu sehingga aku dapat mengumpulkan beberapa ekor sapi berikut penggembalanya dari hasil padinya itu.

Satu hari dia datang lagi kepadaku dan berkata: Takutlah kepada Allah dan janganlah kamu menzalimi hakku! 


Aku pun menjawab: Hampirilah sapi-sapi itu berikut penggembalanya lalu ambillah semuanya! 

Dia berkata: Takutlah kepada Allah dan janganlah kamu mengolok-olokku! 

Aku pun berkata lagi kepadanya: Sesungguhnya aku tidak mengolok-olokmu, ambillah sapi-sapi itu berikut penggembalanya! 

Lalu ia pun mengambilnya dan dibawa pergi. Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu untuk mengharap keridhaan-Mu, maka bukakanlah untuk kami sedikit celahan lagi yang tersisa.

"Akhirnya Allah membukakan celahan yang tersisa itu. (Shahih Muslim No.4926)"

Nabi Adam a.s Dan Malaikat Jibril a.s

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6350621372319428354#editor/target=post;postID=1905718920370539661;onPublishedMenu=posts;onClosedMenu=posts;postNum=0;src=link

Ketika Allah swt menurunkan Adam a.s. dari surga, Adam a.s. terkena penyakit cacar hitam dari wajah hingga kakinya. Lama sekali dia bersedih dan terus menangis karena apa yang dialaminya itu. Melihat hal itu, Jibril a.s. mendatanginya seraya berkata, "Apa yang menyebabkan kamu menangis, wahai Adam?"

Adam a.s. menjawab, "Karena cacar yang bermunculan ini yang tak segera sembuh."

Jibril a.s. berkata, "Dirikanlah shalat, karena sesungguhnya ini adalah waktu shalat yang paling utama!"

Adam a.s. pun mengerjakan shalat, sehingga cacar itu menghilang dari wajahnya sampai ke dadanya.

Beberapa waktu kemudian, Jibril a.s. pun mendatangi Adam a.s. kembali pada waktu shalat yang kedua seraya berkata, "Wahai Adam, dirikanlah shalat! Karena sesungguhnya saat ini adalah waktu shalat yang kedua." Adam a.s. pun mengerjakan shalat, dan cacar itu menghilang dari dada hingga pusarnya.

Beberapa waktu kemudian, Jibril a.s. pun mendatangi Adam a.s. kembali pada waktu shalat yang ketiga seraya berkata, "Wahai Adam, dirikanlah shalat! Karena sesungguhnya saat ini adalah waktu shalat yang ketiga." Adam a.s. pun mengerjakan shalat, dan cacar itu menghilang dari pusar hingga kedua lututnya.

Beberapa waktu kemudian, Jibril a.s. pun mendatangi Adam a.s. kembali pada waktu shalat yang keempat seraya berkata, "Wahai Adam, dirikanlah shalat! Karena sesungguhnya saat ini adalah waktu shalat yang keempat." Adam a.s. pun mengerjakan shalat, dan cacar itu menghilang dari kedua lutut hingga kedua mata kakinya.

Beberapa waktu kemudian, Jibril a.s. pun mendatangi Adam a.s. kembali pada waktu shalat yang kelima seraya berkata, "Wahai Adam, dirikanlah shalat! Karena sesungguhnya saat ini adalah waktu shalat yang kelima." Adam a.s. pun mengerjakan shalat, dan cacar itu menghilang dari seluruh tubuhnya.

Adam a.s. pun segera memuji Allah dan menyanjung-Nya. Kemudian Jibril a.s. berkata, "Wahai Adam, shalat dan penyakit cacarmu ini adalah perumpamaan bagi seluruh keturunanmu. Barangsiapa di antara keturunanmu mengerjakan shalat sehari semalam (sebanyak) lima waktu shalat (fardhu), dia terbebas dari dosa-dosanya sebagaimana sembuhnya kamu dari penyakit cacar ini."

Sumber :
'Ilal Al-Syaraa'i, jilid 2 h. 134, Al-Jazairi, Dari Adam hingga Isa a.s., bab Nabi Adam a.s. Riwayat ini bersumber dari Abu Abdillah.
Buku 'Jibril alaihissalaam, Menjejak Langkah Malaikat Pembawa Wahyu' oleh Muhammad Syahir Alaydrus.

Friday, January 1, 2016

Para ilmuwan Dan Sangkakala Malaikat Isrofil

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6350621372319428354#editor/target=post;postID=7538984104592730992

Sekitar tahun 2005 silam sekelompok ilmuwan yang dipimpin oleh Prof. Frank Steiner dari Universitas Ulm, Jerman melakukan observasi terhadap alam semesta untuk menemukan bentuk sebenarnya dari alam semesta raya ini sebab prediksi yang umum selama ini mengatakan bahwa alam semesta berbentuk bulat bundar atau prediksi lain menyebutkan bentuknya datar saja. 

Dengan menggunakan sebuah peralatan canggih milik NASA yang bernama “Wilkinson Microwave Anisotropy Prob” (WMAP), mereka mendapatkan sebuah kesimpulan yang sangat mencengangkan karena menurut hasil penelitian tersebut alam semesta ini ternyata berbentuk seperti terompet..!! 

Di mana pada bagian ujung belakang wilayah “terompet” alam semesta itu merupakan alam semesta yang tidak bisa diamati (unobservable), sedang bagian depan, di mana bumi dan seluruh sistem tata surya berada merupakan alam semesta yang masih mungkin untuk diamati (observable)


https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6350621372319428354#editor/target=post;postID=7538984104592730992

 
Beginilah bentuk cosmos jagat raya yang ditemukan oleh saintis, berbentuk terompet. Semakin kearah ujung "terompet" (sebelah kanan) maka semakin banyak galaksi dan bisa diamati.

Bentuk Alam Semesta
Di dalam kitab Tanbihul Ghofilin Jilid 1 hal. 60 ada sebuah hadits panjang yang menceritakan tentang kejadian kiamat yang pada bagian awalnya sangat menarik untuk dicermati.

Abu Hurairah ra berkata :

Rasulullah saw bersabda :“Ketika Allah telah selesai menjadikan langit dan bumi, Allah menjadikan sangkakala (terompet) dan diserahkan kepada malaikat Isrofil, kemudian ia letakkan dimulutnya sambil melihat ke Arsy (Singgasana kekuasaan) menantikan bilakah ia diperintah”.

Saya bertanya : “Ya Rasulullah apakah sangkakala itu?”

Jawab Rasulullah : “Bagaikan tanduk dari cahaya.”

Saya tanya : “Bagaimana besarnya?”

Jawab Rasulullah : “Sangat besar bulatannya, demi Allah yang mengutusku sebagai Nabi, besar bulatannya itu seluas langit dan bumi, dan akan ditiup hingga tiga kali.

Tiupan pertama : Nafkhatul faza’ (untuk menakutkan).

Tiupan kedua : Nafkhatus sa’aq (untuk mematikan).

Tiupan ketiga: Nafkhatul ba’ats (untuk menghidupkan kembali atau membangkitkan).”

Dalam hadits di atas disebutkan bahwa sangkakala atau terompet malaikat Isrofil itu bentuknya seperti tanduk dan terbuat dari cahaya.

Ukuran bulatannya seluas langit dan bumi. Bentuknya laksana tanduk mengingatkan kita pada terompet orang–orang jaman dahulu yang terbuat dari tanduk.


https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6350621372319428354#editor/target=post;postID=7538984104592730992

Akhir dari pangkal "terompet" (sebelah kiri) di alam semesta ini tidak terbatas panjangnya dan sangat sempit. Hal ini membuat para saintis semakin tidak bisa mengamati dan menyelidikinya.

Kalimat seluas langit dan bumi dapat dipahami sebagai ukuran yang meliputi/mencakup seluruh wilayah langit (sebagai lambang alam tak nyata/ghoib) dan bumi (sebagai lambang alam nyata/syahadah).

Atau dengan kata lain, bulatan terompet malaikat Isrofil itu melingkar membentang dari alam nyata hingga alam ghoib.

Jika keshohihan hadits di atas bisa dibuktikan dan data yang diperoleh lewat WMAP akurat dan bisa dipertanggungjawabkan maka bisa dipastikan bahwa kita ini bagaikan rama-rama (kupu-kupu) yang hidup di tengah-tengah kaldera gunung berapi paling aktif yang siap meletus kapan saja.

Satu lagi contoh dari banyaknya bukti tentang kebenaran Kitab Suci akhirnya terkuak. Contohnya seperti dalam Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa janin berkembang dengan tiga fase, yang akhirnya menjadi patokan bidang kedokteran di seluruh dunia.

Juga, bahwa matahari dan semua benda langit bergerak tanpa kecuali yang pada masa dahulu disangkal oleh para ilmuwan ternyata juga ada di dalam Al-Qur’an dan masih banyak kebenaran lainnya yang manusia belum dapat menguaknya.

Perlu diketahui pula bahwa Nabi Muhammad bukanlah seorang saintis apalagi seorang astronomis, namun itu semua sudah ada di kitab yang berusia lebih dari 1.400 tahun yang lalu.

Bukti yang tadinya untuk akal manusia saja masih merupakan misteri. Kenapa dan apa yang dimaksud dengan terompet (sangkakala) malaikat Isrofil itu?

Dan Allah telah mengabarkan kedahsyatan terompet malaikat Isrofil itu dalam surah An Naml ayat 87 :

“Dan pada hari ketika terompet di tiup, maka terkejutlah semua yang di langit dan semua yang di bumi kecuali mereka yang di kehendaki Allah. Dan mereka semua datang menghadapNya dengan merendahkan diri.” (An Naml 87)

Makhluk langit saja bisa terkejut apalagi makhluk bumi yang notabene jauh lebih lemah dan lebih kecil. Pada sambungan hadits di atas ada sedikit preview tentang seperti apa keterkejutan dan ketakutan makhluk bumi kelak.

“Pada saat tergoncangnya bumi, manusia bagaikan orang mabuk sehingga ibu yang mengandung gugur kandungannya, yang menyusui lupa pada bayinya, anak-anak jadi beruban dan setan-setan berlarian.”

"Maha Besar dan Maha Benar Allah SWT dengan segala firmanNya"